Abstract
Kepatuhan terhadap pembatasan cairan merupakan aspek penting dalam keberhasilan terapi hemodialisis. Ketidakpatuhan dapat menyebabkan peningkatan berat badan interdialitik (IDWG), edema paru, hipertensi, dan gagal jantung. Lansia sebagai kelompok dengan penurunan fungsi fisiologis memiliki tantangan tersendiri dalam membatasi asupan cairan. Mengetahui gambaran tingkat kepatuhan lansia terhadap pembatasan cairan saat menjalani hemodialisis di RSU Siaga Medika Purbalingga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain cross-sectional. Populasi berjumlah 39 pasien lansia hemodialisis, dengan sampel sebanyak 28 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tertutup skala Likert 16 item yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya (Cronbach’s Alpha > 0,7). Analisis data dilakukan secara deskriptif univariat untuk memperoleh distribusi frekuensi dan persentase Tingkat kepatuhan. Mayoritas responden berusia 64–67 tahun (39,3%), berjenis kelamin perempuan (53,6%), dan berpendidikan terakhir SMP (35,7%). Sebagian besar telah menjalani hemodialisis lebih dari 3 tahun (57,1%). Tingkat kepatuhan terhadap pembatasan cairan menunjukkan bahwa 21,4% responden patuh, 57,2% kurang patuh, dan 21,4% tidak patuh. Faktor yang memengaruhi kepatuhan meliputi rasa haus, kebiasaan minum, Serta dukungan keluarga. Tingkat kepatuhan lansia dalam pembatasan cairan masih tergolong rendah. Diperlukan edukasi berulang, pendampingan keluarga, dan strategi keperawatan berbasis perilaku untuk meningkatkan kepatuhan pasien lansia terhadap pembatasan cairan selama hemodialisis