Abstract
Halusinasi pendengaran sering dialami oleh pasien gangguan jiwa, terutama mereka berada dalam fase akut gangguan psikotik. Suara-suara yang terdengar oleh pasien biasanya muncul tanpa adanya sumber eksternal yang nyata. Beberapa pasien mendengara suara yang berbicara langsung, memberikan komentar, menerintah, atau bahkan menghina. Pengalaman ini terjadi secara tiba-tiba dan kerap muncul saat pasien dalam kondisi stress, cemas, atau sedang sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi okupasi aktivitas waktu luang terhadap pasien gangguan jiwa dengan halusinasi pendengaran di Rumah Sakit Jiwa Aceh. Desain penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan pendekatan one grup Pretest-Posttest. Populasi berjumlah 76 responden dan sampel 15 orang responden dipilih dengan teknik purposive sampling. Intervensi dilakukan selama 4 hari berturut-turut dengan durasi 10-35 menit. Pengukuran gejala halusinasi menggunakan skala AHRS (Auditory Hallucination Rating Scale) dengan conbach’s Alpha 0,910 dan dianalisis dengan uji paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skor halusinasi pendengaran setelah diberikan terapi okupasi aktivitas waktu luang dengan penurunan sebesar 2,13 dengan p value 0.001. Kesimpulan terdapat pengaruh terapi okupasi aktivitas waktu luang terhadap perubahan halusinasi pendengaran pada pasien di Rumah Sakit Jiwa Aceh.