Abstract
Lada adalah komoditas terbesar kedua setelah kopi di Kabupaten Kepahiang. Komoditas paling banyak berada di empat kecamatan yaitu Merigi, Tebat Karai, Bermani Ilir, dan Seberang Musi. Banyak berbagai kendala dalam upaya diversifikasi lada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aliran persediaan bahan baku, kendala dan tantangan, mutu lada hitam dan lada putih, serta neraca bahan dari pengolahan lada yang didiversifikasi menjadi lada bubuk. Hasil penelitian ini menunjukkan persediaan bahan baku lada paling banyak diproduksi di Kecamatan Seberang Musi, Bermani Ilir, dan Tebat Karai dengan aliran terakhir berada di tangan pengumpul yang berada di Kecamatan Seberang Musi, Bermani Ilir, Tebat Karai, dan Merigi dengan pengumpul lada paling banyak di Kecamatan Seberang Musi. Kendala yang dihadapi dalam produksi lada hitam yaitu faktor alam seperti cuaca (keadaan hujan); sementara lada putih, kendala yang dihadapi yaitu faktor lingkungan berupa keamanan yang kurang kondusif (pencurian) saat proses perendaman, hingga kurangnya sarana berupa bak untuk fermentasi (perendaman). Mutu kadar air lada hitam dan lada putih yang dihasilkan masing-masing yaitu 11.06 dan 10.32%, telah memenuhi Standar Mutu Lada Putih (SNI 01- 0004-1995) dan Standar Mutu lada Hitam (SNI 01-0005-1995) yaitu antara 13-14%. Neraca bahan dari 1000g lada menghasilkan lada hitam bubuk sebesar 680g dan lada putih bubuk menjadi 400 g.