Abstract
Jalan raya merupakan infrastruktur vital dalam mendukung pergerakan ekonomi, namun rentan mengalami kerusakan akibat rendaman air laut, terutama didaerah pesisir. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh rendaman air laut terhadap kerusakan jalan aspal AC-BC melalui uji perendaman berkelanjutan dengan mempertimbangkan karakteristik material konstruksi dan kondisi lingkungan pesisisr. Semua material penyusun, termasuk agregat kasar, agregat halus, filler, dan aspal, telah memenuhi spesifikasi teknis Bina Marga 2018. Pengujian dilakukan pada campuran dengan variasi kadar aspal (4%–6%) untuk menentukan kadar optimal dan mengevaluasi ketahanan terhadap perendaman dan suhu tinggi. Hasil menunjukkan bahwa kadar aspal 5,5% merupakan satu-satunya yang memenuhi seluruh parameter Marshall sesuai standar, seperti stabilitas (1401,73 kg), flow (3,5 mm), MQ (403,86 kg/mm), VMA (15,27%), VITM (3,01%), dan VFWA (74,73%). Ujiperendaman air laut menunjukkan bahwa rendman air laut dan pengaruh suhu berdampak negatif terhadap stabilitas dan durabilitas campuran. Stabilitas turun dari 2458,82 menjadi 2430,35 kg dan MQ dari 921,65 ke 677,65 selama 30 hari perendaman, sementara flow meningkat, mengindikasikan pelunakan campuran. Perubahan signifikan juga terjadi pada nilai void, termasuk VITM yang turun dari 5,82% ke 5,18% menandakan pori terisi air dan menurunnya daya lekat antar butiran. Temuan ini menegaskan bahwa paparan air mempercepat degradasi struktural campuran aspal dalam jangka panjang, sehingga perencanaan drainase dan pemilihan material tahan air menjadi krusial dalam konstruksi jalan dan pemeliharaan jalan pesisir.