Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman komunikasi interpersonal guru dalam berinteraksi dengan siswa berkebutuhan khusus di SLB Bina Anugrah Lembang. Fokusnya adalah pada motif dan tujuan guru mengajar, serta makna yang dibangun dalam setiap interaksi selama proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivisme dan metode fenomenologi ala Alfred Schutz. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap tiga guru serta beberapa orang tua siswa sebagai informan tambahan. Analisis data dilakukan dengan teknik Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), dan keabsahan data diperkuat melalui triangulasi. Hasil menunjukkan bahwa guru menyesuaikan komunikasi secara aktif dengan membaca emosi, perilaku, ekspresi wajah, kontak mata, dan gestur siswa sebelum memilih cara berbicara. Guru membangun kepercayaan melalui pendekatan pribadi, validasi perasaan, pujian, perhatian, dan memberi rasa aman. Untuk mengatasi hambatan komunikasi, guru menggunakan penyederhanaan pesan, instruksi satu per satu, pengulangan, artikulasi yang jelas, contoh nyata, gestur, ekspresi wajah, sentuhan, media visual, serta perubahan metode sesuai respons siswa. Keberhasilan interaksi tidak hanya diukur dari pencapaian akademik, tetapi juga dari respons siswa, kemampuan berkomunikasi dua arah, ekspresi kebutuhan, kepatuhan terhadap arahan, dan peningkatan kemandirian. Pengalaman ini membuktikan bahwa komunikasi interpersonal guru tidak statis, melainkan terbentuk dari proses interpretasi, penyesuaian, dan pembelajaran terus-menerus.