Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya efektivitas komunikasi organisasi lintas sektoral di Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Provinsi Jawa Barat. Saat mengoordinasikan Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Tidak Menular (P2PMPTM), Biro Kesra berlatar belakang administrasi publik kerap menghadapi kesenjangan pemahaman akibat maraknya istilah teknis-medis dari instansi kesehatan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dinamika komunikasi organisasi serta mengidentifikasi hambatan dalam proses koordinasi tersebut. Metode penelitian menggunakan paradigma konstruktivisme melalui pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh dari 8 informan yang dipilih secara purposive sampling melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Analisis data mengadopsi model interaktif Miles dan Huberman dengan pengujian keabsahan via triangulasi dan member check. Hasil penelitian menunjukkan komunikasi internal Biro Kesra menerapkan dualitas realitas: komunikasi vertikal-formal yang patuh SOP dengan kepemimpinan terbuka (psychological safety), serta komunikasi horizontal antar-staf yang fleksibel. Hambatan utama berupa kerancuan makna (equivocality) istilah medis direduksi melalui siklus pengolahan informasi (enactment, selection via konfirmasi pakar/buku saku, dan retention) serta pendekatan budaya Sunda (silih asih, silih asuh). Sementara itu, hambatan kaku birokrasi diatasi melalui kompromi diskresi, seperti instruksi verbal pada kondisi darurat medis dan strategi "jemput bola" untuk mempercepat koordinasi kebijakan tanpa melanggar regulasi.