Abstract:Abstract: Electric Submersible Pump (ESP) is one of the artificial lift methods used to lift production fluids from wells to the surface. ESP performance is strongly influenced by the compatibility between pump capacity,…
reservoir conditions, fluid characteristics, and actual operating parameters. This study aims to evaluate ESP operating conditions in a well with high influx in the Pertamina Hulu Rokan Limau Field working area and determine an operating strategy suitable for the actual well conditions. A descriptive-evaluative approach was applied using well condition data, Acoustic Well Sounding, pump depth, bottom-hole pressure, casing pressure, and electrical parameters of the motor and Variable Speed Drive (VSD). The evaluation indicates that the well is dominated by a water column with an estimated water column height of approximately 1,493 m, while the pump intake depth is 1,430.60 m and the formation depth is 1,589 m. This condition indicates a substantial fluid load on the artificial lift system. In the observed operating data, the ESP operated at a frequency of 57 Hz, with motor current of approximately 28 A and voltage of approximately 2.18 kV. Based on the evaluation, optimization should be conducted through gradual VSD frequency adjustment, assessment of pump capacity suitability to the actual fluid load, and continuous monitoring of liquid level, pressure, current, and operational stability. This study provides an operational evaluation basis for ESP operation under high-influx conditions; however, quantitative production improvement requires more complete before-and-after optimization data.
Keyword : Electric Submersible Pump, high influx, production optimization, Variable Speed Drive, water cut.
Abstrak: Electric Submersible Pump (ESP) merupakan salah satu metode artificial lift yang digunakan untuk membantu mengangkat fluida dari sumur produksi menuju permukaan. Kinerja ESP sangat dipengaruhi oleh kesesuaian antara kapasitas pompa, kondisi reservoir, karakteristik fluida, serta parameter operasi aktual di lapangan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kondisi operasi ESP pada sumur dengan influx tinggi di wilayah kerja Pertamina Hulu Rokan Limau Field serta menentukan strategi pengoperasian yang sesuai dengan kondisi aktual sumur. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-evaluatif dengan memanfaatkan data kondisi sumur, Acoustic Well Sounding, kedalaman pompa, tekanan dasar sumur, tekanan casing, serta parameter kelistrikan motor dan Variable Speed Drive (VSD). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kondisi sumur didominasi oleh kolom air dengan tinggi kolom air sekitar 1.493 m, sedangkan kedalaman pump intake sebesar 1.430,60 m dan kedalaman formasi sebesar 1.589 m. Kondisi tersebut menunjukkan adanya beban fluida yang besar terhadap sistem pengangkatan buatan. Pada data operasi yang diamati, ESP bekerja pada frekuensi 57 Hz dengan arus motor sekitar 28 A dan tegangan sekitar 2,18 kV. Berdasarkan evaluasi, optimalisasi perlu dilakukan melalui pengaturan frekuensi VSD secara bertahap, evaluasi kesesuaian kapasitas pompa terhadap beban fluida aktual, serta pemantauan liquid level, tekanan, arus, dan kestabilan operasi secara berkala. Penelitian ini memberikan dasar evaluasi operasional ESP pada kondisi influx tinggi, namun peningkatan produksi secara kuantitatif memerlukan data pembanding sebelum dan sesudah optimasi yang lebih lengkap.
Kata Kunci: Electric Submersible Pump, influx tinggi, optimasi produksi, Variable Speed Drive, water cut
Abstract:Abstract: Kepok banana peel is one of the organic wastes that can pollute the environment if not managed properly, yet it has the potential to be used as a raw material for biocatalysts. This study aimed to produce a biocatalyst…
catalyst from kepok banana peel waste and to analyze the effect of adding the biocatalyst and Bacillus subtilis bacteria in reducing the Biochemical Oxygen Demand (BOD) and Chemical Oxygen Demand (COD) of tofu wastewater. The biocatalyst was produced through 12 weeks of anaerobic fermentation using a molasses, banana peel, and water ratio of 1:3:10. Two treatments were applied, namely the addition of biocatalyst (P1) and the addition of biocatalyst and bacteria (P2), at doses of 10%, 15%, and 20% with three replications and a 48-hour contact time. Data were analyzed using the Shapiro-Wilk normality test, two-way ANOVA, and Tukey post hoc test. The results showed that the biocatalyst was not able to reduce the BOD and COD of tofu wastewater; both parameters actually increased as the dose increased. The dose factor had a significant effect on the increase in BOD and COD (Sig = 0.000), whereas the treatment factor and its interaction were not significant. Thus, the addition of the biocatalyst was not able to reduce the pollutant load and instead increased the organic load of the tofu wastewater. This finding indicates the need for biocatalyst purification prior to application in order to minimize free organic compounds, along with adjustment of dose and contact time so that the degradation process takes place optimally.
Keywords: Biocatalyst, Kepok Banana Peel Waste, Tofu Wastewater, BOD, COD
Abstrak: Limbah kulit pisang kepok merupakan limbah organik yang dapat mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik, namun berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku biokatalisator. Penelitian ini bertujuan membuat biokatalisator dari limbah kulit pisang kepok serta menganalisis pengaruh penambahan biokatalisator dan bakteri Bacillus subtilis dalam mereduksi kadar Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) limbah cair tahu. Biokatalisator dibuat melalui fermentasi anaerob selama 12 minggu dengan perbandingan molase, kulit pisang kepok, dan air 1:3:10. Penelitian menggunakan dua perlakuan, yaitu penambahan biokatalisator (P1) serta penambahan biokatalisator dan bakteri (P2), dengan dosis 10%, 15%, dan 20% dan tiga kali ulangan pada waktu kontak 48 jam. Data dianalisis dengan uji normalitas Shapiro-Wilk, ANOVA dua arah, dan uji lanjut Tukey. Hasil penelitian menunjukkan biokatalisator yang dihasilkan belum mampu menurunkan kadar BOD dan COD limbah cair tahu; nilai kedua parameter justru meningkat seiring bertambahnya dosis. Faktor dosis berpengaruh signifikan terhadap peningkatan nilai BOD dan COD (Sig = 0,000), sedangkan faktor perlakuan dan interaksinya tidak signifikan. Dengan demikian, penambahan biokatalisator belum mampu mereduksi kadar pencemar dan justru meningkatkan beban organik limbah cair tahu. Temuan ini mengindikasikan perlunya pemurnian biokatalisator sebelum diaplikasikan untuk meminimalkan senyawa organik bebas, disertai penyesuaian dosis dan waktu kontak agar proses degradasi berlangsung optimal.
Kata Kunci: Biokatalisator, Kulit Pisang Kepok, Limbah Cair Tahu, BOD, COD
Abstract:Abstract: This study aims to determine the Correlation of Co-Worker Social Support on Burnout at PT. Andalan Berjaya Nusantara. Burnout is a state of physical, emotional and mental exhaustion. Many factors can influence…
burnout in employees, one of which is the social support of co-workers. The purpose of this study is to The Effect of Co-Worker Social Support on Burnout in employees who should be able to get social support from fellow co-workers. Co-worker social support greatly influences employee performance and comfort at work. This study is a descriptive quantitative correlational study. The study population was 70 employees with a sample of 70 employees. The data collection technique used a scale of co-worker social support and a burnout scale. The data analysis technique used a product moment correlation. The results of the study between democratic parenting styles and self-adjustment have a positive and significant relationship, this is evidenced by the data analysis obtained r count = -0.821 and p = 0.000 (p <0.05), the conclusion of the study there is a negative relationship between co-worker social support and burnout, where the higher the social support received, the lower the burnout.
Keywords: Social Support Co-Workers, Burnout, Worker
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Dukungan Sosial Rekan Kerja terhadap Burnout di PT. Andalan Berjaya Nusantara. Burnout adalah suatu keadaan keletihan (exhaustion) fisik, emosional dan mental. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi burnout pada karyawan, salah satunya adalah dukungan sosial rekan kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk Pengaruh Dukungan Sosial Rekan Kerja terhadap Burnout pada karyawan yang seharusnya dapat mendapatkan dukungan sosial dari sesama rekan kerja. Dukungan sosial rekan kerja sangat berpengaruh terhadap kinerja dan kenyamanan karyawan dalam bekerja. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif korelasional. Populasi penelitian sebanyak 70 karyawan dengan sampel sebanyak 70 karyawan. Teknik pengumpulan data menggunakan skala dukungan sosial rekan kerja dan skala burnout. Teknik analisis data menggunakan korelasi product moment. Hasil penelitian antara dukungan sosial rekan kerja dengan burnout mempunyai hubungan yang positif dan signifikan, hal ini dibuktikan dengan analisis data diperoleh nilai r hitung = -0,821 dan p = 0,000 (p < 0,05), kesimpulan penelitian terdapat hubungan yang negatif antara dukungan sosial rekan kerja dengan burnout, dimana semakin tinggi dukungan sosial yang diterima makan burnout semakin rendah.
Kata Kunci: Dukungan Sosial, Burnout, Karyawan
Abstract:Abstract: Loneliness is a subjective lack of satisfying relationships, whereas social isolation is an objective limitation in social contact or network availability. This rapid systematic review synthesized evidence published…
ished from 2021 to 5 July 2026 on loneliness, social isolation, cardiovascular outcomes, and nursing interventions. Searches included PubMed/MEDLINE, PubMed Central, publisher records, and citation tracking. Adult studies were reported using PRISMA 2020 principles and appraised with JBI tools. Of 34 candidates, five were excluded and 29 studies were narratively synthesized. Evidence linked loneliness and social isolation with cardiovascular disease incidence, heart failure, mortality, poorer adaptation, and impaired self-management, although measures and adjustment varied. Repeated or persistent social disconnection may be more informative than one-time assessment. Psychological, social-contact, home-based, telephone, and digital interventions may improve loneliness, but evidence for reducing major cardiovascular events remains insufficient. Nurses should screen both constructs, integrate findings into cardiovascular care, coordinate referrals, support rehabilitation, and monitor clinical outcomes.
Keywords: Loneliness; social isolation; cardiovascular disease; nursing; cardiovascular risk.
Abstrak: Kesepian merupakan pengalaman subjektif berupa kurangnya hubungan yang memuaskan, sedangkan isolasi sosial adalah keterbatasan objektif dalam kontak sosial atau ketersediaan jaringan sosial. Tinjauan sistematis cepat ini menyintesis bukti yang dipublikasikan dari tahun 2021 hingga 5 Juli 2026 mengenai kesepian, isolasi sosial, luaran kardiovaskular, dan intervensi keperawatan. Pencarian dilakukan melalui PubMed/MEDLINE, PubMed Central, catatan penerbit, dan penelusuran sitasi. Studi pada populasi dewasa dilaporkan berdasarkan prinsip PRISMA 2020 dan dinilai menggunakan instrumen JBI. Dari 34 artikel kandidat, lima dikeluarkan dan 29 studi disintesis secara naratif. Bukti menunjukkan bahwa kesepian dan isolasi sosial berkaitan dengan kejadian penyakit kardiovaskular, gagal jantung, mortalitas, adaptasi yang lebih buruk, dan gangguan manajemen diri, meskipun terdapat variasi dalam pengukuran dan penyesuaian faktor perancu. Keterputusan sosial yang berulang atau menetap mungkin lebih informatif dibandingkan penilaian satu kali. Intervensi psikologis, kontak sosial, layanan berbasis rumah, telepon, dan digital dapat mengurangi kesepian, tetapi bukti mengenai penurunan kejadian kardiovaskular mayor masih belum memadai. Perawat perlu melakukan skrining terhadap kedua kondisi tersebut, mengintegrasikan hasilnya ke dalam perawatan kardiovaskular, mengoordinasikan rujukan, mendukung rehabilitasi, dan memantau luaran klinis.
Kata kunci: Kesepian; isolasi sosial; penyakit kardiovaskular; keperawatan; risiko kardiovaskular
Abstract:Abstract: Arabica coffee is a high-value export commodity for the Indonesian economy. To maintain global competitiveness, coffee beans must meet export feasibility quality standards based on the cupping score from the Coffee…
ffee Quality Institute (CQI). This study aims to compare the performance of the K-Nearest Neighbor (KNN) and Gaussian Naive Bayes algorithms in classifying the export feasibility of Arabica coffee beans. In sensory quality testing, high-dimensional attributes (10 parameters) can cause accuracy instability and increase computational load. Therefore, Correlation-based Feature Selection (CFS) was applied to reduce redundant features. The CFS process filtered the initial 10 features into 4 selected features (Flavor, Acidity, Cupper Points, and Aroma). The Dataset was obtained from the Kaggle Coffee Quality Database and had undergone Excel format adjustments before being loaded into the system. Modeling was conducted using 1,303 data records with a 30% split for testing data. The evaluation results showed that the Naive Bayes algorithm provided the best performance, achieving an accuracy rate of 97.95%. The use of CFS proved successful in reducing feature dimensions by 60% without significantly decreasing classification accuracy.
Keywords: Arabica Coffee; Export Classification; K-Nearest Neighbor; Naive Bayes; Correlation-based Feature Selection.
Abstrak: Kopi Arabika merupakan komoditas ekspor bernilai tinggi bagi perekonomian Indonesia. Untuk menjaga daya saing di tingkat global, biji kopi harus memenuhi standar kualitas kelayakan ekspor berdasarkan cupping score dari Coffee Quality Institute (CQI). Penelitian ini bertujuan membandingkan kinerja algoritma K-Nearest Neighbor (KNN) dan Gaussian Naive Bayes dalam klasifikasi kelayakan ekspor biji kopi Arabika. Dalam pengujian sensoris mutu, dimensionalitas atribut yang tinggi (10 parameter) dapat menyebabkan ketidakstabilan akurasi dan meningkatkan beban komputasi. Oleh karena itu, Correlation-based Feature Selection (CFS) diterapkan untuk mereduksi fitur redundan. Proses CFS menyaring 10 fitur awal menjadi 4 fitur terpilih (Flavor, Acidity, Cupper Points, Aroma). Dataset diambil dari Kaggle Coffee Quality Database dan telah melalui tahapan penyesuaian format Excel sebelum dimuat ke sistem. Pemodelan dilakukan menggunakan 1303 rekam data dengan pembagian data uji sebesar 30%. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa algoritma Naive Bayes memberikan performa terbaik dengan tingkat akurasi mencapai 97,95%. Penggunaan CFS terbukti berhasil memangkas dimensi fitur sebesar 60% tanpa menurunkan akurasi klasifikasi secara signifikan.
Kata Kunci: Kopi Arabika; Klasifikasi Ekspor; K-Nearest Neighbor; Naive Bayes; Correlation-based Feature Selection.
Abstract:Abstract: A multicultural environment is a social environment that has diversity and coexists with differences, but often this creates challenges in the process of adjustment. This article aims to provide students and readers…
aders with an understanding of human resource development management in a multicultural environment as an effort to facilitate adaptation and thinking in dealing with the cultural diversity of each employee in an organization. This research uses a literature review and uses descriptive analysis methods. Human resource development management (HRD) is carried out through education and training both formally and informally. There are five important domains in human resource development management, namely professionalism, competitiveness, functional competence, participatory excellence and cooperation. Human resource development management in these five important domains will be implemented if implemented with good and correct management control so that the goals of the organization will be realized and able to create quality human resources and be able to face all differences that exist in the work environment.
Keywords: Management, Human Resources, Multicultural Environment
Abstrak: Lingkungan multibudaya merupakan lingkungan sosial yang memiliki keberagaman dan hidup berdampingan dengan perbedaan, tetapi tidak jarang hal ini menimbulkan tantangan dalam proses penyesuaian diri. Artikel ini bertujuan memberikan pemahaman kepada mahasiswa dan pembaca mengenai managemen pengembangan sumber daya manusia dalam lingkungan multibudaya sebagai upaya untuk memfasilitasi adaptasi dan pemikiran dalam menghadapi keberagaman budaya yang dimiliki setiap karyawan dalam suatu organisasi. Penelitian ini menggunakan kajian literatur dan menggunakan metode analisis deskriptif. Managemen pengembangan sumber daya manusia (SDM) dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan baik secara formal maupun informal. Terdapat lima domain penting dalam managemen pengembangan sumber daya manusia yaitu profesionalitas, daya kompetitif, kompetensi fungsional, keunggulan partisipatif dan kerja sama. Managemen pengembangan sumber daya manusia pada kelima domain penting tersebut akan terlaksana apabila dilaksanakan dengan kontrol managemen yang baik dan benar sehingga tujuan dari organisasi akan terwujud dan mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu menghadapi segala perbedaan yang ada dalam linkungan kerja.
Kata Kunci: Managemen, Sumberdaya Manusia, Lingkungan Multibudaya
Abstract:Abstract: This study aims to analyze the business strategy implemented by PT Pos Indonesia (Persero) Dumai Branch in an effort to improve employee performance. The business strategy under review includes four main stages:…
: environmental scanning, strategy formulation, strategy implementation, and evaluation and control. Environmental scanning is conducted to identify internal and external factors influencing organizational performance, including market competition and customer needs. Strategy formulation involves setting long-term goals focused on human resource development. Strategy implementation is carried out through employee training, organizational structure adjustments, and the provision of incentives to enhance productivity. The evaluation and control stage assesses the effectiveness of the strategies applied and enables continuous improvement. The results of the study indicate that an integrated implementation of business strategies contributes positively to employee performance, particularly in terms of discipline, work efficiency, and customer service. This study recommends the alignment between business strategy and human resource management as a key to organizational success.
Â
Keywords: Business Strategy, Employee Performance, Environmental Scanning, Strategy Formulation, Strategy Implementation, Evaluation and Control.
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi bisnis yang diterapkan oleh PT Pos Indonesia (Persero) Cabang Dumai dalam upaya meningkatkan kinerja karyawan. Strategi bisnis yang dimaksud mencakup empat tahapan utama, yaitu pemindaian lingkungan (environmental strategy), perumusan strategi (strategy formulation), implementasi strategi (strategy implementation), serta evaluasi dan kontrol (evaluation and control). Pemindaian lingkungan dilakukan untuk mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja organisasi, termasuk dinamika persaingan dan kebutuhan pelanggan. Perumusan strategi dilakukan melalui penetapan tujuan jangka panjang yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia. Implementasi strategi dilakukan melalui pelatihan, penyesuaian struktur organisasi, serta pemberian insentif yang mendorong produktivitas karyawan. Tahap evaluasi dan kontrol dilakukan untuk menilai efektivitas strategi yang dijalankan serta melakukan perbaikan berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan strategi bisnis secara terpadu berkontribusi positif terhadap peningkatan kinerja karyawan, terutama dalam hal disiplin, efisiensi kerja, dan pelayanan kepada pelanggan. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya kesinambungan antara strategi bisnis dan pengelolaan sumber daya manusia sebagai kunci keberhasilan organisasi.
Â
Kata kunci: Strategi Bisnis, Kinerja Karyawan, Pemindaian Lingkungan, Formulasi Strategi, Implementasi Strategi, Evaluasi dan Kontrol.
Abstract:Abstract: The role of the DPR (People's Representative Council) is important in building this country. Law No. 8 of 2012 concerning the Election of DPR Members, in which there is an explanation that the seats in it are 560…
60 seats, which means that only 560 people can be in that place. The term of office of each DPR member is 5 years and ends simultaneously where the new DPR member takes his/her oath as a new DPR member with guidance from the Constitutional Court at a plenary session. In a simple sense, supervision can be interpreted as "an activity to assure and guarantee that the work carried out is in accordance with the established plan". For this reason, supervision must measure what has been achieved, assess activities, take corrective actions and adjustments that are considered necessary. In the decision of the Minister of State Apparatus Empowerment Number 19 of 1996, it is stated that supervision is the entire process of the object and/or activity that has been carried out in accordance with applicable provisions. Supervision is often interpreted as or identical to an examination or audit so that supervision means an audit. One of the obstacles in budget supervision by the Indonesian House of Representatives is the lack of Government Transparency. Not all budget data can be easily accessed by the Indonesian House of Representatives, especially related to budget use in various ministries and institutions.
Â
Keywords: Supervision, Budget
Abstrak: Peran DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) menjadi penting perannya dalam membangun negeri ini. Undang Undang No. 8 Tahun 2012 tentang Pemilu Anggota DPR, didalamnya terdapat penjelasan bahwa kursi yang ada didalamnya ialah sebanyak 560 bangku yang artinya hanya 560 orang yang dapat berada di tempat tersebut. Untuk masa jabatan dari setiap anggota DPR ialah 5 tahun dan berakhir secara bersamaan dimana anggota DPR yang baru mengucapkan janjinya sebagai anggota DPR yang baru dengan panduan dari Mahkamah Konstitusi pada sidang paripurna. Dalam pengertian yang sederhana pengawasan dapat diartikan sebagai “kegiatan untuk meyakinkan dan menjamin bahwa pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkanâ€. Untuk itu pengawasan harus mengukur apa yang telah dicapai, menilai kegiatan, mengadakan tindakantindakan perbaikan dan penyesuaian yang dianggap perlu. Dalam keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 19 Tahun 1996 disebutkan, pengawasan adalah seluruh proses objek dan atau kegiatan tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan ketetapan yang berlaku. Pengawasan sering diartikan sebagai atau identik dengan pemeriksaan atau audit sehingga pengawasan mempunyai arti audit. Salah satu kendala dalam pengawasan anggaran oleh DPR RI antara lain yaitu kurangnya Transparansi Pemerintah, Tidak semua data anggaran dapat diakses dengan mudah oleh DPR RI, terutama terkait dengan penggunaan anggaran di berbagai kementerian dan lembaga.
Â
Kata kunci: Pengawasan, Anggaran
Abstract:Abstract: Intensive manual handling activities in the spice processing industry often lead to musculoskeletal complaints among workers. This study aims to analyze the working posture of employees at the cinnamon wood unloading…
oading station at PT. MMZ using the Rapid Entire Body Assessment (REBA) and Nordic Body Map (NBM) methods. The REBA method is used to assess posture-related risk and provide improvement recommendations, while the NBM method identifies body parts experiencing discomfort. The results of the study indicate that the majority of workers fall into the high-risk category based on REBA analysis, with non-ergonomic postures such as bending, twisting the body, and lifting heavy loads being the main contributing factors. Additionally, the NBM findings show that most workers experience discomfort in the neck, shoulders, back, and waist. The conclusion of this study highlights the importance of ergonomic posture adjustments to reduce the risk of musculoskeletal injuries and improve worker well-being.
Â
Keyword: Working Posture; Musculoskeletal; REBA; NBM; Ergonomics.
Â
Abstrak: Kegiatan manual handling yang intens di industri pengolahan rempah-rempah sering kali menyebabkan keluhan muskuloskeletal pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis postur kerja karyawan di stasiun pembongkaran kayu kulit manis di PT. MMZ menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA) dan Nordic Body Map (NBM). Metode REBA digunakan untuk menilai risiko postur kerja dan memberikan rekomendasi perbaikan, sedangkan metode NBM digunakan untuk mengidentifikasi bagian tubuh yang mengalami keluhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pekerja berada dalam kategori risiko tinggi berdasarkan analisis REBA, dengan postur kerja yang tidak ergonomis seperti membungkuk, memutar tubuh, dan mengangkat beban berat menjadi faktor utama. Selain itu, hasil NBM menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja mengalami keluhan pada leher, bahu, punggung, dan pinggang. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan pentingnya penyesuaian postur kerja yang ergonomis untuk mengurangi risiko cedera muskuloskeletal dan meningkatkan kesejahteraan pekerja.
Â
Kata kunci: Postur Kerja; Muskuloskeletal; REBA; NBM; Ergonomi.
Abstract:Abstract: A single-member limited liability company (SMLLC), as regulated under Law Number 40 of 2007 concerning Limited Liability Companies and its amendment through Law Number 6 of 2023 on Job Creation, represents a new…
w form of legal entity offering greater flexibility for micro and small enterprises. However, this entity raises various legal challenges, particularly related to the principle of limited liability (separate legal entity) and the application of the piercing the corporate veil doctrine. This study aims to analyze the legal implications of the SMLLC's status as a legal entity, evaluate the application of the limited liability doctrine to single shareholders who also serve as directors, and examine legal protections for SMLLCs as independent legal entities against actions by single shareholders. The research employs a normative legal method with legislative and conceptual approaches. The findings reveal that SMLLCs have distinct characteristics compared to conventional limited liability companies, necessitating adjustments in the application of the limited liability principle. In certain circumstances, single shareholders may be held fully liable for company losses under the piercing the corporate veil doctrine, particularly in cases of misuse of the corporate form for personal gain. This study provides recommendations for policymakers to clarify the legal framework governing SMLLCs to mitigate potential legal conflicts and ensure balanced protection for all stakeholders.
Â
Keyword: Single-Member Limited Liability Company, Shareholder Liability, Piercing The Corporate Veil, Legal Entity, Legal Doctrine
Â
Abstrak: Perseroan terbatas perorangan, yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan perubahan melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja, merupakan bentuk badan hukum baru yang memberikan fleksibilitas lebih besar kepada usaha mikro dan kecil. Namun, keberadaan perseroan ini juga menimbulkan berbagai permasalahan hukum, khususnya terkait prinsip pemisahan tanggung jawab (separate legal entity) dan penerapan doktrin piercing the corporate veil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis akibat hukum dari kedudukan perseroan terbatas perorangan sebagai badan hukum; mengevaluasi penerapan doktrin tanggung jawab terbatas terhadap pemegang saham tunggal yang merangkap sebagai direksi; dan mengkaji perlindungan hukum bagi perseroan terbatas perorangan sebagai badan hukum mandiri dari tindakan pemegang saham tunggal. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan undang-undang dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perseroan terbatas perorangan memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan perseroan terbatas konvensional, sehingga prinsip tanggung jawab terbatas membutuhkan penyesuaian. Dalam situasi tertentu, pemegang saham tunggal dapat dimintai pertanggungjawaban penuh atas kerugian perseroan berdasarkan doktrin piercing the corporate veil, terutama jika terjadi penyalahgunaan fungsi badan hukum untuk kepentingan pribadi. Implikasi penelitian ini memberikan rekomendasi bagi pembuat kebijakan untuk memperjelas pengaturan hukum perseroan terbatas perorangan guna mengurangi potensi konflik hukum dan memberikan perlindungan yang seimbang bagi semua pihak terkait.
Kata kunci: Tanggung Jawab Pemegang Saham, Perseroan Terbatas Perorangan, Piercing The Corporate Veil, Badan Hukum, Doktrin Hukum