Abstract:The village is the government that communicates directly with the community and is the center of government development. As such, the village government is an important part of the administration, and the village can have…
e the power to regulate and manage the interests of the community. To achieve community participation, the government has established a forum to implement development plans, namely Muslembang. If community participation is an element of the village development process, community participation has a significant impact on decision-making. The purpose of this study is to obtain an explanatory overview of community participation in the village RKP planning process in Paopao Village, Tanete Lilau District, and to clarify what are the factors that support and hinder community participation in the village RKP planning process. to clarify. Baloo's regent. The type of research used by researchers is qualitative. The location of this survey is in Paopao Village, Tanete Lilau District, Bal Regency.
The data collection process used by researchers includes data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results showed that: In 2019 and 2020, community participation in the village RKP planning process in Paopao Village, Tanete Lilau District, Baru Regency, only village officials participated in the RKP design team, community empowerment executives and community members. elements were not involved. And when it comes to female participation, only one woman reaches up to 30%. Therefore, we cannot speak of participatory advice on development planning. The driving force behind community participation in her RCP planning process for her village in Paopao Village, Tanete Lilau District, Balu District, is the community's awareness of progress in village development as a form of community awareness itself. Encouragement. Prioritize. The barrier to community participation is the individual community itself. Lack of curiosity, economic factors, and the level of education in the community are also among the barriers to participating in the development surprises of Baru Regency, Tanete Lilau District and Paopao Village.
Abstract:Fokus penelitian ini tertuju pada pemanfaatan video YouTube sebagai sarana pembelajaran Bahasa Indonesia dalam memacu pemahaman teks cerita legenda bagi peserta didik kelas V SD Palm Kids Palembang. Pendekatan kualitatif…
dengan desain studi kasus diterapkan dalam investigasi ini, dengan melibatkan guru kelas V beserta 27 siswa sebagai subjek. Proses penghimpunan data dilangsungkan lewat teknik pengamatan, tanya jawab, serta penelusuran dokumen, yang kemudian dianalisis melalui fase pemangkasan data, pemaparan data, hingga perumusan simpulan. Hasil investigasi mengindikasikan bahwa lewat integrasi video YouTube, siswa memperoleh kemudahan dalam mencerna elemen-elemen intrinsik cerita legenda, seperti penokohan, latar, alur, dan amanat, sekaligus memperkuat kapasitas mereka dalam merespons pertanyaan dan mengonstruksi ulang narasi teks. Di samping itu, pengaplikasian media digital ini terbukti memicu dorongan belajar, kecermatan, dan keterlibatan dinamis peserta didik, sehingga video YouTube dinilai sangat berdaya guna untuk diadopsi sebagai perangkat instruksional yang mengakselerasi penguasaan materi narasi legenda pada ranah pendidikan dasar.
Abstract:This research is descriptive research and uses qualitative methods. This research aims to analyze the factors of students' low interest in learning in grade IV science and science subjects at SD 190 Palembang, totaling 16…
16 students. The sampling technique in this research uses the proportional sampling method, In this study, the data taken was in the form of interview data, questionnaires and documentation in carrying out this research. The first step taken by the researcher was distributing questionnaires to students. The questionnaire was closed with 5 answer choices, namely strongly agree, agree, neutral, disagree and strongly disagree. agree, the questionnaire instrument consists of 21 statement items. Next, carry out the interview stage which is carried out after giving a questionnaire consisting of 10 questions and then carry out the documentation stage which shows that there are several students whose scores are below the Kkm, namely 75. So the indicator that can be concluded is the feeling of happiness indicator which is 12.79%, while The indicator of student interest was 13.21%, then the indicator of student attention was 14.5%, then the indicator of student involvement was 20.95%. In terms of indicators of student interest in science and science subjects, the percentage results were 13.21% with poor criteria.
Abstract:The development of illustrated story-based teaching materials to improve understanding of learning Indonesian in class II, has the goal of knowing the development of understanding of learning Indonesian that is valid, practical…
actical and effective. The type of research used by researchers in developing teaching materials based on picture stories is research and development, development refers to the ADDIE model consisting of analysis design, development, implementation, and evaluation. The research subjects were class IIA and IIB students of Public Elementary School 95 Palembang with a total of 36 students. The data collection techniques used in the study were questionnaires and documentation, based on the results of expert validator research from the three fields, namely media, material, and language where the validator in In this development, there are 2 validators covering the three fields, so the validator percentage results from the two experts are 3.80 which are categorized as "valid". Then the teacher's response practicality test obtained a percentage result of 87.49%, categorized as "very practical", then the one to one trial obtained a percentage value of 87.49% categorized as very practical, then the small group trial obtained a percentage value of 79.27 %. And the last test of the potential effect test obtained a percentage value of 90.00% which was categorized as very effective.
Abstract:Stunting remains a chronic nutritional problem of major concern in Indonesia. Preschool-aged children are particularly vulnerable to the ongoing impacts of stunting. The nutritional process involves the intake of nutrients…
ts that are digested and absorbed by the digestive tract, then used for energy, the formation and repair of body tissues, and the regulation of biochemical and hormonal functions. The MMD was attended by 25 people, consisting of community members, health workers, lecturers, and students. Participants provided input on efforts to prevent infectious diseases, particularly stunting, which has been experienced by several residents. The educational activity took place on Saturday at 11:30 a.m. WIB, involving families with a history of stunting. This activity aimed to improve families' health care skills related to stunting prevention. Programs or interventions implemented to prevent stunting must carefully consider both input and process aspects to achieve optimal output and must involve all parties, from mothers of toddlers to cross-sectoral stakeholders
Abstract:Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit demam akut yang bersifat endemik, namun pada periode tertentu dapat menimbulkan kejadian luar biasa hingga epidemi.. MMD dihadiri oleh 15 orang yang terdiri dari masyarakat,…
petugas kesehatan dan dosen beserta mahasiswa dalam diskusi, peserta memberikan masukan terkait upaya pencegahan penyakit menular, terutama DBD yang sudah pernah dialami oleh beberapa warga. Pelaksanaan penyuluhan dilakukan pada hari sabtu di Puskesmas pada saat posyandu Kegiatan ini dilakukan oleh kelompok mahasiswa pada pukul 10.00 WIB dan dihadiri oleh masyarakat, petugas kesehatan, mahasiswa dan dosen. MMD dihadiri oleh 15 orang yang terdiri dari masyarakat, petugas kesehatan dan dosen beserta mahasiswa dalam diskusi, peserta memberikan masukan terkait upaya pencegahan penyakit menular, terutama DBD yang sudah pernah dialami oleh beberapa warga. Kader kesehatan akan melakukan kunjungan rumah secara berkala untuk memberikan edukasi mengenai kebersihan rumah dan lingkungan, serta memfasilitasi pemanfaatan fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan posyandu
Abstract:Studi yang dikerjakan oleh Holden menemukan bahwa prevalensi miopia global adalah 22,9% dan miopia tinggi 2,7% pada tahun 2000. Dalam dekade berikutnya, prevalensi miopia meningkat menjadi 28,3% dan miopia tinggi naik menjadi…
njadi 4,0% pada tahun 2010. Prediksi untuk tahun 2050 menyatakan bahwa prevalensi miopia akan mencapai 49,8% dan miopia tinggi akan mencapai 9,8%. Selain itu, data dari WHO pada tahun 2010 mencatat bahwa prevalensi miopia global adalah 27% dan miopia tinggi adalah 2,8%. Berbagai faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya miopia pada pasien meliputi genetik dan pola hidup Miopia merupakan sebuah kelainan refraksi di mana, ketika mata tidak berakomodasi, sinar-sinar sejajar dari objek tertentu difokuskan bukan pada retina, melainkan di depannya.Tinjauan Pustaka: miopia merupakan sebuah kelainan refraksi di mana, ketika mata tidak berakomodasi, sinar-sinar sejajar dari objek tertentu difokuskan bukan pada retina, melainkan di depannya. Metode Penelitian: Dalam penelitian ini, metode deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel dari penelitian ini sebanyak 56 responden. Hasil Penelitian : Setelah dianalisa dengan uji statistik chi-square dimana P = 0,05 diperoleh P Value =0,006 < 0,05 dan diperoleh bahwa ada hubungan yang bermakna antara faktor genetik dengan kejadian miopia tinggi di Optik Global Palembang. Setelah dianalisa dengan uji statistik chi-square dimana P = 0,05 diperoleh P Value = 0,03 < 0,05 dan diperoleh bahwa ada hubungan yang bermakna antara pola hidup dengan kejadian miopia tinggi di Optik Global Palembang. Kesimpulan : berdasarkan hasil dari uji chi square terdapat ada hubungan antara faktor genetik dan pola hidup terhadap terjadinya miopia tinggi pada pasien di Optik Global Palembang.
Abstract:Perkembangan teknologi digital telah mendorong meningkatnya penggunaan alat bantu penerjemah dalam pembelajaran bahasa Inggris di perguruan tinggi. Alat bantu penerjemah seperti Google Translate banyak dimanfaatkan oleh…
mahasiswa untuk membantu memahami kosakata, membaca teks berbahasa Inggris, serta menyelesaikan tugas akademik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan alat bantu penerjemah dalam meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Populasi penelitian adalah mahasiswa yang menggunakan alat bantu penerjemah dalam pembelajaran bahasa Inggris, dengan sampel sebanyak 40 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa menggunakan alat bantu penerjemah secara aktif dalam kegiatan pembelajaran bahasa Inggris. Sebanyak 82,5% mahasiswa menyatakan sering menggunakan alat bantu penerjemah, sedangkan 90% mahasiswa menyatakan bahwa alat bantu penerjemah mudah digunakan. Selain itu, 87,5% mahasiswa menyatakan bahwa alat bantu penerjemah membantu meningkatkan kemampuan membaca (reading), 82,5% membantu kemampuan menulis (writing), dan 90% membantu meningkatkan penguasaan kosakata (vocabulary). Meskipun demikian, penggunaan alat bantu penerjemah secara berlebihan berpotensi menimbulkan ketergantungan dan mengurangi kemampuan mahasiswa dalam memahami tata bahasa (grammar) serta menyusun kalimat secara mandiri. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa alat bantu penerjemah memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kemampuan bahasa Inggris mahasiswa, khususnya pada aspek reading, writing, dan vocabulary. Oleh karena itu, penggunaan alat bantu penerjemah perlu diarahkan secara tepat agar dapat menjadi media pendukung pembelajaran yang efektif tanpa mengurangi kemampuan berpikir kritis dan kemandirian belajar mahasiswa.
Abstract:Peran strategis UMKM sebagai penggerak ekonomi lokal yang rentan terhadap perubahan kebijakan fiskal, khususnya kenaikan PPN 11% yang berpotensi meningkatkan biaya produksi dan menekan daya beli masyarakat sehingga memengaruhi…
garuhi pendapatan usaha mikro di Desa Cibodas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 11% terhadap penetapan harga jual produk dan pendapatan pelaku usaha mikro di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang kabupaten Bandung Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif dan verifikatif, teknik survei melalui kuesioner skala Likert, serta analisis regresi linier untuk menguji pengaruh variabel secara parsial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan PPN 11% berpengaruh signifikan terhadap penetapan harga jual, di mana pelaku usaha cenderung menaikkan harga sebagai respons terhadap meningkatnya biaya bahan baku. Selain itu, kenaikan PPN 11% juga berpengaruh signifikan terhadap penurunan pendapatan bersih akibat menurunnya volume penjualan dan margin keuntungan. Kesimpulan menyatakan kebijakan kenaikan PPN 11% memiliki implikasi langsung terhadap keberlangsungan usaha mikro, sehingga diperlukan strategi adaptasi harga dan dukungan kebijakan yang berpihak pada UMKM agar tetap kompetitif dan berkelanjutan di tengah perubahan fiskal.
Abstract:Kelainan refraksi adalah kondisi yang disebabkan oleh kelainan dalam panjang sumbu (axial length) atau kelainan daya refraksi media. Kelainan refraksi yang tidak terkoreksi adalah salah satu penyebab yang paling umum dari…
i gangguan penglihatan. Astigmatisme (mata silinder) adalah kondisi di mana kekuatan refraksi kornea atau lensa bervariasi karena perubahan bentuk permukaan sehingga cahaya jatuh di dua titik di depan retina. Kondisi ini menyebabkan penderita harus memutar mata sehingga efek lubang jarum dapat dilihat. Tujuan Penelitian : Mengetahui hubungan antara faktor genetik dan penggunaan gadget terhadap kejadian astigmatisme di Optik Reka Jaya Palembang Tahun 2024. Metode Penelitian : Dalam Penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional dimana variabel independen yaitu faktor genetik dan penggunaan gadget dan variabel dependen yaitu astigmatisme. Hasil Penelitian : Dari data bivariat diperoleh dari 48 responden terdapat 33 responden (68,8%) mengalami astigmatisme dan 15 responden (31,3%) tidak mengalami astigmatisme. Diperoleh 31 responden (64,6%) mengalami astigmatisme berdasarkan faktor genetik sedangkan 17 responden (35,4%) bukan berdasarkan faktor genetik. Diperoleh 32 responden (66,7%) mengalami astigmatisme berdasarkan penggunaan gadget yang buruk sedangkan 16 responden (33,3%) penggunaan gadget yang baik. Kesimpulan : Berdasarkan Analisa data yang dilakukan diperoleh Kesimpulan bahwa ada hubungan yang bermakna antara faktor genetik dan penggunaan gadget secara simultan dengan kejadian astigmatisme. Hasil uji statistik chi-square tentang hubungan faktor genetik dengan kejadian astigmatisme didapatkan nilai p-value 0,006 dan Hasil uji statistik chi-square tentang hubungan penggunaan gadget dengan kejadian astigmatisme didapatkan nilai p-value 0,021.