Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna simbol warna pakaian para imam dalam liturgi Gereja Katolik dengan menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce, yang meliputi tiga unsur utama, yaitu ikon, indeks,…
, dan simbol. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Lokasi penelitian dilakukan di Gereja Katolik Paroki Santa Maria Fatima Betun, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna-warna liturgi seperti putih, kuning/emas, merah, hijau, ungu, merah muda, dan hitam memiliki makna simbolik yang mendalam dan tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, tetapi juga sebagai media komunikasi teologis dan spiritual. Dalam perspektif ikon, warna memiliki kemiripan visual dengan makna yang diwakilinya, seperti putih yang melambangkan kemurnian dan kebangkitan. Dalam perspektif indeks, warna menunjukkan hubungan langsung dengan konteks liturgi tertentu, seperti ungu yang menandakan masa pertobatan. Sementara itu, dalam perspektif simbol, makna warna dibentuk melalui tradisi dan kesepakatan Gereja, seperti merah yang melambangkan pengorbanan dan Roh Kudus. Dengan demikian, warna pakaian liturgi para imam merupakan sistem tanda yang kompleks dan multidimensional yang mengandung nilai teologis, historis, dan spiritual. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan semiotika Peirce efektif dalam mengungkap makna simbolik dalam praktik keagamaan, khususnya dalam liturgi Gereja Katolik.
Abstract:Penumpukan sampah di kawasan wisata pesisir masih menjadi permasalahan lingkungan yang serius karena berdampak terhadap kualitas ekologi, kesehatan masyarakat, kenyamanan pengunjung, dan keberlanjutan aktivitas wisata lokal.…
kal. Pantai Marthafons yang terletak di Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, merupakan salah satu kawasan wisata pesisir yang menghadapi persoalan sampah secara berulang akibat aktivitas pengunjung, limbah rumah tangga, serta sampah kiriman yang terbawa arus laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kesadaran spiritual dan etika lingkungan dalam membentuk perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah di Pantai Marthafons. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan wawancara semi-terstruktur dengan informan kunci yang memahami kondisi lingkungan pantai. Data dianalisis melalui reduksi data, klasifikasi temuan, interpretasi, dan penarikanklasifikasi temuan, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran spiritual mendorong sebagian masyarakat memandang pelestarian lingkungan sebagai tanggung jawab moral dan religius terhadap ciptaan Tuhan. Etika lingkungan juga memperkuat kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan dan berpartisipasi dalam kegiatan pembersihan pantai. Namun, pengelolaan sampah masih terkendala oleh keterbatasan fasilitas, partisipasi masyarakat yang belum merata, serta sampah kiriman dari arus laut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesadaran spiritual dan etika lingkungan dapat menjadi modal sosial penting dalam memperkuat pengelolaan sampah pesisir secara berkelanjutan.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam makna etika bisnis bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Ambon melalui pendekatan kualitatif fenomenologi. Fokus utama penelitian difokuskan pada…
ada pemahaman moral, pengalaman menghadapi dilema etis, internalisasi nilai kearifan lokal, serta peran kepercayaan dalam menjamin keberlangsungan usaha. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam (in-depth interview) secara semi-terstruktur terhadap informan pemilik UMKM di Kota Ambon yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data didasarkan pada prosedur fenomenologi Moustakas yang mencakup tahapan epoché, horisonalisasi, klaster tema, hingga deskripsi struktural-tekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etika bisnis dimaknai bukan sekadar sebagai instrumen kepatuhan hukum normatif, melainkan sebagai manifestasi integritas personal dan spiritualitas kerja. Hubungan interaktif bisnis sangat dipengaruhi oleh modal sosial kearifan lokal (seperti semangat kebersamaan berbasis trans-komunitas). Kepercayaan konsumen diidentifikasi sebagai jembatan kritis yang mengaitkan perilaku etis dengan keberlanjutan hidup usaha di Tengah tingginya volatilitas pasar. Temuan ini menyimpulkan pentingnya integrasi nilai moral kultural ke dalam manajemen UMKM guna menciptakan ekosistem bisnis lokal yang resilien dan berkelanjutan.
Abstract:Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Fisika merupakan salah satu program resmi nasional yang menuntut penguasaan konsep, penalaran matematis, dan kemampuan pemecahan masalah yang sistematis. Kegiatan pengabdian ini dilakukan…
kukan oleh dosen Fisika Fakultas Mipa Universitas Negeri Gorontalo melalui pendampingan dengan tujuan memperkuat kesiapan siswa peserta OSN Fisika SMA Negeri 3 Gorontalo ke tingkat Provinsi hingga Nasional. Kegiatan dilakukan sejak awal tahun yaitu Januari 2026 hingga ujian tingkat provinsi di Bulan Juli 2026 selama dua kali dalam seminggu menggunakan pendekatan partisipatif dan beriorientasi latihan soal. Kegiatan diawali dengan mengidentifikasi kebutuhan, pemetaan kemampuan awal siswa, penguatan konsep, pembahasan soal nonrutin, latihan mandiri, diskusi, simulasi soal, serta refleksi umpan balik. Evaluasi dilakukan secara deskriptif melalui observasi mentor, lembar kerja siswa, latihan formatif, kinerja pada simulasi, dan umpan balik lisan maupun tertulis. Hasil pendampingan menunjukkan perkembangan positif pada kemampuan siswa dalam mengenali prinsip fisika yang relevan, mengubah persoalan menjadi diagram dan persamaan, menyusun langkah penyelesaian, memeriksa satuan dan kewajaran jawaban, serta mengomunikasikan alasan penyelesaian. Siswa juga tampak lebih aktif dan percaya diri dalam diskusi. Kendala yang masih memerlukan penguatan adalah soal multikonsep, aljabar atau kalkulus tingkat lanjut, dan manajemen waktu. Peserta menilai penjelasan bertahap dan koreksi langsung sebagai bagian paling membantu, serta mengusulkan penambahan simulasi dan bank soal lanjutan. Kolaborasi perguruan tinggi dan sekolah secara berkelanjutan diperlukan untuk membangun ekosistem pembinaan OSN Fisika yang terstruktur.
Abstract:Perundungan masih menjadi tantangan dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan ramah anak sehingga diperlukan implementasi program pencegahan yang dikelola secara sistematis. Penelitian ini bertujuan…
mendeskripsikan dan menganalisis implementasi program anti-perundungan dalam mendukung terwujudnya Sekolah Ramah Anak di SMPIT Citra Az Zahra Jakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan terdiri atas Kepala Sekolah, Kepala Unit Self Empowerment Citraz (SEC), dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña melalui kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program anti-perundungan dilaksanakan secara sistematis melalui fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan yang terintegrasi dalam Self Development Class berbasis pembinaan karakter dan nilai-nilai keislaman. Program ini meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai perundungan, menumbuhkan empati, toleransi, dan tanggung jawab sosial, serta memperkuat budaya sekolah yang aman dan ramah anak. Keberhasilan program didukung oleh komitmen pimpinan, kolaborasi seluruh warga sekolah, serta dukungan orang tua dan pihak eksternal, meskipun masih menghadapi kendala berupa keterbatasan pengawasan perilaku peserta didik di luar sekolah. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan program anti-perundungan secara terpadu untuk mendukung terwujudnya Sekolah Ramah Anak.
Abstract:Steamed sponge cake (bolu kukus) is a widely consumed traditional snack in Indonesia; however, its reliance on refined wheat flour limits its micronutrient and dietary fiber density. Incorporating composite flours from indigenous…
ndigenous crops, such as tropical pumpkin (Cucurbita moschata) and green pea (Vigna radiata L.), offers a promising strategy for nutritional fortification and dietary diversification. This study aimed to evaluate the proximate composition, sensory acceptability, statistical differences, and production cost feasibility of steamed sponge cakes formulated with varying proportions of pumpkin and green pea flours as partial replacements for refined wheat flour. An experimental design was applied using three formulations: AF09 (Control: 100% wheat flour), BW91 (10% pumpkin flour, 20% green pea flour), and CB88 (15% pumpkin flour, 15% green pea flour). Proximate testing measured moisture, ash, protein, fat, crude fiber, and total carbohydrates (by difference). Sensory acceptance (color, aroma, taste, and texture) was evaluated by 50 semi-trained panelists using a hedonic scale. Data were analyzed non-parametrically using Kolmogorov-Smirnov, Kruskal-Wallis, and post-hoc Mann-Whitney tests. All formulations complied with the Indonesian National Standard (SNI 01-3840-1995) for moisture (31.69%–33.74%), total ash (0.66%–1.05%), crude protein (5.80%–6.65%), and crude fat (1.64%–2.82%). Formula CB88 achieved the highest crude fiber content (0.69%) and lower total energy density (269.88 kcal/100 g). Kruskal-Wallis testing indicated statistically significant differences (p<0.05) among formulations for color, taste, and texture, while aroma exhibited no significant variation (p=0.672). Formula CB88 emerged as the optimal treatment, receiving superior sensory acceptance ratings for color (90% liked) and crumb softness (88% liked) driven by natural β-carotene and pectin-moisture gelation. Production cost analysis demonstrated high economic feasibility for CB88 at IDR 3,374 per 55 g serving. Partial substitution with 15% pumpkin flour and 15% green pea flour (Formula CB88) yields a nutrient-dense, fiber-enriched, and cost-effective functional snack suitable for targeted school nutrition and dietary diversification programs.
Abstract:Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) are crucial for local economic development, employment absorption and community welfare. However, the success of empowerment programmes in rural regions generally stays at the…
implementation level. This study seeks to examine the implementation of MSME empowerment program in enhancing business independence in Desa Curugciung Kecamatan Cikeusik Kabupaten Pandeglang. The study used a descriptive qualitative design. The collection of data was carried out through observation, semi-structured interviews and documentation with seven informants, including the sub-district head, village head, a BRI officer, the chairperson of the Village Consultative Body, and three MSME actors. Data were evaluated by Miles, Huberman and Saldaña’s interactive approach which consists of data collection, data condensation, data display and conclusion drafting. The findings indicate that the implementation of the MSME empowerment program has not been adequately carried out. Communication on the program at the bureaucratic level was still limited and did not reach the MSME actors to the fullest. Training, mentoring and access to funding were formally provided as resources but not experienced equally by business actors. The commitment of the implementing institutions had not been fully converted into ongoing assistance, while the bureaucratic structure was still more administrative than service-oriented. The results of the study also indicated that the independence of the business of MSME actors is more created via self-initiative, experience and adaptation rather than direct intervention from the empowerment program. The study concluded that the presence of resilient MSMEs in rural areas does not necessarily mean that the policies are well implemented. The essay contributes to the study of public policy implementation in the identification of the gap between the formal empowerment design and the real growth of business independence at the village level.
Abstract:This study aims to evaluate the stability of three rock slopes in an artisanal kaolin mine in Semin, Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia, using deterministic and probabilistic approaches, and to identify the geotechnical…
parameters most influencing slope stability. The evaluation is conducted in compliance with Indonesian Mining Regulation (Kepmen ESDM No. 1827 K/30/MEM/2018) to provide quantitative geotechnical evidence for a mine that has been operated without prior formal geotechnical assessment. Field data were collected using the scanline method to characterize rock mass discontinuities. Laboratory tests comprising direct shear and physical properties tests were conducted to determine cohesion (c), friction angle (ϕ), and unit weight (γ) for each slope. Seismic coefficient (ks = 0,0913) was incorporated as a dynamic loading parameter. Slope stability was analyzed using the General Limit Equilibrium (GLE) method to obtain the deterministic Factor of Safety (FoS). Monte Carlo simulation (N = 10.000 iterations) was applied to determine the Probability of Failure (PoF), coefficient of variation of FoS (CoV), and reliability index (β). Sensitivity analysis was performed to quantify the contribution of each geotechnical parameter to FoS reduction. Results show that FoS values ranged from 2,019 (Slope III) to 10,55 (Slope II), all exceeding the regulatory minimum of 1,1. The PoF was 0,00% for all three slopes, well below the maximum allowable limit of 25%, with reliability indices ranging from 5,70 to 31,38. The CoV of FoS ranged from 3% to 9%, indicating low dispersion in stability outcomes despite parameter variability. Sensitivity analysis identified cohesion as the most dominant parameter in Slopes I and II, contributing 28% and 31% to FoS reduction respectively, while Slope III exhibited near-equal contributions from cohesion (20%) and friction angle (21%), reflecting its lower shear strength conditions. All three slopes satisfy the acceptance criteria of Kepmen ESDM No. 1827 K/30/MEM/2018 under current geotechnical and geometric conditions. The combined deterministic-probabilistic approach provides a more comprehensive slope safety assessment than deterministic analysis alone and is recommended for application in artisanal kaolin mining operations. Cohesion is identified as the critical parameter to be monitored and preserved to maintain slope stability.
Abstract:Waste management has become one of the most persistent environmental challenges confronting rapidly growing urban areas in Indonesia. While previous studies have primarily explained waste management through technical infrastructure,…
rastructure, environmental awareness, or public policy, relatively little attention has been given to the interaction between environmental ethics and everyday social practices in shaping environmental behaviour. This study aims to examine how environmental ethics are translated into community waste management practices in Kendari City from the perspective of environmental sociology. A qualitative case study approach was employed using field observations, semi-structured interviews with 30 informants representing community members, religious leaders, community leaders, sanitation workers, and officials from the Kendari City Environmental Agency, as well as document analysis. The data were analysed using thematic analysis and interpreted through the analytical perspectives of Environmental Sociology, Social Practice Theory, Public Sphere Theory, and Political Ecology. The findings reveal that environmental ethics constitute an important normative foundation for environmental responsibility; however, their implementation in everyday waste management practices is mediated by socially embedded habitus, community values, institutional capacity, public discourse, and local governance. Waste management behaviour is therefore shaped not only by individual awareness but also by continuous interactions among social norms, institutional arrangements, and collective practices. The study concludes that sustainable urban waste management requires integrated approaches combining environmental ethics, community participation, participatory governance, and institutional collaboration. By integrating environmental ethics with environmental sociology, this study contributes to a broader understanding of the social dimensions of urban waste management and offers practical insights for strengthening community-based environmental governance in Indonesia.
Abstract:This research is motivated by the importance of accountability in Islamic banking, which is not only related to administrative responsibility but also encompasses moral and spiritual dimensions. This study aims to understand…
tand the meaning of accountability from a sharia accounting perspective for the managers of Bank Muamalat Ambon. The study used a qualitative approach with a phenomenological method. The study population was the managers of Bank Muamalat Ambon, while informants were selected using a purposive sampling technique based on experience and involvement in Islamic banking activities. The research instrument was a semi-structured interview guide. Data collection techniques were carried out through in-depth interviews and analyzed using phenomenological analysis through the stages of transcription, coding, grouping themes, and extracting essential meanings. The results show that sharia accountability is interpreted as a professional, moral, social, and spiritual responsibility manifested through trustworthiness, transparency, sharia compliance, fair service, and supervision. The conclusion of the study confirms that sharia accountability is not only understood as formal reporting, but as an ethical and religious practice carried out in daily work activities.