Abstract:Abstract: This study aims to explore the pedagogical values within the Pilandok Takial Kial dance as an instrument for revitalizing youth ethics in Labuhanbatu Regency. In the digital era, teenagers face challenges of moral…
ral degradation and identity crisis that distance them from their local cultural roots. This study employs a qualitative approach with descriptive-analytical methods using Roland Barthes' Semiotic theory. Data were collected through textual observation of movements, literature studies, and in-depth interviews with dance maestros and traditional leaders. The results show that the Pilandok dance is not merely an aesthetic representation of a mousedeer’s movements but a system of signs containing strategic moral messages. Symbols of vigilance (eyes), resilience (takial-kial feet), and manners (worship gestures) are manifestations of the "civilized ingenuity" concept. The implications of this study emphasize the importance of integrating dance philosophy into character education curricula to shape a Generation Z that is intellectually bright yet still upholds Malay values of politeness.
Keywords: Pilandok Takial Kial Dance, Semiotics, Youth Ethics, Labuhanbatu, Cultural Revitalization.
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi nilai-nilai pedagogis dalam Tari Pilandok Takial Kial sebagai instrumen revitalisasi etika remaja di Kabupaten Labuhanbatu. Di era digital, remaja menghadapi tantangan degradasi moral dan krisis identitas yang menjauhkan mereka dari akar budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis melalui teori Semiotika Roland Barthes. Data dikumpulkan melalui observasi tekstual gerak, studi literatur, serta wawancara mendalam dengan maestro tari dan tokoh adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Pilandok bukan sekadar representasi estetika gerak kancil, melainkan sebuah sistem tanda yang mengandung pesan moral strategis. Simbol kewaspadaan (mata), resiliensi (kaki takial-kial), dan adab (gestur sembah) merupakan manifestasi dari konsep "kecerdikan beradab". Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya integrasi filosofi tari ke dalam kurikulum pendidikan karakter untuk membentuk Generasi Z yang cerdas secara intelektual namun tetap menjunjung tinggi nilai kesantunan Melayu.
Kata kunci: Tari Pilandok Takial Kial, Semiotika, Etika Remaja, Labuhanbatu, Revitalisasi Budaya.
Abstract:Abstract: This study aims to analyze the social construction of meaning surrounding the Tabuik tradition in Pariaman City through the perspective of Peter L. Berger’s Social Construction of Reality theory. The Tabuik tradition…
radition has undergone a shift in meaning, situated between the preservation of cultural values, the pressures of tourism commodity, and resistance emerging from religious discourse. This research employed a qualitative method with a phenomenological approach. Data were collected through in-depth interviews with key informants, including traditional leaders (Tuo Tabuik), as well as supporting informants from students of the Minangkabau Literature Program, who represented the younger generation. Data analysis was conducted through the stages of data collection, data presentation, and conclusion drawing. The findings reveal that the construction of meaning of the Tabuik tradition among students is shaped through the integration of empirical experiences, formal education, and social interactions. Theoretically, these meanings are manifested in three major dimensions: cultural identity, spiritual experience, and cultural transformation in the modern era. The study indicates that students perceive Tabuik from two contrasting perspectives. On the one hand, it is regarded as a symbol of ancestral heritage preservation that embodies important philosophical and cultural values. On the other hand, concerns emerge regarding its transformation into a tourism commodity, which may reduce the sacredness of the tradition. Furthermore, the influence of social media and Generation Z lifestyles has encouraged the reinterpretation of Tabuik as a medium for self-expression and social existence. Therefore, this study confirms that the meaning of the Tabuik tradition is dynamic and continuously evolving in response to social influences and the communication patterns of younger generations.
Keywords: Social Construction; Peter L. Berger; Tabuik Tradition; Pariaman; Phenomenology.
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam konstruksi sosial pemaknaan tradisi Tabuik di Kota Pariaman dengan menggunakan analisis Teori Konstruksi Sosial atas Realitas dari Peter L. Berger. Tradisi Tabuik saat ini mengalami pergeseran makna antara pelestarian nilai kultural, desakan komoditas pariwisata, dan resistensi dari diskursus keagamaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap informan kunci yang terdiri dari tokoh adat (Tuokan Tabuik) serta informan pendukung dari kalangan mahasiswa Prodi Sastra Minangkabau sebagai representasi generasi muda. Analisis data dilakukan melalui tahapan pengumpulan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini mengungkapkan bahwa konstruksi makna tradisi Tabuik di kalangan mahasiswa terbentuk melalui integrasi pengalaman empiris, pendidikan formal, dan interaksi sosial. Secara teoretis, makna tersebut terbagi ke dalam dimensi identitas budaya, pengalaman spiritual, serta transformasi budaya di era modern. Hasil studi menunjukkan persepsi mahasiswa: di satu sisi, Tabuik dipandang sebagai simbol pelestarian warisan leluhur yang bernilai filosofis, namun di sisi lain, terdapat kekhawatiran akan pergeseran maknanya menjadi sekadar komoditas pariwisata yang mereduksi kesakralan tradisi. Lebih lanjut, pengaruh media sosial dan gaya hidup generasi Z turut mendorong reinterpretasi tradisi sebagai bentuk eksistensi diri. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa makna tradisi Tabuik bersifat dinamis dan terus berkembang seiring dengan pengaruh sosial serta pola komunikasi generasi muda.
Kata kunci: konstruksi sosial; Peter L. Berger; tradisi tabuik; Pariaman; fenomenologi.
Abstract:Abstract: "The shelf life of a food product is the period during which the product remains safe and maintains its sensory, chemical, physical, and microbiological quality according to expected standards. For semi-moist products…
roducts such as dodol, key facto rs affecting shelf life include moisture content, water activity (aw), pH, the presence of microorganisms (mold/yeast), packaging conditions, and storage temperature. Hedonic testing is a sensory evaluation method conducted to determine the level of consumer preference for a product. Both the flesh and peel of red dragon fruit contain betalain pigments (betacyanins) and phenolic compounds that function as natural antioxidants. Utilizing the peel can reduce agricultural waste while enhancing the nutritional aspects and oxidative stability of the product. Therefore, comparing the extract of red dragon fruit flesh and peel in dodol products is relevant from the perspectives of food technology and sustainability. This assessment covers shape, color, aroma, texture, and taste, evaluated based on a subjective scale. This study aims to analyze the differences in shelf life and acceptability (hedonic test) between dodol using red dragon fruit flesh and peel extracts. The research method employed is a mixed method, combining descriptive qualitative analysis for shelf-life observation and quantitative analysis for the hedonic test with 50 panelists. The results showed that the optimal shelf life of the product is 10-12 days at room temperature. Statistical tests indicated that significant differences were only found in the color variable, while aroma, texture, and taste showed no significant differences between the two types of dodol."
Keywords: dodol; red dragon fruit flesh; red dragon fruit peel; shelf life; hedonic test.
Abstrak: Umur simpan suatu produk pangan adalah periode di mana produk tersebut tetap aman dan mempertahankan mutu sensori, kimiawi, fisik, dan mikrobiologis sesuai standar yang diharapkan. Untuk produk semi-basah seperti dodol, faktor-faktor kunci yang mempengaruhi umur simpan meliputi kadar air, aktivitas air (a_w), pH, keberadaan mikroorganisme (jamur/yeast), kondisi pengemasan, dan suhu penyimpanan. Uji hedonik adalah metode evaluasi sensori yang dilakukan untuk mengetahui seberapa besar tingkat kesukaan seseorang terhadap suatu produk. Daging dan kulit buah naga merah mengandung pigmen betalain (betasianin) dan senyawa fenolik yang berfungsi sebagai antioksidan alami. Pemanfaatan kulit dapat menurunkan limbah pertanian sekaligus menambah aspek nutrisi dan stabilitas oksidatif produk. Oleh karenanya, membandingkan ekstrak daging dan ekstrak kulit buah naga merah pada produk dodol relevan dari sisi teknologi pangan dan keberlanjutan. Penilaian ini mencakup bentuk, warna, aroma, tekstur dan rasa yang dinilai berdasarkan skala subjektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan umur simpan dan daya terima (uji hedonik) antara dodol yang menggunakan ekstrak daging dan kulit buah naga merah. Metode penelitian yang digunakan adalah mixed method yang menggabungkan analisis kualitatif deskriptif untuk pengamatan umur simpan dan kuantitatif untuk uji hedonik dengan 50 panelis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa simpan optimal produk adalah 10-12 hari pada suhu ruang. Uji statistik menunjukkan perbedaan signifikan hanya ditemukan pada variabel warna, sementara aroma, tekstur, dan rasa tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua jenis dodol tersebut.
Kata kunci: dodol; daging buah naga; kulit buah naga; umur simpan; uji hedonik
Abstract:Abstract: This study examines the implementation of Technical and Vocational Education and Training (TVET) in improving students’ employability in Indonesian Vocational High Schools (SMK). The analysis focuses on four…
four operational components: institutional management, workshop organization, training approaches, and industry-based curriculum practices. The research background highlights the persistent mismatch between the expected role of SMK as producers of skilled workers and the low employment rate of their graduates. Using a qualitative case study in selected SMK, the findings reveal that improving work readiness depends not only on teaching competencies but also on the effectiveness of operational systems in these four areas. The results show that institutional governance largely shapes industrial collaboration, instructional quality, and evaluation systems aligned with labor market demands. Industry-standard workshops significantly strengthen students’ technical skills through practical activities using relevant tools and procedures. Training models such as project-based learning, teaching factory, and internships enhance practical competencies and work attitudes. Meanwhile, flexible and collaborative curricula improve the relevance of graduate skills to industry needs.
Keyword: TVET, SMK, kesiapan kerja, workshop kejuruan, kurikulum industri, pelatihan vokasi
Abstrak: Penelitian ini mengkaji penerapan Technical and Vocational Education and Training (TVET) dalam meningkatkan kesiapan kerja peserta didik di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia. Fokus penelitian mencakup empat aspek utama, yaitu manajemen institusi, pengelolaan workshop, metode pelatihan, dan implementasi kurikulum berbasis industri. Latar belakang penelitian didasari rendahnya serapan lulusan SMK di pasar kerja meskipun SMK ditujukan sebagai penghasil tenaga kerja terampil. Melalui studi kasus kualitatif pada beberapa SMK, ditemukan bahwa peningkatan kesiapan kerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pedagogis guru, tetapi juga oleh kualitas operasional keempat aspek tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola manajemen berperan penting dalam menjalin kemitraan industri, mengatur mutu pembelajaran, dan merancang sistem evaluasi berbasis kebutuhan pasar. Workshop berstandar industri turut meningkatkan kompetensi teknis siswa melalui praktik menggunakan peralatan dan prosedur terkini. Metode pelatihan seperti project-based learning, teaching factory, dan magang industri mendorong keterampilan praktis serta etos kerja. Kurikulum yang fleksibel dan disusun bersama industri memperkuat relevansi kompetensi lulusan. Penelitian menyimpulkan bahwa keberhasilan TVET membutuhkan sinergi kebijakan antara sekolah, industri, dan pemerintah dalam pendanaan, kurikulum, sertifikasi, dan penyediaan instruktur.
Kata kunci: TVET, SMK, kesiapan kerja, workshop kejuruan, kurikulum industri, pelatihan vokasi.
Abstract:Abstract: Amidst growing global pressure for corporate sustainability, the integration of Green Human Resource Management (Green HRM) and Digital HR has emerged as a strategic imperative. While Green HRM aims to align human…
man resource practices with environmental goals, Digital HR offers a technological pathway to strengthen these initiatives. However, the success of such synergy relies heavily on the establishment of Employee Green Behavior (EGB), and a significant research gap remains in understanding this dynamic, particularly through a qualitative lens in the context of a resource-dependent emerging economy such as Riau Province, Indonesia. Therefore, this study aims to qualitatively explore the process by which the integration of Green HRM and Digital HR shapes EGB, ultimately influencing organizational sustainability within private sector firms in Riau. Adopting a constructivist paradigm, the study employed a qualitative multiple case study design. Data were collected from sustainability-oriented private firms in Riau through purposive sampling of participants from various organizational levels. Triangulation of data collection methods, including in-depth interviews, participant observation, and document analysis, was used to ensure the richness and credibility of the findings. The results indicate that the integration of Green HRM and Digital HR creates a dynamic synergy that serves as an accelerator of operational efficiency and environmental awareness. Digital HR acts as a crucial catalyst, strengthening Green HRM practices by enhancing employees' ability, motivation, and opportunity (AMO) to engage in green behaviors. Furthermore, EGB emerges as an essential bridge that translates policies into concrete actions, evolving from mandated in-role behaviors to voluntary extra-role behaviors, with its implementation heavily influenced by the local socio-cultural context of Riau. The implications of this study are twofold. Theoretically, this study contributes an integrated conceptual model that extends the Resource-Based View (RBV) and AMO theories in an under-researched developing country context. Practically, this study offers a strategic roadmap for leaders to design holistic HR strategies, leveraging digital tools as catalysts for green culture while navigating local socio-cultural dynamics and addressing the digital skills gap to achieve true organizational sustainability.
Keywords: Green HRM, Digital HR, Employee Green Behavior, Organizational Sustainability, Sustainable HR
Abstrak: Di tengah meningkatnya tekanan global untuk keberlanjutan korporat, integrasi antara Green Human Resource Management (Green HRM) dan Digital HR telah muncul sebagai sebuah keharusan strategis. Sementara Green HRM bertujuan untuk menyelaraskan praktik sumber daya manusia dengan tujuan lingkungan, Digital HR menawarkan jalur teknologi untuk memperkuat inisiatif ini. Namun, keberhasilan sinergi tersebut sangat bergantung pada pembentukan Employee Green Behavior (EGB), namun masih terdapat kesenjangan penelitian yang signifikan dalam memahami dinamika ini, terutama melalui lensa kualitatif dalam konteks ekonomi berkembang yang bergantung pada sumber daya alam seperti Provinsi Riau, Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara kualitatif proses di mana integrasi Green HRM dan Digital HR membentuk EGB, yang pada akhirnya memengaruhi keberlanjutan organisasi di dalam perusahaan sektor swasta di Riau. Mengadopsi paradigma konstruktivis, penelitian ini menggunakan desain studi kasus jamak kualitatif. Data dikumpulkan dari perusahaan swasta berorientasi keberlanjutan di Riau melalui purposive sampling partisipan dari berbagai tingkatan organisasi. Triangulasi metode pengumpulan data, termasuk wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen, digunakan untuk memastikan kekayaan dan kredibilitas temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi Green HRM dan Digital HR menciptakan sinergi dinamis yang berfungsi sebagai akselerator efisiensi operasional dan kesadaran lingkungan. Digital HR bertindak sebagai katalisator penting, memperkuat praktik Green HRM dengan meningkatkan kemampuan, motivasi, dan kesempatan (Ability-Motivation-Opportunity - AMO) karyawan untuk terlibat dalam perilaku hijau. Lebih lanjut, EGB muncul sebagai jembatan esensial yang menerjemahkan kebijakan menjadi tindakan nyata, berkembang dari perilaku in-role yang diwajibkan menjadi perilaku extra-role yang sukarela, dengan implementasinya sangat dipengaruhi oleh konteks sosio-kultural lokal Riau. Implikasi dari penelitian ini ada dua. Secara teoretis, penelitian ini menyumbangkan model konseptual terintegrasi yang memperluas teori Resource-Based View (RBV) dan AMO dalam konteks negara berkembang yang kurang diteliti. Secara praktis, penelitian ini menawarkan peta jalan strategis bagi para pemimpin untuk merancang strategi SDM holistik, memanfaatkan alat digital sebagai katalisator budaya hijau sambil menavigasi dinamika sosio-kultural lokal dan mengatasi kesenjangan keterampilan digital untuk mencapai keberlanjutan organisasi yang sejati
Kata Kunci: Green HRM, Digital HR, Employee Green Behavior, Organizational Sustainability, Sustainable HR
Abstract:Abstract: This study examines the complexity of policies governing conflicts of interest and corruption between Indonesia and Singapore through a normative juridical approach. The study was conducted by examining the regulatory…
ulatory framework, institutions, and legal implementation in preventing the practice of abuse of public office. The results of the study indicate that the Indonesian regulatory framework, although comprehensive, tends to function as a legislative showcase without transformative power because it is trapped in a political dynamic that is permissive towards corruption. Instruments such as the Corruption Law, PP 53/2010, and the code of ethics for public officials are more symbolic than substantive, thus failing to change bureaucratic behavior that is still shaped by a culture of patronage and clientelism. In contrast, Singapore proves that simple but sharp regulations, such as the Prevention of Corruption Act, when supported by an independent anti-corruption agency (CPIB), indiscriminate law enforcement, and integrity-based bureaucratic incentives, can suppress corruption to a minimum level. However, Singapore's system remains subject to criticism, particularly regarding the risk of legal authoritarianism and vulnerability to cross-border global financial issues. Therefore, this study confirms that the effectiveness of corruption eradication is not determined by the number of regulations, but rather by political consistency, independent institutional design, and the internalization of integrity values within the bureaucratic culture. For Indonesia, an important lesson from Singapore is the urgency of simplifying regulations, strengthening the independence of anti-corruption institutions, and fostering a bureaucratic culture that rejects patronage.
Keywords: complexity, nurative, legislative showcase, authoritarianism, internalization, bureaucracy
Abstrak: Penelitian ini menelaah kompleksitas kebijakan pengaturan konflik kepentingan dan tindak pidana korupsi antara Indonesia dan Singapura melalui pendekatan yuridis normatif. Kajian dilakukan dengan menelaah kerangka regulasi, kelembagaan, serta implementasi hukum dalam mencegah praktik penyalahgunaan jabatan publik. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa kerangka regulasi Indonesia, meskipun komprehensif, cenderung berfungsi sebagai legislative showcase tanpa daya transformasi karena terjebak dalam dinamika politik yang permisif terhadap korupsi. Instrumen seperti UU Tipikor, PP 53/2010, maupun kode etik pejabat publik lebih bersifat simbolik daripada substantif, sehingga gagal mengubah perilaku birokrasi yang masih dibentuk oleh budaya patronase dan clientelism. Sebaliknya, Singapura membuktikan bahwa regulasi yang sederhana namun tajam, seperti Prevention of Corruption Act. Jika ditopang lembaga antikorupsi independen (CPIB), penegakan hukum tanpa pandang bulu, dan insentif birokrasi berbasis integritas, mampu menekan korupsi hingga level minimal. Meski demikian, sistem Singapura tetap menyisakan kritik, terutama terkait risiko otoritarianisme hukum dan kerentanan terhadap isu keuangan global lintas batas. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa efektivitas pemberantasan korupsi tidak ditentukan oleh banyaknya regulasi, melainkan oleh konsistensi politik, desain kelembagaan yang independen, serta internalisasi nilai integritas dalam budaya birokrasi. Bagi Indonesia, pelajaran penting dari Singapura adalah urgensi menyederhanakan regulasi, memperkuat independensi lembaga antikorupsi, dan menumbuhkan budaya birokrasi yang menolak patronase.
Kata kunci: kompleksitas, nuratif, legislatif showcase, otoritarisme, internalisasi, birokrasi
Abstract:Abstract: The s-shaped turbine is a hydrokinetic turbine that has the potential to be applied to open channel flows due to its ability to operate at low flow velocities and its simple construction. However, the performance…
ce of this turbine is greatly influenced by the surrounding hydrodynamic conditions, including the geometry of the flow domain. This study aims to analyze the effect of variations in the open channel domain angle on the flow characteristics and performance of the s-shaped Savonius turbine using a Computational Fluid Dynamics (CFD) approach. Simulations were carried out at three variations of domain angles, namely 20°, 30°, and 40°, with an inlet flow velocity of 0.5 m/s, a turbine diameter of 76 mm, and a turbine height of 76 mm. The performance parameters analyzed included torque, power coefficient (Cp), and torque coefficient (Ct), as well as flow characteristics in the form of velocity contours, pressure contours, and streamlines. The simulation results show that variations in the domain angle have a significant effect on the flow distribution, pressure pattern, and torque stability produced by the turbine. The domain with an angle of 20° produces the highest Cp and Ct values, while the 30° domain shows a significant decrease in performance due to the increase in the recirculation zone and pressure imbalance around the rotor.
Keyword: S-Shape Turbine; Hydrokinetics; Open Channel; CFD; Domain Angle
Abstrak: Turbin tipe s-shape merupakan salah satu turbin hidrokinetik yang potensial untuk diaplikasikan pada aliran saluran terbuka karena kemampuannya beroperasi pada kecepatan aliran rendah dan konstruksinya yang sederhana. Namun, kinerja turbin ini sangat dipengaruhi oleh kondisi hidrodinamika di sekitarnya, termasuk geometri domain aliran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi sudut domain saluran terbuka terhadap karakteristik aliran dan performa turbin s-shape menggunakan pendekatan Computational Fluid Dynamics (CFD). Simulasi dilakukan pada tiga variasi sudut domain, yaitu 20°, 30°, dan 40°, dengan kecepatan aliran masuk 0,5 m/s, diameter turbin 76 mm, dan tinggi turbin 76 mm. Parameter kinerja yang dianalisis meliputi torsi, koefisien daya (Cp), dan koefisien torsi (Ct), serta karakteristik aliran berupa kontur kecepatan, kontur tekanan, dan streamline. Hasil simulasi menunjukkan bahwa variasi sudut domain memberikan pengaruh signifikan terhadap distribusi aliran, pola tekanan, dan stabilitas torsi yang dihasilkan turbin. Domain dengan sudut 20° menghasilkan nilai Cp dan Ct tertinggi, sedangkan domain 30° menunjukkan penurunan kinerja yang cukup signifikan akibat meningkatnya zona resirkulasi dan ketidakseimbangan tekanan di sekitar rotor.
Kata kunci: Turbin S-Shape; Hidrokinetik; Saluran Terbuka; CFD; Sudut Domain
Abstract:Abstract: This study examines the effect of digital skills and market feasibility on startup performance, with Technical and Vocational Education and Training (TVET) acting as a moderating variable. The rapid digital transformation…
nsformation has reshaped entrepreneurial ecosystems, making digital competence and market alignment essential for startup survival. Using a quantitative explanatory design, data were collected from 100 startup founders through structured questionnaires. The results show that digital skills have a significant positive effect on startup performance, demonstrating how technological proficiency enhances innovation, operational efficiency, and competitiveness. In contrast, market feasibility reveals a significant but negative effect, suggesting possible misinterpretation of market conditions or oversaturation within competitive industries. TVET training emerges as the strongest predictor, indicating its crucial role in equipping entrepreneurs with practical competencies, hands-on problem-solving skills, and technical readiness. Furthermore, TVET training moderates the effects of digital skills and market feasibility, strengthening the relationship between these predictors and performance outcomes. The findings emphasize the importance of integrating digital literacy and vocational training within entrepreneurial development programs. This study contributes to theoretical understanding and provides practical insights for policymakers, educators, and startup ecosystem stakeholders.
Keywords: Digital Skills, Market Feasibility, Startup Performance, TVET Training, Entrepreneurship
Abstrak: Penelitian ini menganalisis pengaruh keterampilan digital dan kelayakan pasar terhadap kinerja startup, dengan pelatihan Pendidikan dan Pelatihan Teknik dan Vokasional (TVET) sebagai variabel moderasi. Transformasi digital yang cepat telah mengubah ekosistem kewirausahaan, sehingga kompetensi digital dan kesesuaian pasar menjadi faktor penting bagi keberhasilan startup. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan mengumpulkan data dari 100 pendiri startup melalui kuesioner terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan digital berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja startup, menegaskan bahwa kemampuan teknologi meningkatkan inovasi, efisiensi operasional, dan daya saing. Sebaliknya, kelayakan pasar menunjukkan pengaruh signifikan namun negatif, yang dapat mencerminkan kesalahan interpretasi kondisi pasar atau persaingan industri yang jenuh. Pelatihan TVET menjadi prediktor paling kuat, menegaskan perannya dalam membekali wirausaha dengan kompetensi praktis, kemampuan pemecahan masalah, dan kesiapan teknis. Selain itu, TVET memoderasi pengaruh keterampilan digital dan kelayakan pasar, memperkuat hubungan antara variabel prediktor dan kinerja. Temuan ini menekankan pentingnya integrasi literasi digital dan pelatihan vokasional dalam program pengembangan kewirausahaan. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dan wawasan praktis bagi pembuat kebijakan, pendidik, dan pemangku kepentingan ekosistem startup.
Kata Kunci: Keterampilan Digital, Kelayakan Pasar, Kinerja Startup, Pelatihan TVET, Kewirausahaan
Abstract:Abstract: This study aims to analyze the critical thinking abilities of fifth-grade students at MIS Alwashliyah Tanjung Balai on three-dimensional shapes concepts. Using qualitative descriptive method, data were collected…
d from 18 students through observation, interviews, and post-learning tests based on three indicators: interpretation, analysis, and inference. Results showed students' critical thinking abilities were at moderate level, with only 16.67% achieving full mastery. Main difficulties were in analysis and inference indicators, manifested in identifying shape properties and drawing valid conclusions. Students frequently confused cube and cuboid characteristics and failed in contextual calculations. These weaknesses stem from poor spatial visualization and limited understanding of abstract concepts. The study recommends implementing concrete media-based learning methods to optimize critical thinking development in spatial geometry learning.
Keyword: critical thinking; three-dimensional shapes; elementary mathematics; concrete media; spatial visualization.
Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan berpikir kritis siswa kelas V MIS Alwashliyah Tanjung Balai pada materi bangun ruang. Menggunakan metode deskriptif kualitatif, data dikumpulkan dari 18 siswa melalui observasi, wawancara, dan tes pasca pembelajaran berdasarkan tiga indikator: interpretasi, analisis, dan inferensi. Hasil menunjukkan kemampuan berpikir kritis siswa berada pada kategori sedang, dengan hanya 16,67% siswa mencapai penguasaan penuh. Kesulitan utama pada indikator analisis dan inferensi, termanifestasi dalam mengidentifikasi sifat bangun ruang dan menarik kesimpulan valid. Siswa sering keliru membedakan kubus dan balok serta gagal dalam perhitungan kontekstual. Kelemahan ini bersumber dari visualisasi spasial rendah dan pemahaman konsep abstrak terbatas. Penelitian merekomendasikan implementasi metode pembelajaran berbasis media konkret untuk mengoptimalkan kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran geometri ruang.
Kata kunci: berpikir kritis; bangun ruang; matematika SD; media konkret; visualisasi spasial
Abstract:Abstract : Oil palm fronds are an abundant plantation waste with strong potential to be utilized as raw material for compost, animal feed, and biomass. This study aims to optimize the performance of chopping blades in an…
oil palm frond chopping machine in order to obtain uniform chopping results and improve machine efficiency. The methods used include variations in blade shape, cutting angle, number of blades, and shaft rotational speed. The observed parameters include chopping capacity, size of chopped material, energy consumption, and blade wear rate. The machine consists of several components that support the chopping process, including a cutting blade disc, shaft, and fan plate. The machine is equipped with a total of 25 blades, consisting of 4 cutting blades and 21 chopping blades. The results show that certain blade design combinations with optimal cutting angles and rotational speeds can increase chopping capacity and produce more uniform chopped sizes with lower energy consumption compared to horizontal chopping blades. The optimization of the chopping blades is expected to improve the performance of the oil palm frond chopping machine and support the sustainable utilization of plantation waste.
Keywords: oil palm fronds, chopping machine, chopping blades, optimization, plantation waste
Abstrak: Pelepah kelapa sawit merupakan limbah perkebunan yang jumlahnya melimpah dan berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku kompos, pakan ternak, maupun biomassa. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan kinerja pisau pencacah pada mesin pencacah pelepah sawit guna memperoleh hasil cacahan yang seragam serta meningkatkan efisiensi kerja mesin. Metode yang digunakan meliputi variasi bentuk pisau, sudut potong, jumlah pisau, dan kecepatan putar poros. Parameter yang diamati meliputi kapasitas pencacahan, ukuran hasil cacahan, konsumsi energi, dan tingkat keausan pisau. Mesin tersebut memiliki beberapa komponen dalam membantu proses cacahan diantaranya yaitu piringan pisau potong, poros dan plat kipas. Mesin ini memiliki jumlah pisau sebanyak 25 buah diantaranya terdiri dari 4 pisau potong dan 21 pisau pencacah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi desain pisau tertentu dengan sudut potong dan kecepatan putar yang optimal mampu meningkatkan kapasitas pencacahan serta menghasilkan ukuran cacahan yang lebih seragam dengan konsumsi energi yang lebih rendah dibandingkan dengan pisau pencacah mendatar. Optimalisasi pisau pencacah ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja mesin pencacah pelepah sawit serta mendukung pemanfaatan limbah perkebunan secara berkelanjutan.
Kata kunci: pelepah sawit, mesin pencacah, pisau pencacah, optimalisasi, limbah perkebunan