Abstract:Anemia merupakan kondisi kekurangan kadar hemoglobin dalam darah yang menjadi permasalahan utama gizi di Indonesia, terutama disebabkan oleh defisiensi zat besi. Kondisi ini memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap…
ap remaja, termasuk menurunkan konsentrasi belajar, mengurangi kemampuan untuk mengikuti aktivitas di sekolah, serta melemahkan daya tahan tubuh. Khususnya pada remaja perempuan, anemia meningkatkan risiko terhadap komplikasi serius seperti anemia selama kehamilan, perdarahan, kelainan bawaan pada bayi, Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), dan stunting pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara konsumsi zat gizi mikro dengan kejadian anemia pada remaja putri. Metodologi penelitian menggunakan pendekatan cross-sectional dan desain deskriptif analitik dengan melibatkan 30 remaja putri sebagai sampel. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang dirancang untuk mengumpulkan data tentang jenis, frekuensi, dan jumlah asupan makanan serta kebiasaan diet responden. Selain itu, dilakukan pengukuran kadar Hemoglobin (Hb) untuk menentukan kejadian anemia. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan (p = 0,001) antara tingkat konsumsi zat gizi mikro dan kejadian anemia pada remaja putri. Hal ini menegaskan pentingnya asupan gizi mikro yang memadai dalam pencegahan anemia di kalangan remaja putri. Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang faktor-faktor yang berkontribusi terhadap anemia pada remaja putri, serta memberikan dasar bagi pengembangan intervensi gizi yang lebih efektif untuk mengurangi prevalensi anemia di Indonesia.
Abstract:Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di bidang kesehatan di desa berkaitan kebutuhan akan peningkatan akses ke layanan kesehatan yang berkualitas dan pemberdayaan masyarakat setempat. Beberapa masalah bidang kesehatan di desa…
esa antara lain fasilitas kesehatan sering kali jauh dan tidak memadai, ada kekurangan tenaga kesehatan yang bersedia bekerja di daerah pedesaan, pendidikan kesehatan yang kurang memadai berakibat pada kesalahpahaman mengenai praktik kesehatan yang baik, dan desa-desa sering menghadapi beban penyakit yang tinggi. Desa Suka Merindu merupakan salah satu desa di Ogan Ilir dengan jumlah penduduk sebanyak 1111 jiwa dan luas wilayah 850 ha/m2. Fasilitas layanan kesehatan berupa puskesmas dan posyandu terletak menyebar di dekat beberapa desa di sekitarnya. Masalah kesehatan di Desa Suka Merindu bervariasi mulai dari masalah penyakit tidak menular, penyakit menular hingga penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA). Pengabdian ini dilakukan di Desa Suka Merindu pada bulan Januari 2024. Ada empat kegiatan PKM holistik yang dilakukan adalah pemeriksaan dan edukasi gratis kepada warga, penyuluhan kesehatan reproduksi dan pencegahan anemia di kalangan remaja dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) kepada remaja putri Sekolah Menengah Atas (SMA), sosialisasi mengenai Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Hipertensi di Puskesmas, dan penyuluhan mengenai bahaya penyalahgunaan NAPZA di balai desa. Tahapan masing-masing kegiatan terdiri dari perencanaan, analisis situasi, studi literatur, survei awal, koordinasi perizinan dan kesediaan sasaran, persiapan materi, alat dan bahan, pelaksanaan yang terdiri dari tanya jawab awal, penyampaian materi, diskusi, dan penyerahan poster serta evaluasi. Sesuai dengan tujuan kegiatan, hasil kegiatan tercapai berupa penyampaian materi dan terwujudnya diskusi. Melalui PKM di bidang kesehatan, ada peluang untuk mengatasi ketidaksetaraan dalam layanan kesehatan dan memperbaiki kualitas hidup penduduk desa. Ini juga membantu dalam mengidentifikasi dan mengatasi kebutuhan kesehatan yang spesifik dari komunitas yang mungkin tidak tercakup dalam kebijakan kesehatan yang lebih luas.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengembangan sumber daya manusia di bagian Pelayanan Sosial UPT PSBR Blitar, dengan fokus pada peningkatan kompetensi dan kinerja pegawai. Metode deskriptif kualitatif digunakan…
n untuk mengumpulkan data pada bulan Maret 2024. Temuan menunjukkan bahwa meskipun pegawai pada seksi pelayanan sosial PSBR Blitar telah memahami tugas mereka, masih ada kebutuhan untuk meningkatkan keterampilan teknis dan kompetensi mereka. Kurangnya pelatihan yang terarah dan pengawasan yang efektif dari atasan menjadi hambatan utama dalam pengembangan SDM. Penelitian ini menekankan pentingnya investasi dalam pelatihan dan bimbingan untuk mencapai tujuan organisasi dan meningkatkan efisiensi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Abstract:Remaja merupakan suatu kondisi peralihan dari anak-anak menuju dewasa yang usianya terbagi menjadi 3 kelompok yaitu remaja awal (Early Adoloscence) usia 10-12 tahun, remaja madya (Middle Adoloscence) usia 13-15 tahun dan…
remaja akhir (Late Adoloscence) usia 16-19 tahun Fase ini merupakan masa penentuan seseorang sebelum menginjak ke usia dewasa, pada masa ini individu akan mengalami banyak perubahan pada aspek perkembangan dan pertumbuhan, serta membutuhkan segala sesuatu untuk melewati masa perkembangannya .Tujuan Penelitian Mengetahui adanya hubungan pernikahan dini dengan dampak biologis bagi remaja putri di Poskesdes Desa Dalam. Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan secara kuantitatif yaitu suatu desain yang digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif / statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotetsis yang telah ditetapkan. Hasil Analisis univarian dalam penelitian ini menyajikan usia saat responden pertama kali menikah, kejadian anemia dan perdarahan saat persalinan. distribusi frekuensi berdasarkan usia remaja saat pertama kali menikah didapatkan bahwa dari 25 responden yang diteliti, persentase tertinggi adalah usia 16-19 tahun yaitu 20 responden (80%) sedangkan usia 10-15 tahun sebanyak 5 responden (20%). Kesimpulan Sebagian besar pernikahan dini dilakukan pada usia 16-19 tahun yaitu sebanyak 20 jiwa dan 10-15 tahun sebanyak 5 jiwa, Sebagian besar ibu yang melakukan pernikahan dini mengalami anemia sebanyak 8 jiwa (16-19 tahun) dan 5 jiwa (10-15 tahun). Sedangkan ibu yang melakukan pernikahan dini melewati proses persalinan dengan perdarahan sebanyak 15 jiwa (16-19 tahun) dan 1 jiwa (10-15 tahun)
Abstract:The consumption of sugar-sweetened beverages (SSBs) among adolescents has increased and may contribute to the rising prevalence of overweight due to their high sugar and energy content. This study aimed to analyze the relationship…
lationship between the consumption of sugar-sweetened beverages and the incidence of overweight among adolescents at SMP Negeri 28 Surabaya. This study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach. A total of 164 respondents were selected using proportional random sampling. Data on sugar-sweetened beverage consumption were collected using a Food Frequency Questionnaire (FFQ), while nutritional status was assessed using Body Mass Index-for-Age (BMI-for-Age). Data were analyzed using the Chi-square test. The results showed a significant association between the consumption of sweetened tea (p = 0.023) and carbonated soft drinks (p = 0.000) with overweight, whereas the consumption of coffee, bubble tea, sweetened milk, isotonic drinks, syrup, and yogurt was not significantly associated with overweight (p > 0.05). It can be concluded that frequent consumption of sweetened tea and carbonated soft drinks is associated with an increased risk of overweight among adolescents. Therefore, nutrition education and limiting the consumption of sugar-sweetened beverages are recommended as preventive strategies to reduce overweight among adolescents.
Abstract:Kasus HIV/AIDS pada remaja menunjukkan tren peningkatan setiap tahun, sementara tingkat pengetahuan dan kesadaran mengenai perilaku berisiko masih tergolong rendah. Lingkungan sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk…
ntuk perilaku kesehatan remaja, termasuk melalui peran Komunitas Penangulangan AIDS Sekolah (KOMPAS).sebagai agen sebaya (peer educator). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran komunitas Penangulangan AIDS Sekolah (KOMPAS) di lingkungan sekolah, faktor pendukung dan penghambat pelaksanaannya, serta dampaknya terhadap peningkatan kesadaran siswa. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap anggota komunitas P3, guru pembina, dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KOMPAS berperan sebagai edukator, fasilitator, konselor teman sebaya, dan penggerak kegiatan kampanye kesehatan. Faktor pendukung meliputi dukungan sekolah dan mitra kesehatan, sedangkan hambatannya adalah keterbatasan sumber daya, kurangnya pelatihan lanjutan, dan stigma terkait HIV/AIDS. Secara keseluruhan, keberadaan KOMPAS mampu meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan sikap positif siswa terhadap pencegahan HIV/AIDS.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi yang diterapkan oleh Dinas Sosial dalam menangani permasalahan anak jalanan dan kenakalan remaja di Distrik Merauke, dengan fokus pada fenomena kekerasan jalanan dan penyalahgunaan…
lahgunaan minuman keras (miras). Ruang lingkup kajian mencakup upaya preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang dilakukan oleh Dinas Sosial, serta kerja sama dengan pihak-pihak terkait seperti kepolisian, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif, yang melibatkan wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi terhadap sejumlah informan kunci, termasuk pejabat Dinas Sosial, tokoh masyarakat, dan remaja yang terdampak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang diterapkan masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan anggaran, kurangnya fasilitas pendukung, serta lemahnya koordinasi antarinstansi. Meski demikian, terdapat beberapa langkah efektif, seperti pembinaan kelompok remaja rentan dan kampanye penyuluhan bahaya miras di sekolah-sekolah. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa penanganan anak jalanan dan kenakalan remaja di Distrik Merauke memerlukan pendekatan yang lebih terpadu, partisipatif, dan berkelanjutan, dengan peningkatan kapasitas lembaga sosial serta keterlibatan aktif masyarakat sebagai kunci keberhasilan program.
Abstract:Menstruation is a physiological process that can cause regular iron loss in adolescent girls, thereby potentially reducing hemoglobin levels and increasing the risk of anemia if not balanced with adequate iron intake. The…
e research problem focuses on whether the consumption of iron supplementation tablets affects hemoglobin levels during menstruation among adolescent girls at SMK Maesan. This study aims to analyze the effect of iron supplementation on changes in hemoglobin levels using a quasi-experimental design with a control group pretest-posttest approach. The sample consisted of 30 respondents selected through purposive sampling based on inclusion criteria. Hemoglobin levels were measured using the cyanmethemoglobin or Sahli method, accompanied by standard procedures for administering iron supplements. The results of the Wilcoxon statistical test showed a p-value of 0.000 with α<0.05, indicating that the null hypothesis was rejected and the alternative hypothesis was accepted, meaning that there was a significant effect of iron supplementation on increasing hemoglobin levels during menstruation. These findings confirm that the intervention of iron supplementation is effective in improving hemoglobin levels in menstruating adolescent girls. The novelty of this study lies in emphasizing the effectiveness of controlled iron supplementation interventions among vocational high school adolescents using a pretest-posttest approach, thereby providing practical contributions to anemia prevention efforts from an early age through structured and sustainable school health programs.
Abstract:Anxiety disorders in teenagers are a serious issue that can impact various aspects of their lives, such as social interactions, academic achievement, and emotional well-being. To address these challenges, group counseling…
g has proven to be an effective approach. In group counseling, teenagers can share their experiences with others facing similar issues, creating a supportive and understanding environment. Techniques like open discussions help them identify the causes of their anxiety more effectively, while role-playing allows them to practice new ways of dealing with anxiety-inducing situations. Relaxation exercises also assist them in developing skills to manage anxiety effectively in their daily lives. Literature studies indicate that group counseling not only reduces anxiety levels in teenagers but also enhances their social skills, self-confidence, and emotional resilience. With support from family, schools, and the community, group counseling can become a sustainable strategy in promoting teenagers' mental well-being. Therefore, it is important to consider that there is no one-size-fits-all approach for all teenagers. However, group counseling provides a safe and structured platform for teenagers to learn from each other, strengthen their coping skills, and make progress in overcoming their anxiety. With this approach, it is hoped that teenagers can build a strong foundation for their ongoing mental health.
Abstract:The development of increasingly sophisticated social media has made the phenomenon of cyberbullying a serious problem in affecting adolescents' mental and emotional health. It is through these social media platforms that…
at individuals can easily intimidate, belittle or emotionally harm others. As a result, incidents of cyberbullying are becoming more widespread and have a serious impact on adolescents' emotional and mental well-being. The purpose of this paper is to find out the causes of cyberbullying in the digital era in adolescents. The method used is literature review by collecting and taking the essence of previous research and analyzing several sources relevant to the research topic. The results of research conducted by various experts show that the causes of rampant cyberbullying in adolescents in the digital era are caused by several factors, namely anonymity online, indifference to consequences, group pressure, lack of awareness of the negative impact as well as lack of parental supervision and lack of digital literacy.