Search Articles & Publications

Showing 44 articles found for "Leaf"

EDUKASI PENCEGAHAN DAN DETEKSI DINI CAMPAK PADA BALITA MELALUI PENYULUHAN KESEHATAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS AIR DINGIN KOTA PADANG

Muthia, Gina, Syofiah, Putri Nelly, Hesti, Novria, Arifin, Yulia, Lifaniura, Lushiana
Abstract: Campak merupakan penyakit infeksi akut yang sangat menular dan terutama menyerang anak-anak, termasuk balita. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan ibu mengenai campak, meliputi pengertian,… gertian, tanda dan gejala, cara penularan, komplikasi, serta pencegahan melalui imunisasi. Kegiatan dilaksanakan melalui penyuluhan kesehatan dengan metode ceramah dan tanya jawab menggunakan media PowerPoint dan leaflet. Sasaran kegiatan adalah ibu yang berkunjung ke posyandu di wilayah kerja Puskesmas Air Dingin Kota Padang. Materi menekankan pengenalan dini demam, batuk, pilek, konjungtivitis, dan ruam makulopapular khas campak, serta pentingnya melengkapi imunisasi sesuai jadwal yang berlaku. Peserta juga diberikan pemahaman untuk membatasi kontak dengan penderita yang dicurigai mengalami campak dan segera mencari pelayanan kesehatan apabila ditemukan tanda bahaya atau kondisi anak memburuk. Kegiatan edukasi diharapkan dapat meningkatkan kesadaran orang tua serta mendukung deteksi dini dan pencegahan campak pada balita.

Pengembangan Sistem Informasi Geografis Berbasis Web sebagai Media Informasi Potensi Desa Senggreng

Choiro Rahma Kinanti, Fadillah Rahmadianti, Gading Augustriansyah Saputra, Laysa Nabila, Rayya Khairunnisa Ghassani, Sumayyah Al Muttaqiyah, Zahra Yuliandiny
Abstract: Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, memiliki potensi besar di sektor UMKM, wisata, pertanian, dan fasilitas umum lainnya, namun informasi mengenai potensi tersebut selama ini belum tersaji dalam satu… u media yang memuat lokasi geografis sekaligus deskripsi objeknya, sehingga masyarakat maupun pihak luar harus mendatangi langsung kantor desa untuk memperoleh informasi. Penelitian pengabdian ini bertujuan mengembangkan Sistem Informasi Geografis (SIG) berbasis web sebagai media informasi potensi Desa Senggreng. Metode yang digunakan meliputi survei lapangan untuk pengambilan titik koordinat menggunakan GPS, pengolahan data spasial dengan QGIS, serta pengembangan sistem menggunakan React.js, Leaflet.js, OpenStreetMap, dan Supabase berbasis PostgreSQL. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa website SIG berhasil memetakan sembilan kategori potensi desa, yaitu tempat ibadah, pendidikan, kesehatan, olahraga, laundry, sanggar kesenian, bengkel, minimarket, dan UMKM, dengan fitur pencarian, filter kategori, serta panel administrasi yang memungkinkan perangkat desa mengelola data secara mandiri. Sistem ini diharapkan dapat menyajikan informasi potensi desa secara lebih terintegrasi, mudah diakses, dan berbasis lokasi bagi masyarakat maupun pihak luar.

EDUKASI KEPATUHAN MINUM OBAT BAGI PENDERITA HIPERTENSI BERBASIS ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DI WILAYAH PUSKESMAS KEDUNGMUNDU SEMARANG

Julius Afta Setyonugroho, Fery Agusman Motuho Mendrofa
Abstract: Latar Belakang: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi di Indonesia yang mencapai 34,1% berdasarkan Riskesdas 2018. Kepatuhan minum obat antihipertensi menjadi tantangan utama dalam pengendalian… lian tekanan darah, yang dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan, kesadaran, dan dukungan keluarga. Pendidikan kesehatan dengan media pill card merupakan strategi intervensi yang dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi hipertensi. Tujuan: Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi penggunaan pill card terhadap kepatuhan minum obat bagi penderita hipertensi berbasis asuhan keperawatan keluarga di wilayah Puskesmas Kedungmundu. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan keluarga yang meliputi pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Subjek studi kasus adalah keluarga Tn. S di RW 03 Kelurahan Tandang wilayah kerja Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang. Intervensi dilakukan selama 3 hari (29 November - 1 Desember 2025) dengan pemberian edukasi kesehatan menggunakan media leaflet dan pill card. Hasil: Hasil studi kasus menunjukkan adanya penurunan tekanan darah yang signifikan setelah pemberian edukasi dengan pill card. Tekanan darah klien sebelum intervensi adalah 171/101 mmHg, menurun menjadi 140/91 mmHg pada hari kedua, dan mencapai 130/81 mmHg pada hari ketiga. Skala nyeri kepala juga mengalami penurunan dari skala 6 menjadi skala 3. Klien dan keluarga menunjukkan peningkatan pengetahuan tentang hipertensi dan kepatuhan dalam menggunakan pill card sebagai alat pengingat minum obat. Kesimpulan: Pendidikan kesehatan keluarga dengan media pill card efektif dalam meningkatkan kepatuhan minum obat antihipertensi dan menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Keterlibatan keluarga dalam proses edukasi berperan penting dalam mendukung keberhasilan intervensi. Disarankan agar tenaga kesehatan dapat menerapkan edukasi penggunaan pill card sebagai bagian dari asuhan keperawatan keluarga pada pasien hipertensi.

EDUKASI PENTINGNYA KONSUMSI ASAM FOLAT PADA CALON PENGANTIN DI KUA PADANG TIMUR

Putri Nelly Syofiah, Gina Muthia, Ainil Mardiyah, Inggrit Dwi Rizky, Lara, Nofa Safira, Zakia Afriyeni
Abstract: Asam folat berperan dalam sintesis DNA dan pembelahan sel. Suplementasi vitamin pada periode perikonsepsi terbukti dapat mencegah kejadian pertama kelainan tabung saraf. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan&#8230; n menilai efektivitas edukasi pranikah dan prakonsespi tentang konsumsi asam folat pada calon pengantin (CATIN) di KUA Padang Timur. Desain kegiatan menggunakan one-group pretest–posttest dengan instrumen kuesioner pengetahuan 10 soal, dilanjutkan penyuluhan 30 menit menggunakan metode ceramah dan tanya jawab dengan media leaflet dan PowerPoint. Jumlah peserta 24 orang dan skor pengetahuan meningkat dari rerata 4,92 menjadi 7,67 (kenaikan rerata 2,75 poin); uji t berpasangan menunjukkan peningkatan bermakna (p < 0,001). Materi kunci menekankan dosis 400 mikrogram/hari serta peran asam folat pada pembentukan DNA dan perkembangan otak serta saraf janin.

KESEHATAN REPRODUKSI DI SMK ISTIQOMAH MUHAMMADIYAH 4 SAMARINDA

Bachtiar Safrudin, Rahayu, Namira Abiyah Juliyanti, Andini Fitdia Sofyanda, Bagas Saputra, Reylah Sephia, Hana Putri Pratiwi, Rifky Adhitya Abdillah, Muhammad Ridho, Risma Akmalia, Nadiana Sari, Rurun Kamila, Yusri Arisandi Ilyas, Nur Khaylila Ramadhanti
Abstract: Dalam siklus kehidupan aspek kesehatan menjadi indikator penting dalam siklus kehidupan individu dalam semua level kehidupan termasuk kelompok remaja. Pada masa remaja yang merupakan fase penting terkait dengan pertumbuhan&#8230; an dan perkembangan, dimana tahapan ini merupakan peralihan antara masa anak-anak menuju masa dewasa. Jika kita lihat dari tahapan ini maka periode ini akan terjadi perubahan yang signifikan dalam organ reproduksi yang akan matur sehinngga penting pemahaman yang adekuat pada remaja dalam mendukung cegahnya pernikahan dini pada remaja.. dimana kita ketahui banyaknya kasus pernikahan dini di kalangan remaja. sehingga penting memberikan pendidikan kesehatan sejak dini dalam upaya peningkatan mencegahnya pernikahan dini diusia remaja. Indikator kesehatan reproduksi diantaranya menjaga kebersihan organ intim, hubungan yang sehat serta pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan dan penyakit menular seksual(PMS) seperti HIV. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah memberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi pada remaja dengan menggunakan media powerpoint dan leaflet.

SOSIALISASI DAN DEMONSTRASI PENANGANAN PERTAMA PERAWATAN LUKA SEDERHANA, PEMBIDAIAN, DAN AMBULASI PADA SISWA SD NEGERI 2 BANDA ACEH PROVINSI ACEH

Putra, Yadi, Fauziah, Fauziah, Yusrika, Yusrika, Sakdah, Nurul, Bilo, Beny
Abstract: Perawatan luka merupakan cara pertolongan pertama dalam pencegahan infeksi dan permasalahan lanjut, dengan perawatan luka yang baik bisa mencegah terjadi trauma lanjutan, cara membersikan luka sangat penting diajarkan kepada&#8230; pada siswa biar ketika mendapatkan kasus cedera bisa melakukan perawatan luka secara mandiri, pembidaian ini efektif untuk mencegah dari efek yang negatif karena dengan pembidaian akan membantu tulang tidak tergesek dan meminimal terjadinya nyeri karena terkilir acara melakukan pembidaian yang tepat harus dipahami oleh siswa agar mudah dalam melakukannya di lingkungan sekolah, ambulasi merupakan proses memindahkan orang yang mengalami kecelakan terutama siswa sekolah. Namun hasil observasi banyak siswa yang belum memahami dan belum bisa melakukan cara perawatan luka, pembidaian dan ambulasi yang benar ini karena ini karena belum ada pelatihan pada siswa. Mitra dalam kegiatan ini adalah universitas Abulyatama dan SDN 2 Banda Aceh. Jumlah peserta dalam kegiatan ini sebanyak 50 siswa dan siswi. Media yang digunakan power point, proyektor, alat peraga, leaflet. Tahapkan kegiatan adalah pertama penyampaian materi, demonstrasi oleh tim dan dosen selanjutnya demonstrasi siswa di akhiri dengan sesi tanya jawab serta poto bersama. Hasil pengabdian didapatkan terjadi peningkatan pengetahuan dan sikap dalam melakukan pertolongan pertama pada siswa dan siswi jika terjadi kasus luka atau terkilir dan memahami bagaimana memindahkan temanya dari suatu tempat ke tempat yang lebih aman. Kesimpulan bahwa sosialiasi ini sangat baik untuk menangani keadaan kesehatan yang dialami pada saat itu. Kesimpulan kegiatan ini berjalan lancar dan memberikan dampak yang positif bagi guru dan siswa. Diharapkan kegiatan ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan untuk melatih siswa agar bisa melakukan pertolongan pertama secara mandiri.

DESCRIPTION OF THE ADMINISTRATION OF BOILED MORINGA LEAVES TO REDUCE RANDOM BLOOD GLUCOSE LEVELS IN MRS. D WITH TYPE 2 DIABETES MELLITUS IN SIKAMPUH VILLAGE, KROYA DISTRICT, CILACAP REGENCY

Latifah Azhar Dini, Eko Julianto, Sudiarto, Dwi Astuti
Abstract: Background: Diabetes mellitus is a chronic metabolic disorder caused by high levels of physical activity, high sugar consumption, reduced insulin production, and impaired insulin response or other hormones that inhibit insulin&#8230; nsulin action. Based on IDF data, the prevalence of diabetes mellitus in Indonesia in 2024 is estimated to reach 11.3% of the population (approximately 20.4 million people). In addition, the Ministry of Health shows that in 2023, cases of diabetes mellitus will reach 11.7% and are predicted to continue to increase. High blood glucose levels, if left untreated, can cause various complications such as heart disease, stroke, nerve damage, and wound infections that can lead to amputation. One non-pharmacological treatment that can be given is by giving boiled moringa leaves, because moringa leaves contain antioxidants such as flavonoids, vitamins A, C, and E which can lower blood glucose levels. Objective: To determine the effect of Moringa leaf decoction on reducing blood glucose levels in diabetes mellitus patients in Sikampuh Village, Kroya District, Cilacap Regency. Method: The method used was a qualitative descriptive method with a case study approach. Results: Based on the research results, administering Moringa leaf decoction to blood glucose levels in diabetes mellitus patients for 7 days was proven to be effective in lowering blood glucose levels. Conclusion: Administering Moringa leaf decoction to diabetes mellitus patients for 7 days can lower blood glucose levels.

THE EFECT OF BAY LEAFT (SYZYGIUM POLYANTHUM) DECOCTION ON URIC ACID LEVEL REDUCTION IN ELDERLY PATIENTS WITH GOUT ARTHRITIS IN SERANG VILLAGE

Sofiyatun Hasanah, Dwi Astuti, Priyatin Sulistyowati
Abstract: Background: Elderly individuals are at high risk of experiencing degenerative diseases, one of which is gout arthritis, caused by the accumulation of monosodium urate crystals in the joints due to hyperuricemia. Non-pharmacological&#8230; macological therapies such as bay leaf (Syzygium polyanthum), which contains flavonoids, tannins, and essential oils, are believed to naturally reduce uric acid levels. Objective: To determine the effect of bay leaf decoction on reducing uric acid levels in elderly patients with gout arthritis in Serang Village. Method: This research used a descriptive approach with a case study method. The subject was one elderly person with gout arthritis who was given an intervention in the form of bay leaf decoction twice a day for four days. Results: The uric acid level before the intervention was 8.2 mg/dL and after the intervention was 4.2 mg/dL. The reduction of 4 mg/dL indicates that the bay leaf decoction was effective in lowering uric acid levels. Conclusion: Bay leaf decoction affects the reduction of uric acid levels in elderly patients with gout arthritis and can be used as a safe, easy, and affordable nonpharmacological alternative therapy.

OVERVIEW OF MORINGA LEAF PUDDING ADMINISTRATION ON HEIGHT AND WEIGHT IN STUNTED CHILD An. M IN JETIS VILLAGE, KEMANGKON DISTRICT, PURBALINGGA REGENCY VILLAGE

Umaisah, Fitri, Priyatin Sulistyowati, Sudiarto
Abstract: Stunting is a condition of failure to thrive in children under 5 years of age due to chronic malnutrition, especially in the first 1.000 days of life (HPK), which is apparent after the child is years old, resulting in the&#8230; e child being shorter than thein peers In Purbalingga Regency, the prevalence of stunting in toddlers is 26,8 %, wasting in toddlers is 6,5 %, and underweight in toddlers 16,1%. The prevalence of stunting in Purbalingga Regency remains relatively high, thus requiring affordable and safe local nutritional interventions to support the growth and development of children under five. One of the alternative approaches to address stunting is through the provision of moringa leaf pudding. This study aimed to determine the changes in body weight and height after the administration of moringa leaf pudding in a stunted toddler over a 14-day intervention. This qualitative case study was conducted on a two-year-old stunted toddler (An. M). The intervention consisted of providing 100 grams of moringa leaf pudding every two days (a total of seven servings) over 14 days. Anthropometric measurements were taken at baseline (before intervention), at the seventh meeting, and at the end of the intervention (fourteenth meeting). In addition, observation of pudding acceptance and a brief interview with the family regarding dietary habits were conducted. After receiving moringa leaf pudding every two days for 14 days, the toddler experienced a weight gain of 0.4 kg and an increase in height of 0.9 cm. Observations indicated that the child accepted the moringa leaf pudding well, although mild boredom occurred midway through the intervention. Interviews with the family revealed that the provision of moringa leaf pudding improved the toddler’s appetite, leading to measurable weight and height gains.  The provision of moringa leaf pudding every two days for 14 days had a positive effect on increasing body weight and height in this case of a stunted toddler. Therefore, moringa leaf pudding may serve as an alternative nutritional support to improve the growth of stunted children, particularly in regions with a high prevalence of stunting.

OVERVIEW OF GIVING BOILED SOURSOP LEAF WATER TO REDUCE GOUT ARTHRITIS LEVELS IN ELDERLY PATIENTS IN KARANGJAMBU VILLAGE, KARANGJAMBU DISTRICT, PURBALINGGA REGENCY

Saifuloh, Sofyan, Fida Dyah Puspasari, Priyatin Sulistyowati, Eko Julianto
Abstract: Background: Gout arthritis is a degenerative disease commonly experienced by the elderly due to elevated uric acid levels in the blood. One safe non-pharmacological treatment alternative is the use of herbal remedies such&#8230; h as soursop leaves (Annona muricata L), which contain active compounds like flavonoids and alkaloids that may reduce uric acid levels. Objective: To describe the effect of boiled soursop leaf water on reducing uric acid levels in elderly patients with gout arthritis in Karangjambu Village, Karangjambu Subdistrict, Purbalingga Regency. Method: This study employed a case study method. Subjects were given an intervention of 200 ml of boiled soursop leaf water daily (100 ml in the morning and 100 ml in the evening) for seven consecutive days. Uric acid levels were measured before and after the intervention. Results: After seven days of soursop leaf water administration, uric acid levels decreased from an average of 8.7–9.0 mg/dl to 5.5–5.8 mg/dl. This suggests that the active compounds in soursop leaves are effective in inhibiting xanthine oxidase and promoting uric acid excretion through urine. Conclusion: Boiled soursop leaf water is effective in lowering uric acid levels in elderly patients with gout arthritis and can serve as a safe and practical complementary non-pharmacological therapy within the community.