Search Articles & Publications

Showing 129 articles found for "Tuntutan"

DEVELOPING ANGLAIS POUR LE TOURISME ET L'HÔTELLERIE TEACHING MATERIALS THROUGH THE INTEGRATION OF NORTH SUMATRAN LOCAL CULTURE AND LUMI EDUCATION.

Tarigan, Fitri Ervina, Dewi, Resti Citra, Putra, Surya Kelana, Novianti, Lilis
Abstract: Abstract: Tourism and hospitality programs in North Sumatra face a persistent gap between generic, globally-oriented English for Specific Purposes (ESP) coursebooks and the region's multi-ethnic cultural assets (Toba Batak,… ak, Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola, Mandailing, Nias, and Malay), while post-pandemic instruction increasingly demands interactive, self-paced digital delivery.This study aims to (1) analyze the target and learning needs of Anglais pour le Tourisme et l'Hôtellerie (ATH) learners and stakeholders, (2) describe the process of developing ATH teaching materials that embed North Sumatran local culture and are authored as interactive H5P content through Lumi Education, and (3) evaluate the validity and practicality of the resulting materials. This study used a Research and Development (R&D) design following the ADDIE model (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Data were collected through needs-analysis questionnaires, semi-structured interviews with students and tourism-industry practitioners, expert-validation instruments (content, language, media/design, and cultural-authenticity aspects), and a student practicality questionnaire, then analyzed using both descriptive-quantitative and thematic-qualitative techniques.  The needs analysis confirmed a strong demand for authentic, culturally contextualized speaking and listening materials; ten interactive units were designed and developed in Lumi Education (e.g., Course Presentation, Branching Scenario, Dialog Cards, Image Hotspot, and Interactive Video) around North Sumatran sites and traditions such as Tourist attartions and historical landmarks, traditional handwoven textiles and their symbolized, and Traditional hospitality customs. Expert validation placed the materials in the very valid category (overall mean 3.69 of 4, 92.2%), and classroom implementation showed a very practical student response (94.3%)  The integration of North Sumatran local culture with Lumi Education's H5P authoring environment produces ATH teaching materials that are valid, practical, and effective in improving learners' tourism-English performance, addressing a gap left by prior ESP-tourism and local-wisdom studies that treated these two dimensions separately; the main area flagged for further refinement is the audio clarity of listening-based activities. The findings imply that ESP materials developers and tourism-education policymakers can use locally-grounded, H5P-based interactive design as a replicable model for other regions seeking to align vocational English instruction with cultural preservation and digital-learning demands.  Keyword: Anglais pour le Tourisme et l'Hôtellerie (ATH) ; teaching materials development; local culture; North Sumatra; Lumi Education; H5P; ADDIE model   Abstrak: Program pariwisata dan perhotelan di Sumatera Utara menghadapi kesenjangan yang terus-menerus antara buku teks Bahasa Inggris untuk Tujuan Khusus (ESP) yang bersifat umum dan berorientasi global dengan kekayaan budaya multietnis di wilayah tersebut (Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Angkola, Mandailing, Nias, dan Melayu), sementara pembelajaran pasca-pandemi semakin menuntut penyampaian materi secara digital yang interaktif dan dapat disesuaikan dengan kecepatan belajar masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis sasaran dan kebutuhan belajar peserta didik serta pemangku kepentingan Anglais pour le Tourisme et l'Hôtellerie (ATH), (2) mendeskripsikan proses pengembangan bahan ajar ATH yang mengintegrasikan budaya lokal Sumatera Utara dan disusun sebagai konten interaktif H5P melalui Lumi Education, serta (3) mengevaluasi validitas dan kepraktisan bahan ajar yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian dan Pengembangan (R&D) yang mengikuti model ADDIE (Analisis, Desain, Pengembangan, Implementasi, Evaluasi). Data dikumpulkan melalui kuesioner analisis kebutuhan, wawancara semi-terstruktur dengan mahasiswa dan praktisi industri pariwisata, instrumen validasi ahli (aspek isi, bahasa, media/desain, dan keaslian budaya), serta kuesioner praktisitas bagi mahasiswa, kemudian dianalisis menggunakan teknik deskriptif-kuantitatif dan tematik-kualitatif. Analisis kebutuhan menegaskan adanya permintaan yang kuat akan materi berbicara dan mendengarkan yang otentik serta kontekstual secara budaya; sepuluh unit interaktif dirancang dan dikembangkan di Lumi Education (misalnya, Presentasi Kursus, Skenario Bercabang, Kartu Dialog, Titik Aktif Gambar, dan Video Interaktif) yang berpusat pada lokasi dan tradisi di Sumatera Utara, seperti objek wisata dan landmark bersejarah, tenun tradisional dan simbol-simbolnya, serta adat istiadat keramahan tradisional. Validasi oleh para ahli menempatkan materi-materi tersebut dalam kategori sangat valid (rata-rata keseluruhan 3,69 dari 4, 92,2%), dan implementasi di kelas menunjukkan respons siswa yang sangat positif (94,3%). Para validator dan siswa juga mencatat bahwa kualitas audio pada beberapa segmen mendengarkan/video interaktif perlu ditingkatkan. Integrasi budaya lokal Sumatera Utara dengan lingkungan pengembangan H5P dari Lumi Education menghasilkan bahan ajar ATH yang valid, praktis, dan efektif dalam meningkatkan kinerja bahasa Inggris pariwisata peserta didik, sekaligus mengatasi kesenjangan yang ditinggalkan oleh studi ESP-pariwisata dan kebijaksanaan lokal sebelumnya yang memperlakukan kedua dimensi tersebut secara terpisah; area utama yang perlu diperbaiki lebih lanjut adalah kejernihan audio pada aktivitas berbasis mendengarkan. Temuan ini menyiratkan bahwa pengembang materi ESP dan pembuat kebijakan pendidikan pariwisata dapat menggunakan desain interaktif berbasis H5P yang berakar pada konteks lokal sebagai model yang dapat direplikasi bagi wilayah lain yang berupaya menyelaraskan pengajaran bahasa Inggris kejuruan dengan pelestarian budaya dan tuntutan pembelajaran digital. Kata kunci: Anglais pour le Tourisme et l'Hôtellerie (ATH); pengembangan bahan ajar; budaya lokal; Sumatera Utara; Lumi Education; H5P; model ADDIE  

PERANCANGAN SISTEM INFORMASI PEMESANAN TIKET BUS BERBASIS WEBSITE DI PROVINSI SUMATERA UTARA

Juliandri, Juliandri
Abstract: Abstract: Buses are still one of the practical transportation options for the public. This naturally puts pressure on bus service providers to implement systems that make it easier for people to access information and book… ok their tickets. However, many bus service providers still use a traditional system where passengers have to go to the ticket counter in person or make a phone call to book tickets or ask for information. This system is considered inefficient and can cause losses for the service providers. Therefore, a web-based ticket booking information system was designed using the prototype method. The goal of this system design is to make things easier and more comfortable for passengers, minimize transaction errors, and improve operational services. Keywords: Design; Information System; Ticket Booking; Prototype; Website.   Abstrak: Bus merupakan salah satu alat transportasi yang masih dijadikan pilihan praktis di kalangan masyarakat. Hal ini tentu memberikan tuntutan bagi penyedia layanan transportasi bus untuk menerapkan sistem yang memudahkan masyarakat dalam mengakses informasi maupun memesan tiket perjalanannya. Namun masih banyak pihak penyedia layanan taranspotasi bus menerapkan sistem klasik dimana calon penumpang harus mendatangi loket secara langsung atau panggilan telepon untuk memesan tiket maupun menanyakan informasi yang dibutuhkan. Sistem ini dinilai kurang efisien dan dapat mengakibatkan kerugian bagi pihak penyedia layanan. Maka dari itu, dilakukan perancangan sebuah sistem informasi pemesanan tiket berbasis web dengan menggunakan metode prototype. Perancangan sistem informasi ini bertujuan untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi calon penumpang, meminimalisir kesalahan transaksi, dan meningkatkan pelayanan operasional. Kata kunci: Perancangan; Sistem Informasi; Pemesanan Tiket; Prototype; Website.

DAMPAK STRES AKADEMIK TERHADAP KESEHATAN MENTAL MAHASISWA UNIVERSITAS PALANGKA RAYA

Nopenie, Nopenie, Mikhael, Hendry, Saputra, Rahmad Tanjung
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat stres akademik dan dampaknya terhadap kesehatan mental mahasiswa Universitas Palangka Raya (UPR). Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui… i kuesioner terstruktur berskala Likert terhadap responden mahasiswa UPR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber stres utama mahasiswa bukan berasal dari persaingan nilai (66,7% Tidak Setuju), melainkan pada dimensi tugas dan ujian. Sebanyak 53,3% responden setuju bahwa beban tugas dengan waktu terbatas memicu kelelahan, dan 50% merasa cemas menghadapi ujian semester. Selain itu, tuntutan masa depan karier turut memicu kecemasan psikologis bagi 46,7% mahasiswa. Terkait indikator kesehatan mental (psychological distress), kepadatan aktivitas akademik ini berdampak nyata pada kelelahan fisik (70% Setuju) serta terganggunya jam tidur malam (66,7% Setuju). Kendati demikian, pada aspek psychological well-being, mahasiswa UPR menunjukkan resiliensi yang sangat baik. Mayoritas responden tetap merasa bersyukur dan bahagia menjadi mahasiswa UPR (56,7% Sangat Setuju), serta mendapatkan dukungan sosial yang solid dari lingkungan pertemanan mereka (50% Setuju; 43,3% Sangat Setuju). Kesimpulannya, meskipun stres akademik akibat beban kuliah yang padat terbukti memicu tekanan fisik dan gangguan tidur, keberadaan dukungan sosial yang kuat dan kepuasan emosional yang tinggi dari lingkungan sekitar terbukti mampu mempertahankan kesejahteraan psikologis mahasiswa UPR secara positif.

URGENSI PENERAPAN ASAS SINGLE PROSECUTION SYSTEM DALAM MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM

Dzikrullah, Mohammad Haikal, Handayani, Sri Wahyu, Nasihuddin, Abdul Aziz
Abstract: Abstract: As a state governed by the rule of law, Indonesia establishes law as the primary foundation for achieving legal certainty (*rechtszekerheid*) within the criminal justice system. However, the post-reform era has… witnessed a fragmentation of prosecutorial authority resulting from the enactment of various special laws (*lex specialis*) outside the codified Criminal Procedure Code (KUHAP). Prosecutorial authority is now distributed among autonomous institutions such as the Attorney General's Office, the Corruption Eradication Commission (KPK), and the Military Prosecution Service (*Oditurat Militer*). This institutional fragmentation severs the single chain of command, fosters sectoral ego, and creates jurisdictional overlaps, particularly in cases involving joint military-civilian jurisdiction (*koneksitas*). This study aims to analyze the urgency of implementing a "Single Prosecution System" within Indonesia's criminal justice system as a means to address institutional fragmentation and achieve genuine legal certainty. The study employs a normative legal research method (*doctrinal legal research*) utilizing statutory, conceptual, and limited comparative approaches. Data collection relies on library research—encompassing primary and secondary legal sources—followed by qualitative analysis using deductive legal reasoning (syllogism). The findings indicate that the dualistic and trialistic nature of prosecution undermines the principles of substantive and procedural legal certainty and violates the principle of equality before the law. The absence of uniform national prosecution guidelines leads to sharp disparities in sentencing demands and eliminates the predictability of verdicts. Furthermore, the lack of unification creates chronic procedural obstacles, such as the "ping-pong" effect of case files being repeatedly returned between agencies, thereby prolonging the detention of defendants. Consequently, there is an urgent need to revitalize the pure "Single Prosecution System" principle and strengthen the *dominus litis* doctrine. All prosecutorial functions within specialized institutions must be integrated under a unified authority, coordinated and supervised by the Attorney General as the state's highest public prosecutor. The establishment of the Junior Attorney General for Military Criminal Affairs (Jampidmil) should serve as a blueprint—with its scope expanded through revisions to the Criminal Procedure Code (KUHAP) and the Prosecution Service Law—to cut red tape, restore public trust, and ensure equal justice. Keywords: Single Prosecution System; Dominus Litis; Legal Certainty; Integrated Criminal Justice System; Prosecution Service   Abstrak: Indonesia sebagai negara hukum meletakkan hukum sebagai landasan utama guna mewujudkan kepastian hukum (rechtszekerheid) dalam sistem peradilan pidana. Namun, pasca-reformasi terjadi fragmentasi otoritas penuntutan akibat lahirnya berbagai undang-undang khusus (lex specialis) di luar kodifikasi KUHAP. Kewenangan penuntutan kini terbagi secara atributif kepada lembaga-lembaga otonom seperti Kejaksaan Agung, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Oditurat Militer. Fragmentasi kelembagaan ini memutus rantai komando penuntutan tunggal (single command), memicu ego sektoral, dan menimbulkan tumpang tindih yurisdiksi, terutama dalam perkara koneksitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis urgensi penerapan asas Single Prosecution System (sistem penuntutan tunggal) dalam sistem peradilan pidana Indonesia sebagai upaya mengatasi fragmentasi kelembagaan dan mewujudkan kepastian hukum yang hakiki. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif (doctrinal legal research) dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan konseptual (conceptual approach), dan pendekatan perbandingan (comparative approach) secara terbatas. Sumber data bertumpu pada studi kepustakaan (library research) yang meliputi bahan hukum primer dan sekunder, yang kemudian dianalisis secara kualitatif dengan penalaran hukum berbasis logika deduktif (silogisme). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dualisme dan trialisme penuntutan berimplikasi pada degradasi asas kepastian hukum substantif maupun prosedural, serta mencederai asas kesamaan di hadapan hukum (equality before the law). Ketiadaan standar pedoman penuntutan nasional yang seragam memicu disparitas tuntutan yang tajam dan menghilangkan aspek prediktabilitas putusan. Selain itu, ketiadaan unifikasi menimbulkan hambatan prosedural kronis, seperti fenomena bolak-balik berkas perkara yang memperpanjang masa penahanan terdakwa. Oleh karena itu, reaktualisasi asas single prosecution system yang murni dan penguatan doktrin dominus litis mendesak untuk diimplementasikan. Seluruh fungsi penuntutan pada lembaga khusus harus diintegrasikan di bawah satu pintu, koordinasi, dan supervisi Jaksa Agung selaku penuntut umum tertinggi negara. Pembentukan Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Militer (Jampidmil) harus dijadikan cetak biru (blueprint) yang diperluas jangkauannya melalui pembaruan RUU KUHAP dan UU Kejaksaan demi memotong birokrasi, memulihkan kepercayaan publik (public trust), serta menjamin keadilan yang setara. Kata Kunci: Single Prosecution System; Dominus Litis; Kepastian Hukum; Peradilan Pidana Terpadu; Kejaksaan

RUTE DISTRIBUSI PRODUK FROZEN FOOD MENGGUNAKAN ALGORITMA DIJKSTRA PADA PT. MITRA NASIONAL KUALITAS

Deny Hermansyah, Yusuf Effendi, Gatot Nugroho, Sinarring Azi Laga, Hariadi Yutanto
Abstract: Abstract: Distribution of frozen food requires efficient route planning due to strict cold chain requirements and high operational costs. PT. Mitra Nasional Kualitas (Minaku) currently determines delivery routes based on… drivers’ intuition, resulting in inefficiencies. This research applies Dijkstra’s algorithm integrated with real sales data to optimize distribution from Gresik to several cities in Java. The network is modeled as a weighted graph with distances as edge weights. Simulation on 15 cities with monthly demands exceeding 1,000 kg shows potential cost savings of about 16.2% when using optimized routing. Integration of shortest path algorithms with business data can significantly improve cost efficiency in cold chain logistics. Keywords: Dijkstra algorithm, shortest path, logistics, frozen food, sales data. Abstrak: Distribusi produk frozen food memerlukan perencanaan rute yang efisien karena tuntutan cold chain yang ketat dan biaya operasional yang tinggi. PT. Mitra Nasional Kualitas (Minaku) saat ini menentukan jalur distribusi berdasarkan intuisi sopir, sehingga berpotensi terjadi inefisiensi. Penelitian ini menerapkan Algoritma Dijkstra yang diintegrasikan dengan data penjualan riil untuk mengoptimasi distribusi dari Gresik ke beberapa kota di Pulau Jawa. Jaringan distribusi dimodelkan sebagai graf berbobot dengan jarak antar kota sebagai bobot sisi. Simulasi pada 15 kota dengan permintaan bulanan di atas 1.000 kg menunjukkan potensi penghematan biaya sekitar 16,2% dengan penggunaan rute optimal. Integrasi algoritma shortest path dengan data bisnis terbukti mampu meningkatkan efisiensi biaya dalam distribusi logistik cold chain. Kata kunci: Algoritma Dijkstra, jalur terpendek, logistik, frozen food, data penjualan

TRANSFORMASI KURIKULUM PENDIDIKAN VOKASIONAL TEKNOLOGI OTOMOTIF: STRATEGI MENGHADAPI PERUBAHAN DARI TEKNOLOGI KONVENSIONAL MENUJU KENDARAAN LISTRIK

Maulana, Fajar, Waskito, Hasan Maksum
Abstract: Abstract: This study examines the transformation of automotive technology vocational education curricula in response to the global shift from conventional internal combustion engines to electric vehicles (EVs). Methodology:… gy: The research analyzes the strategies required to bridge the gap between traditional mechanical education and the emerging demands of electric mobility. Findings: The results indicate that while the transition is inevitable, significant disparities exist in implementation. Developed regions are moving rapidly, whereas vocational institutions in other areas face challenges such as high costs of EV technology and limited facilities. The study identifies that the shift requires not only technical updates but also a comprehensive integration of electrical engineering, battery management systems, and safety protocols into the existing framework. Conclusion: To remain relevant, vocational education must adopt strategic curriculum reforms, foster industry-academic partnerships, and enhance instructor competencies. This transformation is crucial to ensuring that graduates are equipped with the skills necessary to compete in the sustainable automotive industry of the future.    Keywords: Automotive Vocational Education, Curriculum Transformation, Electric Vehicles, Conventional Technology, Transition Strategies.   Abstrak: Penelitian ini menganalisis transformasi kurikulum pendidikan vokasi teknologi otomotif sebagai respons terhadap pergeseran global dari kendaraan konvensional berbasis mesin pembakaran dalam menuju kendaraan listrik (Electric Vehicles). Metodologi: Kajian ini mengevaluasi strategi yang diperlukan untuk menjembatani kesenjangan antara pendidikan mekanik tradisional dengan tuntutan baru di era mobilitas listrik. Hasil: Temuan menunjukkan bahwa transisi ini menuntut peningkatan kompetensi teknis dan manajerial yang signifikan. Namun, terdapat kesenjangan implementasi di mana institusi pendidikan masih menghadapi kendala biaya investasi dan kompleksitas fasilitas praktik. Studi ini mengidentifikasi bahwa pergeseran kurikulum tidak hanya memerlukan pembaruan teknis, tetapi juga integrasi komprehensif mengenai sistem manajemen baterai dan protokol keselamatan kerja elektrik ke dalam kerangka pembelajaran. Kesimpulan: Agar tetap relevan, pendidikan vokasi harus mengadopsi reformasi kurikulum yang strategis, memperkuat kolaborasi dengan dunia industri, dan meningkatkan kompetensi instruktur. Transformasi ini menjadi kunci utama dalam mencetak lulusan yang kompetitif di industri otomotif berkelanjutan masa depan.    Kata Kunci: Pendidikan Vokasi Otomotif, Transformasi Kurikulum, Kendaraan Listrik, Teknologi Konvensional, Strategi Transisi

ANALISIS BEBAN KERJA MENTAL OPERATOR PRODUKSI BERDASARKAN SHIFT KERJA MENGGUNAKAN METODE NASA-TLX DI PT MUTIARA AGAM

Meri, Mufrida, Linda, Rozza, Putri, Vera Aprilli
Abstract: Abstract: The palm oil processing industry has high production demands and operates continuously for 24 hours, which has the potential to create mental workload among production operators, especially under shift work systems.… tems. This study aims to analyze the mental workload level of production operators based on work shifts using the National Aeronautics and Space Administration Task Load Index (NASA-TLX) method at PT Mutiara Agam. The study employed a descriptive quantitative approach involving 100 production operators consisting of 50 morning-shift operators and 50 night-shift operators. Data collection was conducted through observations and the distribution of NASA-TLX questionnaires consisting of six dimensions: Mental Demand, Physical Demand, Temporal Demand, Performance, Effort, and Frustration Level. The results indicated that night-shift operators experienced higher mental workload levels compared to morning-shift operators. The dominant factors influencing mental workload during the night shift were temporal demand, effort, and mental demand due to production target pressures and long working hours. Meanwhile, morning-shift operators also experienced high mental workload, particularly in the aspects of physical demand and work performance. Overall, the findings revealed that the 12-hour shift work system increased mental fatigue and had the potential to reduce operator concentration and productivity. Proposed improvements include rescheduling shift systems, increasing rest periods, implementing job rotation, and improving the work environment to reduce the mental fatigue experienced by production operators. Keywords: Mental Workload, NASA-TLX, Shift Work, Production Operators, Palm Oil Industry.   Abstrak: Industri pengolahan kelapa sawit memiliki tuntutan produksi yang tinggi dan beroperasi secara kontinu selama 24 jam sehingga berpotensi menimbulkan beban kerja mental pada operator produksi, terutama pada sistem kerja shift. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat beban kerja mental operator produksi berdasarkan shift kerja menggunakan metode National Aeronautics and Space Administration Task Load Index (NASA-TLX) di PT Mutiara Agam. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan jumlah responden sebanyak 100 operator produksi yang terdiri dari 50 operator shift pagi dan 50 operator shift malam. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan penyebaran kuesioner NASA-TLX yang terdiri atas enam dimensi, yaitu Mental Demand, Physical Demand, Temporal Demand, Performance, Effort, dan Frustration Level. Hasil penelitian menunjukkan bahwa operator shift malam memiliki tingkat beban kerja mental lebih tinggi dibandingkan shift pagi. Faktor dominan yang memengaruhi beban kerja mental pada shift malam adalah kebutuhan waktu, usaha, dan kebutuhan mental akibat tekanan target produksi serta durasi kerja yang panjang. Sementara itu, operator shift pagi juga mengalami beban kerja mental tinggi terutama pada aspek kebutuhan fisik dan performansi kerja. Secara umum, hasil analisis menunjukkan bahwa sistem kerja shift 12 jam menyebabkan peningkatan kelelahan mental dan berpotensi menurunkan konsentrasi serta produktivitas operator. Usulan perbaikan yang diberikan meliputi pengaturan ulang jadwal shift, penambahan waktu istirahat, rotasi kerja, serta perbaikan lingkungan kerja untuk mengurangi tingkat kelelahan mental operator produksi. Kata Kunci: Beban Kerja Mental, NASA-TLX, Shift Kerja, Operator Produksi, Industri Kelapa Sawit

PENERAPAN GREEN HUMAN RESOURCE MANAGEMENT DI UNIVERSITAS LANCANG KUNING

Mutiara Hati, Junaidi, Richa Afriana Munthe
Abstract: Abstrack: The global environmental crisis and the 2030 Agenda for Sustainable Development Goals (SDGs) position higher education institutions as strategic actors in promoting sustainability, including through environmentally… ally oriented human resource management. This study examines the implementation of Green Human Resource Management (Green HRM) at Universitas Lancang Kuning (Unilak), a private university grounded in Malay cultural values that seeks to transform into a sustainable campus. The study aims to: (1) analyze the forms and level of Green HRM practices at Unilak, (2) identify supporting and inhibiting factors of its implementation, and (3) analyze the impact of Green HRM on campus environmental performance. A qualitative approach with an intrinsic case study design was employed, involving university leaders, HR managers, lecturers, and administrative staff selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, observation, and document analysis, and were examined using thematic analysis. The findings indicate that Green HRM practices at Unilak have emerged through various green initiatives such as energy conservation, paper reduction, waste management, and the provision of green open spaces, yet remain at a medium level of institutionalization since they are not fully integrated into formal HR policies and performance management systems. Key supporting factors include top management commitment, alignment with the institutional vision, and the availability of several green facilities, while inhibiting factors comprise limited financial resources, the absence of standardized green performance indicators and reward schemes, and uneven ecological literacy among academic communities. Green HRM contributes to a cleaner and greener campus environment, increased pro-environmental work behaviors, and a stronger sustainability image for Unilak, but still requires a more structured strategic roadmap aligned with SDG targets 4.7 and 13.3. Keywords: Green Human Resource Management, Green Campus, AMO Theory, Sustainability, Universitas Lancang Kuning.   Abstrak: Krisis lingkungan global dan tuntutan Agenda 2030 melalui Sustainable Development Goals (SDGs) menempatkan perguruan tinggi sebagai aktor strategis dalam mendorong pembangunan berkelanjutan, termasuk melalui pengelolaan sumber daya manusia yang berwawasan lingkungan. Penelitian ini mengkaji penerapan Green Human Resource Management (Green HRM) di Universitas Lancang Kuning (Unilak) sebagai perguruan tinggi swasta berbasis nilai budaya Melayu yang berupaya bertransformasi menuju kampus berkelanjutan. Tujuan penelitian adalah: (1) menganalisis bentuk dan tingkat penerapan praktik Green HRM di Unilak, (2) mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat implementasinya, serta (3) menganalisis dampak Green HRM terhadap kinerja lingkungan kampus. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus intrinsik, dengan subjek pimpinan universitas, pengelola SDM, dosen, dan tenaga kependidikan yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik Green HRM di Unilak telah muncul dalam bentuk berbagai program hijau seperti penghematan energi, pengurangan penggunaan kertas, pengelolaan sampah dan ruang terbuka hijau, tetapi masih berada pada tingkat institusionalisasi menengah karena belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem kebijakan dan manajemen kinerja SDM. Faktor pendukung utama meliputi komitmen manajemen puncak, kesesuaian dengan visi institusi, serta ketersediaan sejumlah fasilitas hijau, sedangkan faktor penghambat mencakup keterbatasan anggaran, belum adanya indikator dan skema reward hijau yang baku, serta literasi ekologis sivitas akademika yang belum merata. Green HRM berkontribusi pada terciptanya lingkungan kampus yang lebih bersih dan asri, peningkatan perilaku kerja pro-lingkungan, serta penguatan citra keberlanjutan Unilak, namun masih memerlukan roadmap strategis yang lebih terstruktur dan selaras dengan target SDG 4.7 dan 13.3. Kata Kunci: Green Human Resource Management, Kampus Hijau, AMO Theory, Keberlanjutan, Universitas Lancang Kuning.

PENGEMBANGAN MODEL SUPERVISI PENDIDIKAN ‘JUANDI’ BERBASIS PENJAMINAN MUTU DAN INOVASI BERKELANJUTAN UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN

Nababan, Juandi, Bella Morita, Simarmata, Juliman, Gultom, Rafles Sergius, Samosir, Lustani
Abstract: Abstract: This study aims to develop an educational supervision model called “JUANDI,” which is based on quality assurance and continuous innovation to improve the quality of learning in schools. The background of this research… is research is rooted in the fact that supervision practices are still often administrative in nature and less oriented toward enhancing teacher professionalism and learning quality. The JUANDI model is designed as an integrative solution that combines six main components: Quality Assurance in Education, Excellence in Competence, Accountability in Management, Values and Character Development, Digitalization of Learning, and Continuous Innovation. This research employs a Research and Development (R&D) approach consisting of several stages, including needs analysis, model design, expert validation, revision, and limited trials. The research subjects include school principals and teachers within an educational institution. Data collection techniques involve observation, interviews, and questionnaires, while data analysis is conducted using both qualitative descriptive and quantitative approaches. The results indicate that the JUANDI supervision model has a high level of validity based on expert judgment, covering aspects of construct, content, and practicality. The limited implementation of the model shows improvements in the quality of learning, particularly in lesson planning, the teaching and learning process, and learning evaluation. In addition, the model contributes to enhancing teacher competence, encouraging the integration of digital technology in instruction, and strengthening students’ character values.In conclusion, the JUANDI supervision model is considered effective and relevant as an innovative alternative in educational supervision that aligns with the demands of 21st-century education. It is expected to contribute to sustainable educational quality improvement through a systematic, collaborative, and data-driven supervision approach. Keywords: Educational Supervision, JUANDI Model, Quality Assurance, Continuous Innovation, Learning Quality   Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model supervisi pendidikan yang disebut “JUANDI,” yang berbasis pada penjaminan mutu dan inovasi berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Latar belakang penelitian ini berakar pada kenyataan bahwa praktik supervisi masih sering bersifat administratif dan kurang berorientasi pada peningkatan profesionalisme guru dan kualitas pembelajaran. Model JUANDI dirancang sebagai solusi integratif yang menggabungkan enam komponen utama: Penjaminan Mutu dalam Pendidikan, Keunggulan dalam Kompetensi, Akuntabilitas dalam Manajemen, Pengembangan Nilai dan Karakter, Digitalisasi Pembelajaran, dan Inovasi Berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian dan Pengembangan (R&D) yang terdiri dari beberapa tahapan, termasuk analisis kebutuhan, desain model, validasi ahli, revisi, dan uji coba terbatas. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah dan guru di suatu lembaga pendidikan. Teknik pengumpulan data melibatkan observasi, wawancara, dan kuesioner, sedangkan analisis data dilakukan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model supervisi JUANDI memiliki tingkat validitas yang tinggi berdasarkan penilaian ahli, meliputi aspek konstruksi, isi, dan kepraktisan. Penerapan model yang terbatas menunjukkan peningkatan kualitas pembelajaran, khususnya dalam perencanaan pembelajaran, proses pengajaran dan pembelajaran, serta evaluasi pembelajaran. Selain itu, model ini berkontribusi pada peningkatan kompetensi guru, mendorong integrasi teknologi digital dalam pengajaran, dan memperkuat nilai-nilai karakter siswa. Kesimpulannya, model supervisi JUANDI dianggap efektif dan relevan sebagai alternatif inovatif dalam supervisi pendidikan yang selaras dengan tuntutan pendidikan abad ke-21. Diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan yang berkelanjutan melalui pendekatan supervisi yang sistematis, kolaboratif, dan berbasis data. Kata Kunci: Supervisi Pendidikan, Model JUANDI, Penjaminan Mutu, Inovasi Berkelanjutan, Kualitas Pembelajaran.

STRATEGI PENGUATAN BUDAYA MUTU DALAM PENJAMINAN MUTU INTERNAL PERGURUAN TINGGI: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW

Siagian, Tomy Sun, Dhea Agusty Ningrum, Taufiq Hidayah, R. Sabrina
Abstract: Abstract: Higher education institutions face increasing demands to enhance educational quality, accountability, and global competitiveness. However, quality assurance initiatives often fail to foster a strong quality culture… ture and are therefore frequently perceived as merely administrative procedures. This study aims to identify strategies recommended in the literature to strengthen quality culture through internal quality assurance (IQA) systems in higher education institutions. The method employed is a Systematic Literature Review (SLR), involving a comprehensive search of articles across reputable databases using Boolean strings related to quality culture, higher education, and internal quality assurance. This process is followed by screening based on inclusion–exclusion criteria and thematic analysis of the selected studies. Out of an initial 149 articles, only 5 met the eligibility criteria and were included in the final analysis to synthesize the findings. The results reveal four key strategies for strengthening quality culture: (1) reinforcing quality-oriented leadership, (2) establishing systematic governance of IQA, (3) fostering stakeholder engagement, and (4) developing human resource competencies through innovation and continuous improvement. Therefore, a sustainable quality culture can be established when IQA is not merely positioned as a compliance mechanism, but rather as a framework for organizational transformation that is implemented collaboratively and consistently across all levels of higher education institutions. Keywords: Internal Quality Assurance; Higher Education; Quality System; Continuous Improvement; Stakeholder Engagement   Abstrak: Perguruan tinggi menghadapi tuntutan peningkatan mutu pendidikan, akuntabilitas, dan daya saing global, namun upaya penjaminan mutu sering kali belum berhasil menumbuhkan budaya mutu yang kuat sehingga hanya dipandang sebagai prosedur administratif semata. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi strategi yang direkomendasikan dalam literatur untuk memperkuat budaya mutu melalui sistem penjaminan mutu internal di perguruan tinggi. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan pencarian artikel pada berbagai database bereputasi menggunakan Boolean string terkait quality culture, higher education, dan internal quality assurance, dilanjutkan dengan proses screening berbasis kriteria inklusi–eksklusi, serta analisis tematik terhadap artikel yang lolos seleksi . Dari 149 artikel awal, hanya 5 artikel yang memenuhi kriteria dan dianalisis sebagai dasar penyusunan sintesis temuan. Hasil menunjukkan empat strategi utama dalam penguatan budaya mutu, yaitu penguatan kepemimpinan mutu, tata kelola SPMI yang sistematis, keterlibatan pemangku kepentingan, dan pengembangan kompetensi SDM melalui inovasi serta continuous improvement. Dengan demikian, budaya mutu akan terbangun ketika IQA tidak hanya menjadi alat kepatuhan, tetapi menjadi kerangka transformasi organisasi yang dijalankan secara kolaboratif dan konsisten di seluruh level perguruan tinggi. Kata Kunci: Penjaminan Mutu Internal; Pendidikan Tinggi; Sistem Mutu; Continuous Improvement; Stakeholder Engagement