Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna simbol warna pakaian para imam dalam liturgi Gereja Katolik dengan menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce, yang meliputi tiga unsur utama, yaitu ikon, indeks,…
, dan simbol. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Lokasi penelitian dilakukan di Gereja Katolik Paroki Santa Maria Fatima Betun, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna-warna liturgi seperti putih, kuning/emas, merah, hijau, ungu, merah muda, dan hitam memiliki makna simbolik yang mendalam dan tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, tetapi juga sebagai media komunikasi teologis dan spiritual. Dalam perspektif ikon, warna memiliki kemiripan visual dengan makna yang diwakilinya, seperti putih yang melambangkan kemurnian dan kebangkitan. Dalam perspektif indeks, warna menunjukkan hubungan langsung dengan konteks liturgi tertentu, seperti ungu yang menandakan masa pertobatan. Sementara itu, dalam perspektif simbol, makna warna dibentuk melalui tradisi dan kesepakatan Gereja, seperti merah yang melambangkan pengorbanan dan Roh Kudus. Dengan demikian, warna pakaian liturgi para imam merupakan sistem tanda yang kompleks dan multidimensional yang mengandung nilai teologis, historis, dan spiritual. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan semiotika Peirce efektif dalam mengungkap makna simbolik dalam praktik keagamaan, khususnya dalam liturgi Gereja Katolik.
Abstract:Pasar modal merupakan industri berbasis kepercayaan (trust-based industry) yang idealnya mengedepankan prinsip transparansi dan keadilan publik. Namun, realitas di Bursa Efek Indonesia (BEI) di awal tahun 2026 diwarnai oleh…
leh sanksi berat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap emiten PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) dan PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) akibat kesalahan material laporan keuangan dan transaksi abnormal. Berbeda dengan riset terdahulu yang mengkaji kecurangan pasar secara parsial, penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan praktik manajemen laba (earnings management), transaksi orang dalam (insider trading), dan manipulasi pasar (saham gorengan) sebagai satu kesatuan mata rantai kejahatan kerah putih (white-collar crime), sekaligus membedahnya melalui tinjauan etika bisnis normatif. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis, penelitian ini menerapkan teknik analisis konten (content analysis) dan studi literatur komparatif terhadap data sekunder rilis resmi regulator serta laporan keuangan emiten. Pisau analisis yang digunakan mencakup Fraud Diamond Theory, Teori Keagenan (Agency Theory), Asimetri Informasi, serta Paradigma Integritas Manusia Utuh. Hasil penelitian menunjukkan adanya sinkronisasi kecurangan yang terstruktur dari hulu ke hilir. Tahap hulu (the setup) diawali dengan rekayasa akuntansi melalui penyalahgunaan kapabilitas manajemen. Ketimpangan informasi di hulu kemudian dimanfaatkan di tengah jalan (the leak) untuk membocorkan informasi material kepada jaringan afiliasi, yang bermuara pada transaksi semu di hilir (the execution) guna menjebak psikologi investor ritel demi keuntungan egoistik sepihak. Dari tinjauan etika utilitarianisme dan deontologi Immanuel Kant, mata rantai kejahatan finansial ini dinilai cacat moral secara mutlak karena mencederai kewajiban moral kejujuran (duty of honesty) dan mengeksploitasi investor publik semata-mata sebagai alat komersial (means to an end). Penelitian ini merekomendasikan perlunya penguatan sistem deteksi dini terintegrasi oleh regulator untuk memutus rantai kecurangan finansial di bursa nasional, Indonesia terutama ketika penerapannya masih bersifat formalitas dan belum didukung oleh budaya organisasi yang berintegritas. Perbedaan hasil juga dipengaruhi oleh sektor industri dan tingkat kematangan tata kelola masing-masing organisasi. Kebaruan penelitian ini terletak pada perbandingan lintas sektor dan metode yang memperlihatkan bahwa efektivitas GCG dan audit internal sangat bergantung pada komitmen nyata dari manajemen serta internalisasi nilai-nilai etis dalam organisasi. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar mengkaji variabel moderasi seperti budaya organisasi dan komitmen manajemen, serta memperluas cakupan sektor penelitian agar hasilnya lebih representatif.
Abstract:Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Namun, sebagian besar UMKM masih menghadapi berbagai kendala, terutama…
dalam pengelolaan manajemen usaha dan pencatatan keuangan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji upaya pemberdayaan UMKM melalui pendampingan manajemen usaha dan penerapan akuntansi sederhana pada UMKM Merah Putih Bakso 89 milik Ibu Nengse yang berlokasi di Kota Ambon. Metode yang digunakan adalah wawancara langsung dan observasi lapangan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendampingan manajemen usaha dan akuntansi sederhana mampu meningkatkan pemahaman pelaku UMKM terhadap pengelolaan usaha, pencatatan keuangan, serta memberikan dampak positif terhadap keberlanjutan usaha dan kesejahteraan pelaku usaha.
Abstract:Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Palopo dengan tema Moderasi Beragama dan Harmonisasi Sosial di desa Makkuaseng, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Kolaka Utara, bertujuan untuk memperkuat nilai toleransi serta menjaga…
kerukunan dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan Participatory Action Research (PAR), program ini dilaksanakan melalui dialog antar umat, pendidikan moderasi beragama di sekolah, penyusunan buku saku, kampanye daring, dan pendampingan pembacaan Al-Qur’an untuk generasi muda. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan efek positif yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai kehidupan rukun di tengah keragaman, tumbuhnya semangat gotong royong dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan sosial serta keagamaan. Kehadiran mahasiswa KKN disambut dengan baik dan dianggap memberikan manfaat yang nyata serta kontribusi berkelanjutan sebagai contoh peningkatan budaya damai di lingkungan masyarakat.
Abstract:Strengthening the financial administration capacity of cooperatives is a crucial element in supporting the sustainability and accountability of cooperative institutions in Indonesia. This community service activity aims…
to improve the understanding and skills of cooperative administrators in financial administration through a hybrid Pelatihan (online and offline). This program aligns with the government's "Red and White Cooperative" initiative, which promotes digitalization and professional cooperative governance. The Pelatihan was conducted using a participatory approach involving lecturers, students, and cooperative actors. Results showed an increase in participants' understanding of transaction recording, the preparation of simple financial reports, and the importance of transparency in cooperative fund management. Technical challenges in the hybrid implementation can be overcome with active mentoring and the use of appropriate digital platforms. This activity demonstrates that the hybrid approach can reach a wider audience and is effective in transferring knowledge
Abstract:Technology is an applied science that encompasses a set of tools, systems, methods, and skills used by humans to solve problems and make work easier. The word comes from the Greek 'techne' (art, craft, skill) and 'logos'…
(science). Some examples of technology vary from simple tools such as prehistoric axes to complex systems such as the internet, which enable humans to innovate and improve the quality of life. The method used in this study is library research, which collects and analyzes various related literature to explore the concept of technology, and the integration model in the implementation of KDKMP technical guidance in Gorontalo, as well as the role of the cooperative office and facilitators in its implementation. The findings indicate that the management and implementation of KKDMP Technical Guidance runs smoothly and with quality thanks to the use of technology. In addition, cooperative facilitators who pass the 2025 test from the Ministry of Cooperatives are expected to be able to implement practices in accordance with the implementation journal and applicable regulations effectively. The Red and White Cooperative is a government program to establish village/sub-district-based economic institutions that aim to improve the welfare and independence of the community through the principles of mutual cooperation and kinship. This cooperative functions as a joint forum for carrying out various local economic efforts, such as providing basic necessities, savings and loan services, and strengthening MSMEs, so as to encourage food security and shorten the supply chain. The Red and White Cooperative Program (Kopdes Merah Putih) is a national initiative to establish cooperatives in every village and sub-district to strengthen the local economy and improve community welfare through the principles of mutual cooperation.
Abstract:Micro enterprises in the Keputih area of Surabaya play an important role in supporting local economic activity, particularly through small-scale food, beverage, and daily-consumption businesses. However, many micro-entrepreneurs…
preneurs still face difficulties in managing their finances systematically. Financial records are often kept manually, inconsistently, or based on memory, making it difficult for business owners to clearly identify cash flow, operating costs, profit levels, and business growth potential. This study aims to analyze the financial management practices of micro enterprises in Keputih, Surabaya, identify the main challenges in applying simple accounting, and examine how basic accounting practices contribute to profitability and business sustainability. This research uses a qualitative approach through direct observation and in-depth interviews with micro-enterprise owners from different business sectors in the Keputih area. The findings show that most business owners have not yet implemented formal accounting systems, but simple practices such as recording daily income, separating business and personal funds, calculating basic costs, and monitoring stock can improve financial control and decision-making. The main obstacles include limited accounting knowledge, lack of discipline in record-keeping, and the perception that small businesses do not require structured financial reports. This study highlights the importance of simple accounting as a practical tool for strengthening profitability, financial awareness, and the sustainability of micro enterprises in local urban communities.
Abstract:This study examines the legal certainty of financing for Indonesia's Desa Merah Putih Cooperative (KDMP) initiative, analyzing the institutional tension between cooperative independence and state intervention. Rooted in…
the constitutional mandate for cooperatives as a cornerstone of the Indonesian economy, the KDMP program aims to establish 80,000 village-level cooperatives through state-facilitated credit lines and technical assistance. However, this top-down model raises concerns about undermining cooperative autonomy enshrined in Law No. 25/1992 and the principle of subsidiarity. Employing a normative juridical research design, this study draws on secondary data from legal literature and primary legal materials to systematically examine relevant norms and doctrines. Findings reveal a tenuous alignment between state financing mechanisms and cooperative autonomy, primarily due to the proposed reliance on state-owned bank credit lines rather than direct state budget grants, leading to legal ambiguity regarding accountability and oversight. The potential for mass loan defaults and the contentious use of Village Funds as collateral further complicate legal certainty and risk hidden liabilities. Comparative insights from India's Amul cooperative and the Philippines' barangay cooperatives illustrate successful models where government acts as a facilitator without impinging on cooperative self-governance or member control. This study advocates for a recalibrated regulatory approach featuring transparent oversight, proportional supervision, and participatory decision-making to reconcile developmental imperatives with cooperative principles, ultimately enhancing legal certainty and ensuring that state-supported cooperatives remain genuinely member-driven enterprises.
Abstract:This study aims to determine the effect of training using rubber weights and with-out weights on the speed of the PSHT Tanah Putih Tanjung Melawan pencak silat sickle kick. This study is an experimental study using the True…
rue experiment design method. The sample in this study was 14 female athletes. The instrument in this study was a 10-second sickle kick speed test with 3 trials and the best value was taken. Data analysis and testing of the research hypothesis used the t-test analysis technique (t-test) with a significance level of α = 0.05. The results of the study showed that: (1) there was an increase in the speed of the sickle kick after athletes followed a training program using rubber weights with an average value of 13.71 in the pre-test and increased by 6.72 or 7% to 20.43 in the post-test. The statistical results showed that the sig-2 tailed value was 0.000 ≤ 0.05. (2) there is an increase in the speed of the sickle kick after the athlete follows a training program without rubber weights with an average value of 13.43 in the pre-test increasing by 5% to 18.43 in the post-test. With statistical results showing that the sig-2 tailed value is 0.000 ≤ 0.05. (3) there is an increase in kick speed between training using rubber weights and without weights with a sig-2 tailed value of 0.013 ≤ 0.05. It can be concluded that training using rubber weights is more effective in increasing the speed of the sickle kick compared to training without rubber weights in the Pen-cak Silat PSHT Ranting Tanah Putih Tanjung Melawan.
Abstract: Kelompok melati putih yang terletak di Kecamatan Sukajadi Kota Pekanbaru merupakan salah satu kelompok keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan yang menjadi bagian dalam pelaksanaan kegiatan Pertemuan Peningkatan…
atan Kemampuan Keluarga (P2K2). Dalam peningkatan kemampuan ini perlu adanya pelatihan keterampilan bagi ibu- ibu kelompok PKH. Namun, terdapat beberapa keterbatasan yang menjadi masalah dalam pengoperasiannya. Yang pertama, keterbatasan sumber daya manusia sebagai pelatih atau tutor dalam pelaksanaan pelatihan keterampilan pembuatan produk sabun. Yang kedua, Sarana dan prasarana berupa bahan – bahan yang diperlukan dalam membuat produk sabun cuci piring seperti bahan- bahan kimia, air galon, dll dinilai masih kurang. Yang ketiga, masalah kurangnya informasi dan pengetahuan bagaimana menambah pendapatan. Kegiatan pengabdian dimulai dari tahap observasi lapangan, pemaparan materi ekonomi kreatif, pengadaan bahan – bahan pembuatan sabun cuci piring. Hasil dari kegiatan ini anggota kelompok melati putih terlihat antusias dengan mengikuti pelatihan pembuatan sabun cuci piring serta sangat senang karena adanya bantuan yang telah diberikan. Kegiatan pelatihan pembuatan sabun cuci piring ini juga memenuhi keterampilan softskill ibu – ibu kelompok melati putih dan kiranya bisa menjadi sumber pendapatan keluarga.
Kata Kunci : pelatihan, ekonomi kreatif, sabun cuci piring