Abstract:Abstract: This research aims to determine "Image Segmentation of Original Images of Orange Fruit Based on Thresholding Values". Thresholding value image segmentation is an image processing method that separates objects and…
nd backgrounds in an image based on differences in brightness levels. Image regions that tend to be dark will be made darker (perfect black with an intensity value of 0), while image regions that tend to be light will be made brighter (perfect white with an intensity value of 1). Therefore, the output of the segmentation process using the thresholding method is a binary image with a pixel intensity value of 0 or 1.The author conducted this research to obtain data by researching and concentrating on writings or sources identified with the problem being studied. Literary research can be obtained by searching for journals, ebooks taken from the internet that plan to find current hypotheses with the problem being studied.Based on the results of determining the thresholding value in determining the binary value, the threshold value is determined as a reference. If the matrix value is smaller than the threshold value then the result is 0 and if the matrix value is greater than the threshold value then the result is 1.
Â
Keywords: Thresholding Value, Image Segmentation, Orange Fruit
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui “Segmentasi Citra Pada Citra Asli Buah Jeruk Berdasarkan Nilai Thresholdingâ€. Yang mana Segmentasi citra nilai thresholding adalah metode pengolahan citra yang memisahkan objek dan background dalam suatu citra berdasarkan perbedaan tingkat kecerahannya. Region citra yang cenderung gelap akan dibuat semakin gelap (hitam sempurna dengan nilai intensitas sebesar 0), sedangkan region citra yang cenderung terang akan dibuat semakin terang (putih sempurna dengan nilai intensitas sebesar 1). Oleh karena itu, keluaran dari proses segmentasi dengan metode thresholding adalah berupa citra biner dengan nilai intensitas piksel sebesar 0 atau 1.Penelitian ini penulis lakukan untuk memperoleh data dengan meneliti dan berkonsentrasi pada tulisan atau sumber yang diidentifikasi dengan masalah yang diteliti. Penelitian kepustakaan bisa didapat dengan cara mencari jurnal, ebook yang diambil dari internet yang berencana untuk menemukan hipotesis saat ini dengan masalah yang diteliti.Berdasarkan Dari hasil penentuan nilai thresholding dalam menetukan nilai biner, maka sebagai acuannya ditentukan dengan nilai dari threshold nya. Jika nilai matriks lebih kecil dari nilai threshold maka hasilnya bernilai 0 dan jika nilai matriks lebih besar dari nilai threshold maka hasilnya bernilai 1.
Â
Kata kunci: Nilai Thresholding, Segmentasi Citra, Buah Jeruk
Abstract:Abstract: Steganography is a field of science that studies the technique of hiding information in digital media to protect data from third-party detection ketiga (Atawneh et al., 2013; Michaylov & Sarmah, 2024; Sitompul…
et al., 2018). This article reviews steganography through three philosophical perspectives: ontology, epistemology, and axiology. Ontologically, steganography explains the existence of hidden information in host media and its interactions. Epistemology plays a role in the process of developing and validating knowledge related to hiding and detection techniques. Meanwhile, axiology highlights the ethical benefits and risks, including the use to protect privacy and the potential for misuse in cybercrime. Steganography, with this comprehensive understanding, plays an important role in data security and information technology.
Keywords: Steganography, Ontology, Epistemology, and Axiology
Abstrak: Steganografi adalah bidang ilmu yang mempelajari teknik penyembunyian informasi di dalam media digital untuk melindungi data dari deteksi pihak ketiga (Atawneh et al., 2013; Michaylov & Sarmah, 2024; Sitompul et al., 2018). Artikel ini meninjau steganografi melalui tiga perspektif filosofis: ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Secara ontologis, steganografi menjelaskan keberadaan informasi tersembunyi dalam media host dan interaksinya. Epistemologi berperan dalam proses pengembangan dan validasi pengetahuan terkait teknik penyembunyian dan deteksi. Sementara itu, aksiologi menyoroti manfaat dan risiko etis, termasuk penggunaan untuk melindungi privasi dan potensi penyalahgunaan dalam kejahatan siber. Steganografi, dengan pemahaman komprehensif ini, berperan penting dalam keamanan data dan teknologi informasi.
Kata kunci: Steganografi, Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
Abstract:Abstract: Facing competition in the global era, organizations are required to work more efficiently and effectively. Increasingly tight competition means that organizations must be able to increase their competitiveness…
in order to maintain the survival of the organization. Every organization is required to display excellent performance in various fields, especially those related to its stakeholders. The current increasingly complex environmental situation requires an organization to be able to satisfy the interests of various stakeholders. Evaluate sub-district performance. The aim of the research is to analyze a sub-district performance evaluation assessment system using the MAIRCA and TOPSIS methods. The data used in this research is secondary data on sub-district performance in a certain period which is related to improving coordination, accountability and professionalism of government administration in the sub-district. The output results from a sub-district performance evaluation assessment system using the MAIRCA and TOPSIS methods have different results in conducting assessments, the MAIRCA method produces a ranking with a value for Silau Laut District of (0.00733333), Pulau Rakyat District (0.011), Pulo Bandring District (0.0118333) , Tanjung Balai District (0.0125), Air Joman District (0.0125) and so on. Meanwhile, in the TOPSIS method, in first place are Pulau Rakyat District (0.775665), Silau Laut District (0.767506), Air Joman District (0.741373), Tanjung Balai District (0.718545), Aek Kuasan District (0.6731).
Â
Keywords: Comparison, MAIRCA, TOPSIS, Performance Evaluation Assessment,
    District.
Abstrak: Menghadapi persaingan di era global, organisasi dituntut untuk bekerja lebih efisien dan efektif. Persaingan yang semakin ketat menyebabkan organisasi harus mampu meningkatkan daya saing dalam rangka menjaga kelangsungan hidup organisasi. Setiap organisasi dituntut untuk menampilkan kinerja yang prima dalam berbagai bidang, terutama yang terkait dengan para stakeholdernya. Situasi lingkungan saat ini yang semakin kompleks menuntut sebuah organisasi untuk bisa memuaskan kepentingan stakeholder yang beraneka ragam. Melakukan evaluasi terhadap kinerja kecamatan. Tujuan penelitian ialah untuk menganalisa sebuah sistem penilaian evaluasi kinerja kecamatan Menggunakan Metode MAIRCA dan TOPSIS. Data yang digunakan dalam penelitian ini ialah data sekunder kinerja kecamatan di periode tertentu yang berhubungan dengan meningkatkan koordinasi, akuntabilitas, dan profesionalitas penyelenggaraan pemerintah di Kecamatan. Hasil output dari sebuah sistem penilaian evaluasi kinerja kecamatan menggunakan Metode MAIRCA dan TOPSIS memiliki hasil yang berbeda dalam melakukan penilaian, pada metode MAIRCA menghasilkan perangkingan dengan nilai Kecamatan Silau Laut sebesar (0.00733333), Kecamatan Pulau Rakyat (0.011), Kecamatan Pulo Bandring (0.0118333), Kecamatan Tanjung Balai (0.0125), Kecamatan Air Joman (0.0125) dan seterusnya. Sedangkan pada metode TOPSIS di urutan pertama adalah Kecamatan Pulau Rakyat (0.775665), Kecamatan Silau Laut (0.767506), Kecamatan Air Joman (0.741373), Kecamatan Tanjung Balai (0.718545), Kecamatan Aek Kuasan(0.6731).
Â
Kata kunci: Perbandingan, MAIRCA, TOPSIS, Penilaian Evaluasi Kinerja, Kecamatan
Abstract:Abstract: This study discusses the comparison between open and closed proportional systems in legislative elections, focusing on the analysis of the Constitutional Court (MK) Decision No. 114/PUU-XX/2022 which tests the…
material of Law No. 7 of 2017 concerning General Elections. In an open proportional system, voters have the freedom to directly elect legislative candidates, while in a closed proportional system, voters only elect political parties, and legislative candidates are determined by the party. This MK decision is important because it confirms the validity of the system used in Indonesian elections and its implications for democracy, political representation, and voter rights. This study aims to outline the legal basis, constitutional arguments, and socio-political impacts of the legislative election system regulated in the Election Law, by viewing the MK decision as a basis for strengthening the clarity of the election system in Indonesia. The results of the study show that the chosen election system affects political representation and public involvement in the election process.
Â
Keywords: general election, open proportional system, closed proportional system,
               constitutional court
Abstrak: Penelitian ini membahas perbandingan antara sistem proporsional terbuka dan tertutup dalam pemilihan umum legislatif, dengan fokus pada analisis Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No. 114/PUU-XX/2022 yang menguji materi Undang-Undang No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum. Dalam sistem proporsional terbuka, pemilih memiliki kebebasan untuk memilih calon legislatif secara langsung, sedangkan dalam sistem proporsional tertutup, pemilih hanya memilih partai politik, dan calon legislatif ditentukan oleh partai tersebut. Putusan MK ini penting karena menegaskan validitas sistem yang digunakan dalam pemilu Indonesia serta implikasinya terhadap demokrasi, representasi politik, dan hak pemilih. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan dasar-dasar hukum, argumen konstitusional, serta dampak sosial-politik dari sistem pemilihan legislatif yang diatur dalam UU Pemilu, dengan melihat keputusan MK sebagai landasan dalam memperkuat kejelasan sistem pemilu di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pemilu yang dipilih mempengaruhi keterwakilan politik serta keterlibatan publik dalam proses pemilihan.
Â
Kata kunci: pemilihan umum, sistem proporsional terbuka, sistem proporsional tertutup, mahkamah konstitusi
Abstract:Abstract: Waiting time is an important component of the service and is the first gateway that plays an important role in making a good first impression on patients. The Mobile JKN application is an application for the national…
tional health insurance system which is a form of digital transformation of the business model created by BPJS Kesehatan. The purpose of this study is to find out the Difference in Average Waiting Time for the Use of Mobile JKN Application services. The study used a cross sectional design. The research was conducted at the Tangerang City Hospital at the dental polyclinic and internal medicine polyclinic. The sampling technique uses the quota sampling technique with a total of 400 samples. The data analysis technique in this study uses the Mann Whitney Test. The results of the study showed that the minimum waiting time for respondents at the dental polyclinic was 67 minutes, and the maximum was 178 minutes. The average waiting time of respondents was 119.15 minutes. Meanwhile, in the internal medicine polyclinic, the minimum waiting time for respondents is 65 minutes, and the maximum is 202 minutes. The average waiting time for respondents was 129.71 minutes. At the dental polyclinic, as many as 62 respondents (44.0%) were users of the Mobile JKN Application and as many as 79 respondents (56.0%) were respondents who came directly. Meanwhile, in the internal medicine poly, as many as 98 respondents (37.8%) were users of the Mobile JKN Application and as many as 161 respondents (62.2%) were respondents who came directly.
Â
Keywords: Waiting Time, Mobile JKN, Service
Abstrak: Waktu tunggu merupakan komponen penting dalam pelayanan dan merupakan pintu gerbang pertama yang berperan penting dalam memberikan kesan pertama yang baik bagi pasien. Aplikasi Mobile JKN adalah aplikasi untuk sistem asuransi kesehatan nasional yang merupakan bentuk transformasi digital model bisnis yang dibuat oleh BPJS Kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui beda rata-rata waktu tunggu pelayanan penggunaan Aplikasi Mobile JKN. Penelitian menggunakan desain cross sectional. Penelitian dilakukan di RSUD Kota Tangerang pada poliklinik gigi dan poliklinik penyakit dalam. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik quota sampling dengan jumlah 400 sampel. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan Uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukan bahwa minimal waktu tunggu responden pada poliklinik gigi adalah 67 menit dan maksimal adalah 178 menit. Rata–rata waktu tunggu responden yaitu 119,15 menit. Sedangkan pada poliklinik penyakit dalam, minimal waktu tunggu responden adalah 65 menit dan maksimal adalah 202 menit. Rata–rata waktu tunggu responden 129,71 menit. Pada poliklinik gigi sebanyak 62 responden (44,0%) adalah pengguna Aplikasi Mobile JKN dan sebanyak 79 responden (56,0%) adalah responden yang datang secara langsung. Sedangkan pada poli penyakit dalam sebanyak 98 responden (37,8%) adalah pengguna Aplikasi Mobile JKN dan sebanyak 161 responden (62,2%) adalah responden yang datang secara langsung.
Â
Kata kunci: Waktu Tunggu, Mobile JKN, Pelayanan
Abstract:Abstract: Fracture cases in 2020 in Indonesia, which is the largest country in Southeast Asia, occurred at 1.3 million each year with a prevalence of 5.5% of the population of around 238 million. In the coding of fracture…
e cases, inaccuracies were still found, the cause of these inaccuracies occurred because they did not add a 5-character code. So the aim of this research is to determine the relationship between the completeness of a medical resume and the accuracy of fracture and injury diagnosis codes at Tangerang City Regional Hospital. This type of research is quantitative using a cross sectional design. The sampling technique in this study used a saturated sampling technique, where the entire population in this study was sampled. The sample in this study was 68 medical resumes of fracture and injury patients. Data analysis was carried out using univariate analysis and bivariate analysis with the Chi-Square analysis test (X2). The results showed that there were 29 (42.6%) incomplete medical resumes and 39 (57.4%) complete resumes. Meanwhile, the accuracy of incorrect fracture and injury diagnosis codes was 53 (77.9%) and the accuracy of correct fracture and injury diagnosis codes was 15 (22.1%). The p-value = 0.000 (0.000 < 0.05) so there is a relationship between the completeness of the medical resume and the accuracy of the fracture and injury diagnosis code at the Tangerang City Regional Hospital.
Â
Keywords: Medical Resume, Accuracy Of Diagnosis Codes, Fractures And Injuries
Abstrak: Kasus fracture tahun 2020 di Indonesia yang merupakan negara terbesar di Asia Tenggara kejadiannya sebesar 1,3 juta setiap tahunnya dengan prevalensi sebesar 5,5% dari jumlah penduduk yang berkisar 238 juta. Pada pengodean kasus fracture masih ditemukan ketidaktepatan, penyebab ketidaktepatan tersebut terjadi karena tidak menambahkan kode karakter-5. Sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kelengkapan resume medis dengan ketepatan kode diagnosis fracture dan injury di RSUD Kota Tangerang. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling jenuh, dimana semua populasi dalam penelitian ini dijadikan sampel, sampel dalam penelitian ini sebanyak 68 resume medis pasien fracture dan injury. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji analisis Chi-Square (X2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa resume medis yang tidak lengkap sebanyak 29 (42.6%) dan resume yang lengkap sebanyak 39 (57.4%). Sedangkan ketepatan kode diagnosis fracture dan injury yang tidak tepat sebanyak 53 (77.9%) dan ketepatan kode diagnosis fracture dan injury yang tepat sebanyak 15 (22.1%). Nilai p-value = 0,000 (0,000 < 0,05) sehingga ada hubungan kelengkapan resume medis dengan ketepatan kode diagnosis fracture dan injury di RSUD Kota Tangerang.
Â
Kata kunci: Resume Medis, Ketepatan Kode Diagnosis, Fracture Dan Injury
Abstract:Abstract: This study aims to develop a web-based expert System capable of diagnosing the level of online gaming addiction using the Certainty Factor and Forward Chaining methods. The background of this research is the increasing…
creasing phenomenon of online gaming addiction, which can have negative impacts on users' daily lives. The Certainty Factor method is used to calculate the certainty level of the diagnosis based on data obtained from a psychology expert, while the Forward Chaining method is employed for the sequential conclusion process. The System is designed to assist users in independently identifying symptoms of online gaming addiction and providing further recommendations. Testing results indicate that this System has a high level of accuracy in diagnosing addiction symptoms, with users being detected as having mild addiction based on the input data provided. With this expert System, it is expected that users will become more aware of the risks of online gaming addiction and take appropriate measures to mitigate its impact. This research also contributes to the development of web-based technology for mental health applications.
Â
Keywords: Online Gaming Addiction, Certainty Factor, Forward Chaining
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem pakar berbasis web yang mampu mendiagnosis tingkat kecanduan game online menggunakan metode Certainty Factor dan Forward Chaining. Latar belakang dari penelitian ini adalah meningkatnya fenomena kecanduan game online, yang dapat memberikan dampak negatif pada kehidupan sehari-hari pengguna. Metode Certainty Factor digunakan untuk menghitung tingkat kepastian diagnosa berdasarkan data yang diperoleh dari seorang pakar psikologi, sedangkan metode Forward Chaining digunakan untuk proses penarikan kesimpulan secara berurutan. Sistem yang dikembangkan bertujuan untuk membantu pengguna dalam mengidentifikasi gejala kecanduan game online secara mandiri dan memberikan rekomendasi lanjutan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem ini memiliki tingkat akurasi yang tinggi dalam mendiagnosis gejala kecanduan, dengan pengguna yang terdeteksi mengalami kecanduan ringan berdasarkan input data yang diberikan. Dengan adanya sistem pakar ini, diharapkan pengguna dapat lebih aware terhadap risiko kecanduan game online dan segera mengambil tindakan yang tepat untuk mengurangi dampaknya. Penelitian ini juga memberikan kontribusi dalam pengembangan teknologi berbasis web untuk aplikasi kesehatan mental.
Â
Kata kunci: Kecanduan Game online, Certainty Factor, Forward Chaining
Abstract:Abstract: Disease coding is one of the important things in providing health information. Coding is used to code diseases according to WHO regulations regarding diagnosis codes consisting of letters and numbers, thereby facilitating…
acilitating the disease reporting process. Coding relies heavily on the clarity of the diagnosis written by the doctor to provide quality information. Inaccuracy of the codes given during the coding process will affect the hospital's reporting activities and decision making. The aim of this research is to determine the relationship between the clarity of writing a diagnosis and the accuracy of coding a diagnosis of tuberculosis at the Tangerang City Regional Hospital. This type of research is quantitative research using a cross sectional research design. The sample consisted of 72 inpatient medical records of tuberculosis patients using a purposive sampling technique. Data analysis was carried out using univariate analysis and bivariate analysis with the Chi-Square test. The results of the study showed that the clarity of writing a clear diagnosis was 49 (68.1%) and the writing of a tuberculosis diagnosis was unclear in 23 (31.9%) of the inpatient medical records of tuberculosis patients. Meanwhile, the accuracy of coding a diagnosis of tuberculosis was 38 (52.8%), and the accuracy of coding an incorrect diagnosis was 34 (47.2%) from 72 medical records. The p-Value = 0.000 (0.000<0.05) so that there is a significant relationship between the clarity of writing a diagnosis and the accuracy of coding a diagnosis of tuberculosis.
Â
Keywords: Clarity, Coding Accuracy, Tuberculosis
Abstrak: Pengodean penyakit merupakan satu diantara hal penting dalam penyediaan informasi kesehatan. Pengodean digunakan untuk memberi kode penyakit sesuai aturan WHO tentang kode diagnosis yang terdiri dari huruf angka sehingga memudahkan proses pelaporan penyakit. Pengodean sangat bergantung pada kejelasan penulisan diagnosis yang ditulis dokter guna menyediakan informasi yang berkualiktas. Ketidaktepatan kode yang diberikan pada proses pengodean akan berpengaruh terhadap legiatan pembuatan pelaporan dan pengambilan keputusan rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kejelasan penulisan diagnosis dengan ketepatan pengodean diagnosis penyakit tuberkulosis di RSUD Kota Tangerang. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian Cross Sectional. Sampel terdiri dari 72 rekam medis rawat inap pasien tuberkulosis dengan teknik pengambilan secara purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejelasan penulisan diagnosis yang jelas sebanyak 49 (68,1%) dan penulisan diagnosis tuberkulosis yang tidak jelas sebanyak 23 (31,9%) rekam medis rawat inap pasien tuberkulosis. Sedangkan ketepatan pengodean diagnosis penyakit tuberkulosis sebanyak 38 (52,8%), dan ketepatan pengodean diagnosis yang tidak tepat sebanyak 34 (47,2%) dari 72 rekam medis. Nilai p-Value = 0,000 (0,000<0,05) sehingga ada hubungan bermaksa antara kejelasan penulisan diagnosis dengan ketepatan pengodean diagnosis penyakit tuberkulosis.
Â
Kata kunci: Kejelasan, Ketepatan Pengodean, Tuberkulosis
Â
Abstract:Abstract: The dispute between Jamarik as Pelawan and PT. BPR Nusantara Bona Pasogit 22 as Defendant I, KPKNL Medan as Defendant II, and Ernita Citra Dewi Sagala as Defendant III which arose over the issue of the auction…
procedures and procedures for the execution of collateral objects in the form of land and buildings thereon with Certificate of Ownership Number 374, date 14 October 2010 in the name of Pelawan in accordance with legal provisions. The judge in his legal considerations decided that the auction for the execution of Mortgage Rights carried out by the Medan KPKNL was an unlawful act so that the Auction Minutes Number 1128/2016 issued by the Auction Officer from the Medan KPKNL had no legal force. The cancellation of the auction will certainly have legal consequences for the parties, both for the owner of the object being auctioned, the auction seller and the auction buyer. The conclusion regarding the problem formulated in this journal is that the legal consequences for the parties regarding the cancellation of the Auction Minutes for the execution of Mortgage Rights in case decision Number 951/PK/Pdt/2022 are that for the buyer/winner of the auction, the auction buyer's right to the debtor's auction object will be ends, for the owner of the auction object (debtor), the item being auctioned returns to its original condition to the debtor, but remains in the status of collateral, while for the auction seller (creditor) there is a delay in obtaining the fulfillment of the achievements in the credit agreement.
Â
Keywords: Auction, Mortgage Rights, Unlawful Actions
Â
Abstrak: Perselisihan antara Jamarik selaku Pelawan melawan PT. BPR Nusantara Bona Pasogit 22 selaku Terlawan I, KPKNL Medan selaku Terlawan II, serta Ernita Citra Dewi Sagala selaku Terlawan III yang timbul atas persoalan apakah prosedur dan tata cara lelang eksekusi terhadap objek jaminan berupa tanah dan bangunan diatasnya dengan Sertifikat Hak Milik Nomor 374, tanggal 14 Oktober 2010 atas nama Pelawan telah sesuai dengan ketentuan hukum. Hakim dalam pertimbangan hukumnya memutuskan bahwa pelaksanaan lelang eksekusi Hak Tanggungan yang dilakukan KPKNL Medan tersebut merupakan perbuatan melawan hukum sehingga Risalah Lelang Nomor 1128/2016 yang dikeluarkan oleh Pejabat Lelang dari KPKNL Medan tidak mempunyai kekuatan hukum. Pembatalan pelaksanaan lelang ini tentu menimbulkan akibat hukum bagi para pihak, baik terhadap pemilik objek yang dilelang, penjual lelang, serta pembeli lelang. Kesimpulan mengenai permasalahan yang dirumuskan di dalam jurnal ini adalah akibat hukum bagi para pihak terhadap pembatalan Risalah Lelang eksekusi Hak Tanggungan dalam putusan perkara Nomor 951/PK/Pdt/2022 adalah bagi pembeli/pemenang lelang, hak pembeli lelang atas objek lelang milik debitor akan menjadi berakhir, bagi pemilik objek lelang (debitor), barang yang dilelang kembali kepada keadaan semula kepada debitor, namun tetap dalam status barang jaminan, sementara bagi penjual lelang (kreditor) terjadi penundaan untuk memperoleh pemenuhan prestasi dalam perjanjian kredit.
Â
Kata kunci: Lelang, Hak Tanggungan, Perbuatan Melawan Hukum
Abstract:Abstract: Technological developments in the current era of globalization cannot be denied, especially in the business and social fields, technological developments provide enormous benefits and make it easier for people…
to carry out business transactions and communicate. Technology also plays a role in improving the quality of the community's economy. Competition in the modern world, especially in the digital world, is increasing with its use in community activities, one of which is the marketplace. Its use is quite easy and efficient, causing many people to be interested in it. This research aims to analyze optimal marketplace competition strategies using Game Theory and Markov Chain methods. Game Theory is a theory in operations research that discusses marketing or competition problems for a company or object being studied. In solving Game Theory using pure strategy and mixed strategy. Apart from determining the optimal strategy in competition, it is also necessary to look at market conditions regarding consumer movements in using marketplaces with Markov chains. Markov chain is a method used to predict the market share of a product in the current period as a basis for predicting future market share. The research results obtained show that Shopee produces optimal strategies, namely security and vouchers and cashback, while Tokopedia produces optimal strategies, namely price, security and promotions. Brand switching using Markov Chain produces a probability for Shopee of 0.431 and Tokopedia of 0.569.
Â
Keywords: game theory, markov chain, marketplace, competition, optimal strategy, brand switching
Â
Abstrak: Perkembangan teknologi di era globalisasi seperti saat ini tidak dapat dipungkiri lagi terutama dibidang bisnis maupun sosial, perkembangan teknologi memberikan manfaat yang begitu besar dan lebih memudahkan masyarakat dalam melakukan transaksi bisnis dan berkomunikasi. Tekonologi juga berperan dalam peningkatan mutu perekonomian masyarakat. Persaingan di dunia modern terutama dalam dunia digital semakin meningkat dengan pemanfaatannya dalam kegiatan masyarakat salah satunya adalah marketplace. Penggunaannya yang cukup mudah dan efisien menyebabkan banyak masyarakat meminatinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi persaingan marketplace yang optimal menggunakan metode Teori Permainan dan Rantai Markov. Dalam penyelesaian Game Theory menggunakan strategi murni dan strategi campuran. Selain menentukan strategi optimal dalam persaingan, dibutuhkan juga untuk melihat kondisi pasar tentang perpindahan konsumen dalam menggunakan marketplace dengan markov chain. Markov chain merupakan salah satu metode yang digunakan untuk memprediksi pangsa pasar suatu produk pada periode saat ini sebagai dasar untuk memprediksi pangsa pasar yang akan datang. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa pada Shopee menghasilkan strategi optimal yaitu keamanan dan voucher dan cashback, sedangkan pada Tokopedia menghasilkan strategi optimal yaitu harga, keamanan, dan promosi. Perpindahan merek menggunakan Markov Chain menghasilkan probabilitas Shopee 0,431 dan Tokopedia 0,569.
Kata kunci: teori permainan, rantai markov, marketplace, persaingan, strategi  optimal, perpindahan merek