Abstract:The community service program implemented in Cibodas Tourism Village, Pasirjambu District, Bandung Regency, aimed at improving local waste management practices, reducing environmental impacts of tourism, and creating livelihood…
elihood opportunities through circular-economy activities. The program combines participatory methods and workshops on waste management by applying the 3R principles (Reduce, Reuse, and Recycle). Measurable outcomes included improved source segregation accuracy, an operational community composting facility, and income streams from recyclable materials. The initiative, aligned with Sustainable Development Goals (SDG), demonstrates that integrated education and infrastructure interventions can produce environmental and socio-economic co-benefits in rural tourism settings.
Abstract:Pelatihan desain UI/UX (User Interface/User Experience) di Pondok Pesantren Terpadu Al Mumtaz bertujuan untuk meningkatkan keterampilan peserta, terutama santri dan mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta, dalam…
merancang antarmuka pengguna yang efektif dan responsif. Workshop ini diselenggarakan sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat untuk mendukung pengembangan website dan sistem informasi berbasis digital di lingkungan pesantren. Kegiatan pelatihan ini terdiri dari pengenalan konsep dasar UI/UX, praktik pembuatan wireframe, dan evaluasi desain aplikasi yang relevan dengan kebutuhan pesantren. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap prinsip-prinsip desain antarmuka pengguna, meskipun tantangan utama yang dihadapi adalah dalam menerjemahkan teori ke dalam desain yang lebih kompleks dan interaktif. Evaluasi terhadap desain yang dihasilkan menunjukkan perlunya pengembangan lebih lanjut dalam hal interaktivitas dan fungsionalitas untuk meningkatkan pengalaman pengguna. Sebagai tindak lanjut, disarankan untuk melakukan pelatihan lanjutan guna memperdalam keterampilan peserta dalam merancang aplikasi digital yang lebih canggih dan responsif. Workshop ini memberikan kontribusi positif terhadap digitalisasi Pondok Pesantren Al Mumtaz dan diharapkan dapat terus berlanjut dalam meningkatkan kualitas pengelolaan dan layanan pesantren berbasis teknologi.
Abstract:Dakwah tidak harus selalu dalam bentuk ceramah atau khutbah. Film memberikan pendekatan dakwah kultural dan kreatif, yaitu menyampaikan pesan tanpa harus verbal secara eksplisit. Contoh: Film Ayat-Ayat Cinta mengangkat tema…
ema cinta dalam bingkai syariah. Film The Message (1976) menyampaikan sejarah kenabian secara epik. Serial Omar (2012) mengangkat perjuangan para sahabat Nabi. Metode yang akan digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah kualitatif yang menggunakan pendekatan normatif. Untuk mendapatkan data sekunder, observasi dan wawancara mendalam digunakan untuk mendapatkan data primer dan kajian perpustakaan selanjutnya adalah workshop kepada penggiat film kalangan muda Kabupaten Paser berkolaborasi dengan Rumah Produksi Warna Film Paser. Dari hasil pelatihan produksi film islami ditemukan beberapa kendala dalam pengembangan yaitu diperlukan forum diskusi untuk pengembangan wawasan keislaman sebagai sumber ide cerita film.Terbatasnya peralatan syuting atau akses rental untuk peralatan semi atau professional Terbatasnya pemahaman terkait orientasi out put film; Industri atau hanya kreatifTidak adanya wadah pemutaran yang permanenTerbatasnya koneksi untuk mendapakan dukungan biaya produksi Minimnya pemahaman terkait masa depan sektor film secara ekonomi.
Abstract:The transition into emerging adulthood frequently induces life-direction anxiety, commonly known as a quarter-life crisis, among university students. This correlational quantitative investigation was designed to evaluate…
the correlation between the intensity of the quarter-life crisis (Variable X) and self-esteem (Variable Y) among active students at the State Christian Institute of Kupang (IAKN Kupang). Employing a sample of 30 participants gathered via probability sampling techniques, data collection was conducted utilizing Likert-scale questionnaires and statistically processed using the Pearson Product Moment correlation formula. The empirical analysis demonstrates a significant and highly robust positive correlation between the investigated constructs ($r = 0.769$; $p = 0.000$). This outcome highlights a noteworthy theoretical anomaly, wherein heightened levels of crisis are unexpectedly linked with enhanced self-esteem. This distinct psychological pattern is driven by active internal introspection, a purposeful pursuit of life meaning, and personal identity consolidation amid adversity. Furthermore, the campus culture at IAKN Kupang—characterized by comprehensive spiritual mentoring, robust peer networks, and a nurturing social atmosphere—serves as a constructive emotional buffer. These external dynamics empower students to navigate developmental stress adaptively, demonstrating that rather than diminishing their self-worth, the identity crisis ultimately bolsters their personal resilience.
Abstract:This study aims to examine the concept of semantic fields in the thought of Ahmad Mukhtar Umar and its relevance to Arabic language learning. The research employs a qualitative approach with the library study method, which…
ch is based on theoretical analysis of relevant scholarly literature. The data consist of primary and secondary sources. The primary data are obtained from Ahmad Mukhtar Umar’s works discussing ‘ilm al-dalālah (semantics), while the secondary data come from books, journal articles, and websites related to semantics and Arabic language learning. The findings show that Ahmad Mukhtar Umar’s linguistic thought is built upon the integration of classical Arabic linguistic traditions and modern linguistic theories, emphasizing language as a dynamic and contextual system of meaning. The concept of the semantic field is understood as a network of semantic relations among vocabulary items, encompassing synonymy, hyponymy, part–whole relations, antonymy, and incompatibility. The study concludes that applying the concept of semantic fields in Arabic language learning enables thematic and conceptual vocabulary development, thereby supporting more meaningful, communicative, and contextual learning.
Abstract:This study aims to develop Topworksheet as students descriptive reading worksheet at SMP Negeri 21 Medan. Data consisted of an analysis of students' needs, interests, and challenges in using Topworksheet as descriptive reading…
eading worksheet, sourced from 20 ninth-grade students at SMP Negeri 21 Medan. Techniques for collecting data included distributing questionnaires, conducting interviews, and documentation. Instruments used were interview sheets, printed documents, and questionnaires. This study involved six key stages of Borg and Gall method, which included: gathering data and information, analyzing the data, designing the product, expert validation, revising and finalizing the product. The result of gathering and analyzing data showed that students had low interest in descriptive reading text due to monotonous and unvaried worksheets. This data identified students’ necessity (85%), lacks (55%) and wants (65%) for an interactive worksheet, engaging worksheet to develop reading understanding. The material designing and revising stage resulted in the Topworksheet Web, which consists of interactive descriptive reading practices, utilizing Canva-based visualization and educational games, including a glossary and word search. The expert validation involved a lecturer and a teacher, was 87.2%, and 98.4%, achieving an "Excellent" category. Based on the high validation scores from the experts, it can be concluded that the final product, the Topworksheet Web, is a highly appropriate and effective students' descriptive reading worksheet tailored to the specific needs of students at SMP Negeri 21 Medan.
Abstract:Supervisi administrasi pendidikan merupakan fungsi manajemen yang esensial dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di lembaga pendidikan. Artikel ini membahas secara komprehensif tentang konsep, prinsip, ruang…
uang lingkup, dan implementasi supervisi administrasi pendidikan. Supervisi administrasi tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme pengawasan, tetapi lebih sebagai upaya kolaboratif untuk pembinaan dan pengembangan kapasitas organisasi pendidikan. Ruang lingkup supervisi mencakup administrasi kurikulum, kesiswaan, kepegawaian, keuangan, sarana prasarana, hubungan masyarakat, dan layanan khusus. Artikel ini menguraikan berbagai pendekatan supervisi (direktif, non-direktif, dan kolaboratif) serta teknik-teknik supervisi yang dapat diterapkan seperti observasi, wawancara, pemeriksaan dokumen, dan workshop. Proses supervisi meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut yang harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Supervisor dituntut memiliki kompetensi kepribadian, manajerial, supervisi, akademik, sosial, dan digital untuk menjalankan perannya secara efektif. Di era digital, supervisi administrasi mengalami transformasi dengan pemanfaatan e-supervision, big data, dan sistem manajemen sekolah digital. Tantangan yang dihadapi meliputi resistensi terhadap perubahan, keterbatasan sumber daya, kompetensi supervisor yang bervariasi, kompleksitas regulasi, dan budaya organisasi. Supervisi administrasi yang efektif memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi organisasi, akuntabilitas publik, penciptaan lingkungan pembelajaran yang kondusif, pengembangan profesional, dan pencapaian standar nasional pendidikan. Keberhasilan supervisi sangat bergantung pada komitmen semua pihak, dukungan kepemimpinan, dan budaya organisasi yang berorientasi pada perbaikan berkelanjutan.
Abstract:Skripsi ini membahas mengenai Keterampilan Manajerial Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Kinerja Guru di Sekolah Menengah Atas Negeri 17 Luwu. Tujuan penelitian ini yaitu: untuk mengetahui keterampilan manajerial Kepala…
ala Sekolah di SMAN 17 Luwu; untuk mengetahui mutu guru di SMAN 17 Luwu; dan untuk mengetahui hambatan dan tantangan yang dihadapi kepala sekolah dalam meningkatkan mutu guru di SMAN 17 Luwu. Metode penelitian yang digunakan yaitu menggunakan penelitian kualitatif deskriptif, dengan menggunakan teknik pengumpulan data seperti observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun teknis analisis data yang diambil adalah reduksi data, display data, dan verifikasi. Subjek penelitian ini yaitu Guru yang ada di Sekolah Menengah Atas Negeri 17 Luwu. Hasil penelitian ini menunjukkan 3 temuan utama. Pertama, Keterampilan manajerial kepala sekolah di SMA Negeri 17 Luwu terlihat dari perencanaan program peningkatan kompetensi guru, supervisi akademik rutin, serta dukungan berupa anggaran, workshop, bimtek, dan diklat. Kepala sekolah juga bekerja sama dengan pengawas dan memberi motivasi, sehingga guru lebih profesional, kreatif, dan berkualitas dalam pembelajaran. Kedua, Mutu guru di SMA Negeri 17 Luwu tercermin dari kualifikasi akademik yang sesuai bidang, kedisiplinan, serta upaya berkelanjutan meningkatkan kompetensi melalui belajar mandiri, pelatihan, dan seminar. Guru juga merancang pembelajaran sesuai karakteristik siswa dengan metode variatif dan inovatif untuk menciptakan suasana belajar interaktif. Ketiga, Hambatan kepala sekolah dalam meningkatkan mutu guru di SMA Negeri 17 Luwu mencakup keterbatasan anggaran dan rendahnya motivasi sebagian guru akibat faktor keluarga, sosial, dan sikap apatis. Kendala ini diatasi melalui pertemuan untuk mencari solusi serta dukungan dari dinas pendidikan, komite sekolah, orang tua, dan kebijakan pemerintah agar guru tetap terdorong meningkatkan kompetensi dan kualitas pembelajaran.
Abstract:This study evaluates the effectiveness of the Forum Kampus UMKM Kuningan program in fostering entrepreneurial characteristics and competencies among its members. As a community-based initiative, the forum strengthens local…
al micro and small enterprises through training, mentoring, and peer learning. Employing a qualitative descriptive approach with the CIPP evaluation model, Bygrave’s 10D framework, and the KSA model, data were collected by interviews, observation, and documentation, then analyzed thematically. Findings indicate the program is generally effective: it addresses members’ real needs, engages competent facilitators despite limited resources, promotes participatory learning, and generates positive impacts on mindset, business practices, and networks. Key entrepreneurial traits—Dreams, Doers, and Destiny—showed significant growth, while financial literacy (Dollars) remained a challenge. Competencies improved across knowledge, practical and digital marketing skills, and attitudes such as confidence, discipline, and adaptability. Overall, the forum demonstrates effectiveness as a community-based entrepreneurship development model that strengthens the local MSME ecosystem.
Abstract:Despite decades of global HIV/AIDS education efforts, the gap between awareness and preventive behavior among youth remains a persistent challenge. University students—typically well-educated and socially engaged—are expected…
expected to be proactive in health matters, yet many remain passive in HIV prevention efforts. This study examines the knowledge, attitudes, and behaviors of university students in Indonesia regarding HIV/AIDS, and analyzes the cognitive and structural barriers that hinder behavioral change. The research applies two theoretical frameworks: the Theory of Planned Behavior (TPB) and the Health Belief Model (HBM). A quantitative survey was conducted among 268 students at Hasanuddin University. Descriptive and inferential statistics were used to assess levels of HIV/AIDS knowledge, attitudes, and preventive actions. Skewness and kurtosis were also calculated to explore distributional patterns. While students demonstrated high levels of knowledge (M = 16.34) and positive attitudes (M = 31.36), their preventive behavior was notably low (M = 10.74), with skewed distributions indicating widespread inaction. Misconceptions about HIV transmission and curability were common. Both TPB and HBM helped explain the role of perceived barriers, weak normative support, and low self-efficacy in limiting behavioral intention. Findings highlight a critical knowledge–action gap driven by social stigma, misinformation, and lack of institutional cues to action. Effective HIV prevention requires not only awareness but also structured interventions that enhance agency, normalize testing, and dismantle behavioral barriers within youth populations