Abstract:Rasa percaya diri merupakan aspek psikologis penting dalam proses pembelajaran, terutama bagi peserta didik Generasi Z yang tumbuh di era digital. Meskipun dikenal adaptif dan ekspresif, masih terdapat peserta didik yang…
kurang berani menyampaikan pendapat dan berpartisipasi aktif di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh rasa percaya diri terhadap efektivitas pembelajaran. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode regresi linier sederhana. Sampel penelitian berjumlah 60 responden yang dipilih melalui teknik probability sampling dengan metode simple random sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang disusun berdasarkan dimensi rasa percaya diri dan efektivitas pembelajaran, dengan analisis data menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara rasa percaya diri dan efektivitas pembelajaran (R = 0,788). Koefisien determinasi (R² = 0,621) menunjukkan bahwa rasa percaya diri berkontribusi sebesar 62,1%, sedangkan sisanya dipengaruhi faktor lain. Uji signifikansi menunjukkan pengaruh positif dan signifikan (p < 0,05) dengan persamaan regresi Y = 5,436 + 0,812X. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan rasa percaya diri untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.
Abstract:Pembelajaran matematika di sekolah dasar memiliki peran penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir siswa, khususnya dalam aspek berpikir kritis, kreatif, dan pemecahan masalah. Namun, pada kenyataannya kemampuan berpikir…
ikir tingkat tinggi siswa masih tergolong rendah karena pembelajaran yang cenderung berpusat pada guru dan kurangnya penggunaan perangkat pembelajaran yang mendukung pengembangan Higher Order Thinking Skills (HOTS). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pentingnya pengembangan perangkat pembelajaran berbasis HOTS pada materi segitiga dan lingkaran di sekolah dasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dengan menganalisis berbagai sumber terkait pembelajaran matematika, HOTS, serta perangkat pembelajaran. Hasil kajian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran berbasis HOTS yang meliputi RPP, LKPD, media, dan instrumen penilaian dapat mendorong siswa untuk berpikir aktif melalui kegiatan analisis, evaluasi, dan pemecahan masalah. Pada materi segitiga dan lingkaran, penggunaan pendekatan kontekstual, media konkret, serta strategi pembelajaran inovatif seperti pembelajaran kooperatif dan multisensori terbukti dapat membantu siswa memahami konsep secara lebih mendalam. Dengan demikian, pengembangan perangkat pembelajaran berbasis HOTS pada materi segitiga dan lingkaran di sekolah dasar dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif, penalaran matematis, serta keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, guru perlu merancang perangkat pembelajaran yang inovatif dan berorientasi HOTS agar tujuan pembelajaran matematika dapat tercapai secara optimal.
Abstract:Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi keterampilan dan taktik murid di tingkat sekolah dasar dalam menyelesaikan tantangan geometri yang tidak rutin. Tantangan yang tidak rutin memerlukan siswa untuk berpikir secara kritis,…
tis, kreatif, dan adaptif, karena solusi tidak bisa ditemukan melalui metode atau algoritma yang biasa merekaingat. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Subyek yang diteliti adalah murid sekolah dasar kelas atas yang diambil secara sengaja. Pengumpulan data dilakukan melalui tes penyelesaian masalah geometri nonrutin dan wawancara mendalam untuk mengungkap proses berpikir para siswa. Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah reduksi data, penyajian hasil, dan penarikan kesimpulan. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa keterampilan siswa dalam menyelesaikan masalah geometri nonrutin bervariasi dalam tiga kategori, yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Siswa dengan kemampuan tinggi cenderung menggunakan strategi visualisasi seperti menggambar kembali bentuk, menciptakan model sederhana, serta memecah masalah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Siswa dengan kemampuan sedang mengaplikasikan kombinasi strategi percobaan dan penerapan konsep dasar, namun masih mengalami kesulitan dalam menghubungkan konsep secara menyeluruh. Di sisi lain, siswa dengan kemampuan rendah sering terjebak dalam prosedur yang rutin dan menemui kesulitan dalam memahami maksud dari soal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan siswa dalam menyelesaikan tantangan geometri nonrutin sangat dipengaruhi oleh pemahaman mereka terhadap konsep, kemampuan dalam representasi, serta kelenturan taktik yang mereka gunakan. Oleh karena itu, pengajaran geometri di tingkat sekolah dasar perlu dirancang dengan menerapkan variasi soal nonrutin secara terus menerus untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi para siswa.
Abstract:Kajian geometri dua dimensi adalah cabang matematika yang mempelajari bangun datar berdasarkan struktur, sifat, dan fungsinya dalam berbagai konteks teoretis dan praktis. Struktur bangun datar mengacu pada susunan elemen-elemen…
-elemen penyusunnya, seperti titik, garis, sisi, sudut, diagonal, dan hubungan antar elemen tersebut. Dalam geometri Euklides, yang dirumuskan oleh Euklides, struktur ini disusun secara aksiomatik untuk membentuk sistem yang logis dan konsisten. Sifat-sifat bangun datar meliputi karakteristik spesifik yang membedakan satu bangun dari bangun lainnya, seperti jumlah sisi dan sudut dalam segitiga, kesamaan dan kekongruenan, garis simetri dan simetri rotasional, dan hubungan antara panjang sisi dan sudut dalam persegi, persegi panjang, jajar genjang, trapesium, dan lingkaran. Pemahaman tentang sifat-sifat ini memungkinkan proses klasifikasi dan pembuktian matematika deduktif. Fungsi bangun datar berkaitan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dan bidang ilmu lainnya, seperti arsitektur, teknik, desain grafis, dan pemetaan. Konsep luas, keliling, dan transformasi geometris digunakan untuk menyelesaikan berbagai masalah praktis. Dengan demikian, studi geometri dua dimensi tidak hanya bersifat teoretis tetapi juga memiliki relevansi fungsional yang luas dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Abstract:Pembelajaran jaring-jaring kubus di sekolah dasar sering berfokus pada hafalan bentuk tanpa pendalaman konsep dan keterkaitannya dengan konteks kehidupan sehari-hari. Kesenjangan (gap) ini menyebabkan peserta didik kurang…
g memahami hubungan antara bentuk dua dimensi dan bangun ruang kubus secara utuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara konseptual materi jaring-jaring kubus serta mengidentifikasi relevansinya dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif, melalui telaah buku ajar, jurnal ilmiah, dan sumber teoretis yang relevan tanpa melakukan penelitian lapangan atau observasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara matematis terdapat 11 bentuk jaring-jaring kubus yang berbeda, masing-masing memiliki enam sisi berbentuk persegi yang saling terhubung dan dapat dilipat membentuk kubus sempurna. Secara kontekstual, konsep ini ditemukan pada kemasan berbentuk kubus seperti kotak kado, dadu, dan kotak penyimpanan. Pemahaman konseptual yang menekankan visualisasi, proses melipat, dan keterkaitan dengan benda nyata terbukti memperkuat kemampuan spasial dan berpikir logis siswa. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa analisis konseptual jaring-jaring kubus yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan pemahaman bermakna tanpa harus melalui penelitian empiris langsung.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai hambatan yang dialami siswa sekolah dasar dalam memahami dan membaca jam, baik yang berbentuk analog maupun digital. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif,…
litatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara tidak terstruktur. Partisipan dalam penelitian ini adalah siswa tingkat sekolah dasar. Dalam pembelajaran Matematika, materi tentang waktu meliputi satuan-satuan seperti detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, hingga tahun. Satuan waktu berfungsi untuk mengukur lamanya suatu peristiwa berlangsung. Materi ini mulai diperkenalkan sejak jenjang sekolah dasar, yang mencakup pemahaman jenis-jenis satuan waktu, cara mengonversinya, melakukan perhitungan waktu, serta keterampilan membaca jam analog dan digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam membaca kedua jenis jam tersebut. Beberapa faktor penyebabnya antara lain keterbatasan media pembelajaran di sekolah, kurangnya ketertarikan siswa terhadap pelajaran Matematika, serta rendahnya dukungan dan bimbingan dari orang tua di rumah. Melalui penelitian ini diharapkan proses pembelajaran di kelas dapat diperbaiki dan ditingkatkan, khususnya dalam melatih kemampuan siswa membaca jam analog dan digital.
Abstract:Bangun datar adalah bentuk geometri dua dimensi yang memiliki panjang dan lebar tetapi tidak memiliki tinggi atau ketebalan bangun datar hanya memiliki luas dan keliling serta terletak pada satu bidang datar. penelitian…
ini bertujuan untuk menganalisis cara berpikir siswa sekolah dasar dalam mengklasifikasikan bangun datar berdasarkan sifat-sifat geometrisnya fokus penelitian diarahkan pada kemampuan siswa dalam mengenali dan membedakan ciri-ciri bangun datar seperti jumlah sisi panjang sisi besar sudut serta kesebangunan dan kesimetrian penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif subjek penelitian adalah siswa kelas 4 sekolah dasar teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dan observasi terhadap siswa kelas 4 SD. temuan menunjukkan terlihat sebagian siswa masih mengklasifikasikan bangun datar berdasarkan bentuk tampak secara visual bukan berdasarkan sifat-sifat geometris seperti jumlah sisi besar sudut dan panjang sisi namun ada sebagian siswa sudah mampu menggunakan sifat-sifat tersebut secara tepat dalam proses pengelompokan menunjukkan bahwa Pemahaman konsep geometri mahasiswa masih perlu diperkuat Melalui pembelajaran yang lebih kontekstual dan penggunaan media konkret.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada materi bangun datar lingkaran melalui penerapan model pembelajaran inovatif yang berpusat pada siswa. Permasalahan dalam penelitian…
itian ini didasarkan pada rendahnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal yang menuntut penalaran serta langkah penyelesaian yang sistematis. Padahal, menurut teori pemecahan masalah yang dikemukakan oleh Polya, proses penyelesaian masalah matematika melibatkan empat tahapan, yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali hasil yang diperoleh. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan melibatkan 25 siswa kelas VI sekolah dasar sebagai subjek penelitian. Setiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Data dikumpulkan melalui tes kemampuan pemecahan masalah dan lembar observasi aktivitas siswa, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menghitung nilai rata-rata dan persentase ketuntasan belajar. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dari siklus I ke siklus II. Nilai rata-rata siswa meningkat dari 70 menjadi 82, sedangkan persentase ketuntasan belajar naik dari 64% menjadi 88%. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inovatif mampu mendorong keterlibatan aktif siswa serta membantu mereka menerapkan tahapan pemecahan masalah secara lebih sistematis. Dengan demikian, model pembelajaran ini efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa sekolah dasar.
Abstract:Remaja merupakan masa peralihan dari kanak – kanak sehingga mengalami banyak perubahan fisik dan psikis. Pada masa ini remaja putri akan mengalami mentruasi setiap bulan dan butuh asupan gizi yang baik, dengan demikian dibutuhkan…
dibutuhkan tablet penambah darah (TTD) yang harus dikonsumsi secara rutin. TTD ini bertujuan untuk mencegah remaja putri terkena anemia, karena hal tersebut akan mempengaruhi proses belajar di sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitaitf dengan metode deskriptif. Informan nya meliputi pembina PMR, anggota PMR dan seluruh remaja putri di SMP. Hasil penelitian diperoleh bahwa TTD sangat berperan penting untuk remaja putri karena dapat memcegah anemia serta membantu asupan gizi pada siswa. Tak hanya itu apabila ditinjau dari psikologi pendidikan siswa yang anemia akan mengalami beberapa gejala yaitu: 1). Fungsi eksekutif, 2) efikasi diri dan 3). Regulasi emosi.
Abstract:Serabi merupakan jajanan pasar tradisional khas Jawa yang tetap bertahan di tengah modernisasi kuliner. Selain memiliki nilai budaya dan kearifan lokal, serabi berpotensi dimanfaatkan sebagai media pembelajaran kontekstual…
al di sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan serabi sebagai jajanan pasar tradisional serta menganalisis potensinya sebagai media pembelajaran geometri di sekolah dasar berbasis pendekatan kontekstual dan etnomatematika. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, studi pustaka, dan dokumentasi. Objek penelitian adalah serabi yang dikaji dari aspek bentuk geometris, bahan penyusun, proses pembuatan, serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serabi memiliki bentuk lingkaran yang dapat digunakan untuk mengenalkan konsep jari- jari, diameter, keliling, dan luas lingkaran secara konkret. Integrasi serabi dalam pembelajaran membantu siswa memahami konsep abstrak melalui pengalaman nyata. Selain itu, serabi mengandung nilai kesederhanaan, kebersamaan, dan pelestarian tradisi yang relevan dengan pendidikan karakter. Temuan ini menunjukkan bahwa makanan tradisional dapat diintegrasikan sebagai media pembelajaran kontekstual berbasis kearifan lokal untuk meningkatkan pemahaman konsep geometri sekaligus menanamkan nilai budaya kepada siswa sekolah dasar.