Abstract:Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui kegiatan penanaman pohon di Kelurahan Kota Waisai, Kabupaten Raja Ampat.…
mpat. Wilayah ini menghadapi tantangan lingkungan berupa berkurangnya tutupan hijau, potensi degradasi lahan, serta meningkatnya dampak perubahan iklim. Program pengabdian dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan pemerintah kelurahan, masyarakat lokal, pemuda, dan mahasiswa dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari sosialisasi lingkungan, penyediaan bibit, hingga penanaman dan pemeliharaan pohon. Metode yang digunakan meliputi edukasi lingkungan, kerja bakti penanaman, serta pendampingan berkelanjutan untuk memastikan keberlanjutan program. Hasil kegiatan menunjukkan meningkatnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya penghijauan serta terbentuknya komitmen bersama untuk menjaga dan merawat tanaman yang telah ditanam. Penanaman pohon tidak hanya berkontribusi terhadap perbaikan kualitas lingkungan dan ekosistem lokal, tetapi juga menjadi simbol harapan dalam membentuk masa depan lingkungan yang berkelanjutan. Program ini diharapkan dapat menjadi model pengabdian berbasis masyarakat dalam upaya pelestarian lingkungan di wilayah kepulauan dan kawasan pesisir.
Abstract:Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai adat dan kearifan lokal melalui pembelajaran partisipatif dan pemberdayaan masyarakat di Kasepuhan Cipta Mulya, Desa Sinar Resmi, Kecamatan Cisolok,…
lok, Kabupaten Sukabumi. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai adat, mendokumentasikan praktik budaya lokal, serta melibatkan pemuda dan sesepuh dalam proses pewarisan budaya. Metode yang digunakan adalah pendekatan aksi partisipatori melalui lokakarya, dokumentasi budaya, dan kegiatan kolaboratif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman generasi muda terhadap norma adat, meningkatnya partisipasi dalam ritual tradisional, serta tersusunnya bahan ajar yang mendukung pelestarian budaya. Program ini berkontribusi dalam memperkuat identitas komunitas adat dan menjadi model bagi wilayah lain untuk mengintegrasikan kearifan lokal dalam kegiatan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Abstract:Menemukan pesan teks telah menjadi pekerjaan banyak orang di banyak aspek kehidupan. Sebab tulisan-tulisan yang dibaca selalu membutuhkan pemahaman dari pesan yang hendak disampaikan penulisnya. Upaya memahami atau menafsir…
sir dalam keilmuan secara umum disebut dengan hermeneutika. Pemuda-pemudi di Sikakap membutuhkan penalaran dan panduan dalam memahami teks dari Kitab Suci, yaitu Alkitab. Para pemuda ini membutuhkan metode yang sederhana agar mudah dipahami dan dilaksanakan dalam kehidupan keagamaan untuk menumbuhkan keimanan. Dengan demikian terwujudlah pemuda yang pandai dan beriman. Karena itu kegiatan yang sangat perlu dirancang dan dilakukan bagi komunitas pemuda di desa Nemnemleleu, kecamatan Sikakap, kabupaten Mentawai, Sumatera Barat. Setelah kegiatan semua pemuda merasakan perbedaan yang besar dan kemudian menjadi pemuda yang bertumbuh dalam iman, sebab kian rutin dan setia membaca dan menggali Alkitab setiap hari.
Abstract:Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menginisiasi dan memperkuat upaya restorasi lingkungan pesisir melalui program penanaman mangrove dan pelestarian biota laut di Kampung Arar, Kabupaten…
upaten Sorong, Papua Barat Daya. Wilayah pesisir Kampung Arar mengalami tekanan ekologis akibat penurunan tutupan mangrove, aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, serta berkurangnya keanekaragaman biota laut. Melalui pendekatan partisipatif, kegiatan ini melibatkan masyarakat lokal, pemerintah kampung, kelompok pemuda, serta lembaga mitra dalam proses edukasi, pendampingan, dan implementasi aksi konservasi. Metode pelaksanaan mencakup sosialisasi mengenai pentingnya ekosistem mangrove dan biota laut, pelatihan teknik penanaman dan perawatan mangrove, pendataan biota laut lokal, serta penetapan area perlindungan pesisir berbasis kearifan lokal. Kegiatan lapangan difokuskan pada penanaman ribuan bibit mangrove di area yang mengalami abrasi dan rehabilitasi habitat laut melalui edukasi konservasi terumbu karang serta penguatan praktik perikanan berkelanjutan.
Hasil pengabdian menunjukkan meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir, adanya peningkatan tutupan vegetasi mangrove di lokasi sasaran, serta terbentuknya komitmen masyarakat dalam menjaga biota laut melalui pembentukan kelompok penjaga lingkungan kampung. Program ini memberikan dampak positif terhadap pemulihan ekosistem pesisir, pengurangan risiko abrasi, serta mendukung keberlanjutan sumber daya laut bagi masyarakat Kampung Arar. Kegiatan ini diharapkan menjadi model kolaboratif restorasi lingkungan berbasis komunitas yang dapat direplikasi di wilayah pesisir lainnya di Papua Barat Daya.
Abstract:Desa Karang-Karangan memiliki potensi besar dalam pengembangan literasi anak, pengembangan literasi anak di Desa Karang-Karangan menjadi langkah strategis dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik,…
tetapi juga memiliki karakter unggul. penelitian ini bertujuan untuk meningkatan literasi anak sebagai sarana utama dalam membangun karakter unggul di Desa Karang-Karangan, untuk mendukung kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam upaya membangun generasi berkarakter unggul melalui peningkatan literasi anak di Desa Karang-Karangan. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif kualitatif dengan pendekatan Asset Based Comunity Development (ABCD) dengan melibatkan masyarakat desa setempat, meliputi tokoh masyarakat, perangkat desa, ibu-ibu PKK, serta pemuda desa. Hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pembuatan pojok baca, pengembangan buku cerita lokal anak, serta penyediaan media pembelajaran yang kreatif memberikan dampak dan upaya terhadap peningkatan literasi sekaligus pembentukan karakter anak. Selain itu, keterlibatan masyarakat dan pemanfaatan potensi lokal menjadi faktor penting dalam mendukung keberlanjutan program, sehingga kegiatan literasi tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan generasi anak yang berkarakter unggul dan berdaya saing di Desa Karang-Karangan.
Abstract:Sosialisasi keadilan gender dalam perspektif Islam menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda, khususnya dalam organisasi pelajar berbasis keagamaan seperti IPNU–IPPNU. Kegiatan ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan…
aan sosialisasi gender pada LAKMUD PAC IPNU IPPNU Kecamatan Tulis, mengevaluasi pemahaman peserta, serta menganalisis perubahan pemahaman tersebut melalui pendekatan nilai-nilai Islam. Metode pengabdian menggunakan pendekatan participatory education melalui penyampaian materi interaktif, debat pro kontra berbasis studi kasus, dan sesi tanya jawab reflektif. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif dan dokumentasi lapangan, kemudian dianalisis dengan teknik deskriptif-kualitatif. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta menunjukkan partisipasi tinggi sejak sesi pembukaan, dengan respons aktif terhadap pemaparan materi yang mencakup konsep gender, nilai qirānah, serta fakta sosial mengenai bias gender. Sesi debat menjadi bagian paling dinamis dan transformatif, di mana peserta mampu menyusun argumen kritis, meninjau ulang asumsi budaya, dan membedakan nilai agama dari konstruksi sosial. Observasi menunjukkan bahwa sosialisasi ini meningkatkan keterbukaan berpikir, kemampuan analisis, dan kesadaran peserta terhadap pentingnya keadilan dalam relasi sosial. Peserta juga menunjukkan perubahan sikap dalam menghargai perbedaan, menghindari stereotip, serta memahami bahwa ketidakadilan gender banyak bersumber dari budaya, bukan ajaran Islam. Secara keseluruhan, kegiatan ini berhasil memperkuat pemahaman gender berbasis nilai keislaman dan memberikan model sosialisasi yang efektif untuk diterapkan dalam kegiatan kaderisasi organisasi pemuda Islam.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Gorontalo dalam meningkatkan kunjungan wisatawan di Pentadio Resort Kabupaten Gorontalo. Fokus penelitian meliputi kemampuan…
ampuan (ability) sumber daya manusia, motivasi (motivation) kerja aparatur, dan dukungan (opportunity) fasilitas serta sistem yang tersedia dalam menunjang peningkatan kunjungan wisatawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas Kepala Dinas, Sekretaris, Kepala Bidang Pariwisata, pengelola Pentadio Resort, serta masyarakat atau wisatawan. Berdasarkan Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Gorontalo dalam meningkatkan kunjungan wisatawan di Pentadio Resort belum berjalan secara optimal. kemampuan, masih terdapat keterbatasan kompetensi sumber daya manusia (SDM) terutama dalam aspek inovasi pengelolaan, pemanfaatan teknologi digital, promosi wisata, dan pemeliharaan fasilitas. Pada motivasi, aparatur telah menunjukkan tanggung jawab dalam memberikan pelayanan, menjaga kebersihan, namun masih kurang dalam kreativitas dan inovasi untuk meningkatkan daya tarik wisata. Sementara itu, pada dukungan, telah dilakukan renovasi beberapa fasilitas wisata, tetapi masih ditemukan berbagai kendala seperti sarana dan prasarana yang rusak, kurang terawat, keterbatasan anggaran, serta promosi digital yang belum optimal.
Abstract:Artikel ini mengkaji secara komprehensif upaya menumbuhkan jiwa Pancasila di kalangan anak muda bangsa melalui pemanfaatan nilai-nilai adat dan tradisi lokal sebagai fondasi pendidikan karakter. Dalam konteks modern, generasi…
erasi muda Indonesia menghadapi perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang berlangsung sangat cepat, sehingga nilai-nilai kebangsaan kerap mengalami pergeseran makna maupun pengurangan relevansi dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini menuntut adanya strategi pembinaan karakter yang tidak hanya teoritis, tetapi juga memiliki kedekatan emosional, historis, dan kultural dengan kehidupan anak muda. Adat dan tradisi lokal yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara mengandung berbagai nilai luhur seperti kebersamaan, gotong royong, musyawarah untuk mufakat, penghormatan terhadap sesama, solidaritas, kearifan spiritual, serta penghormatan terhadap alam dan leluhur. Nilai-nilai tersebut selaras dengan prinsip-prinsip Pancasila dan dapat menjadi sarana efektif dalam memperkuat pemahaman generasi muda terhadap identitas nasional.
Melalui pendekatan kultural, pendidikan berbasis kearifan lokal dapat diterapkan di lingkungan keluarga, sekolah, komunitas adat, dan organisasi kepemudaan. Proses internalisasi nilai dilakukan melalui pengenalan tradisi lokal, partisipasi aktif dalam kegiatan budaya, integrasi materi kearifan lokal dalam kurikulum pendidikan, serta pembentukan ruang dialog yang memungkinkan anak muda memahami relevansi adat terhadap nilai-nilai Pancasila. Artikel ini menegaskan bahwa pelestarian adat dan tradisi bukan sekadar menjaga warisan budaya, tetapi juga merupakan strategi transformasi karakter yang mampu mendorong anak muda agar berperilaku sesuai dengan nilai Pancasila secara sadar dan konsisten. Dengan menghubungkan nilai Pancasila dengan realitas budaya yang dekat dengan kehidupan mereka, generasi muda diharapkan mampu mengembangkan karakter nasionalisme, toleransi, dan tanggung jawab sosial di tengah tantangan global. Penelitian ini berkesimpulan bahwa penguatan jiwa Pancasila melalui adat dan tradisi lokal merupakan langkah strategis untuk menciptakan generasi muda yang berkarakter, berakar pada budaya bangsa, serta mampu menghadapi dinamika zaman tanpa kehilangan identitas keindonesiaannya.
Abstract:Despite decades of global HIV/AIDS education efforts, the gap between awareness and preventive behavior among youth remains a persistent challenge. University students—typically well-educated and socially engaged—are expected…
expected to be proactive in health matters, yet many remain passive in HIV prevention efforts. This study examines the knowledge, attitudes, and behaviors of university students in Indonesia regarding HIV/AIDS, and analyzes the cognitive and structural barriers that hinder behavioral change. The research applies two theoretical frameworks: the Theory of Planned Behavior (TPB) and the Health Belief Model (HBM). A quantitative survey was conducted among 268 students at Hasanuddin University. Descriptive and inferential statistics were used to assess levels of HIV/AIDS knowledge, attitudes, and preventive actions. Skewness and kurtosis were also calculated to explore distributional patterns. While students demonstrated high levels of knowledge (M = 16.34) and positive attitudes (M = 31.36), their preventive behavior was notably low (M = 10.74), with skewed distributions indicating widespread inaction. Misconceptions about HIV transmission and curability were common. Both TPB and HBM helped explain the role of perceived barriers, weak normative support, and low self-efficacy in limiting behavioral intention. Findings highlight a critical knowledge–action gap driven by social stigma, misinformation, and lack of institutional cues to action. Effective HIV prevention requires not only awareness but also structured interventions that enhance agency, normalize testing, and dismantle behavioral barriers within youth populations
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pelestarian nilai keramat Kanemoton pada masyarakat adat Suku Wambon di Kampung Tinggam, Distrik Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel. Kanemoton merupakan warisan…
isan budaya yang memiliki makna sakral sebagai pedoman kehidupan masyarakat adat dalam menjaga hubungan harmonis antara manusia, leluhur, alam, dan Tuhan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Informan dipilih secara purposive yang terdiri atas kepala kampung, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, dan masyarakat adat Suku Wambon. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelestarian Kanemoton masih dilakukan melalui pewarisan nilai secara lisan, pelaksanaan ritual adat, penghormatan terhadap kawasan keramat, penerapan hukum adat, serta pembinaan oleh tokoh adat kepada generasi muda. Tokoh adat memiliki peran sentral sebagai penjaga nilai budaya sekaligus penyelesai konflik adat. Namun demikian, pelestarian Kanemoton menghadapi berbagai tantangan berupa modernisasi, globalisasi, masuknya budaya luar, berkurangnya regenerasi pemangku adat, serta minimnya dokumentasi budaya. Di sisi lain, meningkatnya kesadaran masyarakat dan dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian budaya menjadi peluang untuk menjaga keberlangsungan nilai Kanemoton. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelestarian Kanemoton memerlukan sinergi antara masyarakat adat, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan generasi muda melalui dokumentasi budaya, pendidikan berbasis kearifan lokal, serta penguatan kelembagaan adat agar nilai budaya tersebut tetap lestari sebagai identitas masyarakat Suku Wambon di tengah dinamika perubahan sosial