Search Articles & Publications

Showing 5 articles found for "Polya"

THE COMPARISON OF RESISTANCE OF KCL POLYMER POLYAMINE'S MUD TO HIGH TEMPERATURE

kusrini, Desi kusrini, Andi Vira
Abstract: • X is a company engaged in non-construction oil & gas services, namely water base mud (polyamine based) management services, supply of chemical materials, laboratory equipment, and drilling fluid engineers for oil and gas… gas drilling. problems encountered when drilling through formations containing reactive clay and shale which can cause swelling clay problems and formation damage. This problem can be overcome with a high performance water based mud (HPWBM) mud system which has a super shale inhibition (polyamine) component. Mud which is formulated with the concept of total inhibitor, has inhibitory properties that can stabilize mineral clay and shale. The of this final assignment are to identify and study the high performance water base mud (HPWBM) mud system, then to know the ratio of good polyamines to be used in the KCL polymer polyamine mud formulation, then to look for the value of the physical properties of the KCL polymer polyamine mud formulation. to meet the oil company spec. This test begins with testing the mud properties of the KCl polymer polyamine mud sample from PT. Mitra Mandiri Saktitama before being exposed to Temperature and after being exposed to Temperature. Then analyze the changes in the value of the mud properties that have been made and the specifications of their physical properties, so that they can look for changes in the values of the mud properties of KCl polymer polyamine mud that fall within the specified range of mud properties. This test is carried out under the conditions of a room temperature of 78-300°F.

THE EFECT OF BAY LEAFT (SYZYGIUM POLYANTHUM) DECOCTION ON URIC ACID LEVEL REDUCTION IN ELDERLY PATIENTS WITH GOUT ARTHRITIS IN SERANG VILLAGE

Sofiyatun Hasanah, Dwi Astuti, Priyatin Sulistyowati
Abstract: Background: Elderly individuals are at high risk of experiencing degenerative diseases, one of which is gout arthritis, caused by the accumulation of monosodium urate crystals in the joints due to hyperuricemia. Non-pharmacological… macological therapies such as bay leaf (Syzygium polyanthum), which contains flavonoids, tannins, and essential oils, are believed to naturally reduce uric acid levels. Objective: To determine the effect of bay leaf decoction on reducing uric acid levels in elderly patients with gout arthritis in Serang Village. Method: This research used a descriptive approach with a case study method. The subject was one elderly person with gout arthritis who was given an intervention in the form of bay leaf decoction twice a day for four days. Results: The uric acid level before the intervention was 8.2 mg/dL and after the intervention was 4.2 mg/dL. The reduction of 4 mg/dL indicates that the bay leaf decoction was effective in lowering uric acid levels. Conclusion: Bay leaf decoction affects the reduction of uric acid levels in elderly patients with gout arthritis and can be used as a safe, easy, and affordable nonpharmacological alternative therapy.

Profil Pemecahan Masalah Matematika Berdasarkan Teori Polya Ditinjau Dari Kemampuan Matematika Siswa

Atika Zahrani Purba, Rora Rizky Wandini
Abstract: Kemampuan dalam memecahkan masalah perlu dimiliki seluruh siswa, Selama ini yang menjadi masalah ialah bagaimana kemampuan memecahkan masalah dikembangkan pada proses belajar mengajar terutama matematika. Terdapat kesulitan… tan siswa memecahkan masalah perlu mendapatkan perhatian dan di di identifikasi secara lanjut. Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan profil pemecahan masalah matematika berdasarkan teori Polya dengan tinjauan kemampuan matematika siswa. Metode penelitian yang dipergunakan yaitu kualitatif, sedangkan jenisnya deskriptif. Subjek penelitian ini terdiri atas subjek berkemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Teknik pengumpulan data yang dipakai yaitu teknik tes dan wawancara. Analisis data yang digunakan yakni hasil tes kemampuan matematika, hasil tes pemecahan masalah dan dikuatkan dengan hasil wawancara. Hasil penelitian menerangkan siswa dengan kemampuan matematika tingkat tinggi bisa mengatasi permasalahan, dan mengumpulkan informasi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Tetapi pada akhir perhitungannya siswa kurang teliti. Siswa yang berkemampuan matematika tingkat sedang dapat mengumpulkan informasi pada soal yang disediakan, namun siswa melakukan kekeliruan dalam menentukan rumus. Sedangkan siswa dengan berkemampuan matematika tingkat rendah belum mampu memahami permasalahan dan mengumpulkan informasi secara jelas. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa subjek penelitian tetap berada pada posisi pemahaman pemecahan masalah yang baik pada setiap tingkat kemampuan matematika siswa.

Analisis Penyelesaian Soal Cerita Siswa dalam Pembelajaran Matematika di SMP Negeri 16 Pontianak

Apriana, Ditia, Agung Hartoyo, Dede Suratman
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan penyelesaian soal cerita matematika pada materi Sistem Persamaan Linier Dua Variabel (SPLDV) siswa kelas VIII SMP Negeri 16 Pontianak berdasarkan tahapan pemecahan… masalah Polya (memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali). Rendahnya kemampuan siswa dalam mengaitkan matematika dengan konteks nyata serta banyaknya kesalahan dalam menyelesaikan soal cerita SPLDV menjadi latar belakang penelitian ini. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian terdiri dari 6 siswa yang dipilih dari 30 siswa kelas VIII A, mewakili kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Data dikumpulkan melalui tes tertulis berbentuk soal cerita dan wawancara, kemudian dianalisis menggunakan model Miles and Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa berkemampuan tinggi mampu memenuhi keempat tahapan Polya dengan sangat baik dan konsisten. Siswa berkemampuan sedang mampu memahami masalah dan menyusun rencana, namun kurang teliti dalam perhitungan serta tidak melakukan pemeriksaan kembali. Siswa berkemampuan rendah hanya mampu memahami sebagian informasi soal dan belum mampu merencanakan, melaksanakan, maupun memeriksa kembali penyelesaian. Simpulan penelitian ini adalah kemampuan penyelesaian soal cerita siswa sangat bervariasi, dengan kelemahan utama pada tahap memeriksa kembali, terutama pada siswa berkemampuan sedang dan rendah. Temuan ini memberikan implikasi penting bagi guru dalam merancang pembelajaran yang menekankan berpikir reflektif dan pembiasaan pengecekan hasil akhir.

Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah pada Materi Bangun Datar Lingkaran melalui Model Pembelajaran Inovatif

Nabila Fauzani, Safrida Napitupulu, Sujarwo, Dalimawaty Kadir, Beta Rapita Silalahi
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada materi bangun datar lingkaran melalui penerapan model pembelajaran inovatif yang berpusat pada siswa. Permasalahan dalam penelitian… itian ini didasarkan pada rendahnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal yang menuntut penalaran serta langkah penyelesaian yang sistematis. Padahal, menurut teori pemecahan masalah yang dikemukakan oleh Polya, proses penyelesaian masalah matematika melibatkan empat tahapan, yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali hasil yang diperoleh. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan melibatkan 25 siswa kelas VI sekolah dasar sebagai subjek penelitian. Setiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Data dikumpulkan melalui tes kemampuan pemecahan masalah dan lembar observasi aktivitas siswa, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menghitung nilai rata-rata dan persentase ketuntasan belajar. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dari siklus I ke siklus II. Nilai rata-rata siswa meningkat dari 70 menjadi 82, sedangkan persentase ketuntasan belajar naik dari 64% menjadi 88%. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inovatif mampu mendorong keterlibatan aktif siswa serta membantu mereka menerapkan tahapan pemecahan masalah secara lebih sistematis. Dengan demikian, model pembelajaran ini efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa sekolah dasar.