Search Articles & Publications

Showing 3 articles found for "Profan"

INTEGRASI SPIRITUALITAS HENDRICUS LEVEN DAN DIMENSI SPIRITUALITAS KEHIDUPAN

Lucius Adrianus Mada Kewuren, Magdalena Tulin Jawan
Abstract: Penelitian ini mengeksplorasi integrasi spiritualitas Hendricus Leven ke dalam dimensi-dimensi kehidupan modern sebagai upaya mengatasi krisis makna dan dikotomi eksistensial di abad ke-21. Di tengah disrupsi teknologi dan… an materialisme yang memicu kekosongan batin poverty of spirit, pemikiran Leven menawarkan paradigma spiritualitas yang inklusif dan holistik. Masalah utama yang diangkat adalah adanya pemisahan tajam antara ritus keagamaan dengan perilaku sosial dan praktis dalam masyarakat kontemporer. Tujuan penelitian ini adalah untuk merekonstruksi konstruksi pemikiran Leven serta menganalisis integrasinya dalam dimensi intrapersonal, interpersonal, ekologis, dan transedental guna menciptakan keseimbangan hidup. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi literatur library research. Analisis dilakukan melalui teknik analisis konten terhadap karya-karya mengenai Hendricus Leven serta sintesis teoritis dengan literatur spiritualitas kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas Leven merupakan sebuah “cara berada” way of being yang menjembatani jurang antara hal sakral dan profan. Secara intrapersonal, Leven menekankan pentingnya keheningan produktif untuk integritas diri. Dalam dimensi interpersonal, ia mewujudkan solidaritas dan belaras sebagai bentuk ibadah nyata. Pada dimensi ekologis, pemikirannya memandang alam sebagai ruang sakral yang haris dijaga, sementara secara transedental, ia menekankan kehadiran Tuhan dalam tugas keseharian yang sederhana. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi spiritualitas Leven memberikan peta jalan bagi manusia modern untuk mencapai keutuhan eksistensial. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya transformasi gaya hidup yang lebih sadar dan bertanggung jawab, di mana pelayanan kepada sesama dan alam menjadi manifestasi iman yang hidup. Nilai-nilai ini direkomendasikan untuk diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan karakter demi terciptanya masyarakat yang labih humanis dan spiritual.

FROM THE FIELD TO THE PALACE: THE CULTURAL PRACTICE OF DELIVERING THE FIRST HARVEST BY THE KOLIMASANG COMMUNITY TO THE KING OF ADONARA

Christiyanti Abel, Sirilus Karolus Keroponama Keban
Abstract: The delivery of the first harvest by the people of Kolimasang Village to the King of Sagu in Adonara represents a symbol of agrarian relations rich in cultural and spiritual meaning. In Lamaholot tradition, the king is not… ot only a political–traditional leader but is also regarded as a representation of cosmic power that must be respected. In this perspective, the delivery of the first harvest becomes a kind of “rite of passage” from the profane world (the field) to the sacred world (the palace). Within Lamaholot tradition, this relationship is known as the 4A: Atadiken (Human), God, Nature, and Ancestral Spirits. The findings show that the procession of delivering the first harvest has been practiced for generations since the establishment of the Adonara Kingdom. The procession is carried out for two consecutive days, Tuesday and Wednesday, during the harvest week and month, usually March or April. On Tuesday, the ritual takes place in the fields during the first harvest, the yields of which are taken to the King of Adonara in Sagu. On Wednesday, the procession takes place in Lewo Sagu Atu Matang – Tanah Kota Dolu Wewang (the palace of the Adonara king), the site of the migration of King Arkian Kamba (the first Islamic King of Adonara). Both processions are preceded by traditional ritual prayers (Bao Lolon) addressed to God, Nature, and the Ancestral Spirits (3A). The equipment involved in the procession includes the harvest yield, tuak (palm wine) in bamboo containers, coconut-shell cups, gongs and drums, spears, machetes, and traditional clothing. In the procession, the king and his kin receive the harvest in a ceremonial welcome marked by traditional rituals, during which the king wears royal attire: the lipa sarong, a jacket, and a cap. The harvested produce is not only given to members of the royal family for consumption but also distributed to the wider community (ribu ratu). A tradition that remains preserved to this day—and considered the most essential—is the distribution of the first harvest by the king and his family to widows, the poor, orphans, and abandoned children. This symbolizes love, fairness, and equitable sharing—values that continue to be upheld today.

Teori Sosiologi Agama Durkheim: Biografi, Definisi Agama, Sakral-Profan, Konsep Supernatural, Konsep Ilahi, dan Fenomena Bunuh Diri

M. Azka Putra Difni Kurniawan, Rahmad Dzailani Al-Thamin
Abstract: Artikel ini mengkaji teori sosiologi agama Durkheim dengan memusatkan perhatian pada enam aspek pokok: biografi dan konteks intelektualnya, definisi sosial agama, dikotomi sakral-profan, konsep supernatural, konsep ilahi,… , serta fenomena bunuh diri dalam kerangka teori Durkheim. Melalui pendekatan deskriptif-analitis dan metode kajian pustaka, artikel ini memperlihatkan bahwa Durkheim memandang agama sebagai fakta sosial yang berakar dari kehidupan kolektif masyarakat, bukan sekadar urusan teologi atau pengalaman spiritual pribadi. Dikotomi sakral-profan menjadi pondasi dari setiap sistem keagamaan. Durkheim menolak definisi agama yang berpijak pada konsep supernatural atau ketuhanan karena tidak semua agama mengenal kedua konsep tersebut. Lebih jauh, teori bunuh dirinya menegaskan bahwa perilaku individu sangat ditentukan oleh kondisi sosial khususnya integrasi dan regulasi sosial yang sangat relevan dengan meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa Indonesia.