Search Articles & Publications

Showing 350 articles found for "Spirit"

Implementasi Nilai-Nilai Adab Islami Pada Peserta Didik Melalui Kegiatan Ekstrakulikuler Keagamaan Di SMK PGRI 1 Tulungagung

Haikal, Muhamad Sidiq Asyhari, Nizar Khoirul Anam, Jumadil, Rafli Rasyid Tamher, Mohammad Ighil
Abstract: Kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) ini bertujuan untuk menginternalisasikan nilai-nilai adab Islami pada peserta didik melalui pendampingan dalam memulai kegiatan ekstrakurikuler keagamaan di sekolah. Permasalahan… n yang ditemukan di lapangan adalah masih kurangnya pemahaman siswa mengenai adab dasar dalam aktivitas keagamaan serta minimnya pembiasaan sikap islami sebelum kegiatan dimulai. Pelaksanaan program dilakukan selama masa PPL melalui pendekatan partisipatif dengan tahapan observasi awal, perencanaan kegiatan, sosialisasi nilai-nilai adab, pendampingan praktik, dan evaluasi. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan kedisiplinan, sikap santun, serta kesiapan spiritual siswa sebelum mengikuti kegiatan ekstrakurikuler keagamaan. Selain itu, peserta didik menjadi lebih memahami makna penting adab islami seperti salam, tertib, kebersihan, dan niat sebelum beribadah. Evaluasi akhir mengindikasikan bahwa internalisasi nilai adab Islami berjalan efektif dan memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter religius siswa. Ke depan, program ini direkomendasikan untuk dilanjutkan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara guru pembina, sekolah, dan peserta didik guna memperkuat budaya religius di lingkungan sekolah.

DAMPAK KENAKALAN REMAJA TERHADAP KONFLIK SOSIAL KOMUNITAS: STUDI KASUS DESA LUHU DAN DESA IHA DALAM TINJAUAN PENDIDIKAN ISLAM

Palisoa, Risna
Abstract: Fenomena kenakalan remaja (juvenile delinquency) di era kontemporer telah berkembang menjadi implikasi sosial yang mengkhawatirkan, baik dalam konsetualisasi urban maupun rural. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis… s dampak kenakalan remaja terhadap eskalasi konflik sosial komunitas antara Desa Luhu dan Desa Iha, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat, serta merumuskan resolusi holistik berbasis perspektif Pendidikan Islam. Metodologi yang diaplikasikan dalam studi ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi lapangan (field research). Data dikumpulkan melalui teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap 10 informan multi-sektoral (tokoh agama, adat, masyarakat, aparat TNI/Polri, dan pemuda), serta dokumentasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa manifestasi kenakalan remaja yang dominan menjadi pemicu friksi dan integrasi destruktif antar-desa meliputi konsumsi minuman keras (sopi dan sageru), perkelahian kelompok, perjudian, dan disfungsi interaksi dalam pacaran inter-desa yang memicu polarisasi komunal serta kerugian material dan imaterial. Dalam tinjauan Pendidikan Islam, fenomena kemerosotan moralitas ini diakibatkan oleh minimalnya internalisasi nilai spritual dan kedangkalan rekonstruksi akhlak anak. Pendidikan Agama Islam memainkan peranan krusial tidak hanya sebatas fungsi kognitif (ta'lim), melainkan harus dioptimalkan dalam dimensi pembentukan karakter (ta'dib) dan pengasuhan spiritual secara holistik (tarbiyah) lintas lingkungan keluarga, lembaga formal, dan instrumen kemasyarakatan guna meminimalisir deviasi sosial remaja.

Konversi Agama, Proses, dan Faktor yang Memengaruhinya dalam Perspektif Psikologi Pendidikan Islam

Fuad, Anisul, Rokhimah, Siti
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena konversi agama beserta proses dan faktor-faktor yang memengaruhinya dari kacamata psikologi pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode… etode studi kepustakaan (library research) dan menerapkan teknik analisis isi terhadap berbagai literatur akademik mutakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa konversi agama merupakan proses transformasi kognitif, afektif, dan psikomotorik yang mendalam dan berlangsung secara bertahap, meliputi fase kegelisahan batin, pencarian spiritual, perjumpaan dengan ajaran baru, pengambilan keputusan, hingga tahap komitmen. Proses ini sangat dipengaruhi oleh faktor internal seperti krisis identitas dan pencarian makna hidup, serta faktor eksternal yang mencakup keluarga, komunitas, relasi sosial, dan peran media digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konversi agama bukan sekadar perpindahan identitas formal, melainkan proses pendidikan jiwa yang membutuhkan pendampingan berkelanjutan. Pembinaan bagi pelaku konversi (muallaf) perlu mengintegrasikan konsep dasar psikologi pendidikan Islam secara holistic yakni fitrah, tarbiyah, ta’lim, ta’dib, dan tazkiyatun nafs dengan pendekatan yang humanis dan empatik agar terbentuk identitas keberagamaan yang sehat dan matang.

SPIRITUAL INTELLIGENCE AND NURSES’ CARING BEHAVIOR IN AN INPATIENT WARD: A CROSS-SECTIONAL STUDY IN INDONESIA

Fiska, Mona Anggia, Oktizulvia, Conny, Yendrial, Vania Aresti
Abstract: Caring behavior is a fundamental value and the core of professional nursing practice that directly contributes to the quality of patient care and recovery. One of the internal factors associated with caring behavior is spiritual&#8230; piritual intelligence, which enables nurses to find meaning and purpose in the care they provide. However, evidence suggests that both nurses' caring behavior and spiritual intelligence still need improvement. This study aimed to examine the relationship between spiritual intelligence and nurses' caring behavior in inpatient wards. This study employed a quantitative analytical correlational design with a cross-sectional approach. A total of 53 nurses were recruited using a total sampling technique. Data were collected using the Spiritual Intelligence Self-Report Inventory (SISRI-24) and the Caring Behavior Inventory (CBI). Data were analyzed using the Chi-square test with a significance level of p < 0.05. The findings revealed that less than half of the respondents (47.2%) had low spiritual intelligence, while more than half (54.7%) demonstrated poor caring behavior. Statistical analysis showed a significant relationship between spiritual intelligence and nurses' caring behavior (p = 0.001). Nurses with higher levels of spiritual intelligence tended to demonstrate better caring behavior than those with lower levels of spiritual intelligence. Hospital management is encouraged to consider nurses' spiritual intelligence as an important aspect in efforts to enhance caring behavior and improve the overall quality of nursing services.

WAKAF SEBAGAI INSTRUMEN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN PADA MASA ABBASIYAH DAN ANDALUSIA

Sahrin, Fauziyyah Maulida, Hafidoh, Nurul, Syarief, Muhammad Nu’man, Tulhaya, Zaskia
Abstract: Wakaf merupakan salah satu instrumen penting dalam filantropi Islam yang berperan besar dalam mendukung pembangunan sosial, ekonomi, dan pendidikan masyarakat. Wakaf tidak hanya menjadi bentuk ibadah, tetapi juga berkembang&#8230; ang sebagai sistem pendanaan publik yang menopang keberlangsungan berbagai lembaga pendidikan serta pengembangan ilmu pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran wakaf sebagai instrumen pengembangan pendidikan pada masa peradaban Islam, khususnya pada era Kekhalifahan Abbasiyah dan Andalusia. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), yaitu melalui pengumpulan dan analisis berbagai sumber literatur seperti jurnal ilmiah, buku, dan artikel yang berkaitan dengan wakaf, sejarah pendidikan Islam, serta perkembangan peradaban Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wakaf memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan pendidikan dengan menyediakan sumber pendanaan yang berkelanjutan bagi lembaga pendidikan, perpustakaan, pusat penelitian, serta kesejahteraan para pendidik dan peserta didik. Pada masa Dinasti Abbasiyah, wakaf berperan penting dalam mendukung berkembangnya pusat-pusat intelektual seperti Baghdad melalui pendanaan pendirian lembaga pendidikan dan penelitian. Sementara itu, di Andalusia, wakaf berperan dalam memperkuat sistem pendidikan yang memadukan ilmu-ilmu keagamaan dengan ilmu-ilmu rasional, sehingga melahirkan banyak cendekiawan yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia. nalisis menunjukkan bahwa keberhasilan sistem wakaf di kedua peradaban tersebut dipengaruhi oleh pengelolaan aset yang produktif, tata kelola yang baik, serta tingginya kesadaran masyarakat terhadap konsep sedekah jariyah. Dengan demikian, wakaf dapat dipandang sebagai instrumen pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya berorientasi pada manfaat spiritual, tetapi juga berkontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia dan kemajuan peradaban.

MAKNA SIMBOLIK WARNA PAKAIAN IMAM DALAM LITURGI GEREJA KATOLIK KAJIAN SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PEIRCE

Mendonca, Oktaviana Orleans, Berek, Adrianus, Seran, Agustinus
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna simbol warna pakaian para imam dalam liturgi Gereja Katolik dengan menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce, yang meliputi tiga unsur utama, yaitu ikon, indeks,&#8230; , dan simbol. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Lokasi penelitian dilakukan di Gereja Katolik Paroki Santa Maria Fatima Betun, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna-warna liturgi seperti putih, kuning/emas, merah, hijau, ungu, merah muda, dan hitam memiliki makna simbolik yang mendalam dan tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, tetapi juga sebagai media komunikasi teologis dan spiritual. Dalam perspektif ikon, warna memiliki kemiripan visual dengan makna yang diwakilinya, seperti putih yang melambangkan kemurnian dan kebangkitan. Dalam perspektif indeks, warna menunjukkan hubungan langsung dengan konteks liturgi tertentu, seperti ungu yang menandakan masa pertobatan. Sementara itu, dalam perspektif simbol, makna warna dibentuk melalui tradisi dan kesepakatan Gereja, seperti merah yang melambangkan pengorbanan dan Roh Kudus. Dengan demikian, warna pakaian liturgi para imam merupakan sistem tanda yang kompleks dan multidimensional yang mengandung nilai teologis, historis, dan spiritual. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan semiotika Peirce efektif dalam mengungkap makna simbolik dalam praktik keagamaan, khususnya dalam liturgi Gereja Katolik.

PERAN KESADARAN SPIRITUAL DAN ETIKA LINGKUNGAN DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI PANTAI MARTHAFONS

Atarwaman, Rita J D, Zahra, Zahra, Nusaaly, Veni Adriana, Billah, Riska Salsa, Rumodar, Najla Nazia, Rahmadani, Dira, Efendi, Rafika Eka Devi, Taniwel, Rahel Falensya
Abstract: Penumpukan sampah di kawasan wisata pesisir masih menjadi permasalahan lingkungan yang serius karena berdampak terhadap kualitas ekologi, kesehatan masyarakat, kenyamanan pengunjung, dan keberlanjutan aktivitas wisata lokal.&#8230; kal. Pantai Marthafons yang terletak di Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, merupakan salah satu kawasan wisata pesisir yang menghadapi persoalan sampah secara berulang akibat aktivitas pengunjung, limbah rumah tangga, serta sampah kiriman yang terbawa arus laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kesadaran spiritual dan etika lingkungan dalam membentuk perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah di Pantai Marthafons. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan wawancara semi-terstruktur dengan informan kunci yang memahami kondisi lingkungan pantai. Data dianalisis melalui reduksi data, klasifikasi temuan, interpretasi, dan penarikanklasifikasi temuan, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran spiritual mendorong sebagian masyarakat memandang pelestarian lingkungan sebagai tanggung jawab moral dan religius terhadap ciptaan Tuhan. Etika lingkungan juga memperkuat kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan dan berpartisipasi dalam kegiatan pembersihan pantai. Namun, pengelolaan sampah masih terkendala oleh keterbatasan fasilitas, partisipasi masyarakat yang belum merata, serta sampah kiriman dari arus laut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesadaran spiritual dan etika lingkungan dapat menjadi modal sosial penting dalam memperkuat pengelolaan sampah pesisir secara berkelanjutan.

MAKNA ETIKA BISNIS PADA UMKM DI KOTA AMBON

Atarwaman, Rita J D, Pessy, Gabriela, RevaliaMakoy, Putri, Sahertian, Sherley, Terry, Erasmus Nikodemus, Waas, Gloria Giovenshia
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam makna etika bisnis bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Ambon melalui pendekatan kualitatif fenomenologi. Fokus utama penelitian difokuskan pada&#8230; ada pemahaman moral, pengalaman menghadapi dilema etis, internalisasi nilai kearifan lokal, serta peran kepercayaan dalam menjamin keberlangsungan usaha. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam (in-depth interview) secara semi-terstruktur terhadap informan pemilik UMKM di Kota Ambon yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data didasarkan pada prosedur fenomenologi Moustakas yang mencakup tahapan epoché, horisonalisasi, klaster tema, hingga deskripsi struktural-tekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etika bisnis dimaknai bukan sekadar sebagai instrumen kepatuhan hukum normatif, melainkan sebagai manifestasi integritas personal dan spiritualitas kerja. Hubungan interaktif bisnis sangat dipengaruhi oleh modal sosial kearifan lokal (seperti semangat kebersamaan berbasis trans-komunitas). Kepercayaan konsumen diidentifikasi sebagai jembatan kritis yang mengaitkan perilaku etis dengan keberlanjutan hidup usaha di Tengah tingginya volatilitas pasar. Temuan ini menyimpulkan pentingnya integrasi nilai moral kultural ke dalam manajemen UMKM guna menciptakan ekosistem bisnis lokal yang resilien dan berkelanjutan.

ANALISIS NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM PERISTIWA PERANG AHZAB BERDASARKAN KITAB FIKIH SIRAH KARYA ZAID AZ-ZAID

Ahadi, Hary, Samsudin, Samsudin, Choeroni, Choeroni
Abstract: Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai-nilai pendidikan akhlak dalam Perang Ahzab berdasarkan kitab Fikih Sirah karya Zaid Az-Zaid serta menjelaskan relevansinya terhadap pengembangan Pendidikan Agama Islam (PAI) di&#8230; era digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber data primer berupa kitab Fikih Sirah, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur akhlak Islam, Sirah Nabawiyah, dan penelitian pendidikan Islam yang relevan. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan dianalisis menggunakan analisis isi (content analysis) dengan tahapan pengodean, kategorisasi, interpretasi, dan penarikan makna pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Zaid Az-Zaid mengonstruksi enam belas nilai pendidikan akhlak dari peristiwa Perang Ahzab, yaitu tawakal, syaja’ah, optimisme, musyawarah, tawadhu’, penghargaan terhadap pendapat, kontribusi sosial, keterbukaan berpikir, keteladanan, integritas, ta‘awun, tabayyun, menjaga lisan, husnuzan kepada Allah, ketenangan batin, dan keteladanan sahabiyah. Nilai-nilai tersebut selanjutnya dikelompokkan ke dalam empat tipologi utama, yaitu akhlak spiritual, akhlak sosial, akhlak intelektual, serta akhlak kepemimpinan dan keteladanan. Penelitian ini juga menemukan bahwa nilai-nilai tersebut memiliki relevansi yang kuat bagi pembelajaran PAI kontemporer, terutama dalam penguatan karakter, resiliensi spiritual, literasi digital, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi sosial, serta pengembangan kepemimpinan peserta didik. Dengan demikian, Perang Ahzab dapat diposisikan sebagai sumber pendidikan akhlak yang kontekstual dan relevan bagi pengembangan pendidikan Islam masa kini.

RELEVANSI NILAI TASAWUF DALAM MEMBANGUN KESADARAN LINGKUNGAN MAHASISWA MUSLIM CHINA DI ERA MODERN

Analisa, Suci, Fianingtyas, Mawarda Alistina, Chamami, M. Rikza
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi nilai-nilai tasawuf dalam membangun kesadaran lingkungan mahasiswa Muslim China di UIN Walisongo Semarang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode&#8230; wawancara mendalam terhadap mahasiswa Muslim China. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memahami tasawuf sebagai ajaran yang membentuk ketenangan batin, kesederhanaan, rasa syukur, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran lingkungan melalui perilaku hemat sumber daya, mengurangi pemborosan, serta mengendalikan sikap konsumtif. Penelitian juga menemukan bahwa gaya hidup modern memiliki pengaruh ganda terhadap kepedulian lingkungan. Di satu sisi, perkembangan teknologi dan informasi dapat meningkatkan pengetahuan lingkungan, namun di sisi lain budaya konsumtif berpotensi mendorong perilaku yang kurang ramah lingkungan. Oleh karena itu, tasawuf memiliki relevansi sebagai landasan moral dan spiritual dalam membangun kesadaran lingkungan yang berkelanjutan di kalangan mahasiswa Muslim China.