Abstract:Pasar Bawah merupakan salah satu aset kultural dan ekonomi penting di Kota Pekanbaru, Riau, yang dikenal sebagai sentra penjualan barang-barang antik, kerajinan, dan berbagai produk impor unik. Namun, potensi Pasar Bawah…
sebagai destinasi wisata belanja belum sepenuhnya tergarap optimal. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan Pasar Bawah agar dapat meningkatkan daya tariknya sebagai tujuan wisata belanja, sekaligus berkontribusi pada peningkatan ekonomi lokal dan pelestarian nilai historisnya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam dengan pedagang, pengelola pasar, dinas pariwisata, serta analisis dokumen terkait. Fokus analisis mencakup aspek Aksesibilitas, Atraksi (produk dan pengalaman), Amenitas (fasilitas pendukung), dan Ancillary (kelembagaan dan promosi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan utama dalam pengembangan Pasar Bawah meliputi: (1) Tata kelola lingkungan yang kurang teratur, terutama masalah kebersihan dan penataan pedagang; (2) Kurangnya integrasi antara pasar dengan paket wisata kota; dan (3) Keterbatasan fasilitas pendukung pariwisata seperti area parkir yang memadai dan pusat informasi. Strategi pengembangan yang diusulkan mencakup: (1) Revitalisasi fisik pasar dengan mempertahankan arsitektur historisnya, perbaikan sanitasi, dan penataan zona belanja; (2) Peningkatan experience value melalui festival belanja tematik, pertunjukan seni budaya lokal, dan promosi produk unggulan khas Riau; (3) Penguatan kelembagaan melalui pembentukan Badan Pengelola Pasar Bawah yang kolaboratif antara pemerintah, pedagang, dan pelaku pariwisata; dan (4) Promosi digital terintegrasi yang menargetkan wisatawan domestik dan mancanegara.
Abstract:Pendidikan dan pelatihan memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai fondasi utama pembangunan ekonomi. Melalui pendidikan, individu memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan…
mampuan berpikir kritis yang diperlukan untuk beradaptasi dengan perubahan sosial dan teknologi. Sementara itu, pelatihan berfungsi untuk memperkuat kompetensi praktis dan profesional yang dibutuhkan di dunia kerja, sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing tenaga kerja. Kombinasi antara pendidikan formal dan pelatihan berkelanjutan akan menghasilkan SDM yang unggul, kreatif, dan inovatif. Dengan SDM yang berkualitas, pertumbuhan ekonomi dapat terwujud melalui peningkatan efisiensi, inovasi, serta penciptaan lapangan kerja. Oleh karena itu, investasi dalam pendidikan dan pelatihan merupakan kunci penting bagi negara dalam mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
Abstract:Pembangunan daerah berkelanjutan membutuhkan kepemimpinan politik yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan sosial dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis…
analisis integrasi latar belakang pendidikan Audy Joinaldy dengan praktik kepemimpinan politiknya dalam membentuk orientasi pembangunan daerah berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, studi dokumentasi, dan penelusuran kebijakan publik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan Audy Joinaldy berperan dalam membentuk kepemimpinan yang adaptif, transformasional, dan berbasis kolaborasi, yang tercermin dalam kebijakan pembangunan daerah yang menekankan prinsip keberlanjutan, partisipasi masyarakat, penguatan sumber daya manusia, dan ekonomi lokal. Integrasi antara pendidikan dan praktik kepemimpinan politik tersebut mendorong terbentuknya orientasi pembangunan daerah yang inklusif dan berjangka panjang. Penelitian ini memberikan kontribusi akademik dalam kajian kepemimpinan politik daerah dengan menegaskan peran pendidikan sebagai faktor strategis dalam mewujudkan pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Abstract:Pemanfaatan pekarangan rumah merupakan strategi penting dalam memperkuat ketahanan pangan rumah tangga, khususnya di wilayah perkotaan yang mengalami keterbatasan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan praktik…
ik pemanfaatan pekarangan rumah di Kelurahan Srimeranti Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru, melalui studi kasus terhadap seorang petani bernama Iwan Setiawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan pekarangan telah dilakukan narasumber selama kurang lebih lima tahun dengan menanam berbagai jenis tanaman pangan seperti jambu, anggur, kelengkeng, cabai, nangka, matoa, dan tebu. Motivasi pemanfaatan pekarangan meliputi kebutuhan ekonomi, dorongan sosial melalui kegiatan yayasan Laz, serta keinginan menambah pengetahuan dalam bidang pertanian. Pemanfaatan pekarangan memberikan manfaat ekonomi melalui penghematan biaya konsumsi, manfaat ekologis berupa peningkatan kualitas lingkungan, serta manfaat sosial melalui distribusi hasil panen kepada masyarakat yang membutuhkan. Namun, beberapa kendala turut dihadapi, seperti mahalnya harga pupuk, keterbatasan sarana produksi, dan minimnya dukungan pemerintah. Meskipun demikian, temuan penelitian ini menegaskan bahwa pemanfaatan pekarangan memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan rumah tangga dan memperkuat solidaritas sosial di masyarakat. Peningkatan dukungan pemerintah dan pendampingan teknis diperlukan agar program pemanfaatan pekarangan dapat berkembang lebih optimal di masa mendatang.
Abstract:Kemiskinan dan stabilitas pangan merupakan persoalan struktural yang saling berkaitan dan masih menjadi tantangan utama pembangunan di Indonesia. Meskipun angka kemiskinan nasional menunjukkan tren penurunan, ketidakstabilan…
ilan akses pangan yang berkelanjutan masih dialami oleh rumah tangga berpendapatan rendah, terutama akibat keterbatasan daya beli, fluktuasi harga pangan, dan ketimpangan wilayah. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kemiskinan terhadap stabilitas pangan di Indonesia dengan meninjau dampak ekonomi dan sosial yang menyertainya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini menelaah studi empiris mengenai dampak kemiskinan terhadap stabilitas pangan di Indonesia dalam kerangka ekonomi dan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan berpengaruh signifikan terhadap stabilitas pangan melalui keterbatasan pendapatan, tingginya proporsi pengeluaran pangan, serta rendahnya kapasitas adaptasi rumah tangga miskin dalam menghadapi guncangan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Faktor sosial, seperti tingkat pendidikan, literasi pangan dan gizi, serta karakteristik rumah tangga, berperan sebagai faktor mediasi yang memperkuat kerentanan stabilitas pangan. Selain itu, terdapat perbedaan pola kerentanan antara wilayah perkotaan dan perdesaan, namun keduanya sama-sama rentan terhadap ketidakstabilan pangan akibat kemiskinan dan ketimpangan wilayah. Penelitian ini menegaskan bahwa stabilitas pangan tidak dapat dicapai secara berkelanjutan tanpa integrasi kebijakan pengentasan kemiskinan, penguatan daya beli, dan pembangunan sistem pangan yang inklusif. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi perumusan kebijakan publik yang lebih komprehensif dan berorientasi jangka panjang dalam mewujudkan stabilitas pangan dan keadilan sosial di Indonesia.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam pengembangan ekonomi lokal di Kelurahan Palas, Kecamatan Rumbai Barat, Kota Pekanbaru, menggunakan kerangka Teori Pemberdayaan…
an Masyarakat Ife dan Tesoriero (2006). Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap 15 pelaku UMKM, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa UMKM berbasis keluarga—seperti pedagang makanan ringan, usaha rumahan kuliner, kios kelontong, dan jasa pencucian motor—memiliki kontribusi signifikan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat (Rp2–5 juta/bulan pelaku utama; Rp500.000–Rp1 juta/bulan pekerja paruh waktu), penyediaan lapangan kerja informal (remaja, ibu rumah tangga: 15–20 jam/minggu), penguatan aktivitas perekonomian lokal melalui cash flow harian Rp150.000–Rp300.000 dan efek multiplier 20–30% terhadap PDB lokal, serta mendorong kemandirian ekonomi rumah tangga tanpa ketergantungan total pada bantuan eksternal.UMKM ini meningkatkan perputaran ekonomi melalui transaksi harian dan rantai pasok lokal, konsisten dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja 25% di Riau (Suharno & Khamal, 2025). Namun, penelitian juga menemukan hambatan struktural seperti keterbatasan modal (akses bantuan hanya 15–20% pelaku), rendahnya pemanfaatan teknologi pemasaran digital, minimnya pelatihan manajerial, dan tingginya persaingan informal serta shock eksternal.Temuan ini menegaskan UMKM sebagai pilar pemberdayaan bottom-up, namun memerlukan dukungan berkelanjutan melalui pelatihan wajib, akses kredit mikro (KUR), literasi digital, dan inkubator kelurahan untuk daya saing dan keberlanjutan usaha.
Abstract:Kewirausahaan merupakan salah satu instrumen strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan yang memiliki potensi sumber daya alam dan budaya…
lokal. Daerah Malino, Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa merupakan kawasan yang dikenal memiliki potensi pertanian, pariwisata alam, serta produk-produk lokal yang berpeluang besar untuk dikembangkan melalui kegiatan kewirausahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif kondisi kewirausahaan di Malino, meliputi jenis usaha yang berkembang, karakteristik pelaku usaha, peluang dan tantangan yang dihadapi, serta dampaknya terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kewirausahaan di Malino berkembang terutama pada sektor pertanian hortikultura, usaha kuliner, dan usaha berbasis pariwisata. Namun demikian, pelaku usaha masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan modal, rendahnya kapasitas manajerial, serta akses pasar yang belum optimal. Penelitian ini merekomendasikan penguatan peran pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem kewirausahaan yang berkelanjutan di Malino.
Abstract:Kualitas tenaga pendidik merupakan faktor kunci dalam menjamin mutu proses pembelajaran di sekolah menengah kejuruan. Oleh karena itu, sekolah perlu memiliki mekanisme evaluasi yang objektif dan terukur dalam menentukan…
guru berkinerja terbaik. Permasalahan yang sering muncul dalam proses penilaian adalah dominasi unsur subjektivitas serta keterbatasan pengolahan data secara manual. Penelitian ini bertujuan merancang sistem pendukung keputusan (SPK) dengan menerapkan metode Simple Additive Weighting (SAW) untuk membantu proses seleksi guru terbaik. Metode SAW dipilih karena mampu mengolah multi-kriteria dengan pembobotan yang jelas dan menghasilkan peringkat alternatif secara rasional. Kriteria yang digunakan meliputi tingkat pendidikan, sertifikasi, kehadiran, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Hasil pengujian menunjukkan bahwa metode SAW mampu memberikan rekomendasi guru terbaik secara objektif dan konsisten berdasarkan nilai preferensi tertinggi.
Abstract:Pendidikan karakter merupakan isu strategis dalam pendidikan Islam kontemporer, khususnya dalam merespons krisis moral dan sosial generasi muda. Pondok pesantren dipandang sebagai institusi pendidikan yang memiliki kekhasan…
san dalam pembentukan karakter santri melalui peran kyai dan kultur pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara sistematis peran kyai dan kultur pesantren dalam pembentukan karakter santri berdasarkan temuan literatur ilmiah. Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan pedoman PRISMA. Penelusuran literatur dilakukan pada beberapa basis data nasional dan internasional dengan rentang publikasi 2014–2024. Dari hasil seleksi, diperoleh 89 artikel jurnal yang dianalisis menggunakan pendekatan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kyai berperan sebagai aktor sentral dalam pembentukan karakter santri melalui keteladanan moral, otoritas spiritual, dan kepemimpinan nilai. Sementara itu, kultur pesantren berfungsi sebagai hidden curriculum yang menginternalisasi nilai-nilai karakter melalui tradisi keilmuan, kehidupan komunal, dan sistem disiplin. Nilai karakter yang dominan dibentuk meliputi religiusitas, disiplin, tanggung jawab, kemandirian, dan kepedulian sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa pembentukan karakter santri di pesantren merupakan proses kultural yang holistik dan berkelanjutan, serta relevan sebagai model alternatif pendidikan karakter di Indonesia.
Abstract:tantangan urbanisasi, kelangkaan lahan, serta ketahanan rantai pasok makanan di wilayah perkotaan Indonesia, khususnya Pekanbaru. Dalam penelitian ini, peneliti mengkaji praktik pertanian perkotaan sebagai sarana untuk…
meningkatkan pendapatan petani melalui studi kasus di Jalan Kembang Sari, Kelurahan Umban Sari, Kecamatan Rumbai. Peneliti ini menggunakan metode deskriptif kualitatif cara pengumpulkan data dalam penelitian ini melalui wawancara mendalam dengan petani berpengalaman, melakukan pengamatan langsung di lokasi, serta menganalisis dokumen yang berkaitan dengan produktivitas dan kebijakan lokal. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa pertanian perkotaan menyediakan pendapatan lebih stabil.. Petani memanfaatkan kedekatan lokasi produksi dengan konsumen untuk mengurangi risiko kerugian dan fluktuasi harga pasar. Mereka mengatur jadwal kerja secara fleksibel, memvariasikan jenis tanaman, serta menyesuaikan skala produksi berdasarkan kebutuhan lokal, yang pada akhirnya meningkatkan efisiensi tenaga kerja dan keuntungan. Diskusi menekankan bagaimana petani membangun ekosistem ekonomi kecil melalui kemitraan dengan pedagang kecil dan masyarakat sekitar. Kerjasama ini memungkinkan mereka mengakumulasi modal secara bertahap untuk memperluas bisnis dan melakukan investasi jangka panjang. Namun, petani terus menghadapi tantangan struktural, seperti kenaikan biaya bahan baku, dampak perubahan iklim, serta keterbatasan akses terhadap modal dan regulasi. Petani secara umum memandang pertanian perkotaan sebagai model ekonomi inklusif. Model ini memperkuat keamanan pangan keluarga dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di tengah laju urbanisasi yang pesat. Temuan penelitian ini menegaskan potensi pertanian perkotaan sebagai solusi berkelanjutan bagi diversifikasi ekonomi di Pekanbaru.