Abstract:Penanaman nilai-nilai Pancasila sejak jenjang sekolah dasar merupakan langkah penting dalam membentuk karakter peserta didik yang berlandaskan nilai kebangsaan dan kewarganegaraan. Namun, pembelajaran Pendidikan Pancasila…
a yang masih didominasi oleh metode konvensional sering kali menyebabkan peserta didik kurang terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan inovasi pembelajaran yang mampu menciptakan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada peserta didik melalui pendekatan service learning dengan memanfaatkan media Puzzle Garuda Pancasila. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 15 Juni 2026 di SDN Tambakaji 04 dengan melibatkan peserta didik kelas 3A dan 3B. Metode pelaksanaan meliputi tahap persiapan, penyampaian materi, pelaksanaan permainan edukatif menggunakan Puzzle Garuda Pancasila, serta evaluasi dan refleksi kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penggunaan media Puzzle Garuda Pancasila mampu meningkatkan partisipasi dan antusiasme peserta didik selama proses pembelajaran. Selain itu, peserta didik menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai simbol-simbol sila Pancasila dan contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini juga memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi mahasiswa dalam mengimplementasikan konsep service learning melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan edukasi di sekolah. Dengan demikian, media Puzzle Garuda Pancasila dapat menjadi alternatif pembelajaran yang efektif untuk mendukung penanaman nilai-nilai Pancasila dan penguatan karakter peserta didik pada jenjang sekolah dasar.
Abstract:Penelitian ini bertujuan mengembangkan model strategi pembelajaran partisipatif untuk meningkatkan pemahaman bacaan Al-Qur’an pada jamaah Majelis Ta’lim Desa Ujungbatu Timur, Kecamatan Ujungbatu, Kabupaten Rokan Hulu. Penelitian…
. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan penelitian meliputi pengajar atau pembina, pengurus majelis ta’lim, dan jamaah aktif yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan bacaan Al-Qur’an jamaah masih beragam. Sebagian jamaah sudah cukup lancar, tetapi masih memerlukan perbaikan pada tajwid, makhraj, mad, waqaf, ibtida’, dan kelancaran. Sebagian lainnya masih membaca terbata-bata karena faktor usia, kebiasaan belajar, rasa malu, dan keterbatasan fasilitas. Model yang dikembangkan menekankan kegiatan membaca bersama, membaca bergilir, menyimak, bertanya, diskusi sederhana, koreksi langsung, muraja’ah, takrar, dan evaluasi lisan. Penerapan model ini meningkatkan keaktifan, keberanian, dan pemahaman jamaah terhadap bacaan Al-Qur’an secara bertahap. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang melibatkan jamaah secara aktif lebih sesuai dengan karakter majelis ta’lim karena mampu membangun suasana belajar yang ramah, kolaboratif, dan berkelanjutan. Dengan demikian, strategi pembelajaran partisipatif relevan digunakan sebagai alternatif pembelajaran Al-Qur’an di majelis ta’lim berbasis komunitas serta dapat menjadi rujukan bagi pengembangan pembelajaran keagamaan nonformal di masyarakat desa.
Abstract:Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk sinergi budaya humanis Tzu Chi dan pendidikan akhlak dalam pembelajaran matematika, mengidentifikasi strategi guru dalam mengintegrasikan nilai-nilai humanis dan akhlak melalui…
i pendekatan Realistic Mathematics Education (RME), serta mendeskripsikan tantangan implementasi beserta strategi penyelesaiannya pada konteks sekolah dasar multikultural. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretatif yang dilaksanakan di SD Tzu Chi Jakarta Utara. Informan penelitian terdiri atas guru matematika kelas VI, Kepala Departemen Matematika, dan peserta didik kelas VI yang dipilih secara purposif. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña melalui kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan yang divalidasi dengan triangulasi sumber, triangulasi metode, dan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinergi budaya humanis dan pendidikan akhlak terwujud melalui konvergensi nilai Gan En dengan syukur, Zun Zhong dengan tasamuh, serta Ai Xin dengan mahabbah yang diimplementasikan secara inklusif dalam pembelajaran matematika berbasis RME. Strategi guru meliputi penyajian masalah kontekstual, proses matematisasi bertahap, diskusi kolaboratif, dan refleksi nilai sehingga pembelajaran tidak hanya meningkatkan pemahaman matematis, tetapi juga membentuk karakter humanis dan tanggung jawab sosial peserta didik. Tantangan implementasi meliputi keterbatasan waktu pembelajaran dan kompleksitas materi matematika, yang diatasi melalui perencanaan pembelajaran kolaboratif dan pengembangan activity sheet berbasis konteks nyata. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model integrasi budaya humanis, pendidikan akhlak, dan pembelajaran matematika berbasis RME pada sekolah dasar multikultural.
Abstract:Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan metode, peran, serta faktor pendukung dan penghambat kegiatan halaqah tarbiyah dalam pembinaan akhlak mulia santri di Pondok Tahfidz Al-Qur’an Asy-Syafaat Kota Makassar. Penelitian…
ian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dengan pembina, santri, dan orang tua santri, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembinaan akhlak dilakukan melalui metode nasihat (mau‘izhah), pembiasaan (ta‘widiyah), serta pengawasan dan evaluasi (mutaba‘ah). Halaqah tarbiyah berperan dalam menanamkan nilai-nilai keislaman, membentuk kebiasaan positif, memberikan keteladanan, mengembangkan karakter religius, serta membangun kecerdasan emosional dan sosial santri. Keberhasilan pembinaan didukung oleh kompetensi dan keteladanan murabbi, program yang terstruktur, lingkungan pondok yang kondusif, dukungan orang tua, serta motivasi santri. Adapun faktor penghambat meliputi pengaruh pergaulan, teknologi dan media sosial, serta kurangnya sinergi antara pondok dan keluarga. Disimpulkan bahwa halaqah tarbiyah merupakan sarana pembinaan yang efektif dalam membentuk akhlak mulia dan karakter religius santri.
Abstract:Perundungan masih menjadi tantangan dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan ramah anak sehingga diperlukan implementasi program pencegahan yang dikelola secara sistematis. Penelitian ini bertujuan…
mendeskripsikan dan menganalisis implementasi program anti-perundungan dalam mendukung terwujudnya Sekolah Ramah Anak di SMPIT Citra Az Zahra Jakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan terdiri atas Kepala Sekolah, Kepala Unit Self Empowerment Citraz (SEC), dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña melalui kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program anti-perundungan dilaksanakan secara sistematis melalui fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan yang terintegrasi dalam Self Development Class berbasis pembinaan karakter dan nilai-nilai keislaman. Program ini meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai perundungan, menumbuhkan empati, toleransi, dan tanggung jawab sosial, serta memperkuat budaya sekolah yang aman dan ramah anak. Keberhasilan program didukung oleh komitmen pimpinan, kolaborasi seluruh warga sekolah, serta dukungan orang tua dan pihak eksternal, meskipun masih menghadapi kendala berupa keterbatasan pengawasan perilaku peserta didik di luar sekolah. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan program anti-perundungan secara terpadu untuk mendukung terwujudnya Sekolah Ramah Anak.
Abstract:Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai-nilai pendidikan akhlak dalam Perang Ahzab berdasarkan kitab Fikih Sirah karya Zaid Az-Zaid serta menjelaskan relevansinya terhadap pengembangan Pendidikan Agama Islam (PAI) di…
era digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber data primer berupa kitab Fikih Sirah, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur akhlak Islam, Sirah Nabawiyah, dan penelitian pendidikan Islam yang relevan. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan dianalisis menggunakan analisis isi (content analysis) dengan tahapan pengodean, kategorisasi, interpretasi, dan penarikan makna pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Zaid Az-Zaid mengonstruksi enam belas nilai pendidikan akhlak dari peristiwa Perang Ahzab, yaitu tawakal, syaja’ah, optimisme, musyawarah, tawadhu’, penghargaan terhadap pendapat, kontribusi sosial, keterbukaan berpikir, keteladanan, integritas, ta‘awun, tabayyun, menjaga lisan, husnuzan kepada Allah, ketenangan batin, dan keteladanan sahabiyah. Nilai-nilai tersebut selanjutnya dikelompokkan ke dalam empat tipologi utama, yaitu akhlak spiritual, akhlak sosial, akhlak intelektual, serta akhlak kepemimpinan dan keteladanan. Penelitian ini juga menemukan bahwa nilai-nilai tersebut memiliki relevansi yang kuat bagi pembelajaran PAI kontemporer, terutama dalam penguatan karakter, resiliensi spiritual, literasi digital, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi sosial, serta pengembangan kepemimpinan peserta didik. Dengan demikian, Perang Ahzab dapat diposisikan sebagai sumber pendidikan akhlak yang kontekstual dan relevan bagi pengembangan pendidikan Islam masa kini.
Abstract:Pembentukan karakter religius peserta didik di era modern tidak cukup mengandalkan pembelajaran teks di kelas, melainkan membutuhkan ekosistem lingkungan berupa pembiasaan budaya yang konsisten. Penelitian ini bertujuan…
menganalisis manajemen budaya madrasah dalam pengembangan karakter religius peserta didik di MTs PP Darul Falach Candiroto, Temanggung. Menggunakan metode kualitatif pendekatan studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan kepala madrasah, waka kesiswaan, dan pengurus pondok, serta didukung oleh observasi partisipatif dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen budaya madrasah diimplementasikan secara terstruktur melalui empat fungsi manajemen (POAC). Perencanaan dilakukan dengan menyelaraskan visi-misi; pengorganisasian diwujudkan melalui pembagian kerja wilayah madrasah formal dan asrama pesantren serta pelibatan organisasi santri (OSDA); pelaksanaan digerakkan lewat keteladanan harian warga madrasah dalam ritme jadwal ketat; dan pengawasan dijalankan melalui kontrol absensi ibadah serta instrumen Angket 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Melalui tata kelola tersebut, indikator karakter religius (disiplin, kesadaran ibadah, tanggung jawab, sopan santun, kepedulian, dan kebersamaan) berhasil diinternalisasikan secara efektif melalui empat jalur pembiasaan, yaitu kegiatan rutin, spontan, terprogram, dan keteladanan pendidik sebagai role model. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi tata kelola formal dan nilai kepesantrenan mampu membentuk habituasi karakter religius siswa secara berkelanjutan.
Abstract:Pembelajaran fikih ibadah dalam Pendidikan Agama Islam tidak hanya bertujuan memberikan pemahaman tentang hukum-hukum ibadah, tetapi juga membentuk kemampuan peserta didik dalam mengimplementasikannya secara konsisten dalam…
lam kehidupan sehari-hari. Namun, masih ditemukan kesenjangan antara pemahaman fikih dan praktik ibadah, termasuk pada lembaga kaderisasi dai. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi fikih ibadah pada mahasiswa Sekolah Dai Hidayatullah (SDH), khususnya dalam praktik wudhu, shalat, dan puasa, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap mahasiswa, ustadz pengampu fikih ibadah, serta pengelola program pembinaan keagamaan di SDH. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran fikih ibadah di SDH dilaksanakan melalui integrasi pembelajaran formal, pembiasaan praktik keagamaan, dan pembinaan karakter dalam lingkungan pesantren yang religius. Perspektif fikih ibadah mahasiswa tergolong baik, ditandai dengan pemahaman terhadap tata cara ibadah sekaligus tujuan dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Implementasi fikih ibadah dalam praktik keagamaan sehari-hari juga tergolong baik, terutama pada ibadah yang didukung sistem pembinaan yang terstruktur, meskipun masih ditemukan variasi tingkat konsistensi antar mahasiswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan implementasi fikih ibadah dipengaruhi oleh integrasi pembelajaran, pembiasaan ibadah, keteladanan pendidik, dan lingkungan religius yang kondusif. Temuan ini mengimplikasikan pentingnya penguatan pembelajaran fikih yang integratif untuk mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik secara seimbang.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam meningkatkan kesadaran menutup aurat peserta didik di SMA Al-Mujtahidin Purwadadi Ciamis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif…
atif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap guru PAI, peserta didik, serta pihak sekolah. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI berperan sebagai edukator, motivator, pembimbing, teladan, dan pengawas dalam membentuk kesadaran menutup aurat peserta didik. Strategi yang digunakan meliputi keteladanan, pembiasaan, pendekatan personal, serta kegiatan keagamaan yang dilakukan secara berkelanjutan. Faktor pendukung meliputi dukungan keluarga, lingkungan sekolah yang religius, teman sebaya yang positif, dan kesadaran diri peserta didik. Adapun faktor penghambat meliputi pengaruh media sosial, lingkungan pergaulan, kurangnya pengawasan keluarga, dan budaya populer yang kurang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan kesadaran menutup aurat memerlukan peran aktif guru PAI yang didukung oleh sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam membentuk karakter religius peserta didik.
Abstract:Pendidikan inklusif pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki peran penting dalam menjamin terpenuhinya hak setiap anak untuk memperoleh layanan pendidikan yang setara tanpa memandang kondisi dan karakteristik…
ik yang dimiliki. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan inklusif sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam menyiapkan sarana pembelajaran yang mampu mengakomodasi kebutuhan belajar peserta didik yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan strategi guru PAUD dalam menyiapkan sarana pembelajaran inklusif di sekolah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka melalui kajian terhadap lima belas artikel jurnal internasional yang dipublikasikan pada periode 2016–2024. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan analisis isi (content analysis) untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang berkaitan dengan penyediaan sarana pembelajaran inklusif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima strategi utama yang diterapkan guru PAUD dalam menyiapkan sarana pembelajaran inklusif, yaitu pengembangan media pembelajaran adaptif, penataan lingkungan belajar yang aksesibel, pemanfaatan alat permainan edukatif dan teknologi bantu, penguatan kolaborasi dengan orang tua dan berbagai pihak terkait, serta peningkatan kompetensi guru dalam pendidikan inklusif. Kelima strategi tersebut saling berkaitan dan berkontribusi dalam menciptakan lingkungan belajar yang mampu mengakomodasi kebutuhan seluruh peserta didik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sarana pembelajaran inklusif tidak hanya berkaitan dengan penyediaan fasilitas fisik, tetapi juga mencakup kemampuan guru dalam merancang, memodifikasi, dan memanfaatkan berbagai sumber belajar secara efektif untuk mendukung pembelajaran yang inklusif dan berkualitas.