Abstract:Abstract: This study aims to examine the influence of social media on cultural communication patterns among adolescents in Suralaga Village, East Lombok. The findings reveal that social media has impacted various aspects…
of cultural communication, including changes in language use, where local dialects are increasingly mixed with global or digital slang. Intercultural interaction has intensified through online platforms, enriching cultural experiences but also posing challenges to the preservation of local cultural authenticity. Social media plays a significant role in shaping the cultural identity of youth, with influencers and content creators becoming new role models in defining values and lifestyles. This phenomenon contributes to both the reinforcement and weakening of local cultures, depending on the content consumed. The dynamics of digital communication have led to faster yet emotionally shallow forms of interaction. Social and psychological consequences such as social pressure, identity crises, and decreased face-to-face interaction have also been observed. The study further finds that responses to cultural globalization via social media vary widely, influenced by the role of families and educational institutions in instilling cultural values. Therefore, social media emerges as a transformative force reshaping the communication patterns and cultural landscape of adolescents in the digital age.
Â
Keywords: social media, adolescents, cultural communication
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh media sosial terhadap pola komunikasi budaya di kalangan remaja di Desa Suralaga, Lombok Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial telah mempengaruhi berbagai aspek komunikasi budaya, termasuk perubahan dalam penggunaan bahasa yang cenderung mencampurkan bahasa lokal dengan istilah global atau gaul digital. Interaksi antarbudaya menjadi lebih intens melalui platform daring, memperkaya pengalaman budaya namun juga menimbulkan tantangan dalam menjaga keaslian budaya lokal. Media sosial turut membentuk identitas budaya remaja, dengan influencer dan konten kreator menjadi panutan baru dalam menentukan nilai dan gaya hidup. Fenomena ini berkontribusi pada penguatan maupun pelemahan budaya lokal, tergantung pada konten yang dikonsumsi. Dinamika komunikasi digital memunculkan bentuk komunikasi yang lebih instan namun kurang mendalam secara emosional. Konsekuensi sosial dan psikologis seperti tekanan sosial, krisis identitas, serta penurunan interaksi tatap muka juga teridentifikasi. Penelitian ini juga menemukan bahwa respons terhadap globalisasi budaya melalui media sosial sangat bervariasi, dipengaruhi oleh peran keluarga dan institusi pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai budaya. Dengan demikian, media sosial menjadi kekuatan transformatif yang membentuk ulang pola komunikasi dan budaya remaja di era digital.
Â
Kata kunci: media sosial, remaja, komunikasi budaya.
Abstract:Abstract: Climate change is a global challenge that has created vulnerabilities for coastal communities, not least for eco-farming pond farmers in Pinrang Regency who are highly dependent on environmental conditions. This…
s research aims to explain the forms of vulnerability experienced by the community of pond farmers in Lanrisang District. Through participant observation research in three villages in Lanrisang, we conducted in-depth interviews with a number of pond farming households which we present ethnographically by looking at three components of vulnerability: exposure, sensitivity and resilience. We found that climate change has led to a 0.5C-1C increase in average annual temperature as well as irregular rainfall patterns. These conditions have resulted in declining pond water quality, which is characterized by changes in salinity, pH, and DO that are not ideal for shrimp and milkfish growth so that posing a risk of failed harvest. In addition, we also found that there are emerging social issues such as competition and theft practices that could pose a security risk. This can reduce income and threaten the productivity of aquaculture. Pond farmers respond to these challenges by finding side jobs or opening businesses, leasing ponds, and converting ponds into agricultural land. We recommend community empowerment policies that focus more on climate resilience and pond farmers' welfare.
Â
Keywords: vulnerability;pond;climate change;social problems.
Abstrak: Perubahan iklim merupakan tantangan global yang telah menimbulkan kerentanan bagi komunitas pesisir, tidak terkecuali bagi petani tambak eco-farming di Kabupaten Pinrang yang sangat bergantung pada kondisi alam. Penelitian untuk bertujuan untuk menjelaskan bentuk kerentanan yang dialami oleh komunitas petani tambak di Kecamatan Lanrisang. Melalui penelitian observasi partisipan di tiga desa/ kelurahan di Lanrisang, kami melakukan wawancara mendalam terhadap sejumlah rumah tangga petani tambak yang kami sajikan secara etnografis dengan melihat tiga komponen kerentanan yaitu paparan (exposure), sensitivitas (sensitivity), dan ketahanan (resilience). Kami menemukan bahwa perubahan iklim telah menyebabkan peningkatan suhu rata-rata tahunan sebesar 0,5ï‚°C-1ï‚°C serta pola curah hujan yang tidak teratur. Kondisi ini mengakibatkan kualitas perairan tambak menurun yang ditandai dengan perubahan salinitas, pH, dan DO yang tidak ideal bagi pertumbuhan udang dan bandeng sehingga menimbulkan risiko gagal panen. Selain itu, kami juga menemukan adanya masalah sosial yang muncul seperti persaingan dan praktik pencurian yang dapat menimbulkan risiko keamanan. Hal ini dapat menurunkan pendapatan dan mengancam produktivitas budidaya tambak. Para petani tambak merespon untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut dengan mencari pekerjaan sampingan atau membuka usaha, melakukan sistem sewa tambak, dan melakukan alih fungsi lahan tambak menjadi lahan pertanian. Kami merekomendasikan kebijakan pemberdayaan masyarakat yang lebih berfokus pada ketahanan iklim dan kesejahteraan petani tambak.
Kata kunci: kerentanan;tambak;perubahan iklim; masalah sosial.
Abstract:Abstract: PT. Branta Indo Niaga's output level, the company's sales and production have fallen over the last four years. This study aims to ascertain how transformational leadership affects PT. Branta Indo Niaga employees'…
s' motivation. to determine how PT. Branta Indo Niaga employees' performance is affected by transformational leadership. to determine how motivation affects PT. Branta Indo Niaga's performance. to ascertain how transformational leadership affects worker performance using PT. Branta Indo Niaga's motivation as an intervening variable. To confirm the association between variables, this study used quantitative analysis and variation-based or component-based structural equation modeling (SEM), specifically partial least squares, or PLS. All 39 employees of PT. Branta Indo Niaga comprise the population used in this study. The sampling strategy is a saturated sample, meaning that all 39 employees of PT. Branta Indo Niaga are included. The study's findings demonstrate that PT. Branta Indo Niaga employees' motivation is significantly improved by transformational leadership. Employee performance at PT. Branta Indo Niaga is significantly improved by transformational leadership. Employee performance at PT. Branta Indo Niaga is significantly improved by motivation. The impact of transformative leadership on PT. Branta Indo Niaga employees' performance might be mitigated by motivation.
Â
Keyword: Human Resources, Transformational Leadership, Motivation, Employee Performance.
Â
Abstrak: Tingkat output PT. Branta Indo Niaga, penjualan dan produksi perusahaan telah turun selama empat tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk memastikan bagaimana kepemimpinan transformasional mempengaruhi motivasi karyawan PT. Branta Indo Niaga. untuk menentukan bagaimana kinerja karyawan PT. Branta Indo Niaga dipengaruhi oleh kepemimpinan transformasional. untuk menentukan bagaimana motivasi mempengaruhi kinerja PT. Branta Indo Niaga. untuk memastikan bagaimana kepemimpinan transformasional mempengaruhi kinerja pekerja dengan menggunakan motivasi PT. Branta Indo Niaga sebagai variabel intervening. Untuk mengkonfirmasi hubungan antara variabel, penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif dan pemodelan persamaan struktural (SEM) berbasis variasi atau berbasis komponen, khususnya kuadrat terkecil parsial, atau PLS. Semua 39 karyawan PT. Branta Indo Niaga merupakan populasi yang digunakan dalam penelitian ini. Strategi pengambilan sampel adalah sampel jenuh, yang berarti bahwa semua 39 karyawan PT. Branta Indo Niaga disertakan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa motivasi karyawan PT. Branta Indo Niaga ditingkatkan secara signifikan oleh kepemimpinan transformasional. Kinerja karyawan di PT. Branta Indo Niaga ditingkatkan secara signifikan oleh kepemimpinan transformasional. Kinerja karyawan di PT. Branta Indo Niaga ditingkatkan secara signifikan oleh motivasi. Dampak kepemimpinan transformatif terhadap kinerja karyawan PT. Branta Indo Niaga dapat dikurangi oleh motivasi.
Â
Kata kunci: Sumber Daya Manusia, Kepemimpinan Transformasional, Motivasi, Kinerja Karyawan.
Abstract:Abstract: The selection of the Head of the Computer Laboratory is a process that requires multidimensional considerations, including technical competence, managerial skills, pedagogic skills, communication, as well as work…
rk ethics and discipline. Subjectivity or seniority-based selection approaches often do not produce optimal laboratory leaders. This study aims to design and develop SPK based on the integration of AHP and TOPSIS methods as a means to conduct a methodical and unbiased selection of candidates. The stages carried out include: identification of five main criteria based on expert interviews, weighting of criteria using AHP, collection of candidate assessment data, and final ranking using TOPSIS. The weighting results showed that the Technical criteria had the highest weight of 0.416, followed by Managerial (0.211) and Pedagogic (0.171). Of the ten candidates analyzed, Candidate I obtained the highest preference score of 0.659, indicating a high balance of scores on all three main criteria. Logical validation tests and sensitivity analysis to weight changes showed that the system remained stable, with the position of Candidate I remaining in the first rank despite the change in the weight of the technical criteria (from 0.3 to 0.5). These findings prove that SPK based on AHP-TOPSIS is able to reduce subjectivity and provide consistent and reliable recommendations in the selection process for the Head of Computer Laboratory.
Â
Keyword: DSS, TOPSIS, Laboratory, Technical-Managerial-Pedagogic, AHP
Â
Abstrak: Pemilihan Kepala Laboratorium Komputer merupakan proses yang membutuhkan pertimbangan multidimensi, meliputi kompetensi teknis, kemampuan manajerial, keterampilan pedagogik, komunikasi, serta etika dan disiplin kerja. Pendekatan seleksi berbasis subjektivitas atau senioritas sering kali tidak menghasilkan pemimpin laboratorium yang optimal. Studi ini bertujuan merancang dan mengembangkan SPK berbasis integrasi metode AHP dan TOPSIS sebagai sarana untuk melakukan seleksi kandidat secara metodis dan tidak bias. Tahapan yang dilakukan meliputi: identifikasi lima kriteria utama berdasarkan wawancara pakar, pembobotan kriteria menggunakan AHP, pengumpulan data penilaian kandidat, dan perankingan akhir menggunakan TOPSIS. Hasil pembobotan menunjukkan bahwa kriteria Teknis memiliki bobot tertinggi sebesar 0,416, diikuti Manajerial (0,211) dan Pedagogik (0,171). Dari sepuluh kandidat yang dianalisis, Kandidat I memperoleh skor preferensi tertinggi sebesar 0,659, menunjukkan keseimbangan nilai tinggi pada ketiga kriteria utama. Uji validasi logis dan analisis sensitivitas terhadap perubahan bobot menunjukkan bahwa sistem tetap stabil, dengan posisi Kandidat I tetap pada peringkat pertama meskipun bobot teknis berubah sifnifikan (dari 0,3 hingga 0,5), hal ini menunjukan metode yang digunakan konsisten dan handal. Temuan ini menunjukan bahwa SPK berbasis AHP-TOPSIS mampu mengurangi subjektivitas dan memberikan rekomendasi yang konsisten serta dapat diandalkan dalam proses seleksi Kepala Laboratorium Komputer.
Â
Kata Kunci: SPK, TOPSIS, Laboratorium, Teknis-Manajerial-Pedagogik, AHP
Abstract:Abstract: Intensive manual handling activities in the spice processing industry often lead to musculoskeletal complaints among workers. This study aims to analyze the working posture of employees at the cinnamon wood unloading…
oading station at PT. MMZ using the Rapid Entire Body Assessment (REBA) and Nordic Body Map (NBM) methods. The REBA method is used to assess posture-related risk and provide improvement recommendations, while the NBM method identifies body parts experiencing discomfort. The results of the study indicate that the majority of workers fall into the high-risk category based on REBA analysis, with non-ergonomic postures such as bending, twisting the body, and lifting heavy loads being the main contributing factors. Additionally, the NBM findings show that most workers experience discomfort in the neck, shoulders, back, and waist. The conclusion of this study highlights the importance of ergonomic posture adjustments to reduce the risk of musculoskeletal injuries and improve worker well-being.
Â
Keyword: Working Posture; Musculoskeletal; REBA; NBM; Ergonomics.
Â
Abstrak: Kegiatan manual handling yang intens di industri pengolahan rempah-rempah sering kali menyebabkan keluhan muskuloskeletal pada pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis postur kerja karyawan di stasiun pembongkaran kayu kulit manis di PT. MMZ menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA) dan Nordic Body Map (NBM). Metode REBA digunakan untuk menilai risiko postur kerja dan memberikan rekomendasi perbaikan, sedangkan metode NBM digunakan untuk mengidentifikasi bagian tubuh yang mengalami keluhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pekerja berada dalam kategori risiko tinggi berdasarkan analisis REBA, dengan postur kerja yang tidak ergonomis seperti membungkuk, memutar tubuh, dan mengangkat beban berat menjadi faktor utama. Selain itu, hasil NBM menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja mengalami keluhan pada leher, bahu, punggung, dan pinggang. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan pentingnya penyesuaian postur kerja yang ergonomis untuk mengurangi risiko cedera muskuloskeletal dan meningkatkan kesejahteraan pekerja.
Â
Kata kunci: Postur Kerja; Muskuloskeletal; REBA; NBM; Ergonomi.
Abstract:Abstract: This journal explores the local political dynamics of the Gayo community with a focus on harmonization of ethics and culture. Gayo society, which is rich in local traditions and values, faces various challenges…
due to modernization and the influence of national politics. Through a qualitative approach, this research examines how cultural values, such as mutual cooperation and deliberation, integrate with local political practices. Data was collected through interviews with community leaders and literature analysis, as well as direct observations in the field. The findings show that harmonization between ethics and culture plays an important role in strengthening community participation in the political process, as well as maintaining the sustainability of Ethics Gayo cultural identity. This journal emphasizes the need for collaboration between government and society to create policies that support the preservation of local culture.
Â
Keywords: Politics, Ethics, Local Culture, Gayo Tribe
Abstrak: Jurnal ini mengeksplorasi dinamika politik lokal masyarakat Gayo dengan fokus pada harmonisasi etika dan budaya. Masyarakat Gayo, yang kaya akan tradisi dan nilai-nilai lokal, menghadapi berbagai tantangan akibat modernisasi dan pengaruh politik nasional. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini mengkaji bagaimana nilai-nilai budaya dan etika, seperti gotong royong dan musyawarah, berintegrasi dengan praktik politik lokal. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan tokoh masyarakat dan analisis literatur, serta pengamatan langsung di lapangan. Temuan menunjukkan bahwa harmonisasi antara etika dan budaya berperan penting dalam memperkuat partisipasi masyarakat dalam proses politik, serta menjaga keberlanjutan identitas etika dan budaya Gayo. Jurnal ini menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat untuk menciptakan kebijakan yang mendukung pelestarian budaya lokal.
Â
Kata kunci: Politik, Etika, Budaya Lokal, Suku Gayo
Abstract:Abstract: The degradation of mangrove ecosystems in coastal areas has become an increasingly concerning environmental issue, partly due to the lack of public knowledge and awareness regarding the importance of mangrove conservation.…
onservation. This study aims to develop a mobile environmental education application entitled “Cinta Mangrove†by applying the Multimedia Development Life Cycle (MDLC) method. The MDLC method consists of six stages: concept, design, material collection, assembly, testing, and distribution. In the evaluation stage, testing was conducted using pre-tests and post-tests to measure the improvement in users’ knowledge before and after using the application. Beta testing was carried out by comparing pre-test and post-test results through questionnaires. The results showed an increase in participants’ average understanding from 60% before using the application to 85% after its use. The findings indicate a significant improvement in participants' comprehension of the functions and importance of mangrove preservation. The "Cinta Mangrove" application is considered effective in delivering educational content in an engaging and user-friendly manner, and it successfully raises environmental awareness among the community. Therefore, this application can serve as an innovative solution to support educational and conservation efforts for mangrove ecosystems in coastal areas.
Â
Keywords: Agile, application development, ordering goods, delivery goods, information
              technology.
Abstrak: Kerusakan ekosistem mangrove di kawasan pesisir merupakan permasalahan lingkungan yang semakin memprihatinkan, salah satunya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya pelestarian mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan aplikasi mobile edukasi lingkungan bertajuk “Cinta Mangrove†dengan menerapkan metode pengembangan Multimedia Development Life Cycle (MDLC). Metode MDLC terdiri dari enam tahapan, yaitu konsep, desain, pengumpulan material, pembuatan, pengujian, dan distribusi. Pada tahap evaluasi, dilakukan pengujian melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan pengguna sebelum dan sesudah menggunakan aplikasi. Evaluasi dilakukan melalui pengujian beta dengan membandingkan hasil pre-test dan post-test melalui kuisioner. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan rata-rata pemahaman peserta dari 60% sebelum menggunakan aplikasi menjadi 85% setelah penggunaan. Hasil pengujian menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta terhadap fungsi dan pentingnya pelestarian mangrove. Aplikasi “Cinta Mangrove†dinilai efektif dalam menyampaikan materi edukatif secara menarik, mudah digunakan, serta mampu meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat. Dengan demikian, aplikasi ini dapat menjadi solusi inovatif dalam mendukung upaya edukasi dan konservasi mangrove di wilayah pesisir.
Â
Kata kunci: MDLC, Edukasi Lingkungan, Aplikasi Mobile, Mangrove, Pesisir
Abstract:Abstract: Inclusive disaster management is a crucial aspect of humanitarian efforts, ensuring that vulnerable groups, including persons with disabilities, have equal access to early warning systems, evacuation procedures,…
, and emergency aid. This study aims to develop a model for engaging persons with disabilities in disaster response, focusing on experiences from the 2022 Cianjur earthquake. The research employs a qualitative case study approach, incorporating in-depth interviews, participatory observations, and policy analysis. The findings reveal that persons with disabilities face significant barriers in accessing disaster-related information, inadequate disability-friendly evacuation shelters, and limited involvement in disaster response planning. However, best practices were also identified, including the adaptation of audio-visual early warning systems and the active participation of disability communities in emergency response efforts. Based on these findings, this study recommends an engagement model that includes capacity building for persons with disabilities, strengthening inclusive policies, and integrating their representation into disaster management structures. This model is expected to enhance disaster preparedness and response efforts, ensuring greater inclusivity and effectiveness for all community groups.
Â
Keyword: Inclusive disaster management, persons with disabilities, emergency response, disaster policy, accessibility.
Â
Abstrak: Penanggulangan bencana yang inklusif merupakan aspek penting dalam upaya kemanusiaan, terutama dalam memastikan bahwa kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas, memiliki akses yang setara terhadap sistem peringatan dini, evakuasi, dan bantuan darurat. Studi ini bertujuan untuk mengembangkan model pelibatan penyandang disabilitas dalam respon darurat bencana, dengan fokus pada pengalaman di Cianjur pascagempa tahun 2022. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, yang melibatkan wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta analisis kebijakan terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyandang disabilitas menghadapi berbagai hambatan dalam akses informasi kebencanaan, fasilitas pengungsian yang tidak ramah disabilitas, serta minimnya keterlibatan mereka dalam perencanaan kebijakan tanggap darurat. Namun, ditemukan pula praktik baik dalam adaptasi sistem peringatan dini berbasis suara dan visual, serta keterlibatan komunitas disabilitas dalam respon bencana yang efektif. Berdasarkan temuan ini, penelitian merekomendasikan model pelibatan yang mencakup peningkatan kapasitas penyandang disabilitas, penguatan kebijakan inklusif, serta pengintegrasian representasi mereka dalam struktur kelembagaan kebencanaan. Model ini diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan dan respons bencana yang lebih inklusif dan efektif bagi semua kelompok masyarakat.
Â
Kata kunci: Penanggulangan bencana inklusif, penyandang disabilitas, respon darurat, kebijakan kebencanaan, aksesibilitas.
Abstract:Abstract: This study aims to develop an automatic system for identifying the ripeness level of mangoes using the K-Means Clustering and Median Filter methods. The background of this research is based on the agricultural…
industry's need for an objective ripeness assessment, as manual methods are often subjective and inefficient. The K-Means Clustering method is used to categorize mango ripeness based on skin color characteristics, while the Median Filter is applied to enhance image quality by reducing noise before clustering. This study utilizes a dataset of 120 mango images, consisting of 47 images for training and 73 images for testing. The results indicate that the combination of these two methods achieves a classification accuracy of 98%. These findings contribute to the development of digital image processing technology for applications in the agricultural and food industries.
Â
Keyword: Ripeness identification, K-Means Clustering, Median Filter, Image Processing, Mango.
Â
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem identifikasi tingkat kematangan buah mangga secara otomatis menggunakan metode K-Means Clustering dan Median Filter. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kebutuhan industri pertanian dalam menentukan tingkat kematangan mangga secara objektif, mengingat metode manual sering kali subjektif dan kurang efisien. Metode K-Means Clustering digunakan untuk mengelompokkan tingkat kematangan mangga berdasarkan karakteristik warna kulit, sedangkan Median Filter diterapkan untuk meningkatkan kualitas citra dengan mengurangi noise sebelum dilakukan proses klasterisasi. Penelitian ini menggunakan dataset sebanyak 120 citra mangga, yang terdiri dari 47 citra untuk pelatihan dan 73 citra untuk pengujian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kedua metode ini mampu mengklasifikasikan tingkat kematangan mangga dengan akurasi sebesar 98%. Temuan ini memberikan kontribusi dalam pengembangan teknologi pemrosesan citra digital untuk aplikasi dalam industri pertanian dan pangan.
Â
Kata kunci: Identifikasi kematangan, K-Means Clustering, Median Filter, Pengolahan Citra, Mangga.
Abstract:Abstract:Â Liver disease is a condition caused by various factors that can damage liver function, such as viral infections and alcohol consumption. Additionally, obesity is closely associated with liver damage. Over time,…
me, liver damage can lead to serious consequences. The presence of experts in this field is crucial to addressing liver disease by identifying the symptoms experienced by patients, determining the type of liver disease affecting them, and providing appropriate treatment guidance. The severity of this disease in Indonesia is evident from various studies, research, and related observations. In this study, researchers utilized and compared two data mining classification methods, namely Logistic Regression and Naïve Bayes, to diagnose liver disease. The findings revealed that the Logistic Regression method achieved an accuracy rate of 84.62% with an area under the curve (AUC) value of 0.841, while the Naïve Bayes method achieved an accuracy rate of 83.71% with an AUC value of 0.816. Based on the t-test, it was found that there was no significant difference between the two methods, with a p-value of 0.821 > 0.05. This indicates that the performance of Logistic Regression is comparable to Naïve Bayes in diagnosing liver disease.
Keyword: Liver Disease, Logistic Regression, Naïve Bayes, Confusion Matrix, ROC Curve
Abstrak: Penyakit hati atau liver adalah kondisi yang disebabkan oleh berbagai faktor yang dapat merusak fungsi hati, seperti infeksi virus dan konsumsi alkohol. Selain itu, obesitas juga memiliki kaitan erat dengan kerusakan hati. Dalam jangka panjang, kerusakan hati dapat menimbulkan konsekuensi serius. Kehadiran ahli di bidang ini sangat diperlukan untuk membantu menangani masalah penyakit hati dengan mengidentifikasi gejala yang dialami pasien, menentukan jenis penyakit hati yang diderita, serta memberikan panduan penanganan yang sesuai. Skala permasalahan penyakit ini di Indonesia dapat diamati melalui berbagai studi, penelitian, dan pengamatan yang telah dilakukan. Dalam penelitian ini, peneliti menerapkan serta membandingkan dua metode klasifikasi data mining, yaitu Logistic Regression dan Naïve Bayes, untuk mendeteksi penyakit liver. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Logistic Regression memiliki tingkat akurasi sebesar 84,62% dengan nilai area under the curve (AUC) sebesar 0,841, sementara Naïve Bayes mencapai akurasi 83,71% dengan AUC sebesar 0,816. Berdasarkan hasil uji-t, tidak ditemukan perbedaan signifikan antara kedua metode tersebut, dengan nilai p = 0,821 yang lebih besar dari 0,05. Ini menunjukkan bahwa performa Logistic Regression sebanding dengan Naïve Bayes dalam proses diagnosis penyakit liver.
Kata kunci: Penyakit Liver, Logistic Regression, Naïve Bayes, Confusion Matrix, ROC Curve