Abstract:Kasus-kasus penyalahgunaan wewenang oleh polisi marak dilakukan kendati telah ada kode etik yang mengatur tingkah dan laku para anggota polisi, namun demikian, kasus penyalahgunaan wewenang tidak bisa minimalkan. Penelitian…
ian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana peran etika profesi dalam mencegah penyalahgunaan wewenang di kepolisian dan kendala apa saja yang dihadapi dalam implementasi etika profesi untuk mencegah penyalahgunaan wewenang oleh anggota kepolisian. Penelitian ini termasuk dalam penelitian pustaka atau library research yaitu data penelitian sepenuhnya bertumpu pada data-data pustaka yang diperoleh dari sumber-sumber kepustakaan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik kepustakaan dan teknik analisis data dilaksanakan dengan metode deksriptif. Adapun hasil penelitian ini: Peran etika profesi dalam mencegah penyalahgunaan wewenang di kepolisian sebagai instrumen pencegah etika profesi dalam mencegah penyalahgunaan wewenang di kepolisian. Kendala utama dalam implementasi etika profesi untuk mencegah penyalahgunaan wewenang di kepolisian di antaranya meliputi minimnya pembinaan secara berkesinambungan bagi para anggota polri, budaya kerja yang buruk yang mendukung terlaksananya penyalahgunaan wewenang, kurangnya refleksi diri, ketidakseimbangan moral dan kekuasaan serta diri yang tidak berkeinginan untuk mematuhi kode etik. Kesimpulan penelitian ini bahwa etika profesi berperan penting dalam mencegah penyalahgunaan wewenang di kepolisian dengan memberikan panduan moral dan prinsip integritas bagi anggota Polri. Penerapan sanksi tegas diharapkan menciptakan efek jera. Namun, implementasinya menghadapi kendala seperti minimnya pembinaan, budaya kerja yang buruk, kurangnya refleksi diri, serta ketidakseimbangan moral dan kekuasaan yang menghambat kepatuhan terhadap kode etik.
Abstract:Latar Belakang: Menurut laporan Riskesdas (2018), jumlah individu dengan gangguan jiwa berat atau psikosis diperkirakan mencapai sekitar 450 ribu jiwa. Prevalensi gangguan jiwa skizofrenia (per 1000 rumah tangga) cenderung…
ng lebih tinggi di daerah pedesaan (7,0%) dibandingkan dengan di perkotaan (6,4%). Isolasi sosial adalah salah satu diagnosa keperawatan yang diberikan kepada klien yang menunjukkan perilaku menyendiri, cenderung menarik diri dari interaksi sosial, dan menolak untuk berinteraksi dengan orang lain. Efek dari isolasi sosial dapat menyebabkan halusinasi. Latihan berkenalan adalah sebuah intervensi untuk membantu pasien mengembangkan keterampilan sosial dasar, sehingga pasien dapat mulai berinteraksi kembali dengan lingkungan sosialnya, dan mengurangi tanda dan gejala isolasi sosial, serta mengendalikan kondisi tersebut sehingga akumulasi isolasi sosial dapat berkurang. Tujuan: Mengetahui gambaran asuhan keperawatan pasien gangguan isolasi sosial: menarik diri dengan fokus tindakan latihan berkenalan. Metode: Deskriptif yang tujuannya untuk menggambarkan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan isolasi sosial: menarik diri dengan fokus tindakan latihan berkenalan. Hasil: Latihan berkenalan dapat menurunkan tanda dan gejala isolasi sosial. Hal ini dikarenakan sebelum diberikan intervensi terdapat 13 gejala yang muncul kepada Nn. B, kemudian setelah diberikan intervensi selama 6 hari didapatkan penurunan 11 gejala yang muncul pada Nn. B, sehingga hanya tersisa 2 tanda dan gejala yang masih muncul pada Nn. B. Kesimpulan: Latihan berkenalan dapat menurunkan tanda dan gejala isolasi sosial.
Kata Kunci : Asuhan keperawatan, isolasi sosial, latihan berkenalan.
Abstract:Keterampilan berhitung adalah salah satu keterampilan dasar yang harus dikuasai oleh siswa dan merupakan komponen yang sangat penting dalam pembelajaran matematika. Untuk mengembangkan dan meningkatkan keterampilan berhitung…
tung ini, siswa dapat dilatih sejak kecil. Namun pada kenyataannnya di SMP Biji Sesawi ditemukan bahwa keterampilan berhitung siswa masih relatif rendah, diperkuat dari pernyataan guru matematika sekolah tersebut bahwa siswa mereka masih mengalami masalah pada penguasaan konsep hitung dasar matematika. Menurut beberapa siswa kelas VII, penyebabnya adalah cara penyampaian materi yang tidak menarik, dengan lebih banyak ceramah panjang lebar yang membuat siswa bosan dan hanya guru yang berpartisipasi secara aktif. Untuk menyelesaikan masalah ini, maka dibutuhkan pendekatan pembelajaran baru yaitu dengan menggunakan metode jari tangan yang juga dikenal sebagai jarimatika. Dalam kegiatan ini, peserta menerima materi teoritis dan teknis tentang jarimatika, serta instruksi tentang cara melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan yang cepat dan benar dengan menggunakan jari tangan. Kegiatan prakteknya meliputi latihan dan praktik dasar pengenalan jarimatika serta praktek penggunaan jarimatika untuk operasi hitung penjumlahan dan pengurangan. Kegiatan PkM yang dilaksanakan diikuti oleh 22 orang siswa kelas VII B. Pada pertemuan pertama dan terakhir, siswa diberi soal pre-test dan post-test untuk menguji pemahaman mereka tentang penggunaan metode jarimatika tentang operasi penjumlahan dan pengurangan. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, nilai rata-rata siswa lebih tinggi saat belajar menggunakan metode jarimatika dan berdasarkan angket yang disebarkan menunjukkan bahwa siswa dan guru memberikan respon positif terhadap penggunaan jarimatika pada pembelajaran Matematika.
Abstract:In Indonesia, the prevalence of schizophrenia/psychosis is around 6.7 per 1000 households. Hallucinations are a condition that befalls individuals with mental disorders which results in changes in the patient's subjective…
e perception, which is characterized by the patient experiencing sensations such as sound, sight, taste and touch without any clear stimulation. If not treated immediately, the symptoms will get worse and can cause harm. self. One effective method for controlling schizophrenia is to encourage people to interact or converse with other people. The benefit of the activity is that it prevents hallucinations from occurring. The aim of the research is to determine the description of nursing care for patients with schizophrenic auditory hallucinations with a focus on the act of conversing with other people. Using descriptive methods by managing patients arranged in nursing care, functions to create systematic, real and precise descriptions of the facts. The results of focused therapeutic actions on conversing with other people for 3 days can reduce the signs and symptoms of auditory hallucinations. This is proven when conversing with other people, the patient focuses on the conversation and can avoid whispers that are not real to the patient. It was concluded that the technique of conversing with other people can prevent signs and symptoms of auditory hallucinations.
Abstract:Skizofrenia adalah gangguan mental dengan ciri-ciri perilaku dan percakapan yang tidak biasa, pikiran yang tak teratur, keyakinan yang keliru, dan pengalaman halusinasi. Salah satu masalah utama bagi individu dengan skizofrenia…
ofrenia adalah risiko perilaku kekerasan. Risiko perilaku kekerasan adalah perilaku yang menunjukkan kemungkinan untuk mengancam keselamatan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan, baik secara fisik, emosional, seksual, maupun verbal. Salah satu strategi yang diajarkan adalah terapi spiritual dzikir, di mana individu mendekatkan diri pada keyakinan yang diyakini. Penelitian terkait terapi spiritual dzikir menunjukkan bahwa penggunaannya dapat mengurangi gejala dan tanda risiko perilaku kekerasan, sambil meningkatkan kemampuan kognitif pasien. Penelitian ini bertujuen untuk mendapatkan gambaran nyata tentang skizofrenia dengan risiko perilaku kekerasan yang berfokus pada tindakan dzikir di ruang flamboyan Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. RM. Soedjarwadi Klaten. Menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan. Setelah dilakukan tindakan tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan menurun setelah dilakukan dzikir berupa Astaghfirullah 33 kali, Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahu Akbar 33 kali yang dilakukan pada waktu pagi hari (08.00) dan siang hari (12.30) selama 3 hari dalam waktu 30 menit. Kesimpulan yang dapat diambil yaitu asuhan keperawatan pada Tn. S skizofrenia risiko perilaku kekerasan selama tiga hari dengan fokus tindakan dzikir terdapat penurunan tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan.
Kata kunci: Skizofrenia, Risiko perilaku kekerasan, Dzikir
Abstract:Using a descriptive qualitative approach, this study aims to describe the development of science in the Classical Islamic world during the Abbasid Dynasty (750–1258 AD). Literature studies, interviews with Islamic historians,…
orians, and observations at historical sites are the methods used. The results of the study show that science made rapid progress during the Abbasid era, especially in mathematics, medicine, astronomy, and chemistry. Translating and disseminating information from Greek, Persian, and Indian civilizations was greatly assisted by centers of knowledge such as Bayt al-Hikma (House of Wisdom) in Baghdad. Famous scientists such as Al-Khwarizmi, Ibn Sina, and Al-Razi made major contributions through their highly influential works, which were then widely disseminated in the West. In addition, this study found that the socio-political conditions and support from the Abbasid caliphs.
Abstract:Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) (2018), di Indonesia, penderita skizofrenia sekitar 6,7% dari 282,654 penduduk. Satu ciri khas skizofrenia adalah halusinasi sensori, salah satunya pada sensori pendengaran.…
ran. Halusinasi pendengaran biasa mendengar suara-suara tetapi orang lain tidak mendengar. Apabila halusinasi tidak ditangani dengan baik, maka dapat menimbulkan risiko terhadap keamanan diri pasien sendiri, orang lain, juga lingkungan sekitar. Salah satu cara untuk menurunkan halusinasi pendengaran yaitu dengan terapi musik. Penelitian bertujuan untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien gangguan persepsi sensori hausinasi pendengaran dengan fokus tindakan terapi musik. Menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan. Hasil setelah dilakukan terapi musik klasik ini diberikan selama 2 kali sehari (pagi, siang) dengan durasi 10-15 menit selama 3 hari dengan menggunakan MP3 dan headset frekuensi halusinasi menurun. Didapatkan kesimpulan terapi musik klasik dapat menurunkan frekuensi halusinasi pendengaran.
Kata Kunci : Halusinasi, Musik, Skizofrenia
Abstract:Penyalahgunaan narkoba di kalangan merupakan masalah sosial yang kompleks dan memerlukan intervensi yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penyuluhan anti-narkoba terhadap perubahan pengetahuan,…
n, sikap, dan perilaku remaja di Kepenghuluan Rantau Panjang Kanan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatfi. Penyuluhan dilakukan selama sehari dengan materi yang mencakup bahaya narkoba, cara pencegahan, dan pengenalan layanan rehabilitasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan dan sikap positif terhadap bahaya narkoba setelah mengikuti penyuluhan. Selain itu, terdapat perubahan perilaku yang lebih baik dalam hal penghindaran terhadap risiko penyalahgunaan narkoba. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penyuluhan anti-narkoba memiliki efek positif dalam meningkatkan kesadaran dan mengurangi niat penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja. Oleh karena itu, program penyuluhan yang berkesinambungan dan melibatkan berbagai pihak perlu terus ditingkatkan sebagai bagian dari upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba di daerah pedesaan.
Abstract:Gangguan jiwa disebutkan sebagai bagian dari gangguan mental. Gangguan mental yang terjadi pada umumnya adalah gangguan kesemasan dan gangguan depresi, menimbulkan gangguan jiwa seperti halusinasi. Halusinasi adalah hilangnya…
ngnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal dan rangsangan eksternal klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada obyek atau rangsangan yang nyata. Cara mengontrol halusinasi memerlukan penatalaksanaan non farmakologi yaitu terapi murottal. Tujuan studi kasus ini adalah menggambarkan penerapan terapi murottal Al-Fatihah pada pasien untuk mengontrol halusinasi pendengaran. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis yaitu metode studi kasus deskriptif dengan pendekatan kepada 1 pasien halusinasi pendengaran yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, tinjauan literatur, dan demonstrasi. Hasil penelitian didapatkan sebelum diberikan terapi mutottal Al-Fatihah skor tingkat halusinasi 19 dan sesudah diberikan terapi murottal Al-Fatihah skor tingkat halusinasi menjadi 11. Pasien juga mampu mengontrol halusinasi dengan cara terapi murottal surat Al-Fatihah. Kesimpulan studi kasus ini yaitu terapi murottal surat Al-Fatihah dapat mengontrol halusinasi pendengaran pada pasien. Diharapkan perawat dapat memasukkan terapi murottal sebagai salah satu penatalaksanaan non farmakologis dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien halusinasi pendengaran.Gangguan jiwa disebutkan sebagai bagian dari gangguan mental. Gangguan mental yang terjadi pada umumnya adalah gangguan kesemasan dan gangguan depresi, menimbulkan gangguan jiwa seperti halusinasi. Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal dan rangsangan eksternal klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada obyek atau rangsangan yang nyata. Cara mengontrol halusinasi memerlukan penatalaksanaan non farmakologi yaitu terapi murottal.
Tujuan studi kasus ini adalah menggambarkan penerapan terapi murottal Al-Fatihah pada pasien untuk mengontrol halusinasi pendengaran. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis yaitu metode studi kasus deskriptif dengan pendekatan kepada 1 pasien halusinasi pendengaran yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, tinjauan literatur, dan demonstrasi. Hasil penelitian didapatkan sebelum diberikan terapi mutottal Al-Fatihah skor tingkat halusinasi 19 dan sesudah diberikan terapi murottal Al-Fatihah skor tingkat halusinasi menjadi 11. Pasien juga mampu mengontrol halusinasi dengan cara terapi murottal surat Al-Fatihah. Kesimpulan studi kasus ini yaitu terapi murottal surat Al-Fatihah dapat mengontrol halusinasi pendengaran pada pasien. Diharapkan perawat dapat memasukkan terapi murottal sebagai salah satu penatalaksanaan non farmakologis dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien halusinasi pendengaran.
Abstract:Gangguan jiwa merupakan sindrom yang secara klinis dapat terjadi pada seseorang dan ditambah dengan beragam stres disertai peningkatan risiko kematian, nyeri, dan disabilitas. Menurut WHO (World Health Organization) pada…
2019 terdapat 264 kasus depresi dimana sebanyak 20 juta kasus merupakan kasus skizofrenia diseluruh dunia. Di Indonesia pada tahun 2018 sebanyak 31,5% penduduknya mengalami gangguan psikosis. Di Jawa Tengah khususnya RSUD Banyumas pada tahun 2021 sebanyak 2.130 pasien mengalami skizofrenia dimana sebanyak 1.477 pasien mengalami halusinasi. Halusinasi merupakan gejala yang dialami oleh setiap individu yang mengalami gangguan pada persepsi sensorik dimana seseorang mendengar, mencium, mengecap dan melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada yang hanya dirasakan oleh orang tersebut dalam waktu satu bulan atau lebih. Cara meminimalkan gejala halusinasi memerlukan penatalaksanaan salah satunya yaitu terapi dzikir.
Tujuan dari studi kasus ini yaitu menggambarkan penerapan terapi dzikir pada pasien untuk mengontrol halusinasi pendengaran di Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kepada 1 pasien yang mengalami halusinasi pendengaran dan pasien yang dapat membina hubungan saling percaya serta kooperatif. Proses pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, studi dokumentasi dan demonstrasi. Hasil dari penelitian menunjukan adanya pengaruh terapi dzikir dalam mengontrol halusinasi pendengaran yang dibuktikan dengan adanya penurunan skor tingkat halusinasi dari 19 menjadi 10 dan pasien mampu mengontrol halusinasinya dengan berdzikir. Hasil penelitian ini dapat dijadikan terapi tambahan dalam mengontrol halusinasi pada pasien dengan halusinasi pendengaran.