Abstract:Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi keterampilan dan taktik murid di tingkat sekolah dasar dalam menyelesaikan tantangan geometri yang tidak rutin. Tantangan yang tidak rutin memerlukan siswa untuk berpikir secara kritis,…
tis, kreatif, dan adaptif, karena solusi tidak bisa ditemukan melalui metode atau algoritma yang biasa merekaingat. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Subyek yang diteliti adalah murid sekolah dasar kelas atas yang diambil secara sengaja. Pengumpulan data dilakukan melalui tes penyelesaian masalah geometri nonrutin dan wawancara mendalam untuk mengungkap proses berpikir para siswa. Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah reduksi data, penyajian hasil, dan penarikan kesimpulan. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa keterampilan siswa dalam menyelesaikan masalah geometri nonrutin bervariasi dalam tiga kategori, yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Siswa dengan kemampuan tinggi cenderung menggunakan strategi visualisasi seperti menggambar kembali bentuk, menciptakan model sederhana, serta memecah masalah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Siswa dengan kemampuan sedang mengaplikasikan kombinasi strategi percobaan dan penerapan konsep dasar, namun masih mengalami kesulitan dalam menghubungkan konsep secara menyeluruh. Di sisi lain, siswa dengan kemampuan rendah sering terjebak dalam prosedur yang rutin dan menemui kesulitan dalam memahami maksud dari soal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan siswa dalam menyelesaikan tantangan geometri nonrutin sangat dipengaruhi oleh pemahaman mereka terhadap konsep, kemampuan dalam representasi, serta kelenturan taktik yang mereka gunakan. Oleh karena itu, pengajaran geometri di tingkat sekolah dasar perlu dirancang dengan menerapkan variasi soal nonrutin secara terus menerus untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi para siswa.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pemahaman bangun datar dengan pemahaman konsep prisma dan limas pada siswa sekolah dasar. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional.…
al. Subjek penelitian adalah siswa kelas V atau VI sekolah dasar yang telah mempelajari materi bangun datar dan bangun ruang sisi datar. Instrumen penelitian berupa tes pemahaman konsep yang terdiri atas dua bagian, yaitu tes pemahaman bangun datar dan tes pemahaman prisma serta limas. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment serta analisis deskriptif untuk menggambarkan tingkat penguasaan masing-masing variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah mampu mengidentifikasi bangun datar dengan baik, namun pemahaman mereka masih cenderung bersifat prosedural. Pada materi prisma dan limas, siswa mengalami kesulitan terutama dalam menentukan luas alas yang berpengaruh pada perhitungan luas permukaan dan volume. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara pemahaman bangun datar dan pemahaman konsep prisma serta limas. Temuan ini mengindikasikan bahwa penguasaan konsep bangun datar merupakan prasyarat fundamental dalam memahami bangun ruang sisi datar. Oleh karena itu, pembelajaran geometri di sekolah dasar perlu dirancang secara bertahap, sistematis, dan terintegrasi agar pemahaman konseptual siswa berkembang secara optimal.
Abstract:Bangun datar adalah bentuk geometri dua dimensi yang memiliki panjang dan lebar tetapi tidak memiliki tinggi atau ketebalan bangun datar hanya memiliki luas dan keliling serta terletak pada satu bidang datar. penelitian…
ini bertujuan untuk menganalisis cara berpikir siswa sekolah dasar dalam mengklasifikasikan bangun datar berdasarkan sifat-sifat geometrisnya fokus penelitian diarahkan pada kemampuan siswa dalam mengenali dan membedakan ciri-ciri bangun datar seperti jumlah sisi panjang sisi besar sudut serta kesebangunan dan kesimetrian penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif subjek penelitian adalah siswa kelas 4 sekolah dasar teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dan observasi terhadap siswa kelas 4 SD. temuan menunjukkan terlihat sebagian siswa masih mengklasifikasikan bangun datar berdasarkan bentuk tampak secara visual bukan berdasarkan sifat-sifat geometris seperti jumlah sisi besar sudut dan panjang sisi namun ada sebagian siswa sudah mampu menggunakan sifat-sifat tersebut secara tepat dalam proses pengelompokan menunjukkan bahwa Pemahaman konsep geometri mahasiswa masih perlu diperkuat Melalui pembelajaran yang lebih kontekstual dan penggunaan media konkret.
Abstract:Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan dengan mempermudah akses informasi, sumber belajar, dan penyelesaian tugas secara cepat tanpa batas ruang dan waktu. Kehadiran…
adiran AI membuat proses pembelajaran lebih fleksibel, namun juga berpotensi menimbulkan ketergantungan jika tidak diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan etika digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran AI dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa yang meliputi kemampuan mengevaluasi informasi, menilai kualitas informasi, dan menarik kesimpulan. Penelitian menggunakan pendekatan mixed method dengan sampel 60 siswa yang dipilih melalui simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner 15 butir dan wawancara selama satu bulan, lalu dianalisis menggunakan persentase. Hasil menunjukkan sebagian besar indikator memperoleh skor di atas 95% dengan kategori sangat baik. Namun, kemampuan membedakan fakta, opini, dan asumsi (95%) serta menyaring informasi relevan sebelum menyimpulkan (97%) masih perlu diperkuat. Temuan ini menegaskan pentingnya literasi digital dan pembiasaan berpikir kritis dalam pemanfaatan AI di lingkungan pendidikan.
Abstract:Pendidikan tidak hanya terfokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pengembangan karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler, seperti olahraga. Di SMK Negeri 3 Buduran, partisipasi siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler olahraga…
ahraga masih rendah. Penelitian sebelumnya menunjukkan variasi tingkat motivasi siswa, dimana Ramadhani (2023) menemukan motivasi kategori rendah (37%), Ardiansyah (2019) kategori sedang (53,3%), dan Muhammad Sahroni (2021) kategori baik (79%). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan memetakan motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode survei terhadap 143 siswa peserta ekstrakurikuler olahraga. Instrumen berupa angket yang mengukur motivasi intrinsik (kesehatan, perhatian, minat, bakat) dan ekstrinsik (metode pengajaran, alat/bahan ajar, kondisi lingkungan), dengan analisis statistik deskriptif. Hasil menunjukkan rata-rata motivasi intrinsik 3,23 (kategori Tinggi), motivasi ekstrinsik 3,34 (Sangat Tinggi), dan motivasi total 3,28 (Sangat Tinggi). Temuan ini lebih tinggi dibanding Ramadhani (2023) dan Ardiansyah (2019), namun sejalan dengan Muhammad Sahroni (2021), mengindikasikan bahwa konteks sekolah dan kualitas pembinaan berperan penting dalam membentuk motivasi. Implikasi praktisnya, sekolah dapat meningkatkan partisipasi dengan mengoptimalkan pengelolaan program, sarana prasarana, dan iklim lingkungan yang suportif.
Abstract:Keberhasilan sebuah sekolah dalam menghadirkan pembelajaran yang bermakna sangat bergantung pada bagaimana sarana dan prasarana di dalamnya dikelola. Penelitian ini menggali lebih dalam mengenai perjalanan transformasi pengelolaan…
engelolaan fasilitas di MTs Nurul Hikmah Pondok Aren dalam cita-citanya menjadi madrasah unggul. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, peneliti berinteraksi langsung dengan narasumber dan mengamati kondisi lapangan untuk memahami realitas yang ada. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meski kebutuhan dasar fasilitas telah terpenuhi, MTs Nurul Hikmah masih berjuang menghadapi tantangan birokrasi yayasan yang sentralistik, keterbatasan dana, serta sistem perawatan yang belum terpadu. Namun, semangat perubahan mulai terlihat melalui langkah-langkah nyata, seperti pendataan aset yang lebih tertib, penyediaan ruang kelas yang nyaman dengan pendingin udara (AC), serta tumbuhnya rasa memiliki di kalangan warga sekolah untuk menjaga fasilitas bersama. Perubahan ini secara perlahan menciptakan suasana belajar yang lebih hangat dan kondusif bagi siswa. Akhirnya, penelitian ini menegaskan bahwa untuk menjadi sekolah unggul, bukan hanya fisik bangunan yang perlu dibenahi, melainkan juga penguatan tata kelola yang lebih mandiri dan modern demi masa depan pendidikan yang lebih baik.
Abstract:Manajemen sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang efektivitas proses pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Dalam konteks tersebut, kepala sekolah memiliki peran…
ran strategis sebagai pemimpin dan manajer yang bertanggung jawab terhadap perencanaan, pengadaan, pemanfaatan, pemeliharaan, serta evaluasi sarana dan prasarana pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kepala sekolah dalam manajemen sarana dan prasarana pendidikan berdasarkan kajian pustaka dari berbagai penelitian terdahulu yang relevan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dengan menelaah artikel jurnal nasional berbahasa Indonesia yang terbit paling lambat tahun 2020 dan memiliki keterkaitan dengan topik penelitian. Teknik analisis data dilakukan melalui pengumpulan, klasifikasi, dan sintesis temuan penelitian untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai praktik dan kecenderungan pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan oleh kepala sekolah. Hasil kajian menunjukkan bahwa peran kepala sekolah sangat menentukan efektivitas manajemen sarana dan prasarana, terutama dalam aspek perencanaan berbasis kebutuhan, koordinasi dalam pengadaan, pengawasan pemanfaatan, serta evaluasi dan pemeliharaan berkelanjutan. Namun demikian, masih ditemukan kesenjangan kajian yang menunjukkan bahwa beberapa penelitian lebih menekankan aspek administratif dibandingkan peran kepemimpinan strategis kepala sekolah. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi konseptual dalam memperkaya kajian tentang kepemimpinan kepala sekolah dalam manajemen sarana dan prasarana pendidikan.
Abstract:Desentralisasi pendidikan menuntut tata kelola pendidikan tinggi yang mampu merespons kebutuhan dan karakteristik daerah secara berkeadilan. Namun, praktik kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia masih menunjukkan kesenjangan…
jangan antara perumusan kebijakan nasional dan implementasi di tingkat daerah, terutama dalam aspek pemerataan pendanaan, konsistensi regulasi, dan posisi perguruan tinggi swasta. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dalam penguatan tata kelola pendidikan tinggi di era desentralisasi melalui studi kepemimpinan pendidikan Dedy Iskandar Batubara. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi tokoh, melalui wawancara mendalam dan studi dokumentasi kebijakan pendidikan tinggi. Data dianalisis secara deskriptif-analitis dengan mengaitkan temuan empiris pada teori kebijakan publik, desentralisasi, dan tata kelola pendidikan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DPD RI berperan strategis sebagai aktor agenda setting, advokasi kepentingan daerah, dan pengawas implementasi kebijakan pendidikan tinggi, meskipun perannya dibatasi oleh kewenangan konstitusional. Kepemimpinan pendidikan Dedy Iskandar Batubara memperlihatkan upaya menjembatani kepentingan kebijakan nasional dan kebutuhan daerah, khususnya dalam memperjuangkan keadilan bagi perguruan tinggi swasta dan pendidikan tinggi di daerah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan tata kelola pendidikan tinggi memerlukan desain kebijakan yang lebih konsisten, desentralistik, dan berkeadilan dengan pelibatan substantif DPD RI dan pemerintah daerah dalam sistem kebijakan nasional.
Abstract:Pola mengasuh orang tua sangat penting untuk perkembangan emosi anak. Cara orang tua mendidik, membimbing, dan berinteraksi dengan anak akan mempengaruhi kemampuan anak untuk mengidentifikasi, mengendalikan, dan mengungkapkan…
apkan emosi mereka secara sehat. Pola pengasuhan yang buruk dapat menghambat perkembangan emosi anak dan menyebabkan masalah perilaku. Sebaliknya, perkembangan emosi yang baik membantu anak memiliki rasa percaya diri, empati, kestabilan emosi, dan kemampuan beradaptasi dalam lingkungan sosial. Hasil kajian menunjukkan bahwa pola pengasuhan demokratis, yang tekanan keseimbangan antara kasih sayang, komunikasi yang terbuka, dan disiplin yang konsisten, memberikan dampak yang paling positif terhadap perkembangan emosi anak. Anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini cenderung memiliki pengendalian emosi yang baik, mampu membangun hubungan sosial yang sehat, dan menunjukkan sikap tanggung jawab. Namun pola asuh yang otoriter dan permisif dapat berdampak negatif terhadap perkembangan emosi anak, seperti kecemasan, rendahnya kepercayaan diri, dan kesulitan dalam mengelola emosi. Oleh karena itu, sangat penting untuk memiliki pola asuh yang penuh kasih sayang, bijaksana, dan bertanggung jawab agar perkembangan emosi anak dapat berkembang secara optimal untuk membantu membangun karakter yang sehat dalam keluarga dan masyarakat.
Abstract:Penelitian ini bertujuan mengkaji integrasi pilar pendidikan UNESCO dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka sebagai strategi menciptakan pembelajaran yang bermakna di sekolah. Pendekatan penelitian menggunakan metode deskriptif…
tif kualitatif dengan melibatkan guru, kepala sekolah, dan peserta didik pada satuan pendidikan yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka. Data dikumpulkan melalui pengamatan, wawancara, serta telaah terhadap dokumen modul ajar dan pelaksanaan proyek Profil Pelajar Pancasila. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa pilar pendidikan mulai terintegrasi ke dalam perencanaan pembelajaran melalui perumusan tujuan yang bukan hanya menekankan aspek pengetahuan, tetapi juga sikap, keterampilan, serta pembentukan karakter. Penerapan pembelajaran berdiferensiasi dan kegiatan proyek P5 menjadi bentuk nyata pengintegrasian tersebut, karena memberi kesempatan bagi peserta didik untuk belajar sesuai kebutuhan, bekerja sama, serta menghasilkan karya. Dampaknya terlihat pada meningkatnya kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kemandirian, kepercayaan diri, dan penguatan karakter siswa. Namun, optimalisasi pelaksanaan masih bergantung pada kompetensi pendidik serta dukungan sarana belajar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi pilar pendidikan dengan Kurikulum Merdeka mampu memberikan kontribusi besar dalam menciptakan pembelajaran yang holistik dan bermakna.