Abstract:This study explores how influencer marketing shapes digital identity and spatial relations in Makassar, Indonesia, through a spatially grounded urban ethnography approach. This framework enables a deep reading of how urban…
an residents engage with digital practices to navigate symbolic and spatial exclusion generated by influencer content. Through social media observation, narrative interviews, and the tracing of urban locations featured in visual representation, the study finds that influencer marketing does not merely sell products—it also reproduces social hierarchies through aesthetic spatiality and the logic of visibility.
Yet, amid such exclusions, marginalized communities deploy diverse tactics of resistance, including visual reengineering, the use of alternative locations, and digital irony that disrupt dominant narratives. These findings suggest that digital identity is not passively consumed but actively negotiated through concrete and often unexpected spatial relations. Drawing on Lefebvre’s theory of the production of space, Urry’s concept of digital mobilities, and Gandy’s politics of infrastructure, the study shows how cities and digital spaces co-constitute a contested symbolic terrain.
The article’s main contribution lies in advancing a Global South perspective, where digital technologies and aesthetics are practiced contextually and do not always conform to the logics of global capitalism. This research underscores that urban—and digital—space is not solely produced from above, but also from below, through the everyday agency of ordinary citizens.
Abstract:The Naketi Rite constitutes a traditional confession practice that has been preserved and transmitted across generations within the Oemofa community and functions to sustain social harmony. Social transformation and shifting…
ting patterns of communal interaction have posed challenges to the continuity and interpretation of this ritual, thereby necessitating scholarly inquiry capable of comprehensively elucidating its significance. This study addresses the question of how the symbolic meanings, social functions, and moral values embedded in the Naketi Rite shape mechanisms of reconciliation and social integration in Oemofa society. A cultural anthropology approach was employed to interpret the ritual practice through in-depth interviews, participant observation, and a review of relevant literature. The findings indicate that Naketi serves as an institutionalized medium for acknowledging wrongdoing, restoring fractured relationships, and reinforcing collective solidarity through mutually recognized symbolic mechanisms. The ritual cultivates values of honesty, responsibility, self-awareness, and commitment to social cohesion, which contribute to the prevention of prolonged conflict. The study concludes that Naketi is not merely a ceremonial expression but an effective cultural institution that mediates social tensions and reproduces the community’s moral order. The novelty of this research lies in its integrative analysis of the symbolic dimension and social function of the Naketi Rite as a locally grounded reconciliation model, offering relevance for contemporary cultural anthropology and discourse on tradition-based conflict resolution.
Abstract:The Natoni tradition, as an oral cultural heritage of the Timorese community, embodies religious and social dimensions that reflect the relationship between Christian faith and local wisdom. However, the currents of modernization…
rnization and shifts in the lifestyle of younger generations have led to a diminishing understanding of its symbols, ritual language, and moral messages, thereby placing its existence at risk of marginalization. This study addresses the question of how the theological meaning and anthropological values of Natoni are understood and actualized within Christian communities, and to what extent this tradition contributes to the formation of faith identity and social cohesion. A descriptive qualitative approach was employed, utilizing in-depth interviews, participatory observation, and document analysis to obtain a comprehensive understanding of the practice and its meanings. The findings reveal that Natoni functions as a contextual medium of prayer, a means of internalizing faith teachings, a bond of communal solidarity, and a vehicle for transmitting values of respect, responsibility, and intergenerational togetherness. The tradition provides an integrative space between incarnational theology and local cultural realities, thereby enriching contextual expressions of Christian spirituality. The study concludes that the revitalization of Natoni requires synergy among the church, traditional leaders, families, and educational institutions to ensure its continued relevance and responsiveness to contemporary challenges. The novelty of this research lies in its simultaneous integration of theological and anthropological analyses of Natoni as a contextual praxis of faith rather than merely a cultural phenomenon, thus offering a conceptual contribution to the development of Indonesian contextual theology.
Abstract:Indonesia memiliki tradisi budaya yang kaya dan beragam. Tradisi budaya adalah komponen penting dari kehidupan masyarakat, yang dapat menunjukkan identitas dan prinsip-prinsip yang dianut oleh suatu kelompok. Seperti halnya…
nya tradisi budaya yang masih terus digunakan hingga saat ini oleh masyarakat aboge yang ada di Desa Pagelaran yaitu tradisi ritual sesajen dalam pernikahan. Adanya sudut pandang masyarakat yang berbeda-beda dan juga keyakinan dalam ritual sesajen pernikahan untuk menghindari hal-hal buruk yang dapat terjadi. Peneliti akan mengkaji dengan menggunakan perspektif ‘urf dengan beberapa rumusan yakni: (1) Apa motif yang melatarbelakangi adanya tradisi ritual sesajen dalam pernikahan masyarakat Islam aboge di Desa Pagelaran. (2) Bagaimana praktik tradisi ritual sesajen dalam pernikahan masyarakat Islam aboge ditinjau dari perspektif ‘urf. (3) Mengapa praktik tradisi ritual sesajen dalam pernikahan tumbuh dinamis dikalangan masyarakat Islam aboge di Desa Pagelaran. Jenis penelitian yang digunakan adalah empiris sebagai salah satu bentuk penelitian hukum sosiologis dengan menggunakan pendekatan antropologis. Lokasi dari penelitian ini berada di Desa Pagelaran Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang. Sumber data yang digunakan yaitu sumber data primer berupa wawancara dan sumber data sekunder yang berasal dari dokumen-dokumen seperti penelitian jurnal terkait sesajen dan yang terkait pembahasan dalam penelitian, buku dan kitab ushul fiqh, dan juga referensi tambahan lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) motif yang melatarbelakangi adanya tradisi ritual sesajen dalam pernikahan masyarakat Islam aboge di Desa Pagelaran terjadi karena adanya motif sosial-budaya, sosial-keagamaan, sosial keamanan, dan sosial-kerukunan. (2) Praktik tradisi ritual sesajen yang dilakukan jika dilihat dari pespektif urf, tradisi tersebut masuk kedalam urf shahih sebab memenuhi syarat, begitu pula bisa menjadi ‘urf fasid dengan beberapa sebab lainnya. (3) Tradisi ritual sesajen pernikahan tumbuh dinamis dikalangan masyarakat Islam aboge, dapat dilihat dari segi ekonomi, sosial, budaya, dan alam yang memiliki banyak manfaat.
Abstract:Persinggungan antara kebudayaan dan hukum kewarisan yang bersumber dari hukum islam merupakan sebuah realita tak terbantahkan. Hal ini membawa implikasi bahwa hukum waris yang berlaku di Indonesia secara resmi haruslah mampu…
ampu untuk menengahi persinggungan tersebut. Hukum kewarisan pada penelitian ini berfokus pada Kompilasi Hukum Islam (KHI), tepatnya pada pasal 183. Oleh karena itu, penelaahan terhadap Relevansi KHI terhadap sistem kekerabatan di Indonesia perlu dikaji. Mengingat, bahwa hukum waris islam di Indonesia dituntut untuk menyesuaikan kondisi sosio-antropologis di Indonesia, maka tepat untuk mengetahui tinjauan Islam Progresif terkait keberadaan pasal 183 KHI. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan (library research). Oleh karena itu peneliti akan mengkaji pelbagai buku, jurnal, karya ilmiah, dan bahan kepustakaan lainnya untuk menunjang pembahasan penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasal 183 KHI relevan penerapannya dalam menghadapi sistem kekerabatan di Indonesia yang beragam. Keberadaan pasal 183 KHI telah menunjukan komitmen pemerintah untuk menciptakan tawaran progresifitas kepada masyarakat. Keragaman latar sosial antropologis yang berbeda pada masyarakat Indonesia telah mengindikasikan tuntutan keberadaan hukum yang membawa kemaslahatan umum yang kaitannya dengan waris, Sehingga, keberadaan pasal tersebut memungkinkan kemaslahatan para pihak dapat tercapai. Pasal 183 KHI sejalan dengan Islam Progresif. Pasal tersebut menjadi bukti bahwa hukum waris islam di Indonesia memiliki karakter islam progresif. Hal ini adalah bukti bahwa islam rahmatan lil ‘alamiin.