Search Articles & Publications

Showing 1503 articles found for "Arena"

SINERGI PEMERINTAH DESA, BUMDES, DAN PERGURUAN TINGGI DALAM DIGITALISASI PROMOSI WISATA KOLAM PANCING SERTA PENATAAN LINGKUNGAN BELAJAR PAUD DI DESA PUTAT LOR, KABUPATEN GRESIK

Holifah, Nur
Abstract: Kolam pancing milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Putat Lor, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, secara fisik telah tersedia namun belum beroperasi secara optimal karena ketiadaan strategi pemasaran dan media promosi… digital, sementara lingkungan PAUD SPS setempat masih memerlukan penataan dari sisi kebersihan, keteraturan, dan penghijauan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mendorong operasionalisasi aset ekonomi desa melalui digitalisasi promosi serta memperbaiki kualitas lingkungan belajar anak usia dini melalui pendekatan partisipatif berbasis kolaborasi multipihak. Metode pelaksanaan mencakup observasi dan asesmen kebutuhan, sosialisasi dan penyusunan rencana bersama mitra, pelaksanaan intervensi secara bertahap selama empat minggu, pendampingan operasional, serta evaluasi dan perencanaan keberlanjutan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa kolam pancing BUMDes telah beroperasi dengan jadwal dan tarif yang disepakati, didukung akun media sosial resmi, konten foto dan video promosi, banner di lokasi strategis, serta pendaftaran titik lokasi pada peta digital. Di sisi lain, lingkungan PAUD SPS menjadi lebih bersih, tertata, dan hijau melalui kegiatan gotong royong, pengecatan sarana bermain, dan penanaman tanaman hias. Kegiatan ini membuktikan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, BUMDes, dan satuan pendidikan anak usia dini mampu mengoptimalkan potensi ekonomi lokal sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan pendidikan, dengan syarat keberlanjutan dijaga melalui pendampingan pengelolaan pascaprogram.

SOSIALISASI PENGUATAN BRANDING DAN MARKETING DIGITAL BAGI PELAKU USAHA DI DESA KETANDAN, KLATEN

Kamil, Rafli Zulfa, Pradana, Azaria Eda, Putra, Hega Bintang Pratama, Saputra, Rifaldo Tegar Eka, Saputra, Muh Zidane Wahyu Jaka, Kusumawati, Asri
Abstract: Pelaku usaha di Desa Ketandan, Kecamatan Klaten Utara, memerlukan penguatan kesiapan pengembangan usaha yang tidak hanya mencakup promosi digital, tetapi juga identitas usaha, penentuan harga, visual produk, media komunikasi,… kasi, dan transaksi digital. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan memperkuat pemahaman peserta mengenai branding dan marketing digital melalui pembelajaran yang terintegrasi dan praktis. Kegiatan dilaksanakan pada 25 Juli 2026 di Balai Desa Ketandan dan diikuti oleh 38 peserta. Program mencakup identifikasi kebutuhan, penyusunan materi dan booklet digital, pretest, penyampaian materi dan demonstrasi, diskusi dan tanya jawab, posttest, serta evaluasi deskriptif. Booklet digital merangkum delapan topik praktis, yaitu branding dan kesiapan produk, keunggulan produk dan target konsumen, penentuan harga dasar, foto produk, akun Instagram usaha, perencanaan konten, WhatsApp Business, dan QRIS. Evaluasi menggunakan sepuluh pernyataan dengan cakupan materi yang setara pada pretest dan posttest dan dianalisis terhadap 35 peserta dengan data berpasangan lengkap. Rata-rata skor meningkat dari 94 menjadi 98. Karena skor awal peserta sudah tinggi, hasil tersebut diinterpretasikan secara deskriptif sebagai penguatan pemahaman yang telah dimiliki, bukan sebagai bukti pengaruh kausal. Booklet menjadi luaran edukasi tambahan yang mendukung ketersediaan materi setelah kegiatan. Program terutama berkaitan dengan SDG 8 dan SDG 9, serta secara tidak langsung dengan SDG 1.

PENGEMBANGAN PEMANFAATAN DAUN KELOR SEBAGAI MASKER MELALUI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA PANCUR JAYA

Mashur, Dadang, Savitri, Puput, Abda, Nabila Chania, Norhidayah, Norhidayah, Safrizal, Halif, Adistyaningsih, Syfa, Sihite, Gidion Martin, Indriani, Indriani, Pasaribu, Sopia, Mustafiq, Muhammad Faqih, Pakpahan, Winda Juni Lestari
Abstract: Tanaman kelor (Moringa oleifera) merupakan salah satu tanaman yang banyak ditemukan di Indonesia, termasuk wilayah Pulau Rupat. Bagian daun dari tanaman kelor ini menjadi salah satu bagian yang paling banyak dimanfaatkan… karena mengandung berbagai nutrisi, vitamin, dan mineral. Desa Pancur Jaya memiliki potensi kelor yang cukup dikenal masyarakat, ditandai dengan keberadaannya hampir di sepanjang wilayah desa. Pemanfaatan daun kelor di desa tersebut telah dikembangkan dalam berbagai bentuk produk olahan, seperti stik kelor, nugget kelor, teh daun kelor, dan puding kelor. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Pancur Jaya telah memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengolah potensi kelor yang tersedia di lingkungan mereka. Meskipun pemanfaatan daun kelor telah dilakukan dalam berbagai bentuk, masih terdapat peluang untuk mengenalkan bentuk pemanfaatan lainnya. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KUKERTA Universitas Riau Tahun 2026 Desa Pancur Jaya memperkenalkan pemanfaatan daun kelor sebagai bahan dasar masker. Kegiatan dilaksanakan melalui pemberian penjelasan dan praktik sederhana kepada ibu-ibu Majelis Taklim Desa Pancur Jaya mengenai proses pembuatan masker kelor. Kegiatan mendapat respons positif karena memberikan pengetahuan baru mengenai alternatif pemanfaatan daun kelor yang sebelumnya belum dikenal oleh peserta.

MANAJEMEN PARKIR LIAR DI BAHU JALAN PASAR OLILIT KABUPATEN KEPULAUAN TANIMBAR

Bulurditty, Vio Shintia, Lalamafu, Polikarpus, Temmar, Aresyama Hein, Alaslan, Amtai
Abstract: Pasar tradisional sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat sering kali tidak dilengkapi fasilitas parkir yang memadai, sehingga memicu munculnya praktik parkir liar di bahu jalan yang mengganggu kelancaran arus lalu lintas,… tas, salah satunya di kawasan Pasar Olilit, Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana manajemen parkir liar di bahu jalan Pasar Olilit dilaksanakan oleh Dinas Perhubungan Kota Saumlaki serta faktor-faktor yang menghambat pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam terhadap tujuh informan (unsur Dinas Perhubungan, juru parkir, dan masyarakat), serta dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan empat fungsi manajemen George R. Terry (planning, organizing, actuating, controlling) sebagai kerangka analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dinas Perhubungan telah melakukan tahap perencanaan dan pengorganisasian tugas dengan cukup baik, namun tahap pelaksanaan dan pengawasan belum berjalan optimal karena belum tersedianya juru parkir resmi dan lahan parkir yang memadai. Faktor penghambat utama meliputi keterbatasan sumber daya manusia, minimnya sosialisasi kepada masyarakat, lemahnya pengawasan lapangan, dan keterbatasan anggaran daerah. Penelitian ini merekomendasikan penguatan koordinasi lintas pihak, percepatan penyediaan lahan parkir resmi, serta peningkatan intensitas sosialisasi dan pengawasan agar manajemen parkir di Pasar Olilit dapat berjalan lebih efektif dan efisien.

MANAJEMEN GURU BIMBINGAN KONSELING (BK) DALAM MENINGKATKAN KEDISIPLINAN PESERTA DIDIK DI MTsN MADANI JAYA KOTA PALOPO

Aisa, Aisa, Nasaruddin, Nasaruddin, Alimuddin, Alimuddin
Abstract: Penelitian ini membahas tentang manajemen guru bimbingan konseling (BK) dalam meningkatkan kedisiplinan peserta didik di MTsN Madani Jaya Kota Palopo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) manajemen guru bimbingan… an konseling dalam meningkatkan kedisiplinan peserta didik, (2) tingkat kedisiplinan peserta didik, dan (3) faktor pendukung serta tantangan guru bimbingan konseling dalam meningkatkan kedisiplinan peserta didik di MTsN Madani Jaya Kota Palopo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data penelitian terdiri atas data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menguji keabsahan data digunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen guru bimbingan konseling dalam meningkatkan kedisiplinan peserta didik dilakukan melalui fungsi manajemen yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengawasan (controlling). Guru BK menyusun program layanan bimbingan dan konseling, melakukan kerja sama dengan wali kelas dan orang tua, memberikan layanan konseling individu maupun kelompok, serta melakukan pengawasan terhadap perilaku peserta didik. Kedisiplinan peserta didik di MTsN Madani Jaya Kota Palopo masih belum sepenuhnya berjalan dengan baik karena masih ada beberapa siswa yang kurang mematuhi tata tertib sekolah seperti keterlambatan, kurang tertib berpakaian, dan penggunaan gadget pada waktu pembelajaran. Faktor pendukung dalam meningkatkan kedisiplinan peserta didik meliputi dukungan kepala sekolah, kerja sama guru dan orang tua, serta adanya tata tertib sekolah. Adapun tantangan yang dihadapi guru BK yaitu pengaruh lingkungan pergaulan, penggunaan gadget yang berlebihan, serta kurangnya kesadaran sebagian peserta didik terhadap pentingnya disiplin.

TAKDIR ILAHI DAN IKHTIAR PENGOBATAN: KEBEBASAN MANUSIA, TAWAKAL, DAN TANGGUNG JAWAB MORAL DALAM BIOETIKA ISLAM

Isdianto, Andik, Fitrianti, Novariza, Arif, Abdul Hamid, Purnama, Yugi Hari Chandra, Widada, Wahyudi
Abstract: Hubungan antara takdir ilahi, kebebasan manusia, dan pengobatan merupakan persoalan penting dalam pemikiran Islam dan bioetika Islam. Penelitian ini mengkaji mengapa manusia tetap memiliki tanggung jawab moral untuk melakukan… kukan pengobatan ketika sakit, sembuh, hidup, dan mati berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah. Penelitian menggunakan studi pustaka kualitatif dengan pendekatan filosofis-teologis dan komparatif-konseptual. Al-Qur’an, hadis, pemikiran teologi Islam, serta literatur kontemporer mengenai bioetika Islam, tawakal, fatalisme kesehatan religius, dan perilaku pencarian kesehatan Muslim dianalisis melalui sintesis konseptual. Hasil kajian menunjukkan bahwa takdir ilahi tidak meniadakan agensi manusia. Ikhtiar pengobatan merupakan penggunaan sebab-sebab yang tersedia secara sadar dan bertanggung jawab di dalam tatanan ilahi, sedangkan tawakal melengkapi, bukan menggantikan, ikhtiar. Penelitian ini mengusulkan Model Tiga Ranah Agensi Manusia dalam Pengobatan, yang terdiri atas kondisi yang dialami, respons dan tindakan, serta hasil yang diterima. Tanggung jawab moral terutama berada pada ranah respons dan tindakan, meliputi kemampuan memperoleh informasi, mempertimbangkan alternatif, menentukan pilihan, dan menjalankan pengobatan secara wajar, sedangkan hasil terapi hanya sebagian berada dalam kontrol manusia. Karena itu, kegagalan terapi tidak dapat secara otomatis dipandang sebagai kegagalan moral atau lemahnya tawakal. Kerangka ini mengintegrasikan takdir, agensi manusia, sebab medis, dan tanggung jawab moral serta memberikan dasar teologis bagi perilaku pencarian kesehatan yang bertanggung jawab, dengan relevansi konseptual terhadap Sustainable Development Goal 3.

Analisis Perilaku Konsumen Dalam Memutuskan Pembelian Cinderamata Di Objek Wisata Ke'te Kesu'

Jeticia Lolotoding, Isak Pasulu, Dwibin Kannapadang
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku konsumen dalam keputusan pembelian cinderamata di kawasan Wisata Ke'te Kesu' Kabupaten Toraja Utara. Industri pariwisata budaya telah bertransformasi menjadi industri… berbasis pengalaman yang mengedepankan nilai emosional, simbolik, dan kultural. Dalam konteks ini, pembelian cinderamata tidak hanya berfungsi sebagai barang konsumsi, tetapi juga sebagai simbol kenangan, identitas budaya, dan representasi pengalaman wisata. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap lima wisatawan sebagai informan kunci dan lima pelaku UMKM sebagai informan pendukung. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan pembelian cinderamata di kawasan Wisata Ke'te Kesu' dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis. Faktor budaya dan psikologis merupakan faktor yang paling dominan karena wisatawan memandang cinderamata sebagai representasi budaya Toraja yang autentik dan memiliki makna simbolik. Proses keputusan pembelian berlangsung melalui lima tahapan: pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan perilaku pasca pembelian. Wisatawan melakukan pertimbangan terhadap harga, kualitas, keunikan, dan nilai budaya produk sebelum memutuskan membeli. Pengalaman wisata yang positif memberikan pengaruh terhadap kepuasan wisatawan dan mendorong niat membeli ulang serta rekomendasi kepada orang lain. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keputusan pembelian cinderamata di kawasan Wisata Ke'te Kesu' tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan fungsional, tetapi juga oleh nilai budaya, pengalaman emosional, dan persepsi wisatawan terhadap keaslian produk budaya Toraja. Abstract is a brief summary of the paper to help readers quickly determine the main research problem, solutions to solving This study aims to analyze consumer behavior in purchasing decisions of souvenirs at the Ke'te Kesu' Tourism Area in North Toraja Regency. The cultural tourism industry has transformed into an experience-based industry that prioritizes emotional, symbolic, and cultural values. In this context, souvenir purchases serve not only as consumer goods but also as symbols of memories, cultural identity, and representations of tourist experiences. This research employs a qualitative descriptive approach with data collection techniques through in-depth interviews, observation, and documentation involving five tourists as key informants and five MSME actors as supporting informants. Data analysis was conducted through data reduction, data display, and conclusion drawing. The results show that souvenir purchasing decisions at the Ke'te Kesu' Tourism Area are influenced by four main factors: cultural, social, personal, and psychological factors. Cultural and psychological factors are the most dominant because tourists perceive souvenirs as authentic representations of Toraja culture with symbolic meaning. The purchase decision process occurs through five stages: need recognition, information search, alternative evaluation, purchase decision, and post-purchase behavior. Tourists consider price, quality, uniqueness, and cultural value before deciding to purchase a product. Positive tourism experiences influence tourist satisfaction and encourage repeat purchase intentions and recommendations to others. This study concludes that souvenir purchasing decisions at the Ke'te Kesu' Tourism Area are not only influenced by functional needs but also by cultural values, emotional experiences, and tourists' perceptions of the authenticity of Toraja cultural products.

Optimasi Kecepatan Aplikasi Sipades Pelayanan Administrasi Desa Sebagai Implementasi Program Kerja KKN Universitas Boyolali di Kecamatan Kemusu

Sumali, Kurnia Ismi Sholihati, Muhammad Fida Ikhsanul Fikri, Adam Maulana, Erwin Susiani, Muqorrobin, Fanny Hendro Aryo Putro
Abstract: Administrasi persuratan di Desa Kemusu, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali selama ini dikerjakan dengan pengolah kata, penomoran dicatat pada buku register, dan arsip disimpan dalam bentuk cetak. Pola ini berjalan tanpa… a keluhan berarti, namun menyimpan tiga risiko struktural: pengerjaan bergantung pada dua orang perangkat, penelusuran arsip bertumpu pada berkas kertas, dan penomoran rawan ganda. Program Kuliah Kerja Nyata Kelompok 04 Universitas Boyolali merancang dan menerapkan SIPADes, aplikasi berbasis Python dan SQLite yang berjalan luring pada komputer kantor desa tanpa biaya langganan. Kegiatan ditempuh dalam lima tahap: observasi dan wawancara kondisi awal, perancangan, pengembangan berbasis templat surat asli desa, uji coba mandiri, serta pendampingan dan serah terima. Aplikasi yang dihasilkan memuat 8 modul fungsional, 7 templat surat baku, dan 8 tabel basis data, dilengkapi pengisian otomatis formulir Dukcapil F-1.01 dan F-1.03. Pada uji coba mandiri, perangkat desa menyelesaikan seluruh enam tugas pokok tanpa bantuan pendamping, dengan waktu pembuatan satu surat sampai tersimpan selama sepuluh detik. Perangkat memperkirakan waktu pelayanan satu surat turun dari 5 menit menjadi 2 menit dan penelusuran arsip dari 5 menit menjadi 2 menit. Kuesioner terhadap responden tunggal menghasilkan skor 5,00 pada skala 1-5 untuk seluruh 15 pernyataan. Hasil evaluasi bersifat indikatif dan belum dapat digeneralisasi karena keterbatasan jumlah responden dan singkatnya masa pemakaian. Kegiatan menunjukkan bahwa sistem administrasi desa yang dibangun mengikuti tata naskah yang sudah berjalan lebih mudah diterima perangkat daripada sistem yang menuntut perubahan kebiasaan.

Pengaruh Program Ketahanan Pangan Terhadap Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Di Desa Kedunggong Kecamatan Sadang Kabupaten Kebumen

Misman, Mila Karmilah, Abied Rizky Putra, Boby Rahman
Abstract: Ketahanan pangan merupakan salah satu instrumen strategis dalam pembangunan desa karena tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga berpotensi meningkatkan pendapatan, produktivitas, dan… an kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Program Ketahanan Pangan terhadap Tingkat Kesejahteraan Masyarakat di Desa Kedunggong, Kecamatan Sadang, Kabupaten Kebumen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Sampel penelitian berjumlah 60 responden yang merupakan masyarakat penerima manfaat Program Ketahanan Pangan. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, sedangkan analisis data menggunakan IBM SPSS Statistics melalui analisis statistik deskriptif, uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik, analisis regresi linear berganda, uji t, dan koefisien determinasi (R²). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Ketahanan Pangan memiliki hubungan yang sangat kuat dengan tingkat kesejahteraan masyarakat, dengan nilai korelasi sebesar 0,943 dan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,889. Artinya, sebesar 88,9% variasi tingkat kesejahteraan masyarakat dapat dijelaskan oleh dimensi ketahanan pangan, sedangkan 11,1% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian. Secara parsial, ketersediaan pangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat dengan koefisien regresi sebesar 1,707 dan signifikansi 0,001; akses pangan berpengaruh positif dan signifikan dengan koefisien 0,950 dan signifikansi 0,012; stabilitas pangan berpengaruh positif dan signifikan dengan koefisien 1,164 dan signifikansi 0,001; sedangkan pemanfaatan pangan memiliki pengaruh positif dengan koefisien 0,777 dan signifikansi 0,054. Dengan demikian, penguatan Program Ketahanan Pangan, terutama pada aspek ketersediaan, akses, dan stabilitas pangan, menjadi faktor penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Kedunggong.

Peran Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Dalam Tata Kelola Pemerintahan Desa Yang Partisipatif 

Ema Novithania, Yahnu Wiguno Sanyoto, Eva Susanti
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan desa yang partisipatif di Desa Tanjung Besar Kecamatan Mekakau Ilir Kabupaten Ogan Komering… Ulu Selatan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan ilmu pemerintahan (Pendekatan Pembangun), dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap pemerintah desa, LPM, kepala dusun, masyarakat, dan akademisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran LPM telah berjalan, ditinjau dari indikator harapan sebagai penghubung antara pemerintah desa dan masyarakat dalam mendorong partisipasi, indikator norma yang didasarkan pada aturan yang berlaku meskipun penerapannya masih fleksibel, serta indikator wujud perilaku yang terlihat dalam keterlibatan LPM pada musyawarah, pembangunan, dan gotong royong. Namun, pelaksanaan peran tersebut belum optimal karena belum merata di seluruh wilayah desa. Pada indikator penilaian dan sanksi, evaluasi telah dilakukan oleh pemerintah desa dan masyarakat, tetapi sanksi masih bersifat informal. Kondisi ini menunjukkan bahwa peran LPM perlu ditingkatkan agar partisipasi masyarakat dalam tata kelola pemerintahan desa dapat berjalan lebih optimal dan merata.