Search Articles & Publications

Showing 2 articles found for "Doho"

Economic Behavior of The Kediri People in The Shadow of Doho Kediri Airport

Susilowati , Eni, Rofik, Eka Nur, M. Maghfiroh, Ana, Murdinar, Hardining Estu
Abstract: This study aims to examine the economic behavior of the community around Dhoho Airport, Kediri, which has undergone socio-economic transformation due to strategic infrastructure development. This phenomenon is evident in… Kediri Regency, East Java, especially after the start of the construction of Dhoho Airport, a national strategic project designed to be a lever for regional economic growth. The presence of the airport has changed the face of the surrounding area, which was previously agricultural land and modest settlements, into a bustling and fast-growing economic area. This change has led to a surge in new economic activities, such as the emergence of street vendors, restaurants, parking lots, local transportation businesses, and lodging. Using a qualitative approach with phenomenological methods, this study explores the meanings raised by local economic actors in responding to these changes. The findings show that communities show adaptive responses through trade, lodging, and other services, with economic meanings influenced by local values such as blessing, hard work, and kinship. This study concludes that people's economic behavior is not only rational instrumental, but also full of subjective values and meanings, so that regional economic policies need to be designed in an inclusive and contextual manner

“ANAKHONHI DO HAMORAON DI AHU”: Suatu kajian tradisi budaya dan Kekristenan menurut Amsal 1:8 diperhadapkan dengan filosofi Batak Toba.

Pahala Jannen Simanjuntak, Magelhaens Sianipar
Abstract: Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan orang Batak pada umumnya, anak-anak adalah kekayaan (Hamoraon) bagi keluarga, termasuk masyarakat, gereja, bangsa, dan negara. Itulah sebabnya muncul filosofi "Anakhonhi do hamoraon… moraon di Ahu" (yang berarti "Anakku adalah kekayaan bagiku"). Ditinjau dari tradisi budaya dan Kristen, pepatah ini memiliki makna yang sangat dalam dan penuh kebijaksanaan. Dalam budaya Batak, mereka memiliki filosofi 3 H: Hamoraon (kekayaan), Hagabeon (keturunan), dan Hasangapon (kehormatan). Filosofi ini telah mengakar dalam kehidupan orang Batak sejak zaman dahulu hingga sekarang. Dalam teologi Kristen, anak-anak adalah karunia dan amanah dari Tuhan kepada orang tua di tengah keluarga. Menjual semua harta benda yang mereka miliki dilakukan asalkan anak-anak mereka bisa bersekolah. Ungkapan "Sude tano maraek dohot tano mahiang" (keluar dari tanah basah dan tanah kering) adalah ungkapan yang menjelaskan bagaimana orang Batak berjuang untuk anak-anaknya. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji kekayaan budaya dan tradisi Kristen bagi orang Batak mengenai filosofi: "Anakhonhi do hamoraon di ahu" dan Amsal 1:8, melalui studi pendapat para ahli dan Alkitab sebagai literatur penelitian.