Abstract:Perkembangan moral anak usia dini menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter integritas di masa depan. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, nilai kejujuran memerlukan strategi internalisasi yang tidak hanya bersifat…
ersifat verbal, tetapi juga diwujudkan melalui praktik nyata dalam interaksi pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses penanaman nilai kejujuran dalam pembentukan karakter integritas anak usia dini melalui keteladanan guru di TK As-Salam Kecamatan Kutawaluya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keteladanan guru yang konsisten, pembiasaan reflektif dalam budaya kelas, serta dukungan kebijakan sekolah berbasis nilai religius membentuk lingkungan yang mendorong anak berani berkata jujur dan mengakui kesalahan. Integritas anak berkembang melalui pengalaman konkret yang berulang dalam interaksi sehari-hari. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan peran guru sebagai model moral dalam pendidikan karakter serta perlunya integrasi budaya sekolah yang konsisten untuk mendukung internalisasi nilai kejujuran sejak usia dini.
Abstract:Transformasi nilai akhlak pada anak usia dini menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter dan pengembangan sosial emosional yang berkelanjutan. Pada fase perkembangan awal, anak belajar mengelola emosi, membangun…
empati, serta membentuk kebiasaan sosial melalui interaksi yang bermakna di lingkungan pendidikan. Budaya sekolah Islami berperan sebagai sistem nilai yang menghadirkan pembiasaan, keteladanan, dan penguatan moral dalam aktivitas sehari-hari. Studi ini bertujuan untuk menganalisis proses transformasi nilai akhlak dalam pengembangan sosial emosional anak usia dini melalui budaya sekolah Islami di Pos PAUD Merpati Kecamatan Kutawaluya. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil menunjukkan bahwa transformasi nilai akhlak berlangsung melalui integrasi pembiasaan rutin, keteladanan guru, serta penguatan regulasi emosi berbasis praktik religius seperti doa dan istighfar. Nilai akhlak terinternalisasi dalam aktivitas konkret seperti berbagi, antre, meminta maaf, dan mengendalikan emosi dalam situasi konflik. Budaya sekolah berfungsi sebagai sistem yang menjaga konsistensi antara perencanaan program dan praktik pembelajaran. Implikasinya, budaya sekolah Islami dapat menjadi model integratif dalam pengembangan karakter dan sosial emosional anak usia dini secara kontekstual dan aplikatif.
Abstract:Kompetensi kepribadian guru merupakan aspek fundamental dalam pendidikan dasar karena berhubungan lamgsung dengan sikap, perilaku, dan keteladanan guru dalam proses pembelajaran. Pendidikan dasar membutuhkan figur guru yang…
ang memiliki kepribadian stabil, dewasa, arif, dan berwibawa agar mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung perkembangan karakter peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi kompetensi kepribadian guru dalam pendidikan dasar berdasarkan hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan. Metode yang digunakan adalah kajian literatur dengan menelaah artikel ilmiah nasional dan internasional yang terbit pada rentang tahun 2020–2026. Sumber data diperoleh melalui Google Scholar dan jurnal terindeks yang membahas kompetensi kepribadian guru, pendidikan dasar, dan karakter siswa. Hasil kajian menunjukkan bahwa guru yang mampu mengimplementasikan kompetensi kepribadian secara optimal dapat meningkatkan kedisiplinan, minat belajar, serta perilaku positif peserta didik. Temuan lain menunjukkan bahwa keteladanan guru berperan besar dalam pembentukan nilai moral dan sikap sosial siswa sekolah dasar. Implementasi kompetensi kepribadian juga dipengaruhi oleh faktor internal guru dan dukungan lingkungan sekolah. Kesimpulan kajian ini menegaskan bahwa kompetensi kepribadian guru harus dikembangkan secara berkelanjutan melalui pelatihan dan kebijakan pendidikan yang terarah.
Abstract:Subjek dalam penelitian ini adalah seorang anak autis kelas III SD di SKh Elok Asri yang menunjukkan perilaku maladaptif berupa perilaku mengupil menggunakan jari dan perilaku menjilat jari setelah mengupil. Perilaku tersebut…
tersebut menyebabakan subjek mimisan,
kurang fokus dalam pembelajaran dan pengerjaan tugas. Melihat permasalahan tersebut,
peneliti akan mencoba melakukan modifikasi perilaku berupa penerapan metode
Differential Reinforcement Of Alternative Behavior (DRA) pada subjek. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui apakah metode DRA dapat mengurangi perilaku maladaptif
yang ditunjukkan subjek. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen Single Subject
Research (SSR) dengan desain A-B-A. Pengumpulan data dalam penelitian ini
menggunakan teknik observasi dan dianalisis menggunakan ststistik deskripstif yang
disajikan dalam bentuk tabel dan garfik. Frekuensi perilaku mengupil di sekolah pada
baseline (A2) 37 lebih kecil dari hasil baseline (A1) 47. Adapun frekuensi perilaku
menjilat jari setelah mengupil pada fase baseline 2 (A2) adalah 32 yang hasilnya dibawah
fase baseline 1 (A1) 41. Selanjutnya perilaku mengupil di rumah pada baseline (A2) 26
lebih kecil dari hasil baseline (A1) 31. Adapun frekuensi perilaku menjilat jari setelah
mengupil pada fase baseline 2 (A2) adalah 18 yang hasilnya dibawah fase baseline 1
(A1) 25. Hasil penelitian yang dilakukan di sekolah dan di rumah menunjukan bahwa
metode DRA dapat mengurangi perilaku maladaptif pada subjek.
Abstract:Perundungan fisik (physical bullying) masih menjadi permasalahan serius dalam dunia pendidikan dasar karena berdampak negatif terhadap perkembangan psikologis, sosial, dan akademik siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan…
endeskripsikan peran penanaman nilai empati dan toleransi sebagai strategi pencegahan physical bullying pada siswa kelas IV SDN 2 Mudalrejo. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur dengan guru dan pihak sekolah, serta dokumentasi yang meliputi tata tertib sekolah, RPP, dan kegiatan pembelajaran. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi, masih ditemukan perilaku physical bullying seperti mendorong, memukul ringan, mencubit, dan body shaming. Setelah diterapkan penanaman empati dan toleransi melalui pembelajaran berbasis cerita, diskusi, dan simulasi peran, terjadi penurunan perilaku kekerasan fisik serta peningkatan sikap peduli, kemampuan mengelola emosi, dan penghargaan terhadap perbedaan antar siswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan empati dan toleransi yang terintegrasi dalam pembelajaran, serta didukung oleh peran guru sebagai teladan, efektif dalam mencegah physical bullying dan menciptakan lingkungan belajar yang aman, harmonis, dan kondusif di sekolah dasar.
Abstract:Perkembangan zaman saat ini membawa peluang besar dalam kemajuan era digital namun kemajuan ini membawa dampak tantangan dalam akhlak remaja dikarenakan era digital ini memberikan peluang akses tanpa batas jika tidak digunakan…
igunakan dengan baik. Oleh karena itu, diperlukannya stategi pendidikan yang mampu menyeimbangkan pemanfaatan era digital dan penguatan nilai syari’at agama. Maka dengan ini diperlukannya pengabdian yang berpokus pada internalisasi ajaran agama yang bersumber dari Al- Qur’an Hadits sebagai landasan pembinaan akhlak remaja. Pengabdian ini dilakukan dengan menginternalisasikan nilai kandungan Al- Qur’an Hadits, Kajian, serta pembiasan kegiatan agama dan akhlak dalam kehidupan sehari hari. Dengan demikian, pengabdian ini bertujuan sebagai nilai-nilai Al- Qur’an Hadits bukan hanya sekedar pembinaan iman namun juga sebagai pondasi akhlak remaja dari dampak negatif era digitalisasi. Dengan menggunakan metode kualitatif deskritif. Hasil pengabdian menunjukkan bahwasanya mereka mulai meneladani serta mengamalkan makna ayat Al- Qur’an dan Hadits dalam membentuk akhlak remaja pada SMA
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode pembiasaan oleh guru Pendidikan Agama Islam dalam pembentukan karakter Islami peserta didik di SDN 1 Modayag Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, menganalisis…
dampaknya, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan informan yang terdiri atas kepala sekolah dan guru Pendidikan Agama Islam. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode pembiasaan dilakukan melalui kegiatan rutin, spontan, terprogram, dan keteladanan. Bentuk kegiatan tersebut meliputi doa sebelum dan sesudah belajar, zikir bersama, tadarus, literasi Al-Qur’an, shalat dhuha, shalat dzuhur berjamaah, infak, kegiatan sosial, serta pembinaan adab sehari-hari. Dampak penerapan metode pembiasaan terlihat pada meningkatnya religiusitas, sopan santun, kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kepedulian sosial peserta didik. Faktor pendukung meliputi kebijakan sekolah, sarana prasarana, keterlibatan guru, budaya sekolah, dan dukungan orang tua. Adapun hambatannya meliputi pengaruh gadget, pergaulan teman sebaya, kurangnya pengawasan keluarga, dan lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, pembiasaan perlu dilaksanakan secara konsisten melalui kerja sama sekolah dan keluarga.
Abstract:Kepemimpinan merupakan unsur penting dalam keberhasilan suatu institusi pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan dinamika kebutuhan peserta didik menuntut pemimpin lembaga pendidikan…
idikan Islam untuk mampu menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan situasi yang dihadapi. Artikel ini membahas penerapan teori kepemimpinan situasional dalam institusi pendidikan Islam dengan meninjau konsep dasar kepemimpinan situasional, karakteristik pendidikan Islam, serta implementasinya dalam manajemen lembaga pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan menganalisis berbagai sumber literatur terkait kepemimpinan situasional dan pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa kepemimpinan situasional dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan lembaga pendidikan Islam melalui fleksibilitas pemimpin dalam menyesuaikan pendekatan kepemimpinan berdasarkan tingkat kesiapan, kemampuan, dan motivasi bawahan. Selain itu, penerapan teori ini juga selaras dengan nilai-nilai Islam seperti musyawarah, keadilan, tanggung jawab, dan keteladanan. Kepemimpinan merupakan unsur penting dalam keberhasilan suatu institusi pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan dinamika kebutuhan peserta didik menuntut pemimpin lembaga pendidikan Islam untuk mampu menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan situasi yang dihadapi. Artikel ini membahas penerapan teori kepemimpinan situasional dalam institusi pendidikan Islam dengan meninjau konsep dasar kepemimpinan situasional, karakteristik pendidikan Islam, serta implementasinya dalam manajemen lembaga pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan menganalisis berbagai sumber literatur terkait kepemimpinan situasional dan pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa kepemimpinan situasional dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan lembaga pendidikan Islam melalui fleksibilitas pemimpin dalam menyesuaikan pendekatan kepemimpinan berdasarkan tingkat kesiapan, kemampuan, dan motivasi bawahan. Selain itu, penerapan teori ini juga selaras dengan nilai-nilai Islam seperti musyawarah, keadilan, tanggung jawab, dan keteladanan.
Abstract:Spiritualitas merupakan aspek mendasar yang membentuk cara manusia memaknai hidup, menjalani relasi dengan Tuhan, memahami diri sendiri, dan berinteraksi dengan sesama. Dalam berbagai tradisi, spiritualitas selalu menjadi…
i sumber kekuatan, pemaknaan, dan inspirasi yang tidak hanya hadir dalam ruang-ruang religius, tetapi mewarnai seluruh dinamika kehidupan manusia. Spiritualitas bukanlah sekadar konsep teoretis, melainkan suatu proses yang hidup, aktif, dan terus berkembang sesuai dengan pengalaman individu. Setiap manusia menjalani perjalanan spiritual yang unik, dan perjalanan itu hanya dapat dipahami melalui refleksi mendalam terhadap pengalaman hidup sehari-hari.
Kehidupan manusia pada dasarnya merupakan perjalanan panjang yang memuat berbagai dinamika: kesuksesan dan kegagalan, sukacita dan duka, keteguhan dan keraguan, pertumbuhan dan kejatuhan. Dalam dinamika tersebut, spiritualitas hadir sebagai dasar nilai yang menuntun seseorang untuk bertanya, memahami, dan menghayati makna terdalam dari setiap pengalaman hidup. Spiritualitas kehidupan bukanlah sesuatu yang bersifat statis, tetapi berkembang dalam proses yang panjang seiring dengan pertumbuhan kesadaran manusia terhadap tujuan hidupnya. Melalui setiap pengalaman, manusia menemukan petunjuk baru, hikmah baru, dan pemahaman baru yang membawa dirinya menuju kedewasaan spiritual yang semakin utuh.
Dalam konteks spiritualitas kehidupan, karya dan keteladanan seorang tokoh seperti Hendrikus Leven menjadi sangat penting untuk dikaji karena hidupnya mencerminkan perjalanan spiritual yang kaya, mendalam, dan inspiratif. Hendrikus Leven bukan hanya dikenal sebagai pribadi yang tekun dalam karya pelayanan, tetapi juga sebagai sosok yang menjadikan setiap langkah hidupnya sebagai ungkapan konkret dari spiritualitas yang matang. Karya-karyanya bukan sekadar kegiatan atau tugas formal, tetapi merupakan bentuk nyata dari penghayatan spiritualitas: pelayanan yang tulus, cinta kasih yang diwujudkan tanpa syarat, kerendahan hati yang mempengaruhi cara ia berelasi, serta kesederhanaan hidup yang menjadi cerminan kedalaman batinnya. Karena itu, perjalanan hidup Hendrikus Leven merupakan contoh nyata bagaimana spiritualitas dapat menjadi kekuatan utama yang membentuk karakter, sikap, pilihan hidup, serta komitmen dalam pelayanan.
Kajian ini bertujuan untuk menggambarkan, menjelaskan, dan menganalisis spiritualitas kehidupan sebagai sebuah perjalanan, dengan merujuk khusus pada karya dan pengabdian Hendrikus Leven. Melalui pendekatan deskriptif-analitis, tulisan ini menguraikan konsep dasar spiritualitas, makna kehidupan, dinamika perjalanan spiritual, dan relevansinya dalam kehidupan manusia modern. Selanjutnya, kajian ini menelusuri bagaimana nilai-nilai spiritualitas seperti cinta kasih, kesederhanaan, kerendahan hati, syukur, pengampunan, keteguhan, dan harapan tercermin secara nyata dalam setiap aspek karya Hendrikus Leven. Dengan demikian, abstrak ini menegaskan bahwa spiritualitas kehidupan bukanlah satu peristiwa yang terjadi sesekali, melainkan rangkaian perjalanan panjang yang terus berkembang melalui segala pengalaman hidup, sebagaimana tampak jelas dalam perjalanan Hendrikus Leven.
Melalui penelitian dan refleksi ini, ditemukan bahwa spiritualitas kehidupan hanya dapat dipahami secara mendalam ketika manusia menjalaninya sebagai sebuah proses yang menyentuh seluruh aspek hidup: pikiran, perasaan, perilaku, relasi, dan karya. Spiritualitas bukan hanya soal ritual, tetapi tentang cara manusia memberi makna pada setiap langkah hidupnya. Hendrikus Leven menjadi gambaran nyata bahwa spiritualitas yang sejati selalu mengalir ke dalam tindakan nyata: pelayanan kepada sesama, komitmen pada kebaikan, kesediaan berkorban, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, serta ketekunan dalam menjalani panggilan hidup. Lewat karya-karyanya, ia memperlihatkan bahwa spiritualitas kehidupan merupakan perjalanan yang tidak hanya memperkaya batin pribadi, tetapi juga membawa perubahan nyata bagi masyarakat dan lingkungan tempat ia berkarya.
Kajian ini menegaskan bahwa spiritualitas kehidupan tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang manusia di dunia. Setiap pengalaman hidup mengajarkan sesuatu yang membentuk kedalaman batin. Setiap perjuangan menguatkan karakter. Setiap pelayanan membuka ruang baru bagi pertumbuhan iman. Dalam perspektif ini, spiritualitas kehidupan merupakan perjalanan menuju kedewasaan manusia secara menyeluruh: kedewasaan iman, kedewasaan moral, kedewasaan emosional, dan kedewasaan sosial. Melalui perjalanan tersebut, manusia semakin memahami bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian materi atau status, melainkan tentang bagaimana ia dapat menjadi pribadi yang bermakna bagi sesama. Karya Hendrikus Leven menjadi inspirasi bahwa perjalanan spiritualitas adalah perjalanan untuk mencintai, mengampuni, melayani, dan terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Dengan demikian, abstrak ini menegaskan bahwa spiritualitas kehidupan merupakan perjalanan yang bertolak dari pengalaman konkret manusia dan diwujudkan melalui tindakan nyata dalam pelayanan. Karya Hendrikus Leven menjadi contoh bahwa spiritualitas bukan hanya urusan batin, melainkan juga urusan tindakan nyata yang membawa dampak positif bagi masyarakat. Studi ini menyimpulkan bahwa spiritualitas kehidupan adalah proses panjang yang mengintegrasikan nilai, pengalaman, refleksi, dan tindakan sehingga membentuk kesatuan hidup yang penuh makna. Perjalanan ini mengarah pada kedalaman hubungan dengan Tuhan dan sesama, serta pada komitmen untuk menjalani hidup dengan cinta kasih, kerendahan hati, dan pengabdian yang tulus.
Abstract:Hendrikus Leven, seorang Vikaris Apostolik Kepulauan Sunda Kecil dan pendiri Kongregasi Pengikut Yesus (CIJ), memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman spiritualitas kehidupan, khususnya di Indonesia. Spiritualitasnya…
itasnya menekankan pentingnya kehidupan yang berakar pada iman yang kokoh, pelayanan yang tulus, dan cinta kasih universal. Leven kecil dikenal sebagai sosok yang bijaksana, sederhana, dan memiliki semangat sosial yang tinggi, serta ketertarikan pada hidup religius sejak dini. Kontribusi utamanya terlihat dalam pengembangan dan pertahanan misi perutusan, termasuk pendirian Kongregasi Pengikut Yesus . Spiritualitas pelayanannya digambarkan melalui konsep, yang merupakan refleksi pribadi tentang bagaimana ia menjalankan perannya sebagai Uskup di Kepulauan Sunda Kecil. Selain itu, Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka (IKTL) bahkan telah mengadakan peluncuran buku dan bedah buku berjudul Kontekstualisasi Pemikiran Heinrich Leven dalam Pendidikan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan penggelaran Hamba Allah Mgr. Heinrich Leven .Pemahaman spiritualitas yang ia wariskan mencakup penghayatan kaul, khususnya kaul ketaatan, oleh para suster Kongregasi Pengikut Yesus. Secara umum, spiritualitas adalah kepercayaan dan keyakinan seseorang terhadap kebenaran, kesucian, keterikatan, dan rasa tunduk kepada kekuatan yang lebih tinggi, yang mendorong serta mengarahkan tingkah laku individu. Spiritualitas Leven, yang telah disiapkan secara ilmiah dan spiritual sebagai misionaris, memberikan fondasi kuat bagi perkembangan kehidupan rohani dan sosial.Henricus Leven bukan hanya uskup dan misionaris, tetapi juga figur spiritual yang memadukan pengalaman batin dengan aksi nyata. Pemahaman spiritualitas kehidupan yang ia wariskan adalah spiritualitas hidup yang bertumbuh di dalam iman, diwujudkan dalam pelayanan kepada sesama, terutama mereka yang paling membutuhkan. Spiritualitas ini bukanlah sekadar konsep teoretis, tetapi dipraktikkan dalam pelayanan pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan umat sehingga menjadi teladan hidup Kristiani yang konkret.