Abstract:The advancement of digital communication has generated a range of ethical challenges, including cyberbullying, insults, negative labeling, the dissemination of unverified information, privacy violations, digital ghibah (backbiting),…
backbiting), polarization, and discrimination. These challenges call for an ethical framework that is not merely technical in nature but is also firmly grounded in Islamic values. This study aims to reconstruct a Qur’an-based digital communication ethics framework through a thematic analysis of Qur’anic interpretation of QS. Al-Hujurat verses 11–13 and to examine its relevance to strengthening character education. This qualitative study employs a library research approach using thematic Qur’anic interpretation, content analysis, and contextual analysis of the Qur’an, classical and contemporary exegetical works, as well as scholarly literature on digital communication and character education. The findings reveal that QS. Al-Hujurat verses 11–13 embody eight ethical principles that can be reconstructed within the context of digital communication: Dignity Protection, Respectful Communication, No Negative Labeling, Critical Verification, Privacy Protection, Responsible Speech, Inclusive Interaction, and Digital Equality. These eight principles are synthesized into the Qur’anic Digital Communication Ethics Framework (QDCEF), which comprises three overarching dimensions: Dignity, Responsibility, and Inclusion. The framework is further mapped onto the character values of respect, empathy, civility, tolerance, critical thinking, objectivity, trustworthiness, responsibility, integrity, justice, and self-control. These findings affirm that QS. Al-Hujurat verses 11–13 are relevant not only as a source of moral and character education but also as a conceptual foundation for reconstructing a digital communication ethics framework that bridges Qur’anic values with the demands of character education in the digital era. The proposed QDCEF thus offers a value-based conceptual framework for fostering ethical, responsible, inclusive, and character-oriented digital communication.
Abstract:Hubungan antara takdir ilahi, kebebasan manusia, dan pengobatan merupakan persoalan penting dalam pemikiran Islam dan bioetika Islam. Penelitian ini mengkaji mengapa manusia tetap memiliki tanggung jawab moral untuk melakukan…
kukan pengobatan ketika sakit, sembuh, hidup, dan mati berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah. Penelitian menggunakan studi pustaka kualitatif dengan pendekatan filosofis-teologis dan komparatif-konseptual. Al-Qur’an, hadis, pemikiran teologi Islam, serta literatur kontemporer mengenai bioetika Islam, tawakal, fatalisme kesehatan religius, dan perilaku pencarian kesehatan Muslim dianalisis melalui sintesis konseptual. Hasil kajian menunjukkan bahwa takdir ilahi tidak meniadakan agensi manusia. Ikhtiar pengobatan merupakan penggunaan sebab-sebab yang tersedia secara sadar dan bertanggung jawab di dalam tatanan ilahi, sedangkan tawakal melengkapi, bukan menggantikan, ikhtiar. Penelitian ini mengusulkan Model Tiga Ranah Agensi Manusia dalam Pengobatan, yang terdiri atas kondisi yang dialami, respons dan tindakan, serta hasil yang diterima. Tanggung jawab moral terutama berada pada ranah respons dan tindakan, meliputi kemampuan memperoleh informasi, mempertimbangkan alternatif, menentukan pilihan, dan menjalankan pengobatan secara wajar, sedangkan hasil terapi hanya sebagian berada dalam kontrol manusia. Karena itu, kegagalan terapi tidak dapat secara otomatis dipandang sebagai kegagalan moral atau lemahnya tawakal. Kerangka ini mengintegrasikan takdir, agensi manusia, sebab medis, dan tanggung jawab moral serta memberikan dasar teologis bagi perilaku pencarian kesehatan yang bertanggung jawab, dengan relevansi konseptual terhadap Sustainable Development Goal 3.
Abstract:Various phenomena related to the implementation of integrity in the public sector demonstrate the importance of strengthening integrity values within organizations. One approach is through organizational culture, including…
ng the implementation of transaction practices through an Warung Kejujuran. This study aimed to explore auditors’ experiences in conducting transactions at an Warung Kejujuran. The study employed a qualitative approach using Moustakas’ transcendental phenomenology. Data were obtained through in-depth interviews and documentation involving auditors at the Jombang Regency Inspectorate who had experience interacting with the Warung Kejujuran. Data were analyzed through epoche, phenomenological reduction, imaginative variation, and the synthesis of meaning and essence, supported by NVivo for data organization, coding, and identification of thematic patterns. The findings indicate that transaction practices at the Warung Kejujuran provide auditors with experiences of applying integrity values through independent decision-making in the absence of direct supervision. These experiences are reflected in self-control as a basis for honest action and in the fulfillment of obligations as an element of an auditor’s moral responsibility. Thus, the essence of auditors’ experiences in transaction practices at the Warung Kejujuran lies in their ability to conduct transactions independently through self-control and fulfillment of moral obligations in situations with limited external supervision.
Abstract:Fenomena kenakalan remaja (juvenile delinquency) di era kontemporer telah berkembang menjadi implikasi sosial yang mengkhawatirkan, baik dalam konsetualisasi urban maupun rural. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis…
s dampak kenakalan remaja terhadap eskalasi konflik sosial komunitas antara Desa Luhu dan Desa Iha, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat, serta merumuskan resolusi holistik berbasis perspektif Pendidikan Islam. Metodologi yang diaplikasikan dalam studi ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi lapangan (field research). Data dikumpulkan melalui teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap 10 informan multi-sektoral (tokoh agama, adat, masyarakat, aparat TNI/Polri, dan pemuda), serta dokumentasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa manifestasi kenakalan remaja yang dominan menjadi pemicu friksi dan integrasi destruktif antar-desa meliputi konsumsi minuman keras (sopi dan sageru), perkelahian kelompok, perjudian, dan disfungsi interaksi dalam pacaran inter-desa yang memicu polarisasi komunal serta kerugian material dan imaterial. Dalam tinjauan Pendidikan Islam, fenomena kemerosotan moralitas ini diakibatkan oleh minimalnya internalisasi nilai spritual dan kedangkalan rekonstruksi akhlak anak. Pendidikan Agama Islam memainkan peranan krusial tidak hanya sebatas fungsi kognitif (ta'lim), melainkan harus dioptimalkan dalam dimensi pembentukan karakter (ta'dib) dan pengasuhan spiritual secara holistik (tarbiyah) lintas lingkungan keluarga, lembaga formal, dan instrumen kemasyarakatan guna meminimalisir deviasi sosial remaja.
Abstract:This study aims to analyze the influence of horizontal communication, vertical communication, and diagonal communication on employee morale at the Rantau Utara District Office. The study used a quantitative approach with…
a survey method. The study population consisted of 33 employees, all of whom were sampled through a saturated sampling technique. Data were collected using a questionnaire and analyzed using validity tests, reliability tests, classical assumption tests, multiple linear regression, partial tests, simultaneous tests, and coefficients of determination using SPSS 27. The results showed that horizontal communication, vertical communication, and diagonal communication each had a positive and significant effect on employee morale. Simultaneously, the three variables also had a significant effect on morale. Vertical communication was the variable that had the greatest influence compared to the other two variables. The Adjusted R Square value of 0.840 indicated that 84% of the variation in morale could be explained by the three forms of organizational communication, while 16% was influenced by other factors outside the research model. These findings confirm that effective organizational communication plays an important role in increasing employee morale and supporting the creation of more optimal public service performance.
Abstract:Pendidikan nasional saat ini menghadapi tantangan besar terkait degradasi moral akibat arus kebebasan berekspresi yang kerap mengabaikan batasan etis dan religius. Sebagai respons, Kementerian Agama RI menggagas Kurikulum…
m Berbasis Cinta (KBC) sebagai pendekatan humanis-moderat untuk mereorientasi pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam menanamkan nilai-nilai humanisme Islam di Madrasah Aliyah Jam'iyyah Islamiyyah melalui tiga tahapan manajemen: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, serta melihat proses internalisasinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi KBC di MA Jam'iyyah Islamiyyah mampu menanamkan tiga nilai utama humanisme Islam, kebebasan (liberty), persamaan (equality), dan persaudaraan (fraternity) melalui tahapan internalisasi yang sistematis meliputi transformasi nilai, transaksi nilai, dan transinternalisasi nilai. Keberhasilan kurikulum ini didukung oleh iklim psikologis madrasah yang aman, keteladanan guru, serta integrasi nilai kasih sayang dalam ekosistem pembelajaran yang holistik. Pendekatan afektif ini terbukti mampu mengubah paradigma pembelajaran keagamaan yang kaku menjadi proses dialogis yang emansipatoris dan memanusiakan manusia
Abstract:Abrogation (abrogation) holds a central, vexed position in Islamic legal-theological hermeneutics. Classical uṣūl al-fiqh elaborated a technical theory of abrogation that attempted to mediate the diachronic process of revelation…
revelation and the demands of fixity of legal judgment (ḥukm). Tradition receipts that later scripture abrogates earlier scripture wherever actual, unavoidable contradiction is found, classically expressed as "al-nāsikh wa-l-mansūkh.". Pre-modern thinkers classified modes and cases of abrogation, inferred them from revelational phases, and counted suspected cases throughout the Qur'an and Sunna. Modern scholarship avoids both epistemic pretensions and hyperbolic earlier assertions of abrogation. The article tracks early meanings, introduces intratraditional caution that moderated abrogation, and evaluates recent re-analyses based on coherence theory, maqāṣid (purposes), historicization in context, and ethics. It argues that abrogation was included in pre-modern dogmatics as a component of a package of other hermeneutical strategies (specification, restriction, prioritization, suspension) and that available resources allow for a less ambitious, economy-of-means approach. A renovated dogma leaner, evidence-based, and syncretized with maqāṣid and semantics can ensure the normativity of revelation and make the law more attentive to modern moral concerns, such as gender justice, religious pluralism, and violence. The paper reaches its climax with the proposal of a "manifest conflict resolution" regime. where abrogation is held in reserve as a last resort and not the initial starting point and has ramification for legal rulings (fatwā), legal codification and education more widely. (Hallaq 1993; Kamali 2003; Auda 2008; Rahman 1982; Abu Zayd 2006).
Abstract:Penumpukan sampah di kawasan wisata pesisir masih menjadi permasalahan lingkungan yang serius karena berdampak terhadap kualitas ekologi, kesehatan masyarakat, kenyamanan pengunjung, dan keberlanjutan aktivitas wisata lokal.…
kal. Pantai Marthafons yang terletak di Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, merupakan salah satu kawasan wisata pesisir yang menghadapi persoalan sampah secara berulang akibat aktivitas pengunjung, limbah rumah tangga, serta sampah kiriman yang terbawa arus laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kesadaran spiritual dan etika lingkungan dalam membentuk perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah di Pantai Marthafons. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan wawancara semi-terstruktur dengan informan kunci yang memahami kondisi lingkungan pantai. Data dianalisis melalui reduksi data, klasifikasi temuan, interpretasi, dan penarikanklasifikasi temuan, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran spiritual mendorong sebagian masyarakat memandang pelestarian lingkungan sebagai tanggung jawab moral dan religius terhadap ciptaan Tuhan. Etika lingkungan juga memperkuat kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan dan berpartisipasi dalam kegiatan pembersihan pantai. Namun, pengelolaan sampah masih terkendala oleh keterbatasan fasilitas, partisipasi masyarakat yang belum merata, serta sampah kiriman dari arus laut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesadaran spiritual dan etika lingkungan dapat menjadi modal sosial penting dalam memperkuat pengelolaan sampah pesisir secara berkelanjutan.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam makna etika bisnis bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Ambon melalui pendekatan kualitatif fenomenologi. Fokus utama penelitian difokuskan pada…
ada pemahaman moral, pengalaman menghadapi dilema etis, internalisasi nilai kearifan lokal, serta peran kepercayaan dalam menjamin keberlangsungan usaha. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam (in-depth interview) secara semi-terstruktur terhadap informan pemilik UMKM di Kota Ambon yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data didasarkan pada prosedur fenomenologi Moustakas yang mencakup tahapan epoché, horisonalisasi, klaster tema, hingga deskripsi struktural-tekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etika bisnis dimaknai bukan sekadar sebagai instrumen kepatuhan hukum normatif, melainkan sebagai manifestasi integritas personal dan spiritualitas kerja. Hubungan interaktif bisnis sangat dipengaruhi oleh modal sosial kearifan lokal (seperti semangat kebersamaan berbasis trans-komunitas). Kepercayaan konsumen diidentifikasi sebagai jembatan kritis yang mengaitkan perilaku etis dengan keberlanjutan hidup usaha di Tengah tingginya volatilitas pasar. Temuan ini menyimpulkan pentingnya integrasi nilai moral kultural ke dalam manajemen UMKM guna menciptakan ekosistem bisnis lokal yang resilien dan berkelanjutan.
Abstract:Fenomena greenwashing semakin marak di dunia bisnis modern seiring meningkatnya tekanan pasar terhadap klaim keberlanjutan lingkungan. Di Indonesia, regulasi berbasis lingkungan seperti POJK No. 51/2017 belum mampu sepenuhnya…
uhnya mencegah praktik tersebut. Tujuan: Artikel ini bertujuan mengkaji greenwashing dari perspektif moralitas dan etika bisnis, mengidentifikasi faktor penyebab dan bentuk-bentuknya, menganalisis dampaknya, serta merumuskan upaya pencegahan yang komprehensif. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi kepustakaan, dokumentasi, dan analisis konten terhadap sumber ilmiah tahun 2021-2026. Analisis data mengacu pada model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana (2014) serta triangulasi sumber. Hasil: Greenwashing didorong oleh tekanan persaingan pasar, motivasi reputasi, asimetri informasi, lemahnya regulasi, dan tekanan pemangku kepentingan. Bentuknya mencakup klaim tanpa bukti, citra visual menyesatkan, pengungkapan selektif, pelaporan keberlanjutan tidak akuntabel, dan sertifikasi mandiri tidak terverifikasi. Ditinjau dari etika bisnis, greenwashing melanggar prinsip kejujuran, tanggung jawab, transparansi, dan keadilan. Simpulan: Dampak greenwashing bersifat merugikan konsumen, perusahaan, dan lingkungan. Pencegahannya memerlukan penguatan regulasi, sertifikasi independen, audit berkala, peningkatan literasi konsumen, dan internalisasi nilai etika dalam tata kelola perusahaan.