Abstract:Pengelolaan sampah di Desa Sidowungu, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik masih menghadapi permasalahan berupa rendahnya pemilahan sampah dari sumber, pencatatan transaksi yang dilakukan secara manual, keterbatasan data,…
, serta kurangnya transparansi nilai ekonomi sampah bagi masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat tata kelola sampah kering melalui penerapan Bank Sampah Digital berbasis web yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan community development melalui tahapan observasi dan identifikasi kebutuhan, koordinasi dengan mitra, pengembangan sistem, sosialisasi, pelatihan, uji coba, pendampingan, serta evaluasi. Subjek kegiatan meliputi pengelola BUMDes, pemerintah desa, kader PKK, dan sekitar 150 kepala keluarga pada fase implementasi awal. Program menghasilkan platform digital yang mendukung pengelolaan data nasabah, kategori dan harga sampah, pencatatan hasil penimbangan, perhitungan nilai transaksi, saldo tabungan, riwayat setoran, stok, dan pelaporan. Implementasi sistem membantu pengelola BUMDes melakukan pencatatan transaksi secara lebih terstruktur, mempercepat penghitungan nilai setoran, serta meningkatkan keterlacakan dan transparansi informasi bagi nasabah. Kegiatan pelatihan dan pendampingan juga meningkatkan kemampuan awal pengelola dalam mengoperasikan sistem serta mendorong keterlibatan kader PKK dalam edukasi pemilahan sampah kepada masyarakat. Meskipun demikian, keberlanjutan program masih memerlukan penguatan kapasitas operator, konsistensi partisipasi warga, pemeliharaan sistem, kemitraan dengan pengepul, dan pengukuran dampak secara berkala. Program Smart Waste Village memberikan fondasi awal bagi pengelolaan sampah berbasis data, pemberdayaan masyarakat, penguatan peran BUMDes, dan pengembangan ekonomi sirkular di tingkat desa secara berkelanjutan.
Abstract:Desa Sidoasri, Kabupaten Malang, memiliki potensi ekowisata bahari yang tinggi namun menghadapi tekanan ekologi dan kelembagaan lokal yang terbatas. Program ini bertujuan memberdayakan Pokmaswas dan masyarakat pesisir agar…
ar bertransformasi dari pengguna pasif menjadi pengelola aktif ekowisata berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif berbasis komunitas melalui survei awal, FGD, pelatihan Training Ecodiver (selam dasar, identifikasi biota, pemantauan terumbu, dokumentasi), sarasehan desa, pendampingan intensif, serta evaluasi formatif–sumatif. Hasil menunjukkan: (i) penilaian potensi wisata (panorama pantai, trekking, snorkeling–diving, canoeing, GT fishing) memperoleh skor tinggi pada keunikan ekosistem, keterkaitan antarhabitat, dan keterwakilan ekosistem pesisir; (ii) partisipasi, motivasi, dan kapasitas kelembagaan masyarakat meningkat, tercermin dari keterlibatan dalam pemantauan terumbu, pengelolaan homestay, promosi digital, serta penguatan rencana kerja Pokmaswas; (iii) jejaring komunitas–pemerintah–akademisi menguat dan membuka peluang tindak lanjut. Disimpulkan bahwa konservasi harus menjadi prasyarat pengembangan ekowisata, dengan paradigma “konservasi sebagai investasi” untuk menjaga daya tarik destinasi dan manfaat ekonomi lokal. Ke depan disarankan institusionalisasi SOP dan insentif konservasi, monitoring jangka panjang berbasis komunitas, perluasan kemitraan lintas sektor, serta integrasi adaptasi iklim dan pengendalian spesies invasif dalam paket ekowisata Sidoasri.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Matematika materi nilai tempat bilangan melalui pemanfaatan media kantong bilangan pada peserta didik kelas III UPT SD Negeri Sidomulyo 2. Metode yang…
ang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu: perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), observasi (observation), dan refleksi (reflection). Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media kantong bilangan secara signifikan berkontribusi terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Sebelum tindakan dilakukan hanya 3 siswa (60%) yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Pada siklus I, jumlah siswa yang tuntas meningkat menjadi 6 orang (71,6%), dan pada siklus II seluruh siswa (100%) berhasil memenuhi KKM. Rata-rata nilai hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari 78,75 pada siklus I menjadi 86,25 pada siklus II. Dengan demikian, penerapan media kantong bilangan terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep nilai tempat bilangan pada siswa kelas III.
Abstract:Halal certification has become an essential mechanism for ensuring that products meet Islamic requirements while also maintaining standards of safety, quality, and consumer protection. Despite its growing importance, awareness…
reness and understanding of halal certification remain relatively limited among community members, particularly women who play a central role in household purchasing decisions. This community engagement initiative was designed to enhance the knowledge and awareness of members of the Family Welfare Empowerment Organization (PKK) in Sidodadi Village, Kedaton District, Bandar Lampung City, regarding the significance of halal certification in consumer products. The program engaged 30 participants and applied a participatory educational approach consisting of counseling sessions, interactive discussions, lectures, and question-and-answer activities. Knowledge acquisition was evaluated through pre-test and post-test assessments. The findings demonstrated a marked improvement in participants’ understanding, with average scores increasing from 51.3% prior to the intervention to 94.0% afterward. The program not only strengthened participants’ awareness of halal-certified products but also encouraged more informed and responsible consumption practices. These results highlight the effectiveness of community-based halal literacy initiatives in fostering greater public understanding and supporting the development of a halal-conscious society.
Abstract:The low level of students’ scientific literacy indicates the need for learning approaches that can train scientific thinking process through inquiry activities. This study aims to compare the effectiveness of Guided Inquiry…
quiry Interactive Reinforcement learning with Guided Inquiry learning without Interactive Reinforcement on the topic of global warming in improving junior high school students’ scientific literacy. This research employed a quantitative approach with a quasi-experimental design conducted at a public junior high school in Sidoarjo Regency. This research subjects were students of class IX F as the experimental class and class IX B as the control class. Data were collected through scientific literacy test instrument, learning implementation observation sheets, and student response questionnaires. The test data were analyzed using the Mann-Whitney U test, effect size calculation, and N-Gain, while the data from the observation of learning implementation and student response questionnaires were analyzed descriptively using quantitative methods. The results showed that there was a significant difference in scientific literacy between the experimental class and the control class with an Asymp. Sig. (2-tailed) value of <0,001. The effect size calculation obtained a value of , categorized as a large effect, indicating a very strong influence. The improvement in scientific literacy in the experimental class was higher with an average N-Gain of 0,927 (high category) compared to the control class with 0,783 (high category). The level of scientific literacy also increased from level 2 in the pretest to level 6 in the experimental class and level 5 in the control class in the posttest. These results were supported by the implementation of learning in both classes, which was categorized as very good, and student responses that showed very good criteria with a higher percentage in the experimental class. Based on these findings, the Guided Inquiry Interactive Reinforcement learning model is proven to be more effective in improving junior high school students’ scientific literacy. This learning model is recommended to be applied to science topics that have contextual characteristics in order to enhance students’ scientific literacy.
Abstract:Kawasan Pesisir Ciku Nyinyi tepatnya berada pada Desa Sidodadi, Kabupaten Pesawaran terdapat potensi ekowisata yang telah lama dikembangkan dan sempat menjadi tujuan wisata yang populer. Namun karena semakin lama ketertarikan…
rikan masyarakat pada ekowisata kawasan Mangrove menurun, serta pemanfaatan hutan Mangrove yang keliru membuat kawasan Mangrove semakin lama terbengkalai. Upaya yang dapat dilakukan salah satunya adalah memberi pemahaman kepada masyarakat sekitar akan fungsi hutan Mangrove bagi kawasan pesisir. Peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat dalam konservasi untuk menjaga kelestarian hutan Mangrove pada kegiatan ini sebesar 91 %. Setelah dilakukan konservasi Mangrove dengan pendekatan pengabdian kepada masyarakat, pemahaman masyarakat akan pentingnya hutan Mangrove meningkat, secara tidak langsung kesadaran untuk menjaga keseimbangan ekosistem hutan Mangrove juga akan meningkat.
Abstract:Lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada dan terjadi di sekeliling proses pendidikan itu berlangsung yang terdiri dari masyarakat beserta lingkungan yang ada disekitarnya. Semua keadaan lingkungan tersebut berperan…
rperan dan memberikan kontribusi terhadap proses peningkatan kualitas pendidikan dan atau kualitas lulusan pendidikan. Perhatian manajer pendidikan/Top Manajemen (Kepala Sekolah) seharusnya adalah berupaya untuk mengintegrasikan sumber-sumber pendidikan dan memanfaatkannya secara optimal mungkin, sehingga semua sumber tersebut memberikan kontribusi terhadap penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas. Salah satu sumber yang perlu dikelola adalah lingkungan masyarakat atau orang tua murid, termasuk stakeholders. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah: Mengapa Manajemen Pendidikan perlu Menangani Masyarakat (perlu Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat), secara optimal baik orang tua murid, stakeholders, tokoh masyarakat maupun institusi yang ada di lingkungan sekolah. fokus tersebut diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut yaitu: Bagaimanakah Prosedur Pelaksanaan Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat di SMK PGRI 2 Sidoarjo serta Bagaimanakah proses Promosi Sekolah Kepada Masyarakat di SMK PGRI 2 Sidoarjo
Abstract:Number carriage game which is a simple math learning activity that is easy to play and can solve or find the sum of the results provided by the educator. The purpose of this study is to describe the results of cognitive…
development in totaling to group A PAUD KIA-KIRA Sedati Sidoarjo. The data analysis technique uses 3 stages, namely data reduction; data presentation; and conclusions or verification. Then triagulation and validity are carried out. The group studied was Group A (ages 4-5 years) totaling 14 students. Data was collected from the results of observation sheets and field notes.The results showed that the cognitive development of group A PAUD KIA-KIRA in adding up with the numbers carriage game at the stage of development as expected (BSH) but on the indicator symbol of numbers at the stage began to develop (MB). Factors that support the implementation of the number car play activities, namely students who are enthusiastic to play even though there are some who are not familiar with numbers and homeroom teacher support is always helpful while the inhibiting factor is the cognitive ability to read the symbols of student numbers is still lacking, because the media at school is lacking inadequate as well as the lack of creativities educator makes educational props tools (APE).
Abstract:Abstract: Puskesmas as a public health technical service unit (UPT) facilitated by the government. Medical record data at the Sidodadi Health Center is processed manually and has a weakness, which requires a long time to…
find medical record data, because the data is still in the form of print media. The purpose of this study can be to build and design applications that can find out the process of managing patient medical records, to design a medical record information system equipped with facilities to facilitate admins in inputting patient data. This research method is carried out with a qualitative descriptive method approach while the method in system development uses a waterfall model. Based on the results of the following study, the application of this medical record system to conduct examinations on patients based on websites so that it is easier and more accurate. It can be concluded that the medical record system applied based on the Website can manage medical record data faster because the management process is no longer handwritten which results in very long queues so many patients have to wait for medical record examinations
Keywords : e-application; puskesmas; information system.
Abstrak: Puskesmas menjadi layanan kesehatan masyarakat yang difasilitasi oleh pemerintah. permasalahan yang terjadi pada Puskesmas Sidodadi dalam pengolahan ata rekam medis yang dilakukan dengan cara manual, karena data masih berbentuk media cetak. Tujuan penelitian ini dapat membangun dan merancang aplikasi yang dapat mengetahui proses pengelolaan rekam medis pasien, untuk merancang sistem informasi rekam medis yang dilengkapi dengan fasilitas untuk memudahkan admin dalam menginputkan data-data pasien. Metode penelitian ini dilakukan dengan pendekatan metode deskriptif kualitatif sedangkan metode dalam pengembangan sistem menggunakan model waterfall. Berdasarkan hasil penelitian berikut penerapan system rekam medis ini untuk melakukan pemeriksaan pada pasien berbasis website sehingga lebih mudah dan akurat. Dapat disimpulkan system rekam medis yang diterapkan berbasis Website dapat mengelola data rekam medis lebih cepat karena pada proses pengelolaannya tidak lagi ditulis tangan yang mengakibatkan antrian sangat panjang sehingga banyak pasien harus menunggu dalam pemeriksaan rekam medis.
Kata kunci : e-aplikasi; puskesmas; sistem informasi.
Abstract:Abstract: English proficiency from an early age plays a significant role in shaping the competence of the younger generation to face global challenges. At Sanggar Belajar Tembesi Sidomulyo, English learning is not yet optimal…
timal because the teachers lack a for-mal educational background in the field, causing students to have difficulty mastering basic vocabulary, pronunciation, and understanding instructions. This research aims to address this problem by implementing an Activity Based Learning (ABL) approach, which emphasizes active student involvement through direct activities such as games, songs, visual simulations, and pronunciation exercises. This activity was carried out in four sessions on July 22, July 25, July 29, and August 4, 2025. Evaluation results indi-cate notable improvement. Among the five participating students, four students (80%) showed an average 20% increase in basic vocabulary mastery compared to pre-activity levels. Ninety percent demonstrated clearer pronunciation, and all students (100%) re-ported feeling enthusiastic and more motivated to learn. These findings confirm that the Activity Based Learning (ABL) approach is effective in enhancing participation and learning motivation while creating an enjoyable and meaningful learning experience. All students expressed interest in joining similar activities in the future.
Keywords: activity-based learning; early english acquisition; vocabulary development; community service program; learner motivation; pronunciation improvement.
Abstrak: Penguasaan Bahasa Inggris sejak usia dini memiliki peran penting dalam membentuk kompetensi generasi muda untuk menghadapi tantangan global di masa depan. Di Sanggar Belajar Tembesi Sidomulyo, pengajaran Bahasa Inggris belum optimal karena pengajar tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang tersebut, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam penguasaan kosakata dasar, pelafalan, serta pemahaman instruksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi masalah tersebut dengan menerapkan pendekatan. Activity Based Learning (ABL), yang menekankan keterlibatan aktif siswa melalui aktivitas langsung seperti permainan, lagu, dan latihan pelafalan. Kegiatan ini dilaksanakan dalam empat sesi pada tanggal 22 Juli, 25 Juli, 29 Juli, dan 4 Agustus 2025. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan yang signifikan. Dari lima siswa peserta, empat siswa (80%) mengalami peningkatan penguasaan kosakata dasar rata-rata 20% dibandingkan sebelum kegiatan. Sebanyak 90% siswa menunjukkan per-baikan pelafalan, dan seluruh peserta (100%) menyatakan merasa senang serta lebih termotivasi mengikuti pembelajaran.Temuan ini membuktikan bahwa pendekatan Activity Based Learning (ABL) efektif dalam meningkatkan partisipasi dan motivasi belajar, sekaligus menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna. Seluruh siswa juga menyampaikan minat untuk mengikuti kegiatan serupa di masa mendatang.
Kata kunci: activity-based learning; keterlibatan siswa; pembelajaran bahasa inggris; pembelajaran anak usia dini; sanggar belajar sidomulyo.