Abstract:This study aims to develop a technically compliant and economically feasible design for a Restricted Security Area (RSA) perimeter fence surrounding Substation 7, the Chiller facility, and the Ground Water Tank (GWT) at…
Kertajati International Airport. These facilities constitute critical operational infrastructure supporting electricity distribution, terminal cooling systems, and water supply, including fire suppression reserves. Field observations identified the absence of a regulation-compliant perimeter protection system, exposing the utility cluster to unauthorized access and operational risk. The research employed a quantitative descriptive–analytical approach integrating field measurement, engineering design modeling, volume computation, and cost estimation based on the 2024 Majalengka Regional Standard Unit Price. Technical evaluation referred to national aviation security regulations and ICAO Annex 17 principles. A BRC (British Reinforced Concrete) fence system with a total height of 3.20 meters (2.40 m fence body and 0.80 m concertina wire) was proposed. The structural configuration includes reinforced concrete isolated footings, tie beams (sloof), and a bottom plinth beam to ensure lateral stability and anti-climb resistance. The total perimeter length of 313.74 meters ensures complete enclosure of the critical facilities. The estimated total project cost amounts to IDR 509,553,000.00, including VAT. The results demonstrate that the proposed design is structurally reliable, regulation-compliant, and economically justified within a risk mitigation framework. The study contributes a replicable engineering and financial planning model for strengthening airport critical infrastructure protection and enhancing long-term operational resilience.
Abstract:Abstract: This community service activity aims to introduce Optical Line Terminal (OLT) technology as the main device in GPON-based Fiber to the Home (FTTH) access networks to students of SMK Negeri 1 BP Mandoge in order…
to improve their technical understanding regarding fiber optic network management. The main problem faced is the limited knowledge of students regarding optical access network architecture, OLT-ONU communication mechanisms, and service and bandwidth management. The methods used include observation, interviews, direct practice, and question and answer sessions. The practical activities focused on introducing OLT device architecture, basic GPON concepts, logical port configuration, service VLAN management, and network performance monitoring. The results of the activity showed an increase in students' technical understanding of fiber optic network operation and management. This activity supports the improvement of student competencies according to the needs of the telecommunications industry.
Keywords: GPON; network management; OLT; vocational education; fiber optic
Abstrak: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengenalkan teknologi Optical Line Terminal (OLT) sebagai perangkat utama dalam jaringan akses Fiber to the Home (FTTH) berbasis GPON kepada siswa SMK Negeri 1 BP Mandoge guna meningkatkan pemahaman teknis mereka terkait manajemen jaringan serat optik. Permasalahan utama yang dihadapi adalah keterbatasan pengetahuan siswa mengenai arsitektur jaringan akses optik, mekanisme komunikasi OLT–ONU, serta pengelolaan layanan dan bandwidth. Metode yang digunakan meliputi observasi, wawancara, praktik langsung, dan sesi tanya jawab. Kegiatan praktik difokuskan pada pengenalan arsitektur perangkat OLT, konsep dasar GPON, konfigurasi logis port, pengelolaan VLAN layanan, serta monitoring kinerja jaringan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman teknis siswa terhadap pengoperasian dan manajemen jaringan serat optik. Kegiatan ini mendukung peningkatan kompetensi siswa sesuai kebutuhan industri telekomunikasi.
Kata kunci: GPON; manajemen jaringan; OLT; pendidikan vokasi; serat optik
Abstract:The price of agricultural products usually fluctuates cause of seasonal harvesting, bulky, voluminous, and the distance of the production centre to consumers. This activity was conducted to build an initiative of the farmer…
armer association (Gapoktan) to self-governing over sub-terminal agribusiness (STA). Extention and technical assistance were approached to solve their problem. Based on the analysis performed that STA has an important role in solving the weakness in the market. STA is a power to strengthen the Gapoktan in facing market restrictions. The success of the establishment of STA in the production centre depends on the managerial ability of the STA management board. They must push hard to build synergy between production and the market network. After following the extension, member of the farmer association had been increased their knowledge about the requirement of STA establishment and STA management. Technical assistance is delivered separately. Gapoktan Sumber Katon initiated the self-governing STA focussed on horticulture production link with the market. Besides Gapoktan Srikandi established the self-governing STA focussed on rice production. Development activities for pioneering Agribusiness Sub Terminals at Gapoktan in Kab. Pringsewu resulted in the establishment of a self-supporting STA in the centre of farming production.
Keywords: agriculture; farmer group; Gapoktan; self-governing; terminal-market.
Permasalah utama produk pertanian adalah fluktuasi harga yang disebabkan oleh dinamika situasi produksi dan permintaan serta sistem rantai nilai produk dari produsen ke konsumen. Lemahnya akses pasar pertanian berdampak pada ketidakpastian harga di tingkat petani. Kegiatan ini bertujuan membangun kapasitas Gapoktan dalam inisiasi pasar alternatif melalui Sub Terminal Agribisnis (STA). Penyuluhan dan bimbingan teknis digunakan untuk metode pelaksanaan kegiatan pendampingan. Berdasarkan analisis yang dilakukan bahwa STA memiliki peran penting dalam mengatasi kelemahan pasar produk pertanian. STA memperkuat Gapoktan dalam menghadapi keterbatasan akses pasar. Keberhasilan pendirian STA di sentra produksi tergantung pada kemampuan manajerial pengurus STA. Pengurus STA harus bekerja keras mendorong sinergi antara pelaku produksi dan jejaring pasar. Setelah mengikuti penyuluhan, anggota Gapoktan bertambah pengetahuannya tentang syarat-syarat pendirian STA dan pengelolaan STA. Bantuan teknis disampaikan secara terpisah. Gapoktan Sumber Katon memprakarsai STA swakelola yang berfokus pada hubungan produksi hortikultura dengan pasar. Gapoktan Srikandi mendirikan STA swakelola yang fokus pada produksi beras. Kegiatan pembinaan perintisan STA pada Gapoktan di Kab. Pringsewu menghasilkan kelembagaan STA swadaya di daerah sentra produksi sayur mayur. Tumbuh kembang STA swadaya di daerah sentra produksi akan tergantung kepada kesungguhan dan kerja keras unsur pengurus dalam memperjuangkan akses pasar bagi hasil produksi pertanian anggotanya.
Kata kunci: gapoktan; kelembagaan; pemasaran-terpadu; pertanian; sub terminal agribisnis; swadaya
Abstract:Pengelola bandar udara yang ada di Indonesia yaitu PT. Angkasa Pura I (Persero). Bandar Udara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang memiliki beberapa unit yang bertugas untuk memastikan agar bandara dapat beroperasional…
onal dengan baik. Salah satu unit yang ada di bandara tersebut yaitu Terminal Service Officer (TSO). Kendala yang sering terjadi saat unit TSO sedang melakukan pengawasan pada sisi darat (land side) adalah seringnya terjadi penumpukan flow penumpang, berseraknya trolley pada saat penumpang tiba di area keberangkatan dan kedatangan, pengguna layanan yang merokok tidak pada tempatnya, dan fasilitas yang tidak bekerja semestinya di Bandar Udara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang pengambilan data penelitian bersumber dari petugas TSO yang bertugas mengawasi sisi darat (land side) area terminal penumpang. Sumber kedua berasal dari penggalian sumber data memalui wawancara secara semi terstruktur kepada narasumber Supervisor unit Terminal Service Officer dan petugas unit Terminal Service Officer. Selain itu, data dalam penelitian ini dilengkapi dengan data observasi dan dokumentasi berupa pengambilan gambar yang bertujuan sebagai penguat data penelitian. Berdasarkan hasil penelitian maka diketahui pengawasan sisi land side oleh Terminal Service Officer (TSO) Sudah sesuai dengan indikator pengawasan adalah akurat, obyektif, koordinasi kerja, fleksibel dan realistis. Sedangkan untuk indikator tepat waktu dan pengawasan terpusat belum sesuai dengan indikator pengawasan dikarenakan kurangnya personel yang bertugas di lapangan. Dilihat dari jobdesk unit Terminal Service Officer (TSO) yang tertuang pada lembar SOP, unit TSO tidak dapat bergerak atau menyelesaikan permasalahan yang terjadi di lapangan dengan sendirinya, jobdesk unit TSO hanya sebatas memeriksa dan mengawasi, jika terdapat kendala di lapangan yang diluar dari jobdesk unit TSO, solusi yang dilakukan adalah dengan berkoordinasi dengan unit terkait.
Abstract:At this time, the management of the Pulo Gebang Integrated Terminal is only receive complaint reports via text message or by phone. Then the management of the Pulo Gebang Integrated Terminal conducts data collection using…
g paper manually. Thus causing the data to be obtained does not have reports or records that can be accounted for by customers and Pulo Gebang Integrated Terminal. In doing This research uses observation methods, interview methods, terature studies, design methods, and test methods. From the description above, it is designed and an application was made to facilitate the process of bus passenger complaints AKAP on Pulo Gebang Integrated Terminal is web-based, using the application created using system modeling using Unifield Modeling Language (UML), and PHP programming language, MySQL database
Abstract:Currently services at Integrated Terminal Pulo Gebang has no online ticket booking so it requires customers to came directly to the counter. That way there can be loss of booking data, double data. And the report on the…
number of passengers is still done manually, So that the impact that occurs is that the report on the company becomes unbalanced with data in the field. From the description of the problems that occur, it is designed and Built a Ticket Booking and Payment System in the Terminal Web-Based Integrated Pulo Gebang that is expected to solve problems that exists. For system modeling using tools, namely Unfield Modelling Language (UML) to create a Use Case Diagram, Actifity Diagram, Class Diagram. The Ticket Booking and Payment System at the Web-Based Pulo Gebang Integrated Terminal uses PHP and My SQL as its database language.
Abstract:QR code (Quick Response Code) telah berkembang pesat sebagai alat untuk melakukan transaksi pembayaran secara cepat dan efisien di berbagai sektor ekonomi. Dalam konteks pembayaran internasional, QR code menawarkan solusi…
i yang mengurangi hambatan geografis, mempermudah transaksi lintas negara, serta meningkatkan kenyamanan pengguna. Penggunaan QR code memungkinkan konsumen dan bisnis untuk melakukan pembayaran secara langsung melalui perangkat mobile, tanpa memerlukan perangkat keras khusus seperti terminal kartu kredit. Dengan mengintegrasikan teknologi QR code dalam sistem pembayaran global, proses transaksi menjadi lebih murah, cepat, dan aman, serta dapat meminimalisir biaya konversi mata uang dan mengurangi ketergantungan pada kartu kredit atau jaringan pembayaran konvensional. Studi ini mengkaji potensi dan tantangan penggunaan QR code dalam sistem pembayaran internasional, serta dampaknya terhadap inklusi finansial, efisiensi pasar, dan pengurangan biaya transaksi di tingkat global. Selain itu, dibahas juga bagaimana berbagai negara dan lembaga keuangan memanfaatkan teknologi ini untuk mempercepat digitalisasi ekonomi global, dengan menyoroti contoh penggunaan QR code di beberapa negara yang telah mengimplementasikan sistem pembayaran internasional berbasis QR code.