Abstract:The Mamat tradition as a betel nut chewing practice within the Timor Lelogama community faces significant challenges due to the forces of modernization, which have the potential to weaken social cohesion and collective identity.…
dentity. This condition raises critical questions regarding how Mamat functions as an effective cultural instrument to maintain unity, nurture solidarity, and preserve noble intergenerational values. This study aims to analyze the role of the Mamat tradition as a living and dynamic cultural system amid ongoing social transformation. A descriptive qualitative approach was employed through observation, in-depth interviews, and literature review to obtain a comprehensive understanding of the symbolic meanings and social functions embedded in the tradition. The findings reveal that Mamat is not merely a habitual practice of betel nut consumption, but a cultural mechanism that strengthens social integration, serves as a medium for conflict reconciliation, and reinforces kinship relations and social respect. The tradition also functions as a vehicle for transmitting cultural values that shape the collective character of the Timor Lelogama community. The novelty of this research lies in its analysis of Mamat as an integrated cultural system encompassing the dimensions of ideas, activities, and cultural artifacts, thereby enriching perspectives on local cultural studies grounded in social practice. The study concludes that preserving the Mamat tradition constitutes a relevant cultural strategy for strengthening social cohesion and sustaining community identity amid the dynamics of globalization.
Abstract:This study originates from the increasing prevalence of subclinical narcissistic traits among church congregants, manifested in religious practices that appear devout yet are latently oriented toward external validation…
rather than an intimate relationship with God. This phenomenon generates a distortion of spirituality, as religious identity is constructed upon social recognition, thereby hindering spiritual-psychological well-being and displacing the longing for divine love. The research problem focuses on how subclinical narcissism operates as a psycho-spiritual disorder within the context of worship and how faith community engagement moderates this dynamic. Employing an integrative conceptual analysis and critical engagement with the psychology of religion literature, including the typology of grandiose and vulnerable narcissism, this study finds that performance-based community cultures intensify narcissistic tendencies through symbolic competition and religious self-imaging, whereas inclusive and transformational communities function as corrective spaces that reorient the existential framework of congregants. The study concludes that restoration cannot be achieved merely through behavioral modification or the intensification of religious activities, but through a reorientation of worship that restores the True Self in relationship with Christ as the authentic source of self-worth. The novelty of this research lies in its conceptualization of subclinical narcissism as a form of worship disorder and in its emphasis on the role of faith community as a moderating variable within holistic spiritual therapy, thereby offering both theoretical and pastoral contributions to contemporary churches facing the challenges of performative spirituality.
Abstract:Kisah Naaman, seorang perwira Aram yang disembuhkan dari penyakit kusta dalam 2 Raja-Raja 5, memperoleh makna teologis yang lebih mendalam ketika Yesus menyebutnya dalam Lukas 4:27 sebagai satu-satunya yang disembuhkan pada…
ada zaman nabi Elisa. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah hubungan intertekstual antara kedua perikop tersebut melalui pendekatan teologi naratif dan intertekstualitas biblika. Fokus utama diarahkan pada eksplorasi makna teologis dari penyebutan tokoh non-Israel oleh Yesus, sekaligus implikasinya terhadap konsep universalitas anugerah Allah yang melampaui batas etnis, nasional, dan religius. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penyembuhan Naaman bukan sekadar mukjizat fisik, melainkan simbol keterbukaan keselamatan Allah bagi semua bangsa yang bersedia percaya dan taat kepada-Nya. Dengan mengutip kisah Naaman, Yesus menantang eksklusivisme religius yang sering kali membatasi karya Allah hanya pada kelompok tertentu, serta menyatakan inklusivitas misi Kerajaan Allah yang bersifat lintas batas dan transformatif. Narasi ini juga memperlihatkan bahwa karya keselamatan Allah sejak Perjanjian Lama sudah diarahkan pada pemulihan universal, yang mencapai puncaknya dalam pelayanan Yesus Kristus. Dengan demikian, kisah Naaman menegaskan pentingnya gereja masa kini untuk mewujudkan misi yang terbuka, kontekstual, dan inklusif, sebagai respons terhadap kasih karunia Allah yang tidak terbatas oleh kebangsaan, budaya, maupun tradisi keagamaan tertentu.
Abstract:Tulisan ini bertujuan mengkaji kehadiran Allah dalam pengalaman profetik Elia di 1 Raja-raja 19 melalui pendekatan teologis-naratif. Latar belakang penelitian ini muncul dari persoalan krusial: mengapa Elia mengalami keputusasaan…
utusasaan spiritual yang mendalam setelah kemenangan besar di Gunung Karmel, dan bagaimana Allah meresponsnya? Penelitian ini menemukan bahwa kehadiran Allah dinyatakan tidak melalui manifestasi spektakuler seperti api atau gempa, tetapi dalam "suara sepi yang lembut" yang bersifat personal dan pemulih. Kebaruan kajian ini terletak pada penekanan naratif-teologis bahwa kehadiran Allah justru paling nyata dalam keheningan dan kesendirian batin, bukan hanya dalam tindakan-tindakan mujizat. Dengan demikian, penelitian ini menawarkan suatu pemahaman alternatif mengenai cara Allah menyatakan diri dalam konteks penderitaan, trauma, dan krisis iman profetik.
Abstract:Penelitian ini bertujuan mengkaji secara ekspositori perikop 2 Raja-raja 6:8-9 untuk memahami strategi Kristen dalam menghadapi konflik. Permasalahan utama yang diangkat adalah bagaimana umat Kristen dapat menyusun strategi…
egi yang berlandaskan pewahyuan dan hikmat ilahi, bukan hanya pada pertimbangan rasional manusia. Teks ini menampilkan dua pendekatan yang kontras: strategi Raja Aram yang mengandalkan perencanaan manusiawi dan strategi Raja Israel yang bertumpu pada pewahyuan Tuhan melalui nabi Elisa. Penelitian ini menggunakan metode ekspositori dengan analisis teologis-kontekstual, memperhatikan struktur teks, latar belakang historis, dan pesan teologis yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi Kristen lahir dari relasi intim dengan Tuhan, kepekaan terhadap suara-Nya, serta ketaatan dalam melaksanakan kehendak-Nya. Strategi ini bukan sekadar respons taktis, melainkan tindakan yang dipimpin oleh hikmat ilahi untuk menghadapi tantangan rohani maupun praktis. Penelitian ini menegaskan relevansi teks 2 Raja-raja 6:8-9 bagi kepemimpinan dan pelayanan Kristen kontemporer, khususnya dalam merespons konflik internal, membangun visi pelayanan, serta mengintegrasikan pewahyuan ilahi dalam pengambilan keputusan strategis. Kebaruan kajian ini terletak pada pendekatan ekspositori yang memadukan dimensi biblika, teologis, dan praktis dalam merumuskan paradigma strategis Kristen yang transformatif.
Abstract:This research aims to explore the communication for importance of team-based leadership in enhancing cohesion among service departments in the church. By understanding the concept of leadership inspired by the example of…
Jesus Christ, this study examines explore how communication can realize implementation principles such as selfless love, service focused on the interests of others, and obedience to divine will become the primary pillars in guiding, inspiring, and managing team members towards achieving common goals. A literature analysis method is employed to explore the concepts of leadership and team collaboration in the context of church service. The research findings emphasize the importance of effective communication, deep understanding of individuals within the team, and productive collaboration as the main foundation in strengthening cohesion among service departments. By prioritizing clear communication, empathetic understanding of team member’s needs, and building solid working relationships, leaders can create an environment that supports spiritual growth and unity in church service. In conclusion, leaders and team members can synergistically and effectively align their efforts to achieve the church’s vision and mission through leadership practices centered on love, effective communication, and solid team collaboration.
Abstract:Penelitian ini menguraikan peran penting pendeta dalam pertumbuhan gereja secara kualitas dan kuantitas. Gereja-gereja seringkali menghadapi berbagai tantangan, baik internal maupun eksternal, yang memerlukan pemahaman yang…
ang mendalam tentang identitas gereja dan tujuannya. Kesadaran akan masalah-masalah tersebut dan kemampuan menghadapinya adalah faktor kunci dalam mengalami pertumbuhan gereja. Pembinaan dan pemuridan anggota gereja memainkan peran fundamental dalam membangun fondasi yang kokoh untuk pertumbuhan gereja tersebut. Peran pendeta dalam konteks gereja sangatlah penting karena mereka dipanggil dan ditetapkan oleh Allah untuk memimpin dan menggembalakan jemaat. Dengan kata lain, Allah mengangkat gembala untuk menggembalakan gereja (Efesus 4:11). Di era modern, peran pendeta semakin kompleks karena gereja-gereja sering berada di tengah masyarakat yang beragam, terutama di kota-kota besar, dengan perbedaan suku, status sosial, dan latar belakang pendidikan yang beragam. Pendeta harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang peran mereka dalam pertumbuhan gereja. Mereka bertanggung jawab melayani, mengajar, melawat, membina, dan memuridkan anggota gereja agar mereka dapat tumbuh dan berperan aktif dalam pelayanan gereja. Selain itu, pendeta juga mengorganisir pertemuan kelompok distrik, mendelegrasikan tugas melalui kelompok kecil, dan menyelenggarakan ibadah kebangunan rohani untuk membawa jiwa-jiwa baru atau orang-orang yang bertobat kepada Tuhan Yesus agar menjadi anggota gereja-Nya.
Abstract:Penelitian ini mengulas perjalanan dan transformasi kepemimpinan Raja Salomo, yang awalnya dikenal sebagai pemimpin yang paling bijaksana dalam sejarah, namun kemudian menjadi pemimpin yang lalim. Penelitian ini menganalisis…
isis peran teologis dalam narasi Kisah Raja Salomo, dengan fokus pada aspek kebanggaan dan kemakmuran yang berkontribusi pada akar kejatuhan Salomo. Dalam konteks ini, penelitian ini menjelaskan bagaimana kebijaksanaan awal Salomo digantikan oleh kemewahan dan pengaruh negatif kekayaan, sehingga dia terjerumus ke dalam berbagai dosa terhadap rakyatnya dan Tuhannya. Serta semua kesalahan yang dilakukannya berkaitan dengan perubahan paradigma kepemimpinan. Hasil penelitian ini memberikan wawasan tentang pentingnya moralitas dan nilai-nilai spiritual dalam menjaga kualitas kepemimpinan, serta mengilustrasikan bagaimana kejatuhan seorang pemimpin dapat menjadi pelajaran berharga dalam konteks teologis.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mendalami pemahaman roh nubuat di kalangan orang muda Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Dalam konteks masyarakat modern yang dipenuhi…
i dengan perubahan dan tantangan, pemahaman nubuat-nubuat Alkitab memiliki peran yang penting dalam membentuk keyakinan dan praktik keagamaan orang muda. Temuan ini menggambarkan kompleksitas dalam pembentukan pemahaman nubuat dan mengidentifikasi tantangan serta peluang dalam mengajar dan memahami nubuat-nubuat Alkitab. Kesimpulan penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang pentingnya nubuat dalam kehidupan orang muda GMAHK dan menawarkan rekomendasi untuk meningkatkan pendekatan pengajaran dan pendidikan roh nubuat di gereja tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan iman dan keterlibatan orang muda dalam GMAHK.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran penting pendidikan disiplin dalam pembentukan tabiat dan karakter pada anak-anak melalui penggunaan metode kualitatif studi literatur. Dalam upaya untuk mengeksplorasi konsep,…
, teori, dan temuan yang ada dalam literatur terkait, penelitian ini mengidentifikasi trend dan temuan terkini, serta membangun kerangka konseptual yang mendalam tentang hubungan antara pendidikan disiplin, pembentukan karakter, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini memiliki implikasi penting dalam pendidikan anak-anak, baik dalam konteks pendidikan formal maupun informal. Hasil studi literatur ini akan menjadi dasar penting untuk pengembangan pertanyaan penelitian yang lebih spesifik dan pengembangan pendekatan penelitian yang lebih terfokus dalam upaya kami untuk memahami peran pendidikan disiplin dalam membentuk karakter dan tabiat anak-anak. Kesimpulannya, penelitian ini membangun landasan yang kuat untuk penelitian lanjutan dalam upaya untuk mendidik anak-anak menjadi individu yang berdisiplin, bertanggung jawab, dan memiliki karakter yang kuat, sehingga dapat menghadapi tantangan di masa depan dengan lebih baik.