Abstract:Abstract: Regional development in the economic sector focuses on increasing productivity, measured through indicators such as population, income, employment opportunities, and value added from the manufacturing sector. Meanwhile,…
eanwhile, social development emphasizes gradual changes from underdeveloped to more advanced conditions in line with expected goals. The development paradigm should be directed toward a balance between equity, growth, and sustainability. Differences in economic contributions among regions in Indonesia indicate significant inequality. This is influenced by varying regional characteristics that affect economic growth in each area. Therefore, it is necessary to analyze regional economic development by considering 17 sectors of economic activity. This study applies several analytical methods, including economic growth rate (LPE), Theil Entropy Index to measure inequality, and shift-share analysis to examine structural economic changes. Furthermore, the MCDM-TOPSIS method is used to rank economic sectors as a basis for determining development priorities. The results of this analysis are expected to provide insights into leading sectors and those requiring improvement. The sector ranking can serve as input for the government in formulating national development policies, particularly in strengthening inter-sector linkages so that leading sectors can drive the growth of other sectors in a sustainable manner.
Keywords: Ranking, MCDM, TOPSIS
Abstrak: Pengembangan wilayah dalam bidang ekonomi berfokus pada peningkatan produktivitas yang diukur melalui indikator seperti jumlah penduduk, pendapatan, kesempatan kerja, dan nilai tambah sektor industri pengolahan. Sementara itu, pengembangan sosial menekankan perubahan bertahap dari kondisi kurang berkembang menuju maju sesuai harapan. Paradigma pembangunan perlu diarahkan pada keseimbangan antara pemerataan, pertumbuhan, dan keberlanjutan. Perbedaan kontribusi ekonomi antar wilayah di Indonesia menunjukkan adanya ketimpangan yang signifikan. Hal ini dipengaruhi oleh perbedaan karakteristik tiap wilayah yang berdampak pada pertumbuhan ekonominya. Oleh karena itu, diperlukan analisis perkembangan ekonomi wilayah dengan mempertimbangkan 17 sektor lapangan usaha. Penelitian ini menggunakan beberapa metode analisis, yaitu laju pertumbuhan ekonomi (LPE), Indeks Entropi Theil untuk mengukur ketimpangan, serta analisis shift-share untuk melihat pergeseran struktur ekonomi. Selanjutnya, metode MCDM-TOPSIS digunakan untuk melakukan perangkingan sektor lapangan usaha sebagai dasar penentuan prioritas pembangunan. Hasil analisis ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai sektor unggulan dan sektor yang perlu ditingkatkan. Perangkingan sektor tersebut dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan nasional, khususnya dalam memperkuat keterkaitan antar sektor sehingga sektor unggulan dapat mendorong pertumbuhan sektor lainnya secara berkelanjutan.
Kata kunci: Perangkingan, MCDM, TOPSIS
Abstract:Latar belakang penelitian ini berangkat dari kebutuhan akan sistem yang mampu menentukan kelayakan penerima bantuan secara lebih objektif, cepat, dan akurat dibandingkan metode manual yang rawan subjektif. Dari total 2.304…
04 data masyarakat, penelitian ini menetapkan N Sampel (Data Latih) sebanyak 300 data yang dilabeli secara manual oleh peneliti sebagai Ground Truth (kunci jawaban), yang terdiri dari 78 label "Layak" dan 222 label "Tidak Layak". Data ini kemudian melalui tahap pre-processing (Feature Encoding) untuk mengubah atribut kategorikal menjadi numerik, bukan pembobotan skor. Model Random Forest dilatih menggunakan 300 N Sampel ini sebelum digunakan untuk memprediksi sisa 2004 data uji. Hasil klasifikasi model terhadap keseluruhan 2.304 data menunjukkan 395 masyarakat diprediksi "Layak" dan 1.909 masyarakat diprediksi "Tidak Layak". Evaluasi performa model, yang dihitung dari 20% data uji internal (60 data dari 300 N Sampel), menghasilkan Akurasi 88,33%, Presisi 90,91%, Recall 62,50%, dan F1-Score 74,07%. Hasil ini menunjukkan bahwa model memiliki tingkat presisi yang tinggi (efektif menghindari salah sasaran), meskipun dengan trade-off pada recall yang lebih rendah (masih melewatkan beberapa kasus yang layak). Dengan demikian, sistem ini diharapkan dapat membantu pihak Dinas Sosial dalam meningkatkan akurasi, transparansi, dan efisiensi penentuan penerima bantuan di lapangan.
Abstract:Abstract: This study aimed to evaluate the growth response of cocoa (Theobroma cacao L.) seedlings of MCC 02 clone to the application of different types of animal manure and to determine the most effective manure type during…
during the nursery stage. The research was conducted at the Experimental Farm of the Payakumbuh State Agricultural Polytechnic using a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments and six replications, namely no manure (P0), cow manure (P1), chicken manure (P2), and goat manure (P3). Observed parameters included seedling height, stem diameter, leaf length and width, as well as fresh and dry weight of seedlings. The results showed that the application of animal manure had a significant effect on all observed growth parameters. Cow and goat manure treatments resulted in the best response in seedling height, while stem diameter and leaf size showed relatively similar responses across all manure treatments. Goat manure produced the highest fresh and dry weights, indicating greater biomass accumulation. Overall, goat manure was the most effective treatment in enhancing the growth of cocoa seedlings of MCC 02 clone during the nursery stage.
Keywords: Theobroma Cacao, Animal Manure, Seedling Growth, MCC 02
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respon pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.) klon MCC 02 terhadap pemberian beberapa jenis pupuk kandang serta menentukan jenis pupuk kandang yang paling efektif pada fase pembibitan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan, yaitu tanpa pupuk kandang (P0), pupuk kandang sapi (P1), pupuk kandang ayam (P2), dan pupuk kandang kambing (P3). Parameter yang diamati meliputi tinggi bibit, diameter batang, panjang dan lebar daun, serta berat basah dan berat kering bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan yang diamati. Perlakuan pupuk kandang sapi dan kambing memberikan respon terbaik terhadap tinggi bibit, sedangkan diameter batang serta ukuran daun menunjukkan respon yang relatif seragam pada seluruh perlakuan pupuk kandang. Pupuk kandang kambing menghasilkan berat basah dan berat kering tertinggi, yang mengindikasikan peningkatan akumulasi biomassa tanaman. Secara keseluruhan, pupuk kandang kambing merupakan perlakuan yang paling efektif dalam meningkatkan pertumbuhan bibit kakao klon MCC 02 pada fase pembibitan.
Kata Kunci: Kakao, Pupuk Kandang, Pertumbuhan Bibit, MCC 02
Abstract:Abstract: Hospitals are high-risk work environments, involving exposure to biological, chemical, physical, ergonomic, and psychosocial hazards that can impact worker safety. Therefore, the implementation of Occupational…
Safety and Health (OHS) in Human Resources (HR) management is a crucial aspect in preventing occupational risks. This study aims to analyze the implementation of OHS in HR management in hospitals as a preventive strategy against workplace accidents and occupational diseases. The method used was a literature review with a qualitative descriptive approach, through a review of various national scientific articles published between 2022 and 2025, available in PDF format. The study results indicate that effective OHS implementation is influenced by several key factors, including management commitment, HR training and competency, the availability of infrastructure, and a work safety culture within the hospital environment. Furthermore, the integration of OHS into HR management functions such as recruitment, training, performance appraisal, and work supervision has been proven to reduce workplace accidents and increase healthcare worker productivity. However, OHS implementation still faces challenges, such as limited resources, lack of employee awareness, and a suboptimal oversight system.In conclusion, the integrated implementation of OHS within human resource management in hospitals is a strategic step in creating a safe and healthy work environment. Efforts to improve the quality of human resources through OHS training, strengthening internal regulations, and fostering a culture of occupational safety are necessary to minimize occupational risks and improve the overall quality of healthcare services.
Keywords: OHS, Human Resource Management, Hospitals, Occupational Risks, Occupational Safety
Abstrak: Rumah sakit merupakan lingkungan kerja dengan tingkat risiko tinggi yang melibatkan paparan bahaya biologis, kimia, fisik, ergonomi, dan psikososial yang dapat berdampak pada keselamatan tenaga kerja. Oleh karena itu, implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi aspek penting dalam upaya pencegahan risiko kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi K3 dalam manajemen SDM di rumah sakit sebagai strategi preventif terhadap kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan deskriptif kualitatif, melalui penelaahan berbagai artikel ilmiah nasional yang dipublikasikan dalam kurun waktu 2022–2025 dan tersedia dalam format PDF. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan K3 yang efektif dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, antara lain komitmen manajemen, pelatihan dan kompetensi SDM, ketersediaan sarana prasarana, serta budaya keselamatan kerja di lingkungan rumah sakit. Selain itu, integrasi K3 dalam fungsi manajemen SDM seperti rekrutmen, pelatihan, penilaian kinerja, dan pengawasan kerja terbukti mampu menurunkan angka kecelakaan kerja serta meningkatkan produktivitas tenaga kesehatan. Namun demikian, masih terdapat kendala dalam implementasi K3, seperti keterbatasan sumber daya, kurangnya kesadaran tenaga kerja, dan belum optimalnya sistem pengawasan.
Kesimpulannya, implementasi K3 yang terintegrasi dalam manajemen SDM di rumah sakit merupakan langkah strategis dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Upaya peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan K3, penguatan regulasi internal, serta peningkatan budaya keselamatan kerja perlu terus dilakukan guna meminimalkan risiko kerja dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Kata kunci: K3, Manajemen SDM, Rumah Sakit, Risiko Kerja, Keselamatan Kerja
Abstract:Abstract: This study aims to segment K Drama viewers based on genre preferences and viewing duration in order to obtain a deeper understanding of audience behavior characteristics. Audience segmentation is essential as a…
foundation for formulating more targeted content development and marketing strategies. This research employs the K Means method as a clustering technique in data analysis by utilizing viewer data classified according to favorite genres and viewing duration. The clustering process was conducted through several stages, including the determination of the optimal number of clusters and the analysis of the resulting cluster centroids. The results indicate that K Drama viewers can be grouped into several segments with distinct characteristics in terms of genre preferences and viewing intensity. Each cluster represents a specific viewing behavior pattern and demonstrates significant variations in preferences across segments. The conclusion of this study shows that the application of the K Means method is effective in providing a systematic and objective segmentation of K Drama viewers. Therefore, the findings of this research can be utilized as a reference for decision making in content development and marketing strategies within the entertainment industry.
Keywords: K Drama; audience segmentation; genre preference; viewing duration; K Means
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan segmentasi penonton K Drama berdasarkan preferensi genre dan durasi menonton guna memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai karakteristik perilaku audiens. Segmentasi penonton diperlukan sebagai dasar dalam perumusan strategi konten dan pemasaran yang lebih tepat sasaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode K Means sebagai salah satu teknik clustering pada analisis data, dengan memanfaatkan data penonton yang diklasifikasikan berdasarkan genre favorit dan durasi menonton. Proses pengelompokan dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari penentuan jumlah klaster hingga analisis pusat klaster yang terbentuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penonton K Drama dapat dikelompokkan ke dalam beberapa segmen yang memiliki karakteristik berbeda, baik dari sisi kecenderungan genre yang diminati maupun intensitas durasi menonton. Setiap klaster merepresentasikan pola perilaku penonton yang spesifik dan menunjukkan adanya variasi preferensi yang signifikan antarsegmen. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode K Means mampu memberikan gambaran segmentasi penonton K Drama secara sistematis dan objektif, sehingga hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengembangan konten dan strategi pemasaran industri hiburan.
Kata kunci: K Drama; segmentasi penonton; genre favorit; durasi menonton; K Means
Abstract:Abstract: This study aims to analyze the zakat management system in Morocco by comparing it with institutional zakat models in other Muslim countries such as Indonesia and Malaysia. The research uses a literature review…
method by examining various secondary sources including national and international scientific journals indexed in SINTA, Scopus, and Web of Science, as well as theses and dissertations from university repositories. The study focuses on institutional aspects, collection mechanisms, and zakat distribution along with their implications for poverty alleviation effectiveness. The results show that zakat practices in Morocco are still voluntary and not supported by a centralized institutional system, in contrast to countries such as Indonesia and Malaysia which have established official institutions and more structured management systems. This condition creates challenges in terms of transparency, accountability, and optimization of zakat distribution, thereby limiting its effectiveness in reducing poverty. In contrast, countries with centralized systems tend to have more efficient, coordinated, and measurable management. Therefore, this study recommends the establishment of a national zakat institution in Morocco that can integrate the collection and distribution processes in a professional, transparent, and accountable manner to enhance the role of zakat in social and economic development.
Keywords: Zakat Morocco, Zakat Institution, Transparency, Accountability, Poverty Alleviation
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pengelolaan zakat di Maroko dengan membandingkannya dengan model kelembagaan zakat di beberapa negara Muslim lain seperti Indonesia dan Malaysia. Penelitian menggunakan metode tinjauan pustaka atau literature review dengan mengkaji berbagai sumber sekunder berupa jurnal ilmiah nasional dan internasional yang terindeks SINTA, Scopus, dan Web of Science, serta tesis dan disertasi dari repositori universitas. Fokus kajian terletak pada aspek kelembagaan, mekanisme pengumpulan, serta distribusi zakat dan implikasinya terhadap efektivitas pengentasan kemiskinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik zakat di Maroko masih bersifat sukarela dan belum didukung oleh sistem kelembagaan yang terpusat, berbeda dengan negara seperti Indonesia dan Malaysia yang telah memiliki lembaga resmi dan sistem pengelolaan yang lebih terstruktur. Kondisi ini menyebabkan tantangan dalam hal transparansi, akuntabilitas, dan optimalisasi distribusi zakat, sehingga efektivitasnya dalam mengurangi kemiskinan belum maksimal. Sebaliknya, negara dengan sistem terpusat cenderung memiliki pengelolaan yang lebih efisien, terkoordinasi, dan terukur. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan pembentukan lembaga zakat nasional di Maroko yang mampu mengintegrasikan proses pengumpulan dan distribusi zakat secara profesional, transparan, dan akuntabel guna meningkatkan peran zakat dalam pembangunan sosial dan ekonomi.
Kata Kunci: Zakat Maroko, Kelembagaan Zakat, Transparansi, Akuntabilitas, Pengentasan Kemiskinan
Abstract:Abstract: This study aims to analyze the role of the Free Nutritious Meal Program in supporting national food security in Indonesia, which encompasses not only food availability but also access, nutritional quality, and…
the stability of community consumption. The research employs a descriptive qualitative approach using the Analytic Network Process (ANP) method to identify key factors and determine strategic priorities in program implementation. Data were collected through interviews and questionnaires based on expert judgment, as well as documentation studies from various official sources. The results indicate that the program significantly contributes to improving access to nutritious food, particularly for vulnerable groups, strengthening local food supply chains through increased demand for domestic agricultural products, and promoting the empowerment of farmers and small and medium enterprises. In addition, the program plays an important role in maintaining food consumption stability, reducing the risk of food insecurity, and enhancing community welfare. However, its successful implementation is influenced by several key factors, including government policy consistency, budget availability, the quality of human resources, and the effectiveness of distribution and monitoring systems. Therefore, strong synergy among stakeholders is essential to ensure the sustainability and optimization of the program in supporting national food security in a sustainable manner.
Keywords: Programme MBG, Food Security, Analytic Network Process, Food Supply Chain, MSME Empowerment
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Program Makan Bergizi Gratis dalam mendukung ketahanan pangan nasional di Indonesia, yang tidak hanya mencakup aspek ketersediaan pangan tetapi juga akses, kualitas gizi, dan stabilitas konsumsi masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Analytic Network Process (ANP) untuk mengidentifikasi faktor kunci serta menentukan prioritas strategi dalam implementasi program. Data diperoleh melalui wawancara dan kuesioner berbasis expert judgement serta studi dokumentasi dari berbagai sumber resmi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program ini berkontribusi signifikan dalam meningkatkan akses terhadap pangan bergizi, khususnya bagi kelompok rentan, memperkuat rantai pasok pangan lokal melalui peningkatan permintaan produk domestik, serta mendorong pemberdayaan petani dan pelaku UMKM. Selain itu, program ini juga berperan dalam menjaga stabilitas konsumsi pangan, mengurangi risiko kerawanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, keberhasilan implementasinya dipengaruhi oleh beberapa faktor utama seperti kebijakan pemerintah, ketersediaan anggaran, kualitas sumber daya manusia, serta efektivitas sistem distribusi dan pengawasan, sehingga diperlukan sinergi yang kuat antar pemangku kepentingan untuk memastikan keberlanjutan dan optimalisasi program dalam mendukung ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
Kata Kunci: Program MBG, Ketahanan Pangan, Analytic Network Process, Rantai Pasok Pangan, Pemberdayaan UMKM
Abstract:Abstract: The global energy transition has driven increased use of biomass as a renewable energy source, particularly in the form of wood pellets traded across countries. Indonesia, with its vast tropical forest resources,…
s, is positioned as one of the world’s major biomass suppliers. However, several policy paradoxes emerge. The rise in biomass exports occurs alongside the continued dominance of coal in the national energy mix, ongoing forest degradation, and increasing vulnerability to ecological disasters such as floods, as seen in Aceh and other regions of Sumatra. This article aims to analyze the paradox of biomass exports in Indonesia by linking the dynamics of renewable energy trade, forest sector sustainability, coal dominance, and their implications for carbon emissions and hydrometeorological disaster risks. The study uses a qualitative approach through literature review and policy analysis of the energy and forestry sectors. The findings indicate that without strict biomass governance and integrated energy–environment policies, biomass exports risk creating an illusion of a global energy transition. Importing countries benefit from statistical emission reductions, while Indonesia bears the ecological burden in the form of deforestation, watershed degradation, and increased flood risk. This study emphasizes that biomass cannot be viewed as a single climate solution and is expected to contribute academically and inform policy strategies for energy transition.
Keywords: Biomassa, Coal, Deforestation, Flooding, Carbon Emissions, Energy Transition.
Abstrak: Transisi energi global mendorong peningkatan pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi terbarukan, khususnya dalam bentuk pelet kayu yang diperdagangkan lintas negara. Indonesia, dengan kekayaan sumber daya hutan tropis, diposisikan sebagai salah satu pemasok utama biomassa dunia. Namun, ada beberapa paradoks kebijakan. Peningkatan ekspor biomassa berlangsung bersamaan dengan bertahannya dominasi batubara dalam bauran energi nasional, degradasi hutan, serta meningkatnya kerentanan wilayah terhadap bencana ekologis seperti banjir, sebagaimana tercermin dalam kasus banjir di Aceh dan wilayah Sumatera lainnya. Artikel ini bertujuan menganalisis paradoks ekspor biomassa di Indonesia dengan mengaitkan dinamika perdagangan energi terbarukan, keberlanjutan sektor kehutanan, dominasi batubara, dan implikasinya terhadap emisi karbon serta risiko bencana hidrometeorologi . Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur dan analisis kebijakan terhadap sektor energi dan kehutanan. Hasil kajian menunjukkan bahwa tanpa tata kelola biomassa yang ketat dan integrasi kebijakan energi lingkungan, ekspor biomassa berpotensi menciptakan ilusi transisi energi global. Negara pengimpor memperoleh manfaat statistik pengurangan emisi, sementara Indonesia menanggung beban ekologis berupa deforestasi, kerusakan daerah aliran sungai, dan meningkatnya risiko banjir. Studi ini menegaskan bahwa biomassa tidak dapat dipandang sebagai solusi iklim tunggal dan diharapkan dapat menjadi kontribusi akademik dan rujukan kebijakan dalam merumuskan strategi transisi energi.
Kata Kunci: Biomassa, Batubara, Deforestasi, Banjir, Emisi Karbon, Transisi Energi.
Abstract:Abstract: This study aims to provide a comprehensive analysis of the zakat management system in Egypt, focusing on its institutional structure as well as the mechanisms of zakat collection and distribution as an important…
t instrument in Islamic social finance to support social welfare and reduce economic inequality. The research uses a literature study method with a Systematic Literature Review approach, drawing data from scientific journals, academic books, and official documents to ensure a comprehensive and reliable analysis. The results show that zakat in Egypt is voluntary and not mandated by the state, yet its management remains relatively well-organized through formal institutions such as Islamic banks, charitable organizations, and community-based social institutions, creating a balance between accountability and flexibility in its distribution. The potential of zakat in Egypt is quite significant, reaching approximately one percent of the gross domestic product, indicating its strategic role in supporting socio-economic development; however, its utilization has not been fully optimized, particularly in reducing poverty and addressing income inequality. This limitation is influenced by several factors, including weak coordination among institutions, differences in governance standards, and limited integration with national development policies, thus highlighting the need for stronger coordination, improved regulatory frameworks, and enhanced policy support to ensure that zakat can function more effectively and sustainably in promoting socio-economic development in Egypt.
Keywords: Zakat, Zakat Management, Egypt, Social Welfare, Poverty, Institutional System.
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memberikan analisis komprehensif mengenai sistem manajemen zakat di Mesir dengan fokus pada struktur kelembagaan serta mekanisme pengumpulan dan distribusi zakat sebagai instrumen penting dalam keuangan sosial Islam untuk mendukung kesejahteraan masyarakat dan mengurangi ketimpangan ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan Systematic Literature Review dengan sumber data yang berasal dari jurnal ilmiah, buku akademik, dan dokumen resmi guna memastikan analisis yang komprehensif dan dapat dipercaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zakat di Mesir bersifat sukarela dan tidak diwajibkan oleh negara, namun pengelolaannya tetap terorganisasi dengan baik melalui lembaga formal seperti bank Islam, organisasi filantropi, dan lembaga sosial berbasis masyarakat sehingga menciptakan keseimbangan antara akuntabilitas dan fleksibilitas dalam penyalurannya. Potensi zakat di Mesir tergolong besar dengan capaian sekitar satu persen dari produk domestik bruto, yang menunjukkan peran strategisnya dalam mendukung pembangunan sosial ekonomi; namun demikian, pemanfaatannya belum sepenuhnya optimal, terutama dalam mengurangi kemiskinan dan mengatasi ketimpangan pendapatan. Keterbatasan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti lemahnya koordinasi antar lembaga, perbedaan standar tata kelola, serta rendahnya integrasi dengan kebijakan pembangunan nasional, sehingga diperlukan peningkatan koordinasi, penguatan kerangka regulasi, dan dukungan kebijakan yang lebih optimal agar zakat dapat berfungsi secara lebih efektif dan berkelanjutan dalam mendorong pembangunan sosial ekonomi di Mesir.
Kata Kunci: Manajemen Zakat, Kesejahteraan Sosial, Kemiskinan, Sistem Institutional,
Zakat
Abstract:Abstract: This type of research is a Descriptive Research Type, with a qualitative approach. The purpose of this research is to obtain a clear picture of the use of the Electronic Service Script System (SINDE) application…
n in the Region XVI Higher Education Service Institution by using a focus such as Understanding, Infrastructure and Leadership Support. Based on the results of the research reviewed from the understanding, in this case the level of understanding of some employees is still diverse in understanding the use of the Electronic Service Manuscript System (SINDE) application at the Region XVI Higher Education Service Institution. Some employees do not understand and still need help from colleagues who know better, even some of them learn on their own without the help of others. This condition shows that official training support from agencies is still lacking. As a result, the user's understanding depends on their individual personal initiative, which will obviously affect the level of effectiveness and consistency in the use of the application in the work environment. In terms of infrastructure, there are still several technical obstacles, such as errors during login, dependence on internet connections, and server interruptions. This indicates that the system is not yet fully stable, so it needs to be improved in terms of its stability and reliability. Then in terms of leadership support for the use of the Electronic Service Manuscript System application, it is very positive and strategic in encouraging digital transformation in the field of newspaper administration. However, in practice, there is still a parallel use between digital systems and manual processes, which indicates that support from leaders needs to be accompanied by strengthening a digital work culture and continuous training for employees. Through this research, it is hoped that effective solutions can be found to increase the use of the Electronic Service Script System Application (SINDE) at the Region XVI Higher Education Service Institution, as well as providing recommendations for the development of a better management information system in the future.
Keywords: Utilization, Electronic Service Manuscript System, LLDIKTI.
Abstrak: Jenis penelitian ini adalah Penelitian Deskriptif, dengan pendekatan kualitatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang penggunaan aplikasi Sistem Layanan Elektronik (SINDE) di Institusi Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XVI dengan menggunakan fokus seperti Pemahaman, Infrastruktur, dan Dukungan Kepemimpinan. Berdasarkan hasil penelitian yang ditinjau dari pemahaman, dalam hal ini tingkat pemahaman sebagian karyawan masih beragam dalam memahami penggunaan aplikasi Sistem Manuskrip Layanan Elektronik (SINDE) di Lembaga Pelayanan Pendidikan Tinggi Wilayah XVI. Sebagian karyawan belum memahami dan masih membutuhkan bantuan dari rekan yang lebih berpengalaman, bahkan sebagian belajar sendiri tanpa bantuan orang lain. Kondisi ini menunjukkan bahwa dukungan pelatihan resmi dari instansi masih kurang. Akibatnya, pemahaman pengguna bergantung pada inisiatif pribadi masing-masing, yang tentunya akan memengaruhi tingkat efektivitas dan konsistensi penggunaan aplikasi di lingkungan kerja. Dari segi infrastruktur, masih terdapat beberapa kendala teknis, seperti kesalahan saat login, ketergantungan pada koneksi internet, dan gangguan server. Hal ini menunjukkan bahwa sistem belum sepenuhnya stabil, sehingga perlu ditingkatkan dari segi stabilitas dan keandalannya. Kemudian dari segi dukungan kepemimpinan untuk penggunaan aplikasi Sistem Manuskrip Layanan Elektronik, sangat positif dan strategis dalam mendorong transformasi digital di bidang administrasi surat kabar. Namun, dalam praktiknya, masih terdapat penggunaan paralel antara sistem digital dan proses manual, yang menunjukkan bahwa dukungan dari para pemimpin perlu disertai dengan penguatan budaya kerja digital dan pelatihan berkelanjutan bagi karyawan. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat ditemukan solusi efektif untuk meningkatkan penggunaan Aplikasi Sistem Skrip Layanan Elektronik (SINDE) di Lembaga Pelayanan Perguruan Tinggi Wilayah XVI, serta memberikan rekomendasi untuk pengembangan sistem informasi manajemen yang lebih baik. di masa depan.
Kata kunci: Pemanfaatan, Sistem Manuskrip Layanan Elektronik, LLDIKTI.