Search Articles & Publications

Showing 274 articles found for "Ruang"

ANALISIS IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DALAM PEMBELAJARAN DI SKOLAH DASAR: STUDI LITERATUR

Anggun Zayutri, Chintya Purba, Julia Tarigan, Yusfa Marpaung
Abstract: Dunia pendidikan saat ini, khususnya di abad ke-21 , membutuhkan cara belajar yang peka terhadap kemajuan ilmu pengetahuan , teknologi, dan berbagai kondisi dunia. Selain itu , cara belajar ini harus bisa mengembangkan kemampuan… emampuan berpikir kritis, kreatif , berkolaborasi , dan mudah menyesuaikan diri pada diri siswa . Di Indonesia, situasi ini semakin rumit karena kurikulum yang sering berganti dan pengaruh pandemi COVID-19 yang menciptakan ketidakmerataan dalam kesempatan belajar serta penurunan kualitas pengajaran. Untuk menjawab permasalahan tersebut , pemerintah memperkenalkan Kurikulum Merdeka yang menekankan pentingnya pemikiran mendalam , pembelajaran yang berpusat pada siswa, pembelajaran yang disesuaikan , serta pembentukan karakter berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Penelitian ini didedikasikan untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka pada jenjang sekolah dasar melalui wawasan literatur . Kajian ini akan membedah cara penerapannya , faktor -faktor penentu keberhasilan, serta kendala-kendala yang mungkin dihadapi dalam pelaksanaan pendidikan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka membawa dampak yang baik, termasuk kemajuan yang lebih pesat dalam pembelajaran , pemanfaatan cara yang lebih sesuai dengan keadaan , serta peningkatan keterlibatan dan semangat belajar siswa. Guru pun mendapatkan ruang lebih luas untuk berkreasi dalam merencanakan kegiatan belajar mengajar. Namun demikian, penerapan kurikulum ini masih terkendala oleh beberapa hal , seperti pemahaman guru yang belum menyeluruh , tantangan dalam melakukan asesmen awal dan pembelajaran yang beragam , serta keterbatasan sarana dan prasarana di beberapa sekolah. Keberhasilan Kurikulum Merdeka sangat bergantung pada kemampuan guru, dukungan dari pimpinan sekolah, dan ketersediaan sumber daya yang cukup . Maka dari itu, perlu adanya kerja sama yang baik antara pemerintah, pihak sekolah, dan para guru untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, memperkokoh dukungan fasilitas, serta menjamin adanya kebijakan yang berkesinambungan agar implementasi Kurikulum Merdeka bisa berjalan maksimal dan merata.

INTEGRASI NILAI-NILAI PANCASILA DALAM KURIKULUM MERDEKA DAN PENGUATAN ETIKA SOSIAL

Nelci Halla, Chirtovorus Ardoardus Roberto Tukan, Rosalia Knira Puka, Candra Abidin RM
Abstract: Degradasi moral dan etika sosial di kalangan peserta didik menjadi tantangan signifikan dalam pendidikan nasional saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam efektivitas integrasi nilai-nilai Pancasila… ila dalam Kurikulum Merdeka dalam upaya penguatan etika sosial siswa. Kurikulum Merdeka, dengan pendekatannya yang fleksibel dan berpusat pada peserta didik, menawarkan ruang yang lebih luas untuk penggabungan karakter dan kompetensi dasar. Integrasi ini diharapkan dapat menjadi benteng moral bagi siswa, memungkinkan mereka menyaring pengaruh budaya luar tanpa kehilangan identitas kebangsaan, serta menumbuhkan sikap toleransi dan gotong royong. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen, artikel ilmiah, buku, dan sumber teoretis relevan yang mencakup konsep Kurikulum Merdeka, nilai-nilai Pancasila, dan penguatan etika sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka menyediakan kerangka kerja yang kondusif untuk mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila secara holistik ke dalam berbagai mata pelajaran dan kegiatan kokurikuler, seperti melalui proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Nilai-nilai seperti keadilan sosial, penghargaan terhadap keragaman, dan musyawarah telah diintegrasikan ke dalam rencana pembelajaran dan bahan ajar. Namun, efektivitas penerapan nilai-nilai tersebut dalam kegiatan pembelajaran masih memerlukan penyesuaian dan kolaborasi yang lebih erat antara guru, orang tua, dan komunitas. Kesimpulannya, integrasi nilai-nilai Pancasila dalam Kurikulum Merdeka memiliki potensi besar untuk membentuk karakter dan kepemimpinan generasi muda yang berlandaskan moral dan etika sosial yang kuat. Paradigma pendidikan ini tidak hanya berfokus pada pencapaian akademis, tetapi juga pada pengembangan karakter yang relevan dengan kebutuhan zaman.

INTEGRASI SPIRITUALITAS HENDRICUS LEVEN DAN DIMENSI SPIRITUALITAS KEHIDUPAN

Lucius Adrianus Mada Kewuren, Magdalena Tulin Jawan
Abstract: Penelitian ini mengeksplorasi integrasi spiritualitas Hendricus Leven ke dalam dimensi-dimensi kehidupan modern sebagai upaya mengatasi krisis makna dan dikotomi eksistensial di abad ke-21. Di tengah disrupsi teknologi dan… an materialisme yang memicu kekosongan batin poverty of spirit, pemikiran Leven menawarkan paradigma spiritualitas yang inklusif dan holistik. Masalah utama yang diangkat adalah adanya pemisahan tajam antara ritus keagamaan dengan perilaku sosial dan praktis dalam masyarakat kontemporer. Tujuan penelitian ini adalah untuk merekonstruksi konstruksi pemikiran Leven serta menganalisis integrasinya dalam dimensi intrapersonal, interpersonal, ekologis, dan transedental guna menciptakan keseimbangan hidup. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi literatur library research. Analisis dilakukan melalui teknik analisis konten terhadap karya-karya mengenai Hendricus Leven serta sintesis teoritis dengan literatur spiritualitas kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas Leven merupakan sebuah “cara berada” way of being yang menjembatani jurang antara hal sakral dan profan. Secara intrapersonal, Leven menekankan pentingnya keheningan produktif untuk integritas diri. Dalam dimensi interpersonal, ia mewujudkan solidaritas dan belaras sebagai bentuk ibadah nyata. Pada dimensi ekologis, pemikirannya memandang alam sebagai ruang sakral yang haris dijaga, sementara secara transedental, ia menekankan kehadiran Tuhan dalam tugas keseharian yang sederhana. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi spiritualitas Leven memberikan peta jalan bagi manusia modern untuk mencapai keutuhan eksistensial. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya transformasi gaya hidup yang lebih sadar dan bertanggung jawab, di mana pelayanan kepada sesama dan alam menjadi manifestasi iman yang hidup. Nilai-nilai ini direkomendasikan untuk diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan karakter demi terciptanya masyarakat yang labih humanis dan spiritual.

SPIRITUALITAS KEHIDUPAN MENEMUKAN KETENANGAN DAN MAKNA HIDUP SEJATI

Christian Bala Leba, Yosep Freinandemetz Ayub, Sebastianus Jefriyanto Sedo Senjaya
Abstract: Spiritualitas kehidupan merupakan kebutuhan mendasar yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan manusia dalam menemukan ketenangan dan makna hidup sejati. Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat, penuh tekanan,… nan, dan dipenuhi tuntutan yang semakin kompleks, manusia sering kali terjebak dalam rutinitas tanpa sempat memahami dirinya secara mendalam. Kondisi ini menyebabkan banyak individu merasa hampa, kehilangan arah, dan tidak mampu menemukan kebahagiaan yang hakiki meskipun telah meraih kesuksesan secara materi. Spiritualitas hadir sebagai aspek yang memberikan ruang bagi manusia untuk kembali pada kesadaran terdalamnya, membangun hubungan dengan Tuhan, alam, sesama, dan dirinya sendiri. Melalui spiritualitas, individu dapat memahami bahwa hidup bukan sekadar proses mengejar target duniawi, tetapi juga perjalanan batin untuk mencapai kedamaian dan pemaknaan hidup yang lebih luhur. Dengan menumbuhkan spiritualitas, seseorang dapat menjalani hidup dengan penuh kesadaran, keikhlasan, dan pemahaman mendalam tentang tujuan keberadaannya. Spiritualitas menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan nilai-nilai universal yang membawa pada ketenangan dan kebahagiaan hakiki. Artikel ini diharapkan dapat memberikan wawasan komprehensif tentang pentingnya spiritualitas dalam kehidupan modern dan bagaimana spiritualitas dapat diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber kekuatan batin dan pedoman hidup.

DIALOG ANTAR SPIRITUALITAS HENDRIKUS LEVEN DAN SPIRITUALITAS KEHIDUPAN PRAKTEK TEOLOGIS

Mauritius Bei Gening, Benediktus Ben
Abstract: Artikel ini mengeksplorasi perjalanan dan wacana spiritual tokoh Hendrikus Leven dalam bingkai kehidupan sehari-hari serta makna teologis dari praktik spiritualitasnya. Pendekatan dilakukan melalui dialog konseptual antara… ra penghayatan iman, praktik teologis, dan realitas hidup muda-masyarakat misi yang dilaluinya. Hasil kajian menunjukkan bahwa spiritualitas Leven tidak hanya dimaknai sebagai hubungan vertikal manusia-Tuhan, tetapi juga sebagai hubungan horizontal: manusia-sesama dan manusia-lingkungan. Praktik teologisnya tekanan pelayanan, inkulturasi, dialog antar budaya, dan komitmen terhadap kaum marjinal sebagai wujud iman yang konkret. Dengan demikian, spiritualitas kehidupan dalam kerangka Leven muncul sebagai sintesis antara iman yang murni dan tindakan nyata di ruang sosial. Artikel ini menyatakan bahwa dialog spiritual-praktik teologis menjadi kunci untuk memahami bagaimana spiritualitas dapat diterapkan dalam konteks konkret kehidupan sehari-hari dan misi gerejawi. Akhirnya, artikel ini merekomendasikan agar pengembangan spiritualitas kontemporer memperhatikan kesinambungan antara doktrin, kultur lokal, dan tindakan sosial sebagai satu kesatuan yang utuh.

SPRITUALITAS KEHIDUPAN MERUPAKAN PERJALANAN DARI KARYA HENDRIKUS LEVEN

Hermanus Hamu Tukan, Sholahudin Alahyudi Hasan, Marianus Septian
Abstract: Spiritualitas merupakan aspek mendasar yang membentuk cara manusia memaknai hidup, menjalani relasi dengan Tuhan, memahami diri sendiri, dan berinteraksi dengan sesama. Dalam berbagai tradisi, spiritualitas selalu menjadi… i sumber kekuatan, pemaknaan, dan inspirasi yang tidak hanya hadir dalam ruang-ruang religius, tetapi mewarnai seluruh dinamika kehidupan manusia. Spiritualitas bukanlah sekadar konsep teoretis, melainkan suatu proses yang hidup, aktif, dan terus berkembang sesuai dengan pengalaman individu. Setiap manusia menjalani perjalanan spiritual yang unik, dan perjalanan itu hanya dapat dipahami melalui refleksi mendalam terhadap pengalaman hidup sehari-hari. Kehidupan manusia pada dasarnya merupakan perjalanan panjang yang memuat berbagai dinamika: kesuksesan dan kegagalan, sukacita dan duka, keteguhan dan keraguan, pertumbuhan dan kejatuhan. Dalam dinamika tersebut, spiritualitas hadir sebagai dasar nilai yang menuntun seseorang untuk bertanya, memahami, dan menghayati makna terdalam dari setiap pengalaman hidup. Spiritualitas kehidupan bukanlah sesuatu yang bersifat statis, tetapi berkembang dalam proses yang panjang seiring dengan pertumbuhan kesadaran manusia terhadap tujuan hidupnya. Melalui setiap pengalaman, manusia menemukan petunjuk baru, hikmah baru, dan pemahaman baru yang membawa dirinya menuju kedewasaan spiritual yang semakin utuh. Dalam konteks spiritualitas kehidupan, karya dan keteladanan seorang tokoh seperti Hendrikus Leven menjadi sangat penting untuk dikaji karena hidupnya mencerminkan perjalanan spiritual yang kaya, mendalam, dan inspiratif. Hendrikus Leven bukan hanya dikenal sebagai pribadi yang tekun dalam karya pelayanan, tetapi juga sebagai sosok yang menjadikan setiap langkah hidupnya sebagai ungkapan konkret dari spiritualitas yang matang. Karya-karyanya bukan sekadar kegiatan atau tugas formal, tetapi merupakan bentuk nyata dari penghayatan spiritualitas: pelayanan yang tulus, cinta kasih yang diwujudkan tanpa syarat, kerendahan hati yang mempengaruhi cara ia berelasi, serta kesederhanaan hidup yang menjadi cerminan kedalaman batinnya. Karena itu, perjalanan hidup Hendrikus Leven merupakan contoh nyata bagaimana spiritualitas dapat menjadi kekuatan utama yang membentuk karakter, sikap, pilihan hidup, serta komitmen dalam pelayanan. Kajian ini bertujuan untuk menggambarkan, menjelaskan, dan menganalisis spiritualitas kehidupan sebagai sebuah perjalanan, dengan merujuk khusus pada karya dan pengabdian Hendrikus Leven. Melalui pendekatan deskriptif-analitis, tulisan ini menguraikan konsep dasar spiritualitas, makna kehidupan, dinamika perjalanan spiritual, dan relevansinya dalam kehidupan manusia modern. Selanjutnya, kajian ini menelusuri bagaimana nilai-nilai spiritualitas seperti cinta kasih, kesederhanaan, kerendahan hati, syukur, pengampunan, keteguhan, dan harapan tercermin secara nyata dalam setiap aspek karya Hendrikus Leven. Dengan demikian, abstrak ini menegaskan bahwa spiritualitas kehidupan bukanlah satu peristiwa yang terjadi sesekali, melainkan rangkaian perjalanan panjang yang terus berkembang melalui segala pengalaman hidup, sebagaimana tampak jelas dalam perjalanan Hendrikus Leven. Melalui penelitian dan refleksi ini, ditemukan bahwa spiritualitas kehidupan hanya dapat dipahami secara mendalam ketika manusia menjalaninya sebagai sebuah proses yang menyentuh seluruh aspek hidup: pikiran, perasaan, perilaku, relasi, dan karya. Spiritualitas bukan hanya soal ritual, tetapi tentang cara manusia memberi makna pada setiap langkah hidupnya. Hendrikus Leven menjadi gambaran nyata bahwa spiritualitas yang sejati selalu mengalir ke dalam tindakan nyata: pelayanan kepada sesama, komitmen pada kebaikan, kesediaan berkorban, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, serta ketekunan dalam menjalani panggilan hidup. Lewat karya-karyanya, ia memperlihatkan bahwa spiritualitas kehidupan merupakan perjalanan yang tidak hanya memperkaya batin pribadi, tetapi juga membawa perubahan nyata bagi masyarakat dan lingkungan tempat ia berkarya. Kajian ini menegaskan bahwa spiritualitas kehidupan tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang manusia di dunia. Setiap pengalaman hidup mengajarkan sesuatu yang membentuk kedalaman batin. Setiap perjuangan menguatkan karakter. Setiap pelayanan membuka ruang baru bagi pertumbuhan iman. Dalam perspektif ini, spiritualitas kehidupan merupakan perjalanan menuju kedewasaan manusia secara menyeluruh: kedewasaan iman, kedewasaan moral, kedewasaan emosional, dan kedewasaan sosial. Melalui perjalanan tersebut, manusia semakin memahami bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian materi atau status, melainkan tentang bagaimana ia dapat menjadi pribadi yang bermakna bagi sesama. Karya Hendrikus Leven menjadi inspirasi bahwa perjalanan spiritualitas adalah perjalanan untuk mencintai, mengampuni, melayani, dan terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan demikian, abstrak ini menegaskan bahwa spiritualitas kehidupan merupakan perjalanan yang bertolak dari pengalaman konkret manusia dan diwujudkan melalui tindakan nyata dalam pelayanan. Karya Hendrikus Leven menjadi contoh bahwa spiritualitas bukan hanya urusan batin, melainkan juga urusan tindakan nyata yang membawa dampak positif bagi masyarakat. Studi ini menyimpulkan bahwa spiritualitas kehidupan adalah proses panjang yang mengintegrasikan nilai, pengalaman, refleksi, dan tindakan sehingga membentuk kesatuan hidup yang penuh makna. Perjalanan ini mengarah pada kedalaman hubungan dengan Tuhan dan sesama, serta pada komitmen untuk menjalani hidup dengan cinta kasih, kerendahan hati, dan pengabdian yang tulus.

MENUMBUHKAN JIWA PANCASILA DI KALANGAN ANAK MUDA BANGSA MELALUI NILAI – NILAI ADAT DAN TRADISI LOKAL

Ursula Lodang Soge, Georinia Wasi Wekin
Abstract: Artikel ini mengkaji secara komprehensif upaya menumbuhkan jiwa Pancasila di kalangan anak muda bangsa melalui pemanfaatan nilai-nilai adat dan tradisi lokal sebagai fondasi pendidikan karakter. Dalam konteks modern, generasi… erasi muda Indonesia menghadapi perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang berlangsung sangat cepat, sehingga nilai-nilai kebangsaan kerap mengalami pergeseran makna maupun pengurangan relevansi dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini menuntut adanya strategi pembinaan karakter yang tidak hanya teoritis, tetapi juga memiliki kedekatan emosional, historis, dan kultural dengan kehidupan anak muda. Adat dan tradisi lokal yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara mengandung berbagai nilai luhur seperti kebersamaan, gotong royong, musyawarah untuk mufakat, penghormatan terhadap sesama, solidaritas, kearifan spiritual, serta penghormatan terhadap alam dan leluhur. Nilai-nilai tersebut selaras dengan prinsip-prinsip Pancasila dan dapat menjadi sarana efektif dalam memperkuat pemahaman generasi muda terhadap identitas nasional. Melalui pendekatan kultural, pendidikan berbasis kearifan lokal dapat diterapkan di lingkungan keluarga, sekolah, komunitas adat, dan organisasi kepemudaan. Proses internalisasi nilai dilakukan melalui pengenalan tradisi lokal, partisipasi aktif dalam kegiatan budaya, integrasi materi kearifan lokal dalam kurikulum pendidikan, serta pembentukan ruang dialog yang memungkinkan anak muda memahami relevansi adat terhadap nilai-nilai Pancasila. Artikel ini menegaskan bahwa pelestarian adat dan tradisi bukan sekadar menjaga warisan budaya, tetapi juga merupakan strategi transformasi karakter yang mampu mendorong anak muda agar berperilaku sesuai dengan nilai Pancasila secara sadar dan konsisten. Dengan menghubungkan nilai Pancasila dengan realitas budaya yang dekat dengan kehidupan mereka, generasi muda diharapkan mampu mengembangkan karakter nasionalisme, toleransi, dan tanggung jawab sosial di tengah tantangan global. Penelitian ini berkesimpulan bahwa penguatan jiwa Pancasila melalui adat dan tradisi lokal merupakan langkah strategis untuk menciptakan generasi muda yang berkarakter, berakar pada budaya bangsa, serta mampu menghadapi dinamika zaman tanpa kehilangan identitas keindonesiaannya.

UJARAN KEBENCIAN ONLINE DAN IMPLEMENTASINYA TERHADAP PERILAKU SOSIAL DAN SIKAP BERPRASANGKA PADA SISWA: STUDI LITERATUR

ronal, Ronal Andres Bay, Sindi Abidelin Banoet, Resti Adryani Kale, Risna Akdalia Solukh, Sidri Sonya Leobisa, Yenry Anastasia Pelondou
Abstract: Media sosial telah menjadi platform utama untuk komunikasi akibat pesatnya kemajuan teknologi informasi, namun hal ini juga memungkinkan penyebaran ujaran kebencian secara daring. Mengingat mahasiswa sedang aktif mengembangkan… angkan identitas sosial mereka, fenomena ini sangat berbahaya karena berpotensi merusak perilaku prososial dan memperkuat prasangka yang telah ada. Penelitian ini sangat penting untuk memahami bagaimana lingkungan digital mempengaruhi pembentukan karakter seorang mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana prasangka dan perilaku prososial mahasiswa dipengaruhi oleh paparan mereka terhadap ujaran kebencian daring di media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang menggabungkan observasi dokumenter daring dengan analisis literatur. Data dikumpulkan dengan memeriksa dan mengevaluasi sejumlah artikel ilmiah relevan yang diterbitkan antara tahun 2015 hingga 2025.Berdasarkan temuan, paparan terhadap ujaran kebencian daring berkorelasi dengan peningkatan intoleransi sosial di kalangan mahasiswa, serta penurunan empati dan perilaku prososial. Di antara penyebab yang berkontribusi adalah efek disinhibisi daring, proses dehumanisasi, dan algoritma media sosial yang menciptakan ruang gema. Kebutuhan mendesak akan pendidikan karakter dan literasi etika digital di lembaga pendidikan untuk mengurangi dampak berbahaya ini ditunjukkan oleh hasil penelitian tersebut. Sebagai kesimpulan, ujaran kebencian daring merupakan ancaman serius bagi perkembangan sosial anak muda, yang membutuhkan langkah-langkah pendidikan proaktif untuk mempromosikan masyarakat digital yang lebih penuh kasih sayang dan penerimaan.

SUPERVISI ADMINISTRASI PENDIDIKAN

Suheti, Eko Wahyu, Supardi, Agus Gunawan
Abstract: Supervisi administrasi pendidikan merupakan fungsi manajemen yang esensial dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di lembaga pendidikan. Artikel ini membahas secara komprehensif tentang konsep, prinsip, ruang… uang lingkup, dan implementasi supervisi administrasi pendidikan. Supervisi administrasi tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme pengawasan, tetapi lebih sebagai upaya kolaboratif untuk pembinaan dan pengembangan kapasitas organisasi pendidikan. Ruang lingkup supervisi mencakup administrasi kurikulum, kesiswaan, kepegawaian, keuangan, sarana prasarana, hubungan masyarakat, dan layanan khusus. Artikel ini menguraikan berbagai pendekatan supervisi (direktif, non-direktif, dan kolaboratif) serta teknik-teknik supervisi yang dapat diterapkan seperti observasi, wawancara, pemeriksaan dokumen, dan workshop. Proses supervisi meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut yang harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Supervisor dituntut memiliki kompetensi kepribadian, manajerial, supervisi, akademik, sosial, dan digital untuk menjalankan perannya secara efektif. Di era digital, supervisi administrasi mengalami transformasi dengan pemanfaatan e-supervision, big data, dan sistem manajemen sekolah digital. Tantangan yang dihadapi meliputi resistensi terhadap perubahan, keterbatasan sumber daya, kompetensi supervisor yang bervariasi, kompleksitas regulasi, dan budaya organisasi. Supervisi administrasi yang efektif memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi organisasi, akuntabilitas publik, penciptaan lingkungan pembelajaran yang kondusif, pengembangan profesional, dan pencapaian standar nasional pendidikan. Keberhasilan supervisi sangat bergantung pada komitmen semua pihak, dukungan kepemimpinan, dan budaya organisasi yang berorientasi pada perbaikan berkelanjutan.

KECEMASAN BERBICARA DITINJAU DARI LINGKUNGAN BELAJAR (STUDI FENOMENOLOGIS PADA SISWA KELAS X MAN 4 TANGERANG)

Muhamad Bagas Riyanto, Putri Dian Dia Conia, Lenny Wahyuningsih
Abstract: Kecemasan berbicara merupakan hambatan signifikan yang dialami siswa dan berpotensi menghambat partisipasi serta perkembangan akademik. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan belajar… yang menyebabkan kecemasan berbicara pada siswa kelas X MAN 4 Tangerang, dan (2) memahami persepsi siswa tentang pengalaman kecemasan berbicara yang mereka alami. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, melibatkan 13 partisipan siswa yang dipilih melalui purposive sampling serta seorang guru BK untuk triangulasi sumber. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam, kemudian dianalisis menggunakan metode Colaizzi. Hasil penelitian menunjukkan kecemasan siswa disebabkan oleh tiga faktor lingkungan: pertama, lingkungan fisik sebagai faktor kondisional, penataan ruang (formasi letter U) meningkatkan perasaan tersorot (conspicuousness). Kedua, lingkungan sosioemosional sebagai faktor paling dominan, dipicu oleh interaksi negatif (teguran terbuka guru) dan diredam oleh dukungan afektif. Ketiga, lingkungan akademik sebagai puncak intensitas cemas akibat situasi evaluatif (ujian lisan/tahfidz) dan panggilan tiba-tiba. Kesiapan materi (preparedness) ditemukan sebagai strategi koping internal paling ampuh. Disimpulkan bahwa akar dari fenomena ini adalah persepsi kognitif internal siswa, yaitu "ketakutan akan penilaian negatif" (fear of negative evaluation), yang diaktifkan oleh pemicu di ketiga lingkungan tersebut, meskipun ditemukan pula adanya resiliensi dan motivasi perbaikan diri yang proaktif pada siswa.