Abstract:Abstract: This study aims to analyze the role of visual storytelling (VS) in increasing user engagement on Instagram within the context of the creative economy. This study positions visual storytelling as an ideological…
practice rooted in affective domination, platform logic, and cultural commodification. This differs from the use of instrumental narratives that emphasize marketing effectiveness. The research method employed is a qualitative approach using critical interpretative and thematic synthesis. The analyzed literature comprises 48 articles relevant to the research objectives. The findings reveal that visual storytelling is perceived as a creative and authentic means of marketing communication. It also functions to establish mechanisms capable of exerting subtle dominance. Strategically, it leverages the potential of modified emotions, cultural identity, and creativity regulated by platform algorithms. The theoretical contribution of this research confirms that visual storytelling serves as a space for narrative dominance, where stories are reduced to instruments aligned with the interests of the market and the platform. These findings further strengthen perspectives within the literature on digital culture and critical marketing. This study also places significant emphasis on human-centered digital communication ethics, transparency, and cultural appropriateness. Therefore, the effectiveness of visual storytelling is not only measured by the level of consumer engagement, but also by its impact on equity and meaning within the creative economy ecosystem.
Keywords: Visual Storytelling; Consumer Engagement; Instagram; Creative Economy
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran visual storytelling (VS) dalam meningkatkan keterlibatan pengguna di Instagram dalam konteks ekonomi kreatif. Studi ini meletakkan visual storytelling sebagai praktik ideologis yang berakar pada dominasi afektif, logika platform, dan komodifikasi budaya. Hal tersebut memiliki perbedaan dari penggunaan narasi instrumental yang menekankan efektivitas pemasaran. Metode penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif melalui critical interpretative dan thematic synthesis. Hasil literatur yang di analisis berjumalah 48 artikel yang sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil temuan yang didapatkan bahwa visual storytelling dinilai sebagai cara kreatif dan asli dalam melakukan komunikasi pemasaran. Kemudian juga berfungsi untuk membentuk mekanisme yang bisa mendominasi secara halus. Secara strategis memanfaatkan potensi emosi yang dimodifikasi, identitas budaya dan kreativitas yang diatur oleh algoritma platform. Kontribusi teoritis penelitian menegaskan bahwa visual storytelling menjadi tempat dominasi naratif yang menggunakan cerita yang direduksi menjadi instrumen yang mengacu pada kepentingan pasar dan platform. Temuan ini semakin memperkuat perspektif dalam literatur budaya digital dan pemasaran kritis. Penelitian ini juga memberikan penekanan penting terhadap etika komunikasi digital yang berpusat pada diri manusia, transparansi dan kesesuaian budaya. Maka dari itu, efektivitas visual storytelling bukan hanya diukur dari tingkat keterlibatan konsumen, namun juga dari pengaruhnya terhadap keadilan dan pemaknaan dalam ekosistem ekonomi kreatif
Kata Kunci: Visual Storytelling; Keterlibatan Konsumen; Instagram; Ekonomi Kreatif
Abstract:Abstract: This study explores the representation of social dynamics in the film Tilik (2018) by Wahyu Agung Prasetyo using the semiotic approach of Roland Barthes. In this research, a qualitative descriptive-analytical method…
ethod is employed to identify and interpret visual and verbal signs. Three layers of meaning—denotation, connotation, and myth—are used in the analysis. The results show that the film Tilik portrays the social dynamics of rural communities, particularly interactions among women. These interactions are characterized by prevailing cultural norms, constructions of social status, and the practice of gossip. At the denotative level, the film depicts the everyday activities of village communities, while at the connotative level, it reveals social jealousy, social control, and gender stereotypes. At the level of myth, the film constructs collective values such as the importance of maintaining women's dignity, strong social solidarity, and the legitimization of gossip as a means of regulating social norms. Therefore, the film Tilik not only reflects social reality but also conveys deeper cultural meanings.
Keywords: Semiotics, Roland Barthes, Social Dynamics, Film, Cultural Representation
Abstrak: Studi ini mengeksplorasi representasi dinamika sosial dalam film Tilik (2018) oleh Wahyu Agung Prasetyo menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Dalam penelitian ini, metode deskriptif-analitis kualitatif digunakan untuk mengidentifikasi dan menafsirkan tanda visual dan verbal. Tiga lapisan makna—denotasi, konotasi, dan mitos—digunakan untuk melakukan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Tilik menunjukkan dinamika sosial masyarakat pedesaan, terutama interaksi antarperempuan. Norma budaya yang berkembang, konstruksi status sosial, dan praktik gosip menandai interaksi ini. Dalam film, aktivitas sehari-hari masyarakat desa diungkapkan pada tingkat denotatif, sedangkan kecemburuan sosial, kontrol sosial, dan stereotip gender diungkapkan pada tingkat konotatif. Mitos menciptakan nilai kolektif seperti pentingnya mempertahankan martabat perempuan, solidaritas sosial yang kuat, dan legitimasi gosip sebagai cara untuk mengontrol norma. Akibatnya, film Tilik menunjukkan realitas sosial dan memiliki makna kultural.
Kata Kunci: Semiotika, Roland Barthes, Dinamika Sosial, Film, Representasi Budaya
Abstract:Berdasarkan hasil observasi dan wawancara peneliti, terdapat lima peserta didik yang memiliki self efficacy yang rendah. Hal ini diperkuat sengn hasil wawancara dengan guru BK dan guru wali kelas sekaligus guru mata pelajaran…
jaran kelas X-7. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan layanan konseling kelompok dengan menggunakan teknik self-talk dapat meningkatkan self-efficacy siswa kelas X-7 di SMA Negeri 1 Palangka Raya Tahun Pelajaran 2025/2026. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menerapkan penelitian eksperimen dengan desain penelitian yaitu one group pre-test and post-test yang menggunakan populasi kelas X-7 berjumlah 39 orang dan 5 orang sampel yang terdapat di SMA Negeri 1 Palangka Raya. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling yang dipilih berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan yaitu siswa yang memiliki self efficacy yang rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan pada skor self-efficacy siswa setelah diberikan layanan konseling kelompok dengan teknik self-talk yang dibuktikan dengan nilai signifikansi (p-value) sebesar 0,003 < 0,05 yaitu Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini dapat disimpulkan bahwa Penerapan layanan konseling kelompok dengan teknik self-talk dapat meningkatkan self-efficacy pada siswa kelas X-7 di SMA Negeri 1 Palangka Raya Tahun Pelajaran 2025/2026.
Abstract:Abstract: This study aims to determine the application of group counseling using a reality approach to reduce truancy behavior among eighth-grade students at SMP Negeri 8 Palangka Raya in the 2025/2026 academic year. The…
research employed a pre-experimental method with a one-group pretest-posttest design. The sample consisted of 4 students selected through purposive sampling based on their tendency to engage in truancy. Data were collected using a truancy behavior questionnaire and analyzed using a t-test. The results showed that the average pre-test score of 67.25 (high category) decreased to 35.5 (low category) in the post-test, with a reduction of 31.75. The hypothesis test results indicated that the calculated t-value (29.44) was greater than the t-table value (3.182) at a 5% significance level, so the alternative hypothesis was accepted. It can be concluded that group counseling with a reality approach is effective in reducing students’ truancy behavior.
Keywords: Group Counseling; Reality Approach; Truancy.
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan konseling kelompok dengan pendekatan realita dalam mengurangi perilaku membolos pada siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Palangka Raya tahun pelajaran 2025/2026. Metode yang digunakan adalah pre-eksperimen dengan desain one-group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 4 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kecenderungan perilaku membolos. Data dikumpulkan melalui angket perilaku membolos dan dianalisis menggunakan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor pre-test sebesar 67,25 (kategori tinggi) menurun menjadi 35,5 (kategori rendah) pada post-test, dengan penurunan sebesar 31,75. Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai t hitung (29,44) lebih besar dari t tabel (3,182) pada taraf signifikan 5%, sehingga hipotesis alternatif diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok dengan pendekatan realita efektif dalam mengurangi perilaku membolos siswa.
Kata Kunci: Konseling Kelompok; Pendekatan Realita; Perilaku Membolos.
Abstract:Abstract: This study aims to examine the effect of Leverage measured by Debt to Equity Ratio (DER), Liquidity measured by Current Ratio (CR), and Return On Asset (ROA) on Firm Value measured by Price to Book Value (PBV)…
in LQ45 Index companies listed on the Indonesia Stock Exchange for the period 2021–2023. The research method applied is descriptive quantitative with multiple linear regression analysis using SPSS version 27. The research population consisted of 45 companies, and through purposive sampling, 25 companies were selected as samples with 3 years of observation, producing 75 data observations. Classical assumption test results indicate that data are normally distributed (Asymp.Sig = 0.200 > 0.05), free from multicollinearity, free from heteroscedasticity, and no autocorrelation occurred (DW = 1.045). The Ftest results show that simultaneously DER, CR, and ROA have a significant effect on PBV with Fcount (20.750) > Ftable (2.73) and significance value 0.000 < 0.05. Partial ttest results show that DER has a negative and significant effect on PBV (tcount -2.123 < ttable -1.99346; sig. 0.037 < 0.05), while CR and ROA partially have no significant effect on PBV. The Adjusted R Square value is 0.467, meaning DER, CR, and ROA are able to explain 46.7% of the variation in PBV, while the remaining 53.3% is explained by other variables outside this research model.
Keywords: Leverage (DER), Liquidity (CR), Return On Asset (ROA), Firm Value (PBV), LQ45 Index.
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Leverage yang diukur dengan Debt to Equity Ratio (DER), Likuiditas yang diukur dengan Current Ratio (CR), dan Return On Asset (ROA) terhadap Firm Value yang diukur dengan Price to Book Value (PBV) pada perusahaan Indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2021–2023. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan analisis regresi linear berganda menggunakan bantuan perangkat lunak SPSS versi 27. Populasi penelitian sebanyak 45 perusahaan, dan dengan teknik purposive sampling diperoleh 25 perusahaan sebagai sampel dengan periode pengamatan 3 tahun, sehingga menghasilkan 75 data observasi. Hasil uji asumsi klasik menunjukkan data terdistribusi normal (Asymp.Sig = 0,200 > 0,05), bebas multikolinearitas, bebas heteroskedastisitas, dan tidak terjadi autokorelasi (DW = 1,045). Hasil uji F menunjukkan bahwa secara simultan DER, CR, dan ROA berpengaruh signifikan terhadap PBV dengan nilai Fhitung (20,750) > Ftabel (2,73) dan signifikansi 0,000 < 0,05. Hasil uji t secara parsial menunjukkan bahwa DER berpengaruh negatif dan signifikan terhadap PBV (thitung -2,123 < ttabel -1,99346; sig. 0,037 < 0,05), sedangkan CR dan ROA secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap PBV. Nilai Adjusted R Square sebesar 0,467, artinya DER, CR, dan ROA mampu menjelaskan variasi PBV sebesar 46,7%, sementara 53,3% dijelaskan oleh variabel lain di luar model penelitian ini.
Kata Kunci: Leverage (DER), Likuiditas (CR), Return On Asset (ROA), Firm Value (PBV), Indeks LQ45.
Abstract:Abstract: Employee job satisfaction is an important factor in supporting organizational performance, particularly in government institutions. Workload, flexibility of working hours, and work-life balance are considered factors…
actors influencing job satisfaction. This study aims to analyze the effect of these variables on employee job satisfaction at the Secretariat of DPRD Batu Bara Regency. This study used a quantitative approach with multiple linear regression analysis and involved 32 respondents using a saturated sampling technique. Data were collected through observation, interviews, and questionnaires using a Likert scale. The results showed that workload, flexibility of working hours, and work-life balance simultaneously have a significant effect on job satisfaction, with an F-value of 55.068 and a significance level of less than 0.05. Partially, workload and flexibility of working hours have no significant effect on job satisfaction, while work-life balance has a significant and dominant effect. The coefficient of determination shows that 84.0% of job satisfaction can be explained by the independent variables, while the remaining 16.0% is influenced by other factors outside the study.
Keywords: Workload, Flexibility of Working Hours, Work-Life Balance, Job Satisfaction
Abstrak: Kepuasan kerja pegawai merupakan faktor penting dalam mendukung kinerja organisasi, khususnya pada instansi pemerintahan. Beban kerja, fleksibilitas waktu kerja, dan work life balance merupakan beberapa faktor yang diduga memengaruhi tingkat kepuasan kerja pegawai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ketiga variabel tersebut terhadap kepuasan kerja pegawai di Sekretariat DPRD Kabupaten Batu Bara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode regresi linear berganda dan melibatkan 32 responden dengan teknik sampling jenuh. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner menggunakan skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan beban kerja, fleksibilitas waktu kerja, dan work life balance berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja dengan nilai Fhitung sebesar 55,068 dan tingkat signifikansi kurang dari 0,05. Secara parsial, beban kerja dan fleksibilitas waktu kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja, sedangkan work life balance berpengaruh signifikan dan menjadi variabel yang paling dominan. Nilai koefisien determinasi menunjukkan bahwa sebesar 84,0% variasi kepuasan kerja dapat dijelaskan oleh ketiga variabel independen, sementara sisanya sebesar 16,0% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian.
Kata Kunci: Beban Kerja, Fleksibilitas Waktu Kerja, Work Life Balance, Kepuasan Kerja
Abstract:Abstract: This study aims to analyze the influence of work supervision, communication, and work relationships on employee productivity at the PTPN IV Regional 2 Kebun Mayang Office with a sample of 79 respondents. The results…
sults of simultaneous testing show that the F count value of 31.473 is greater than the F table of 2.74 with a significance level of 0.000 < 0.05. This proves that the three independent variables together have a significant effect on work productivity, so that the alternative hypothesis (Ha) is accepted and the null hypothesis (Ho) is rejected. Partially, work supervision has a significance value of 0.027 < 0.05 and t count 2.255 > t table 1.66515, which means it has a significant effect on work productivity. The communication variable shows the most dominant influence with a significance value of 0.000 < 0.05 and t count 4.994 > 1.66515. Meanwhile, work relationships also had a significant effect, with a significance value of 0.031 < 0.05 and a t-test of 2.196 > 1.66515. The coefficient of determination (R²) test result of 0.559 indicates that 55.9% of the variation in work productivity can be explained by these three variables, while the remaining 44.1% is influenced by other factors outside this study.
Keywords: Work Supervision, Communication, Work Relationships, Productivity.
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengawasan kerja, komunikasi, dan hubungan kerja terhadap produktivitas karyawan di Kantor PTPN IV Regional 2 Kebun Mayang dengan jumlah sampel sebanyak 79 responden. Hasil pengujian secara simultan menunjukkan bahwa nilai Fhitung sebesar 31,473 lebih besar daripada Ftabel sebesar 2,74 dengan tingkat signifikansi 0,000 < 0,05. Hal ini membuktikan bahwa ketiga variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja, sehingga hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol (Ho) ditolak. Secara parsial, pengawasan kerja memiliki nilai signifikansi 0,027 < 0,05 dan thitung 2,255 > ttabel 1,66515, yang berarti berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja. Variabel komunikasi menunjukkan pengaruh paling dominan dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 dan thitung 4,994 > 1,66515. Sementara itu, hubungan kerja juga berpengaruh signifikan dengan nilai signifikansi 0,031 < 0,05 dan thitung 2,196 > 1,66515. Hasil uji koefisien determinasi (R²) sebesar 0,559 menunjukkan bahwa 55,9% variasi produktivitas kerja dapat dijelaskan oleh ketiga variabel tersebut, sedangkan 44,1% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini.
Kata Kunci: Pengawasan Kerja, Komunikasi, Hubungan Kerja, Produktivitas.
Abstract:Abstract: The rapid development of social media has significantly transformed children’s lives, bringing both positive and negative consequences. This study seeks to analyze the role of legal protection in addressing the…
he impact of social media on the fulfillment and protection of children's rights in Indonesia. The research employs a normative juridical method with statutory and conceptual approaches. The results reveal that social media contributes positively to the realization of children's rights, particularly in facilitating access to information, education, and participation. However, it also presents serious risks, such as cyberbullying, online sexual exploitation, and misuse of children's personal data. Existing legal instruments, including Law Number 35 of 2014 on Child Protection, the Law on Electronic Information and Transactions, and the Law on Personal Data Protection, have not yet been fully effective in addressing these issues. Accordingly, it is necessary to reinforce regulatory frameworks and improve law enforcement to ensure the comprehensive protection of children's rights in the digital era.
Keywords: Child Protection, Social Media, Children's Rights, Juridical Analysis
Abstrak: Perkembangan media sosial yang kian pesat telah memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan anak, baik dalam aspek pemenuhan maupun perlindungan hak-haknya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perlindungan hukum terhadap hak anak dalam penggunaan media sosial di Indonesia. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang- undangan dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial berperan penting dalam menunjang pemenuhan hak anak, terutama dalam hal akses informasi, pendidikan, serta partisipasi sosial. Namun demikian, penggunaan media sosial juga menimbulkan berbagai risiko, seperti perundungan siber (cyberbullying), eksploitasi seksual secara daring, dan penyalahgunaan data pribadi anak. Regulasi yang berlaku, seperti Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, serta Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi, belum sepenuhnya mampu memberikan perlindungan yang optimal. Oleh karena itu, diperlukan penguatan regulasi, optimalisasi penegakan hukum, serta keterlibatan aktif berbagai pihak guna menjamin perlindungan hak anak di era digital.
Kata Kunci: Perlindungan Anak, Media Sosial, Hak Anak, Analisis Yuridis
Abstract:Abstrack: The global environmental crisis and the 2030 Agenda for Sustainable Development Goals (SDGs) position higher education institutions as strategic actors in promoting sustainability, including through environmentally…
ally oriented human resource management. This study examines the implementation of Green Human Resource Management (Green HRM) at Universitas Lancang Kuning (Unilak), a private university grounded in Malay cultural values that seeks to transform into a sustainable campus. The study aims to: (1) analyze the forms and level of Green HRM practices at Unilak, (2) identify supporting and inhibiting factors of its implementation, and (3) analyze the impact of Green HRM on campus environmental performance. A qualitative approach with an intrinsic case study design was employed, involving university leaders, HR managers, lecturers, and administrative staff selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, observation, and document analysis, and were examined using thematic analysis. The findings indicate that Green HRM practices at Unilak have emerged through various green initiatives such as energy conservation, paper reduction, waste management, and the provision of green open spaces, yet remain at a medium level of institutionalization since they are not fully integrated into formal HR policies and performance management systems. Key supporting factors include top management commitment, alignment with the institutional vision, and the availability of several green facilities, while inhibiting factors comprise limited financial resources, the absence of standardized green performance indicators and reward schemes, and uneven ecological literacy among academic communities. Green HRM contributes to a cleaner and greener campus environment, increased pro-environmental work behaviors, and a stronger sustainability image for Unilak, but still requires a more structured strategic roadmap aligned with SDG targets 4.7 and 13.3.
Keywords: Green Human Resource Management, Green Campus, AMO Theory, Sustainability, Universitas Lancang Kuning.
Abstrak: Krisis lingkungan global dan tuntutan Agenda 2030 melalui Sustainable Development Goals (SDGs) menempatkan perguruan tinggi sebagai aktor strategis dalam mendorong pembangunan berkelanjutan, termasuk melalui pengelolaan sumber daya manusia yang berwawasan lingkungan. Penelitian ini mengkaji penerapan Green Human Resource Management (Green HRM) di Universitas Lancang Kuning (Unilak) sebagai perguruan tinggi swasta berbasis nilai budaya Melayu yang berupaya bertransformasi menuju kampus berkelanjutan. Tujuan penelitian adalah: (1) menganalisis bentuk dan tingkat penerapan praktik Green HRM di Unilak, (2) mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat implementasinya, serta (3) menganalisis dampak Green HRM terhadap kinerja lingkungan kampus. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus intrinsik, dengan subjek pimpinan universitas, pengelola SDM, dosen, dan tenaga kependidikan yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik Green HRM di Unilak telah muncul dalam bentuk berbagai program hijau seperti penghematan energi, pengurangan penggunaan kertas, pengelolaan sampah dan ruang terbuka hijau, tetapi masih berada pada tingkat institusionalisasi menengah karena belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem kebijakan dan manajemen kinerja SDM. Faktor pendukung utama meliputi komitmen manajemen puncak, kesesuaian dengan visi institusi, serta ketersediaan sejumlah fasilitas hijau, sedangkan faktor penghambat mencakup keterbatasan anggaran, belum adanya indikator dan skema reward hijau yang baku, serta literasi ekologis sivitas akademika yang belum merata. Green HRM berkontribusi pada terciptanya lingkungan kampus yang lebih bersih dan asri, peningkatan perilaku kerja pro-lingkungan, serta penguatan citra keberlanjutan Unilak, namun masih memerlukan roadmap strategis yang lebih terstruktur dan selaras dengan target SDG 4.7 dan 13.3.
Kata Kunci: Green Human Resource Management, Kampus Hijau, AMO Theory, Keberlanjutan, Universitas Lancang Kuning.
Abstract:Abstract: This study aims to analyze the effect of training and human resource development on employee performance with work motivation as a mediating variable. This research employs a quantitative approach using descriptive…
tive and verificative methods, where data were collected through questionnaires distributed to respondents and analyzed using regression and mediation tests. The results indicate that training and development have a positive and significant effect on employee performance and also positively influence work motivation. Furthermore, work motivation significantly affects employee performance and is proven to mediate the relationship between training and development and employee performance. These findings suggest that improving employee performance is not only influenced by competency development through training but also by psychological factors such as work motivation; therefore, organizations need to implement an integrative human resource management strategy that considers both competency and motivation simultaneously.
Keywords: Training, Work Motivation, Employee Performance
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia terhadap kinerja karyawan dengan motivasi kerja sebagai variabel mediasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif dan verifikatif, di mana data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada responden dan dianalisis menggunakan teknik regresi serta uji mediasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan dan pengembangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, serta memiliki pengaruh positif terhadap motivasi kerja. Selanjutnya, motivasi kerja juga terbukti berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan dan mampu memediasi hubungan antara pelatihan dan pengembangan dengan kinerja karyawan. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kinerja karyawan tidak hanya dipengaruhi oleh peningkatan kompetensi melalui pelatihan, tetapi juga oleh faktor psikologis berupa motivasi kerja, sehingga organisasi perlu mengelola sumber daya manusia secara integratif dengan memperhatikan aspek kompetensi dan motivasi secara bersamaan.
Kata Kunci: Pelatihan, Motivasi Kerja, Kinerja Karyawan