Search Articles & Publications

Showing 4503 articles found for "Penelitian"

Analisis Konten Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS) Dalam Buku Matematika Kelas VII Kurikulum Merdeka

Juwita, Nazwa Alyanda Putri, Luri Nursucita, Nita Kurnia Sari, Hera Azhari Bangun, Maisahara Dalimunthe, Elfira Ramhadani
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konten latihan dan soal yang merepresentasikan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) pada buku teks Matematika kelas VII SMP terbitan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset,… et, dan Teknologi sebagai bahan ajar Kurikulum Merdeka. Anifarka & Rosnawati (2023) menyatakan bahwa buku teks yang berkualitas seyogianya mampu memfasilitasi perkembangan kognitif peserta didik selaras dengan capaian pembelajaran yang ditetapkan. Metode yang diterapkan dalam kajian ini adalah analisis isi dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Instrumen analisis merujuk pada dimensi kognitif C4 (Menganalisis), C5 (Mengevaluasi), dan C6 (Menciptakan) berdasarkan revisi taksonomi Bloom oleh Anderson & Krathwohl (2001). Temuan penelitian mengindikasikan bahwa dari total 485 butir soal dan aktivitas yang tersebar pada enam bab, sebanyak 147 butir (30,31%) tergolong dalam kategori HOTS. Distribusi HOTS tertinggi ditemukan pada Bab 5 tentang Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel (38,46%), sedangkan terendah pada Bab 1 tentang Bilangan (22,80%). Level kognitif yang paling dominan adalah C4-Menganalisis (58,50%), diikuti C5-Mengevaluasi (28,57%), dan C6-Mencipta (12,93%). Temuan ini mengindikasikan bahwa buku teks Kurikulum Merdeka telah mengintegrasikan HOTS secara lebih sistematis dibandingkan kurikulum sebelumnya (Fanani, 2018)meskipun proporsinya perlu ditingkatkan untuk memenuhi tuntutan pembelajaran abad ke-21. This study aims to analyze the content of exercises and questions representing higher-order thinking skills (HOTS) in the Mathematics textbook for grade VII junior high school published by the Ministry of Education, Culture, Research, and Technology as teaching materials for the Independent Curriculum. Anifarka & Rosnawati (2023) stated that a quality textbook should be able to facilitate students' cognitive development in line with the established learning outcomes. The method applied in this study is content analysis with a qualitative descriptive approach. The analysis instrument refers to the cognitive dimensions C4 (Analyzing), C5 (Evaluating), and C6 (Creating) based on the revised Bloom's taxonomy by Anderson & Krathwohl (2001). The research findings indicate that of a total of 485 questions and activities spread across six chapters, 147 items (30.31%) are classified as HOTS. The highest HOTS distribution was found in Chapter 5 on Linear Equations and Inequalities with One Variable (38.46%), while the lowest was in Chapter 1 on Numbers (22.80%). The most dominant cognitive level is C4-Analyzing (58.50%), followed by C5-Evaluating (28.57%), and C6-Creating (12.93%). This finding indicates that the Independent Curriculum textbooks have integrated HOTS more systematically than the previous curriculum (Fanani, 2018), although the proportion needs to be increased to meet the demands of 21st-century learning. 

Analisis Pemahaman Konsep Pecahan Pada Siswa Kelas IV SD Negeri 010091 Kisaran Baru

Fiqih Andrian Nasution, Sakila Azria Fitri, Khairunisa, Resi Azzahra Natasya Asmadita, Juliyani Safika Dewi, Elfira Rahmadani
Abstract: Pecahan merupakan salah satu materi matematika yang penerapannya sering dijumpai dalam kegiatan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan mengukur sejauh mana siswa kelas IV SD Negeri 010091 Kisaran Baru memahami konsep pecahan.… han. Metode yang digunakan berbentuk deskriptif kualitatif dengan melibatkan 26 siswa sebagai subjek kajian. Data dihimpun melalui empat cara, yakni tes, pengamatan, wawancara, dan penelusuran dokumen. Hasil kajian memperlihatkan bahwa pemahaman siswa atas konsep pecahan tergolong masih rendah, dibuktikan oleh angka ketuntasan belajar yang hanya menyentuh 23,07%. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah hal, di antaranya lemahnya penguasaan dasar pecahan, rendahnya keterlibatan siswa saat belajar, serta metode pengajaran yang belum diterapkan secara maksimal. Mengacu pada hasil tersebut, diperlukan strategi pembelajaran yang lebih interaktif untuk mendorong peningkatan pemahaman siswa terhadap pecahan. Fraction is a fundamental mathematical topic that frequently appears in everyday situations. This study set out to examine how well fourth-grade students at SD Negeri 010091 Kisaran Baru grasp the concept of fractions. A qualitative descriptive design was employed, with 26 students taking part as participants. Four data-gathering techniques were used: testing, observation, interviews, and document review. Findings revealed that students’ grasp of fraction concepts was still limited, shown by a completion rate of only 23,07%. Several factors contributed to this outcome, among them a weak foundation in basic fraction concepts, low student involvement during lessons, and teaching methods that had not been optimally applied. Based on these findings, more interactive learning strategies are needed to help strengthen students’ conceptual grasp of fractions.

Perancangan Sistem Informasi Absensi Magang Berbasis Web HADIR.in Pada Sekretariat DPRD Provinsi Jambi

Yayan Agusdi, Intan Rhamadani, Rifqi Ziyad Fulvian.H, Nova Wijaya, Achmad Reza Dzurryyatul Asy’ari, Naila Zuhrotul Hapsari, Soli Amalia Rahmadhani
Abstract: Pecahan merupakan salah satu materi matematika yang penerapannya sering dijumpai dalam kegiatan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan mengukur sejauh mana siswa kelas IV SD Negeri 010091 Kisaran Baru memahami konsep pecahan.… han. Metode yang digunakan berbentuk deskriptif kualitatif dengan melibatkan 26 siswa sebagai subjek kajian. Data dihimpun melalui empat cara, yakni tes, pengamatan, wawancara, dan penelusuran dokumen. Hasil kajian memperlihatkan bahwa pemahaman siswa atas konsep pecahan tergolong masih rendah, dibuktikan oleh angka ketuntasan belajar yang hanya menyentuh 23,07%. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah hal, di antaranya lemahnya penguasaan dasar pecahan, rendahnya keterlibatan siswa saat belajar, serta metode pengajaran yang belum diterapkan secara maksimal. Mengacu pada hasil tersebut, diperlukan strategi pembelajaran yang lebih interaktif untuk mendorong peningkatan pemahaman siswa terhadap pecahan. Fraction is a fundamental mathematical topic that frequently appears in everyday situations. This study set out to examine how well fourth-grade students at SD Negeri 010091 Kisaran Baru grasp the concept of fractions. A qualitative descriptive design was employed, with 26 students taking part as participants. Four data-gathering techniques were used: testing, observation, interviews, and document review. Findings revealed that students’ grasp of fraction concepts was still limited, shown by a completion rate of only 23,07%. Several factors contributed to this outcome, among them a weak foundation in basic fraction concepts, low student involvement during lessons, and teaching methods that had not been optimally applied. Based on these findings, more interactive learning strategies are needed to help strengthen students’ conceptual grasp of fractions. 

Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Paku (Pteridophyta) Di Desa Terentang Baru Kecamatan Batin XXIV Jambi

Try Susanti, Nabilah Putri Ramadhani, Sabila Khairunnisa, Sifa Nailatu Zahro
Abstract: Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis tumbuhan paku (Pteridophyta) dan tingkat keanekaragamannya di Desa Terentang Baru, Kecamatan Batin XXIV, Jambi. Penelitian dilaksanakan pada Mei 2026 menggunakan metode survei… vei eksploratif dengan teknik purposive sampling dan metode jelajah. Hasil penelitian menemukan 10 spesies tumbuhan paku yang tergolong dalam 9 genus dan 8 famili. Nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H') sebesar 2,18 (kategori sedang) dan indeks kemerataan (E) sebesar 0,95 (kategori tinggi). Kondisi lingkungan berupa suhu 28°C, kelembapan 82%, pH tanah 6,4, dan intensitas cahaya 1.200 Lux mendukung pertumbuhan tumbuhan paku. Keanekaragaman tumbuhan paku di lokasi penelitian tergolong cukup baik dan berpotensi menjadi data dasar inventarisasi flora lokal serta konservasi keanekaragaman hayati. This study aimed to identify fern (Pteridophyta) species and determine their diversity level in Terentang Baru Village, Batin XXIV District, Jambi. Conducted in May 2026 using an exploratory survey, purposive sampling, and roaming methods, the study identified 10 fern species belonging to 9 genera and 8 families. The Shannon-Wiener diversity index (H') was 2.18 (moderate), while the evenness index (E) was 0.95 (high). Environmental conditions, including a temperature of 28°C, humidity of 82%, soil pH of 6.4, and light intensity of 1,200 Lux, supported fern growth. The findings indicate relatively good fern diversity and provide baseline data for local flora inventory and biodiversity conservation.

ANALISIS YURIDIS AMBIGUITAS REGULASI PENGELOLAAN WAKAF UANG MELALUI PLATFORM CROWDFUNDING DI INDONESIA: PERSPEKTIF HUKUM POSITIF DAN HUKUM ISLAM

Rais Muqsith Araia, Maulana Al Khair, Muhammad Muhibban
Abstract: Perkembangan teknologi finansial telah melahirkan inovasi penghimpunan dana sosial Islam, salah satunya melalui platform crowdfunding untuk wakaf uang (cash waqf). Di Indonesia, praktik ini menjanjikan akselerasi potensi… wakaf yang sangat besar. Namun, terdapat gap dan ambiguitas regulasi antara hukum positif dengan dinamika fikih kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode yuridis-normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan konseptual (conceptual approach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi eksis belum sepenuhnya memitigasi risiko hukum terkait legalitas platform non-Nazhir sebagai intermediary, perlindungan konsumen (wakif), dan kejelasan skema potongan biaya platform. Diperlukan harmonisasi regulasi yang integratif antara Badan Wakaf Indonesia (BWI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) guna menciptakan kepastian hukum dan menjaga akuntabilitas pengelolaan wakaf uang digital di Indonesia.

Wawasan Al-Qur'an Tentang Lingkungan Hidup

Nana Nur Zulaikha, Hasyim Haddade, Hamka Ilyas
Abstract: Artikel ini mengkaji wawasan Al-Qur'an tentang lingkungan hidup melalui pendekatan tafsir tematik (tafsir maudhu'i). Penelitian ini berangkat dari keprihatinan mendalam terhadap krisis lingkungan global yang semakin mengancam… ancam keberlangsungan kehidupan di bumi. Al-Qur'an sebagai kitab suci yang bersifat universal dan komprehensif telah memberikan perhatian yang sangat serius terhadap persoalan lingkungan jauh sebelum isu ini menjadi perhatian dunia modern. Melalui telaah sejumlah ayat kunci, artikel ini membuktikan bahwa Al-Qur'an mengandung wawasan ekologis yang kaya, meliputi: prinsip penciptaan alam sebagai tanda-tanda kebesaran Allah (ayat kawniyyah), konsep manusia sebagai khalifah beserta tanggung jawab ekologisnya, larangan tegas terhadap kerusakan lingkungan (fasad fi al-ardh), perintah menjaga keseimbangan ekosistem (mizan), serta panduan etis dalam memanfaatkan sumber daya alam.

Wawasan Al-Qur'an Tentang Ukhuwah

Sitti Khadijah Amran, Hasyim Haddade, Hamka Ilyas
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi wawasan Al-Qur'an tentang Ukhuwwah (persaudaraan) dan implikasinya bagi masyarakat modern. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metodologi tafsir tematik (maudhu'i),… u'i), mengumpulkan data dari berbagai ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan persaudaraan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Al-Qur'an mengkategorikan Ukhuwwah ke dalam beberapa jenis utama: Ukhuwwah Islamiyah (persaudaraan seagama), Ukhuwwah Insaniyah (persaudaraan kemanusiaan), dan Ukhuwwah Nasabiyah (persaudaraan sedarah). Kesimpulan dari penelitian ini menekankan bahwa pemahaman dan implementasi prinsip-prinsip Al-Qur'an ini dapat secara efektif menyelesaikan konflik sosial dan mendorong perdamaian.

Persepsi Hadis Taqwa Dengan Metode Tematik

Abustani Ilyas, Erwin Hafid, Fahruddin Fahruddin, Sitti Khadijah Amran, Haswani Ansar, Nana Nur Zulaikha
Abstract: Taqwa secara epistemologi berasal dari bahasa Arab "waqa-yaqi-wiqayah" yang berarti memelihara atau melindungi diri dari bahaya, khususnya siksaan Allah SWT dengan mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,  atau menjaga… menjaga diri dari sesuatu yang membahayakan. Berdasarkan uraian tersebut dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: “Bagaimana konsep taqwa dalam Al-Qur'an dan Hadis jika dikaji secara tematik (mawdhui)? Apa implikasi praktisnya bagi kehidupan Muslim”? Penelitian ini bertujuan untuk “Menyajikan gambaran menyeluruh tentang taqwa melalui pendekatan tafsir tematik, menghubungkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW secara sistematis”.  Penelitian ini menggunakan metode  tafsir mawdhui yaitu pengumpulan ayat dan hadis bertema taqwa, analisis linguistik, kajian asbabun nuzul, dan sintesis konsep secara integratif. Al-Qur'an & Hadis Saling Melengkapi, Metode mawdhu'i mengungkap keselarasan sempurna antara wahyu dan sunnah dalam membangun konsep taqwa. Konsep Taqwa Mawdhu'i adalah  sistem proteksi bertingkat hati→fisik→sosial→negara) yang Allah janjikan 3 kemudahan: jalan keluar (At-Talaq:2), rezeki tak disangka (hadis Bukhari), surga luas (Ali Imran:133). Munasabah ayat-hadis tunjukkan tahapan wahyu: Makkah (takwa iman) → Madinah (takwa sosial) → wasiat Nabi (takwa mutlak). Inti: Taqwa bukan "takut doang", tapi proaktif jalankan perintah + jauhi larangan sebagai sekat azab menuju falah dunia-akhirat. Sintesis Akhir yaitu Kajian Syarh Taqwa Al-Mawdhui membuktikan bahwa taqwa bukan sekadar rasa takut kepada Allah, melainkan sebuah sistem nilai hidup yang komprehensif — mencakup dimensi spiritual, ritual, sosial, dan kenegaraan.

Transformasi Pemaknaan Al-Ba’ah dalam Perspektif Marriage Readiness pada Generasi Z

Khoiriyah, Fadilla Nur, Nasrulloh Nasrulloh
Abstract: Fenomena waithood pada generasi Z menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap kesiapan menikah (marriage readiness) di tengah dinamika sosial kontemporer. Jika dalam tradisi Islam kemampuan menikah dirumuskan melalui… lui konsep al-ba’ah, masyarakat modern cenderung mengembangkan konstruksi marriage readiness yang lebih kompleks dan multidimensional. Penelitian ini bertujuan menganalisis validitas hadits anjuran menikah tentang al-ba’ah, mengkaji pemaknaannya dalam literatur klasik, serta menjelaskan transformasi konstruksi marriage readiness pada Generasi Z. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan konseptual. Data diperoleh melalui library research yang dianalisis menggunakan metode takhrij hadits, yakni kritik sanad dan matan, serta analisis fiqh al-hadits. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis anjuran menikah mengenai al-ba’ah berstatus sahih dan dapat dijadikan hujjah dalam hukum Islam. Secara klasik, al-ba’ah dipahami sebagai kemampuan biologis dan kemampuan finansial yang menjadi prasyarat seseorang untuk memasuki kehidupan perkawinan. Sementara itu, konstruksi marriage readiness pada generasi Z berkembang menjadi konsep multidimensional yang mencakup kesiapan ekonomi, emosional, psikologis, relasional, dan sosial. Penelitian ini menemukan bahwa transformasi tersebut tidak menunjukkan pertentangan dengan substansi konsep al-ba’ah, melainkan berupa perluasan indikator operasional mengenai kemampuan menikah sebagai respons terhadap perubahan sosial pada era disrupsi. Dengan demikian, marriage readiness dapat dipahami sebagai bentuk aktualisasi kontemporer dari konsep al-ba’ah yang tetap berorientasi pada terwujudnya kemaslahatan keluarga.

Telah Hadis Shahih Bukhari No. 1286 Tentang Menangisi Mayit

Sholihah, Nafi Atush, Nasrulloh Nasrulloh, Sodiq, Jafar
Abstract: Hadis tentang menangisi mayit khususnya riwayat Abdullah bin Umar, termasuk hadis yang mendapat perhatian khusus dalam khazanah studi hadis karena memuat keterangan bahwa mayit mengalami siksa akibat tangisan keluarganya,… , suatu persoalan yang kemudian memunculkan beragam interpretasi dan perdebatan di kalangan ulama. Riwayat ini menimbulkan perdebatan di kalangan ulama, terutama karena mendapat sanggahan dari Aisyah yang menilai pemahaman tersebut tidak sejalan dengan prinsip Al-Qur’an yang menegaskan bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain. Perbedaan periwayatan antara Abdullah bin Umar dan Aisyah menunjukkan adanya dinamika dalam transmisi hadis yang memerlukan kajian kritis terhadap sanad, matan, serta konteks penyampaian hadis. Berangkat dari persoalan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna hadis tersebut melalui pendekatan ilmu hadis dan analisis terhadap penafsiran para ulama. Metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan dengan menelaah hadis-hadis terkait beserta syarah para ulama. Hasil kajian menunjukkan bahwa yang dimaksud dalam hadis bukanlah tangisan biasa, melainkan ratapan berlebihan (niyāhah) yang disertai keluhan, penyesalan terhadap takdir Allah Swt., atau kebiasaan yang dahulu diperintahkan maupun diridhai oleh mayit semasa hidupnya. Adapun tangisan yang bersifat wajar karena rasa sedih tidaklah dilarang dalam Islam, bahkan Nabi Muhammad Saw. sendiri pernah menangis ketika kehilangan orang-orang tercinta. Dengan demikian, hadis tersebut harus dipahami secara kontekstual agar tidak menimbulkan kesalahpahaman terhadap ajaran Islam tentang rahmat, keadilan, dan sikap menghadapi musibah kematian. This research employs a library research approach by examining the relevant hadith narrations along with their commentaries (syarah) by classical scholars. The findings indicate that the hadith does not refer to ordinary weeping but rather to excessive lamentation (niyāḥah), characterized by expressions of complaint, objection to Allah's decree, or practices that were encouraged, approved, or tolerated by the deceased during their lifetime. In contrast, natural weeping as an expression of grief is not prohibited in Islam. Indeed, the Prophet Muhammad (peace be upon him) himself wept upon the loss of his loved ones. Therefore, this hadith should be understood contextually to avoid misconceptions regarding Islamic teachings on divine mercy, justice, and the proper response to the calamity of death.