Abstract:Abstract: Nagari Simpang, Pasaman Regency, is an agrarian area where maize is the main commodity, cultivated using conventional practices that rely heavily on hybrid seeds and inorganic fertilizers. In the long term, this…
s pattern leads to increased production costs, declining soil fertility, and low added value of agricultural products. In addition, suboptimal household waste management contributes to environmental pollution. This community service program aimed to revitalize a sustainable maize farming system through the integration of composite maize seeds and organic waste processing technology. The program was conducted from July to November 2025, involving approximately 30 farmers. The methods included an initial survey, program socialization, training on organic fertilizer production, establishment of a composite maize demonstration plot, and evaluation using pre-test and post-test. Data were analyzed using descriptive quantitative methods. The results showed an increase in participants’ understanding of composite maize seeds and improved skills in producing organic fertilizer. Higher post-test scores (3-4,2) compared to pre-test (1-2) indicate the effectiveness of the training and mentoring approaches. Additionally, there was an increase in community awareness regarding the utilization of organic waste. This program contributed to enhancing farmers’ capacity and independence and serves as an initial step toward developing a sustainable agriculture system based on local resources.
Keywords: composite maize; household waste; community empowerment; sustainable agriculture; organic fertilizer
Abstrak: Nagari Simpang, Kabupaten Pasaman merupakan wilayah agraris dengan komoditas utama jagung yang dikelola secara konvensional dan bergantung pada benih hibrida serta pupuk anorganik. Pola ini dalam jangka panjang menyebabkan peningkatan biaya produksi, penurunan kesuburan tanah, serta rendahnya nilai tambah hasil pertanian. Selain itu, pengelolaan limbah rumah tangga yang belum optimal berdampak pada pencemaran lingkungan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan merevitalisasi sistem pertanian jagung berkelanjutan melalui integrasi benih jagung komposit dan teknologi pengolahan sampah organik. Kegiatan dilaksanakan selama Juli–November 2025 dengan melibatkan ±30 petani. Metode meliputi survei awal, sosialisasi, pelatihan pembuatan pupuk organik, pembuatan demplot jagung komposit, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pemahaman mitra terkait benih jagung komposit serta peningkatan keterampilan dalam memproduksi pupuk organik. Skor post-test yang lebih tinggi (3-4,2) dibandingkan pre-test (1-2) menunjukkan efektivitas metode pelatihan dan pendampingan. Selain itu, terjadi peningkatan kesadaran lingkungan masyarakat terhadap pemanfaatan sampah organik. Kegiatan ini berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas dan kemandirian petani serta menjadi langkah awal pengembangan sistem pertanian berkelanjutan berbasis sumber daya lokal.
Kata kunci: jagung komposit; limbah rumah tangga; pemberdayaan masyarakat; pertanian berkelanjutan; pupuk organik
Abstract:Abstract: The cattle farming community in Branjang Village, Semarang Regency, faces a primary issue of livestock waste accumulation that has not been optimally managed. This condition results in environmental pollution,…
unpleasant odors, and increased dependency on chemical fertilizers and liquefied petroleum gas (LPG). The main constraints are limited knowledge, skills, and access to waste processing technology. This community service program aims to optimize the utilization of cattle waste as organic fertilizer and alternative energy through the implementation of the Sustainability Techno-Integrated Agrofarm model. The method employed involves a participatory approach through extension, training, consultation, and the application of the appropriate MetaCow technology as a household-scale biogas digester. Program success was evaluated using pre-test and post-test instruments, analyzed by n-gain and paired sample t-test to assess improvements in participants’ knowledge and skills. The results demonstrate a significant enhancement in the community’s ability to process waste into economically valuable organic fertilizer and biogas, while also strengthening the institutional capacity of Sanggar Tani as a center for sustainable agricultural technology learning. This program contributes to the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly in clean energy, sustainable production, and environmental preservation.
Keywords: biogas; digester; livestock waste; organic fertilizer; sustainable agriculture
Abstrak: Masyarakat peternak sapi di Desa Branjang, Kabupaten Semarang menghadapi permasalahan utama yakni penumpukan limbah ternak yang belum dikelola secara optimal. Hal ini berdampak pada pencemaran lingkungan, munculnya bau tidak sedap, serta meningkatnya ketergantungan akan pupuk kimia serta gas elpiji. Kendala atama adalah karena keterbatasan pengetahuan, keterampilan, serta akses terhadap teknologi pengolahan limbah. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan mengoptimalkan pemanfaatan limbah ternak sapi sebagai pupuk organik dan energi alternatif melalui penerapan model Sustainability Techno-Integrated Agrofarm. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui penyuluhan, pelatihan, konsultasi, dan penerapan teknologi tepat guna MetaCow sebagai digester biogas rumah tangga, serta evaluasi keberhasilan melalui pre-test dan post-test yang dianalisis melalui uji n-gain dan paired sample t-test untuk menilai peningkatan tingkat pemahaman serta keterampilan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan kemampuan masyarakat dalam mengolah limbah menjadi pupuk organik dan biogas yang bernilai ekonomis serta memperkuat kelembagaan Sanggar Tani sebagai pusat pembelajaran teknologi pertanian berkelanjutan. Program ini berkontribusi pada tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) khususnya energi bersih, produksi berkelanjutan, dan pelestarian lingkungan.
Kata kunci: biogas; digester; limbah ternak; pupuk organik; pertanian berkelanjutan
Abstract:Abstract: The development of the agrotourism sector has enormous potential to support the village economy and introduce local potential to the wider community. However, many agrotourism operators, especially village-owned…
d enterprises (BUMDES) and agrotourism managers, still face obstacles in promoting and conveying information in an interesting and educational manner. This Community Service Activity (PkM) aims to apply Artificial Intelligence (AI) technology in a specially designed digital education platform to enhance the appeal and effectiveness of agrotourism promotions. Key features developed include an educational chatbot, AI-based virtual tours, a content recommendation system, and visitor data analysis. The activity was carried out through stages including identifying partner needs, digital literacy training, prototype development, and guidance on using social media platforms such as Facebook, Instagram, Twitter, and YouTube. The results of the activity demonstrate that the application of Artificial Intelligence (AI) can enhance creativity, promotional efficiency, and public interest in local agrotourism. Thus, the synergy between technology and local potential emerges as a highly effective strategy for advancing sustainable agriculture-based tourism.
Keywords: Artificial Intelligence; digital education; agrotourism; promotion; tourist village
Abstrak: Pengembangan sektor agrowisata memiliki potensi yang sangat besar dalam mendukung perekonomian desa serta memperkenalkan potensi lokal kepada masyarakat luas. Namun, masih banyak pelaku agrowisata khususnya BUMDES dan Pengelola agrowisata menghadapi kendala dalam promosi dan penyampaian informasi yang menarik dan edukatif. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk menerapkan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam sebuah platform edukasi digital yang dirancang khusus untuk meningkatkan daya tarik dan efektivitas promosi pada agrowisata. Beberapa fitur utama yang dikembangkan meliputi chatbot edukatif, tur virtual berbasis AI, sistem rekomendasi konten, dan analisis data pengunjung. Kegiatan ini dilaksanakan melalui tahapan identifikasi kebutuhan mitra, pelatihan literasi digital, pengembangan prototipe, dan pendampingan penggunaan platform media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter dan Youtobe. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penerapan Artificial Intellegent (AI) dapat meningkatkan Kreaktivitas, efisiensi promosi, serta minat masyarakat terhadap agrowisata lokal. Dengan demikian, sinergi antara teknologi dan potensi lokal menjadi strategi yang sangat efektif dalam memajukan pariwisata berbasis pertanian secara berkelanjutan.
Kata kunci: Artificial Intelligence; edukasi digital; agrowisata; promosi; desa wisata
Abstract:The low level of public awareness about the importance of waste management has caused waste in Mentari Village Housing, km 21, not to be managed properly. Making Liquid Organic Fertilizer (POC) is one solution to overcome…
e this problem. The process of making POC produces a liquid that can be used as organic fertilizer, while the solids produced can be used as a garden media. The focus of the community service activities carried out is the cultivation of TOGA plants and the use of household organic waste as fertilizer for TOGA plants. The implementation of this activity program consists of several stages of activity, namely observation of existing conditions, socialization of activities, training in making liquid organic fertilizer, mentoring and evaluation. With this activity, the Mentari Willage km 21 housing community is marked by a change in knowledge for the better regarding the cultivation of TOGA gardens and the importance of processing household waste into organic fertilizer which can contribute to sustainable agriculture.
Keywords: liquid organic fertilizer; organic waste; TOGA plants.
Abstrak: Masih rendahnya kesadaran warga tentang pentingnya pengelolaan sampah menyebabkan sampah di Perumahan Mentari Village km 21 belum terkelola dengan baik. Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) merupakan salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Proses pembuatan POC menghasilkan cairan yang dapat digunakan sebagai pupuk organic, sedangkan padatan yang dihasilkan dapat dijadikan sebagai media tanam. Fokus dari kegiatan pengadian masyarakat yang dilakukan adalah budidaya tanaman TOGA dan pemanfaatan sampah organik rumah tangga sebagai pupuk tanaman TOGA. Pelaksanaan program kegiatan ini terdiri dari beberapa tahapan kegiatan yaitu observasi kondisi eksisting, sosialisasi kegiatan, pelatihan pembuatan pupuk oraganik cair, pendampingan dan evaluasi. Dengan adanya kegiatan ini, masyarakat perumahan Mentari Willage km 21 yang ditandai dengan adanya perubahan pengetahuan menjadi tebih baik terkait budidaya tamana TOGA dan pentingnya pengolahan sampah rumah tangga menjadi pupuk organik yang dapat berkontribusi dalam pertanian berkelanjutan.
Kata kunci: pupuk organik cair; sampah organik; tanaman TOGA
Abstract:The design of a lighting automation system for dragon fruit plants uses an LDR sensor as a light intensity detector. This system is supported by a solar module with a capacity of 10-20 watts to supply power to a 12V battery…
ery which is paralleled to 24V. This voltage was then changed by the inverter to 220VAC to light 10 lights as research samples. Tests show that the LDR sensor works optimally at 5VDC voltage. If the voltage supplied is less or more than 5VDC, the sensor cannot function properly. Analysis of the conversion of ADC values to output voltage shows consistent results according to the test table. In addition, using 12VDC voltage directly on the LDR causes the sensor to not function because the LDR is designed for low voltage (≤5V). Without a suitable resistor, excessive current can damage sensor components. The system design is able to minimize the use of electricity sources from PLN and is an energy-saving solution for lighting dragon fruit plants in the field.
Keywords: agriculture sustainable; dragon fruit trees; photosynthesis; renewable energy;solar cells
Abstrak: Rancangan sistem otomatisasi lampu pada tanaman buah naga menggunakan sensor LDR sebagai pendeteksi intensitas cahaya. Sistem ini didukung oleh modul surya berkapasitas 10-20 watt untuk menyuplai daya ke baterai 12V yang diparalel menjadi 24V. Tegangan ini kemudian diubah oleh inverter menjadi 220VAC untuk menyalakan 10 lampu sebagai sampel penelitian. Pengujian menunjukkan bahwa sensor LDR bekerja optimal pada tegangan 5VDC. Jika tegangan yang diberikan kurang atau lebih dari 5VDC, sensor tidak dapat berfungsi dengan baik. Analisis konversi nilai ADC ke tegangan output menunjukkan hasil yang konsisten sesuai tabel pengujian. Selain itu, penggunaan tegangan 12VDC langsung pada LDR menyebabkan sensor tidak berfungsi karena LDR dirancang untuk tegangan rendah (≤5V). Tanpa resistor yang sesuai, arus yang berlebih dapat merusak komponen sensor. Rancangan sistem mampu meminimalisir penggunaan sumber listrik dari PLN dan menjadi solusi hemat energi untuk penerangan tanaman buah naga di lapangan.
Kata kunci: energi terbarukan; fotosintesis; pertanian berkelanjutan; pohon buah naga; solarcell
Abstract:Ulapato B Village, located in Telaga Biru District, Gorontalo Regency, is one of the leading sectors of the Gorontalo Provincial government. Agriculture is a source of livelihood for people in this area. Corn is one of the…
he farming programs that revives the people in the area. In Ulapato B Village, this corn commodity is very popular. However, corn production also produces waste, which if not managed properly can cause environmental problems. Stalks, seed coats, and cobs are some of the components of corn waste. Most people consider this waste as production residue that has no economic value. As a result, corn waste is often ignored or simply thrown away, which can harm the environment. Therefore, skills are needed to process corn waste into useful products. So the method used in this service activity is to carry out training in processing corn waste into handicraft products, briquettes and biochar. From this training activity, the community showed a positive response, where the training participants were enthusiastic about processing corn waste and increasing their knowledge about the use of corn waste so that corn waste would not become environmental waste.
Keywords: biochar; briquettes; handycrafts; corn waste; ulapato B
Abstrak: Desa Ulapato B yang terletak di Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo adalah salah satu sektor unggulan pemerintah Provinsi Gorontalo. Pertanian adalah sumber penghidupan masyarakat di daerah ini. Jagung adalah salah satu program usahatani yang menghidupkan masyarakat di daerah tersebut. Di Desa Ulapato B, komoditas jagung ini sangat populer. Namun, produksi jagung juga menghasilkan limbah, yang jika tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan masalah lingkungan. Tangkai, kulit biji, dan bonggol adalah beberapa komponen limbah jagung. Sebagian besar orang menganggap limbah ini sebagai sisa produksi yang tidak memiliki nilai ekonomi. Akibatnya, limbah jagung sering diabaikan atau dibuang begitu saja, yang dapat membahayakan lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan keterampilan dalam mengolah limbah jagung ini menjadi produk yang bermanfaat. Sehingga metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini yaitu dengan melaksanakan pelatihan dalam pengolahan limbah jagung menjadi produk kerajinan tangan, briket, dan biochar. Dari kegiatan pelatihan ini masyarakat menunjukkan respon yang positif, dimana peserta pelatihan antusias dalam mengolah limbah jagung dan menambah pengetahuan mereka tentang pemanfaatan limbah jagung sehingga limbah jagung tidak akan menjadi sampah lingkungan.
Kata kunci: biochar; briket; kerajinan tangan; limbah jagung; ulapato B
Abstract:Hydroponic farming is gaining popularity in urban areas due to its efficient resource usage and high, clean yields. However, systems like the Nutrient Film Technique (NFT) rely on electric pumps for continuous nutrient circulation,…
irculation, making them vulnerable to extended power outages that can disrupt plant nutrition and lead to crop failure. The purpose of this activity is to address the issue of power outages that impacted the hydroponic gardens of the Women Farmers Group (KWT) Sepinggan Raya, Balikpapan, by implementing a solar-powered water pump and a water quality monitoring system. The program consisted of an initial survey, system development and installation, and training sessions on system operation and maintenance. Results indicate that the implementation of the solar pump and monitoring system improves hydroponic productivity while reducing operational costs previously dependent on the national electricity grid. Additionally, the project empowered the local women's group with renewable energy knowledge and modern farming technologies, promoting sustainable urban agriculture practices.
Keywords: application of technologies; hydroponic; renewable energy; urban farming; water quality monitoring
Abstrak: Pertanian hidroponik semakin populer di area perkotaan yang memiliki keterbatasan ruang karena efisiensi sumber daya dan hasil panen yang tinggi. Namun, sistem hidroponik seperti Nutrient Film Technique (NFT) sangat bergantung pada pompa listrik untuk sirkulasi air nutrisi secara berkelanjutan. Pemadaman listrik yang berkepanjangan dapat mengganggu suplai nutrisi dan berpotensi menyebabkan kegagalan panen. Kegiatan ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan padamnya listrik yang terjadi di kebun hidroponik Kelompok Wanita Tani (KWT) Sepinggan Raya, Balikpapan dengan menerapkan pompa air tenaga surya dan sistem pemantauan kualitas air. Kegiatan meliputi survei awal, pengembangan dan instalasi sistem, serta pelatihan pengoperasian dan pemeliharaan teknologi bagi para petani. Hasil menunjukkan bahwa sistem ini meningkatkan produktivitas kebun hidroponik dan mengurangi ketergantungan terhadap jaringan listrik nasional (PLN). Selain itu, proyek ini memberdayakan kelompok tani dengan pengetahuan tentang energi terbarukan dan teknologi pertanian modern, mendorong praktik pertanian yang berkelanjutan di lingkungan urban.
Kata kunci: energi baru terbarukan; hidroponik; monitoring kualitas air; penerapan teknologi; urban farming
Abstract:The Jabal Farm Millennial Taruna Tani Group is located in Kefamenanu City, focusing on freshwater fish farming and agriculture. The conventional fish farming system faces challenges in terms of monitoring pond conditions…
and efficient feeding. One of the main problems faced by the group is the difficulty in maintaining optimal water temperature and quality as well as manual feeding management. To overcome this problem, it is necessary to implement Internet of Things (IoT) technology integrated with an Android application. This technology allows monitoring of pond conditions such as water temperature and pH automatically, as well as periodic fish feeding settings. This community service aims to build IoT-based automatic monitoring tools and systems, as well as provide training and mentoring to members of the Jabal Farm Taruna Tani Group in using IoT technology for fish pond management. The implementation method in this activity uses a Participatory Rural Appraisal (PRA) approach that emphasizes active community participation in all stages of the activity, from problem identification to evaluation and follow-up. With IoT technology, it is expected that fish pond management patterns will become more modern and efficient. This technology can help improve fish farming performance, reduce risks, and facilitate management, thus having a positive impact on the productivity and welfare of farmers.
Keywords: kelompok taruna tani jabal farm milenial; fish farming; internet of things (IoT)
Abstrak: Kelompok Taruna Tani Jabal Farm Milenial berada di Kota Kefamenanu, dengan fokus pada budidaya ikan air tawar dan pertanian. Sistem budidaya ikan yang masih konvensional menghadapi tantangan dalam hal pemantauan kondisi kolam dan pemberian pakan yang efisien. Salah satu masalah utama yang dihadapi kelompok ini adalah kesulitan dalam menjaga suhu dan kualitas air yang optimal serta pengelolaan pemberian pakan secara manual. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan implementasi teknologi Internet of Things (IoT) yang terintegrasi dengan aplikasi Android. Teknologi ini memungkinkan pemantauan kondisi kolam seperti suhu dan pH air secara otomatis, serta pengaturan pemberian pakan ikan secara berkala. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk membangun alat dan sistem pemantauan otomatis berbasis IoT, serta memberikan pelatihan dan pendampingan kepada anggota Kelompok Taruna Tani Jabal Farm dalam menggunakan teknologi IoT untuk manajemen kolam ikan. Metode pelaksanaan dalam kegiatan ini menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang menekankan partisipasi aktif masyarakat dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari identifikasi masalah hingga evaluasi dan tindak lanjut. Dengan adanya teknologi IoT, diharapkan pola pengelolaan kolam ikan akan menjadi lebih modern dan efisien. Teknologi ini dapat membantu meningkatkan performa budidaya ikan, mengurangi risiko, dan memudahkan manajemen, sehingga memberikan dampak positif terhadap produktivitas dan kesejahteraan petani.
Kata kunci: kelompok taruna tani jabal farm milenial; budidaya ikan; internet of things (IoT)
Abstract:Urban farming is a gardening activity that uses the home yard and can still be done even if the land is small/limited. RW 06 Galur Subdistrict is in an area of Central Jakarta which is relatively densely populated, where…
it is not possible to carry out gardening activities. Hydroponics and aquaponics are solutions to the problem of limited land. This activity aims to introduce, train and assist the public about hydroponic and aquaponic technology. This activity was carried out centrally at the Ceria Command RPTRA, RW 06 Galur Village in collaboration with Working Group 3 Galur Village from August – October 2023. The equipment used included 2 sets of hydroponic frames with a total of 196 holes and 1 set of aquaponic frames with 156 holes. The activity stages start with introducing tools and vegetable seeds, sowing together, monitoring, harvesting with residents, and evaluation. During the activity, vegetables were successfully harvested 3 times with yields of 12 kg per cycle, and 7 kg of catfish were successfully harvested. Some of the harvest is given to residents and stunted toddlers, and the other part is sold to be managed again by the RPTRA.
Keywords: Aquaponics; Hydroponics; Urban Agriculture
Abstrak: Pertanian perkotaan atau dikenal sebagai urban farming merupakan kegiatan berkebun dengan memanfaatkan pekarangan rumah dan tetap bisa dilakukan walaupun lahan sempit/terbatas. RW 06 Kelurahan Galur berada di daerah Jakarta Pusat yang tergolong padat penduduk, dimana tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan berkebun. Hidroponik dan akuaponik merupakan solusi untuk permasalah keterbatasan lahan. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan, melatih dan mendampigi masyarakat tentang teknologi hidroponik dan akuaponik. Kegiatan ini dilakukan secara terpusat di RPTRA Komando Ceria, RW 06 Kelurahan Galur bekerja sama dengan Pokja 3 Kelurahan Galur dari bulan Agustus – Oktober 2023. Alat yang digunakan meliputi 2 set rangka hidroponik dengan total 196 lubang dan 1 set rangka akuaponik dengan 156 lubang. Tahapan kegiatan dimulai dari pengenalan alat dan bibit sayur, menyemai bersama, monitoring, panen bersama warga, dan evaluasi. Selama kegiatan berlangsung sayuran berhasil di panen sebanyak 3 kali dengan hasil panen menghasilkan 12 kg per siklus, dan ikan lele berhasil di panen sebanyak 7 kg. Sebagian hasil panen diberikan untuk warga dan balita stunting, dan sebagian lainnnya dijual untuk dikelola kembali oleh RPTRA.
Kata kunci: akuaponik; hidroponik; pertanian perkotaan
Abstract:The price of agricultural products usually fluctuates cause of seasonal harvesting, bulky, voluminous, and the distance of the production centre to consumers. This activity was conducted to build an initiative of the farmer…
armer association (Gapoktan) to self-governing over sub-terminal agribusiness (STA). Extention and technical assistance were approached to solve their problem. Based on the analysis performed that STA has an important role in solving the weakness in the market. STA is a power to strengthen the Gapoktan in facing market restrictions. The success of the establishment of STA in the production centre depends on the managerial ability of the STA management board. They must push hard to build synergy between production and the market network. After following the extension, member of the farmer association had been increased their knowledge about the requirement of STA establishment and STA management. Technical assistance is delivered separately. Gapoktan Sumber Katon initiated the self-governing STA focussed on horticulture production link with the market. Besides Gapoktan Srikandi established the self-governing STA focussed on rice production. Development activities for pioneering Agribusiness Sub Terminals at Gapoktan in Kab. Pringsewu resulted in the establishment of a self-supporting STA in the centre of farming production.
Keywords: agriculture; farmer group; Gapoktan; self-governing; terminal-market.
Permasalah utama produk pertanian adalah fluktuasi harga yang disebabkan oleh dinamika situasi produksi dan permintaan serta sistem rantai nilai produk dari produsen ke konsumen. Lemahnya akses pasar pertanian berdampak pada ketidakpastian harga di tingkat petani. Kegiatan ini bertujuan membangun kapasitas Gapoktan dalam inisiasi pasar alternatif melalui Sub Terminal Agribisnis (STA). Penyuluhan dan bimbingan teknis digunakan untuk metode pelaksanaan kegiatan pendampingan. Berdasarkan analisis yang dilakukan bahwa STA memiliki peran penting dalam mengatasi kelemahan pasar produk pertanian. STA memperkuat Gapoktan dalam menghadapi keterbatasan akses pasar. Keberhasilan pendirian STA di sentra produksi tergantung pada kemampuan manajerial pengurus STA. Pengurus STA harus bekerja keras mendorong sinergi antara pelaku produksi dan jejaring pasar. Setelah mengikuti penyuluhan, anggota Gapoktan bertambah pengetahuannya tentang syarat-syarat pendirian STA dan pengelolaan STA. Bantuan teknis disampaikan secara terpisah. Gapoktan Sumber Katon memprakarsai STA swakelola yang berfokus pada hubungan produksi hortikultura dengan pasar. Gapoktan Srikandi mendirikan STA swakelola yang fokus pada produksi beras. Kegiatan pembinaan perintisan STA pada Gapoktan di Kab. Pringsewu menghasilkan kelembagaan STA swadaya di daerah sentra produksi sayur mayur. Tumbuh kembang STA swadaya di daerah sentra produksi akan tergantung kepada kesungguhan dan kerja keras unsur pengurus dalam memperjuangkan akses pasar bagi hasil produksi pertanian anggotanya.
Kata kunci: gapoktan; kelembagaan; pemasaran-terpadu; pertanian; sub terminal agribisnis; swadaya