Search Articles & Publications

Showing 120 articles found for "Membaca"

PENYULUHAN KEJADIAN HIPERMETROPIA PADA SISWA SEKOLAH DASAR NEGERI 102 PALEMBANG

Susanti, Devi, Fakhruddin, M, Melvani, Rizcita Prilia, Novianti, Leni
Abstract: Hipermetropia merupakan satu kelainan refraksi hipermetropia terjadi akibat bentuk kornea atau lensa mata yang tidak normal, .  Hampir 90% penderita hipermetropia berada di negara berkembang. Hipermetropia merupakan salah&#8230; alah satu penyebab penurunan tajam penglihatan pada anak-anak. Tujuanpenelitian :untuk mengetahuideterminankejadian hipermetropia pada siswa SDN 102 Palembang.  Metode: Desain penelitian yang digunakan yaitu observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitiandilakukan di SDN 102 Palembang pada Agustus 2023. Subjek penelitian siswa SDN 102 Palembang kelas 1 sampai kelas 6 yang menggunakan kacamata dan terdiagnosa miopia. Sampel berjumlah 40 orang.Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Data dianalisis menggunakan uji chi square. Hasil :Responden denganriwayat keturunan miopia sebesar 67.5%, jenis kelamin perempuan sebesar 60%, dan responden dengan kebiasaan membaca dengan posisi tiduran sebesar 70%. Hasil uji chi square riwayat keturunan p value= 0.001 <0.05, kebiasaan membacap value= 0.001 <0.05, jenis kelamin p value= 0.192 >0.05 dan p value= 0.090 >0.05. variabel yang berhubungan dengan kejadian hipermetropia yaitu riwayat keturunan dan kebiasaan membaca.Saran :untuk peneliti selanjutnya guna mengkaji lebih dalam terkait pengaruh keturunan dalam mempengaruhi kejadian hipermetropia

ANALISIS KESESUAIAN BUKU GURU DAN BUKU SISWA KELAS IV SD/MI TEMA SELALU BERHEMAT ENERGI KURIKULUM 2013 PADA KELAS IV SDN 200402 PADANGSIDIMPUAN

Lisnawati Hutabarat, Nurbaiti, Aulia, Weni
Abstract: Sebelum buku siswa digunakan dalam proses belajar mengajar di kelas, guru sebaiknya sudah membaca dan melakukan analisis buku terlebih dahulu. Sehingga jika di dalam buku tersebut ditemukan adanya kekeliruan atau ketidaktepatan,&#8230; tepatan, guru dapat mengatasinya dengan melakukan langkah-langkah tindak lanjut yang diperlukan. Hal inilah yang menjadi dasar mengapa pentingnya melakukan analisis buku siswa. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian terhadap Buku Guru dan Buku Siswa tema “Selalu Berhemat Energi” (edisi revisi tahun 2016) untuk menganalisis dan mendeskripsi apakah buku yang telah direvisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut sudah sesuai dengan Kurikulum 2013 atau masih perlu diperbaiki. Jenis penelitian analisis konten deskriptif. Dari hasil penelitian buku guru SD kelas IV tema 2 dengan judul selalu berhemat energi. Penulis buku adalah Angi St.Anggari, Dara Retno Wulan dkk. Penelaah buku adalah Widia Pekerti dkk. Penerbit adalah Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud. Buku terdiri dari 3 subtema dan setiap subtema terdiri dari 6 pembelajaran. Subtema 1 adalah sumber energi, subtema 2 adalah manfaat energi, dan subtema 3 adalah energi alternatif. Tahun terbit buku 2013 dan buku siswa SD kelas IV tema 2 dengan judul selalu berhemat energi. Penulis buku adalah Angi St.Anggari, Dara Retno Wulan dkk. Penelaah buku adalah Widia Pekerti dkk. Penerbit adalah Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud. Buku terdiri dari 3 subtema dan setiap subtema terdiri dari 6 pembelajaran. Subtema 1 adalah sumber energi, subtema 2 adalah manfaat energi, dan subtema 3 adalah energi alternatif. Tahun terbit buku 2013. Kesimpulannya sebagai berikut. Kesesuaian dengan SKL adalah 100%. Kesesuaian dengan KI adalah 100%. Kesesuaian dengan KD adalah 100%. Kesesuaian materi dengan tema adalah 100%. Kecukupan materi ditinjau dari cakupan  konsep/materi esensial alokasi waktu adalah 88,9%. Kedalaman materi ditinjau dari Pola pikir keilmuan Karakteristik siswa adalah 100%. Keterpaduan berbagai mata pelajaran adalah 100%. Penerapan Pendekatan Scientific adalah 94,4%. Penilaian Autentik yang Tersedia dalam Buku Siswa adalah 83,3%. Kolom interaksi antara guru dengan orangtua adalah 100%.

Deskripsi Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Asesmen Diagnostik Pada Siswa Kelas I SDN 014 Tarakan

Danianti, Djuni, Saputra, Ady, Bua, Mety Toding
Abstract: Diagnostic assessment tests for students entering elementary school were conducted once, focusing solely on letter reading. However, teachers did not assess syllable, word, paragraph, or reading comprehension, leading to&#8230; ongoing issues in early reading ability among students. This study aimed to describe the early reading ability of the first-grade students at SDN 014 Tarakan through diagnostic assessment in terms of five key aspects: reading letters, reading syllables, reading words, reading paragraphs, and comprehending information from reading. A qualitative descriptive approach was employed in this study. Data were collected through interviews, observations, and documentation. The findings revealed that in the letter reading aspect, 34 out of 55 students were fluent, while 21 were not. In the syllable reading aspect, 27 students were fluent, and 28 were not. In the word reading aspect, 21 students read fluently, while 34 did not. In the paragraph reading aspect, 15 students read fluently, and 40 struggled. In the comprehension aspect, 16 students could understand the content, whereas 39 had difficulties with comprehension. The study also identified several challenges faced by students with reading difficulties. These included poor memorization of letter shapes, frequent errors such as changing, omitting, or misplacing letters, difficulty with long words, limited vocabulary, and lack of concentration while reading.

Tinjauan Literatur: Efektivitas Penggunaan Metode Multisensori dalam Pembelajaran Membaca untuk Anak Disleksia di Sekolah Inklusi

Raudatul Jannah, Radiyatus Shalihah
Abstract: Dyslexia is a neurodevelopmental disorder that specifically affects an individual's ability to process phonological and orthographic information, thereby hindering the development of basic literacy skills. In inclusive education&#8230; ducation systems at the elementary level, these limitations are often not addressed through pedagogical approaches that align with the neurocognitive needs of learners. The problem addressed in this study is the effectiveness of the multisensory learning approach in improving the reading skills of children with dyslexia in inclusive elementary education settings. This research was conducted through a systematic literature review using a descriptive qualitative approach, drawing upon scholarly sources published in nationally and internationally accredited journals over the past decade. Thematic analysis was employed to identify consistent empirical findings related to multisensory interventions. The results show that the multisensory approach (which simultaneously engages visual, auditory, kinesthetic, and tactile modalities) has been proven to enhance phonological decoding, word recognition accuracy, reading fluency, and learning affectivity in children with dyslexia. Its effectiveness is highly influenced by the duration and intensity of the intervention, educators' competence in designing multisensory activities, and the suitability of materials to individual sensory profiles. The conclusion of this review asserts that the multisensory approach is not merely a remedial strategy, but a neuroeducation-based pedagogical framework that is inclusive and transformative. The novelty of this research lies in its integrative emphasis on the multisensory approach and principles of educational neuropsychology as the foundation for developing learning models that are responsive to the needs of neurodivergent learners in the context of inclusive elementary education in Indonesia.

Penggunaan Metode Fonik untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca pada Anak Slow Learner

Sholikhatun Nisa, Rudi Cahyono
Abstract: Reading proficiency is a fundamental skill in primary education; however, children with special needs classified as slow learners often face significant challenges in developing early reading abilities due to limitations&#8230; in phonological processing. This study aims to examine the effectiveness of the phonic method in improving the reading skills of slow learners through a structured intervention approach. The central research problem addresses how the phonic method can be appropriately adapted to overcome reading difficulties in children with learning delays. The subject of this study was a fifth-grade elementary school student who exhibited marked delays in recognizing letter sounds, constructing words, and understanding simple sentence structures. A case study approach was employed, involving a six-session individualized intervention designed in gradual stages. Each session focused on developing phonological skills, including phoneme identification, blending sounds into syllables, phoneme segmentation, and the introduction of complex patterns such as digraphs and diphthongs. The results demonstrated significant improvement in the subject’s reading ability, evidenced by increased accuracy in letter-sound recognition, reading simple words, and constructing short sentences. Although minor errors in pronunciation and word structure persisted, the subject’s consistent progress throughout the intervention confirmed the phonic method as an effective and applicable approach to teaching reading to slow learners. In conclusion, the phonic method successfully addressed phonological barriers through strategies tailored to the learner’s cognitive profile. The novelty of this study lies in its implementation of the phonic method as a step-by-step phonological intervention model within the context of inclusive primary education an area that remains underexplored and underutilized in both educational practice and research in Indonesia.

Peran Calistung Dalam Stimulasi Kognitif Pada Anak Memerlukan Perlindungan Khusus Di Sentra Wirajaya Makassar

Faradillah Firdaus, Putri Dewi Ananda Arifin M.Nr, Putri Alvina Tarilsa, Andi Zanirah Regina Mandawana, Nur Sadrina Amanda Mulyadi
Abstract: Penelitian ini didasari oleh keterbatasan akses pendidikan pada anak-anak dari keluarga miskin dan kelompok rentan, serta pentingnya dukungan pendidikan melalui rehabilitasi sosial seperti yang dilakukan di Sentra Wirajaya&#8230; ya Makassar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Subjek penelitian berjumlah dua orang AMPK yang belum pernah mengenyam pendidikan formal. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara dengan pendamping sosial (Pensos), serta dokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peran program CALISTUNG (membaca, menulis, dan berhitung) dalam menstimulasi kemampuan kognitif Anak Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK) di Sentra Wirajaya Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program CALISTUNG memiliki kontribusi signifikan dalam meningkatkan aspek kognitif anak, terutama dalam hal pengenalan huruf, angka, serta kemampuan dasar membaca dan menulis. Program ini juga membantu meningkatkan kepercayaan diri anak dan keterampilan sosial dasar.

Pentingnya Pengembangan Kreativitas Guru untuk Meningkatkan Kemampuan Literasi Peserta Didik

Riza Eka Putri, Fitriani, Siska Widyawati, Eka Puji Lestari, Darussalam
Abstract: Kreativitas dan literasi sangat penting dikembangkan di Lingkungan Sekolah Dasar, dimana pada fase ini peserta didik berada pada fase awal mengenal dan menjajaki dunia pendidikan yang seyogyanya belum bisa ditekan dan dipaksakan,&#8230; paksakan, karena usia anak-anak pada tingkat Sekolah Dasar masih ingin bermain dengan dunia anak-anaknya. Disini peran guru sangat penting sekali, salah satunya dengan mengembangkan kreativitas dalam setiap proses pembelajaran agar bisa memancing peserta didik dalam meningkatkan kemampuan mereka dalam berliterasi dengan baik, apakah itu dalam membaca, menulis dan memahami apa yang mereka pelajari dengan baik. Karena kreativitas adalah salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi tingkat pencapaian keberhasilan dalam suatu proses pembelajaran. Dan untuk mengembangkan kreativitas dan kemampuan literasi Peserta didik, maka kegiatan Pengabdian Masyarakat ini memadukan kreativitas seni sebagai media yang diyakini dapat membantu perkembangan kemampuan kognitif Peserta didik dalam proses belajar. Dan cara agar kemampuan dalam literasi dasar tersebut bisa dicapai dengan baik, salah satunya adalah dengan mengaplikasikan kreativitas dalam proses pembelajaran kepada Peserta didik. Tentunya hal ini juga menuntut kecakapan guru dalam memilih kreativitas yang cocok untuk dipadukan dengan Pelajaran yang dipelajari agar tujuan dari pembelajaran itu sendiri dapat tercapai dengan maksimal. Sehingga dengan adanya kreativitas guru dalam menjalankan proses pembelajaran bisa membangun dan meningkatkan literasi peserta didik dengan baik dan berkembang, serta menjadikan setiap proses pembelajaran yang dilalui oleh mereka menjadi menyenangkan dengan target pencapaian keberhasilan yang bisa dicapai dengan maksimal.

Penerapan Teknologi Untuk Meningkatkan Literasi Siswa Di SMP Negeri 5 Kisaran

Suci Andriyani, Zulfan Efendi, Chitra Latiffani
Abstract: Peningkatan literasi siswa di era digital memerlukan pendekatan yang inovatif dan adaptif, salah satunya melalui pemanfaatan teknologi. kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan teknologi dalam meningkatkan literasi&#8230; erasi siswa di SMP Negeri 5 Kisaran. Metode yang digunakan meliputi penggunaan platform e-learning, aplikasi pembelajaran interaktif, dan alat digital lainnya yang terintegrasi dalam kurikulum. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa integrasi teknologi, seperti penggunaan platform pembelajaran online (Google Classroom, Moodle), aplikasi literasi (Duolingo, Grammarly), dan video pembelajaran, berkontribusi signifikan terhadap peningkatan keterampilan membaca, menulis, dan pemahaman teks siswa. Temuan ini mengindikasikan bahwa teknologi dapat menjadi alat yang efektif dalam mendukung proses belajar mengajar dan meningkatkan literasi siswa, dengan catatan perlunya pelatihan yang memadai bagi guru dan siswa serta infrastruktur yang mendukung.

Optimalisasi MindMap Dalam Efektivitas Belajar Mengajar

Jaja Suteja, Mohammad Sofyan, Munawar Asikin, Jahidah, Nurul Siti
Abstract: Pengabdian ini bertujuan untuk sharing optimalisasi MindMap dalam efektivitas belajar mengajar, dengan metode pengabdian secara online yang dihadiri oleh 293 orang peserta dari 25 Provinsi. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa&#8230; ahwa mindmap secara efektif dalam pembelajaran, guru/pengajar dapat menciptakan lingkungan yang mendukung eksplorasi kreatif, kolaborasi, dan pemahaman yang dalam bagi siswa/mahasiswa. Mindmap tidak hanya menjadi alat untuk mengajar dan belajar, tetapi juga untuk mengembangkan keterampilan berpikir siswa/mahasiswa secara holistik. Membantu menggambarkan hubungan antara konsep-konsep yang kompleks secara visual. Ini membantu siswa untuk memahami dan mengingat informasi dengan lebih baik daripada hanya membaca teks atau catatan. Dengan menggunakan warna, gambar, dan simbol, dapat merangsang kreativitas siswa/mahasiswa dalam memproses informasi. Hal ini dapat meningkatkan keterlibatan siswa/mahasiswa dalam pembelajaran dan membuatnya lebih menyenangkan. Struktur visual mindmap mempermudah siswa/mahasiswa untuk mengingat informasi karena dapat mengaitkan konsep-konsep dengan gambaran keseluruhan yang di buat.

Analisis Kesalahan Siswa Dalam Menentukan Sisi, Rusuk, Dan Titik Sudut Kubus Di SMP Kelas VIII

Suci Ramayanti Sugeng, Aidilla Fitria Sari Siregar, Annisa Jalwa Br Panjaitan, Cindy Syaharani, Amanda Raina Sartika, Elfira Rahmadani
Abstract: Penelitian ini mengkaji bentuk-bentuk kesalahan beserta faktor penyebabnya yang dialami siswa kelas VIII SMP ketika mengidentifikasi sisi, rusuk, dan titik sudut pada bangun kubus. Desain kualitatif deskriptif dipilih agar&#8230; ar respons siswa dapat ditelaah secara mendalam tanpa adanya perlakuan atau manipulasi terhadap variabel penelitian. Sebanyak 30 siswa kelas VIII dijadikan subjek melalui teknik purposive sampling, dan 6 di antaranya dipilih untuk sesi wawancara semi terstruktur yang mewakili tiga tingkat kemampuan akademik, yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Pengumpulan data dilakukan melalui tes diagnostik tertulis, wawancara yang direkam, dan dokumentasi. Analisis data mengacu pada model interaktif Miles dan Huberman yang terdiri atas reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan triangulasi metode untuk menjaga keterpercayaan temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 46,67% siswa melakukan setidaknya satu kesalahan dalam mengidentifikasi sisi kubus, 63,33% siswa melakukan kesalahan terkait rusuk, dan 36,67% siswa mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi titik sudut secara tepat. Tiga kategori kesalahan yang dominan teridentifikasi, yaitu kesalahan konsep berupa kekeliruan mengidentifikasi unsur geometris, kesalahan visualisasi yang berkaitan dengan kesalahan membaca representasi tiga dimensi, dan kesalahan prosedural dalam menghitung komponen geometris secara sistematis. Faktor penyebab meliputi dimensi internal, terutama lemahnya pemahaman konsep dan rendahnya kemampuan penalaran spasial, serta dimensi eksternal seperti minimnya media pembelajaran dan dominasi strategi mengajar berbasis ceramah. Temuan ini menegaskan perlunya pendekatan pembelajaran geometri bangun ruang yang lebih eksploratif, konstruktivis, dan berbasis media di jenjang SMP. This study investigates the types and underlying causes of errors made by eighth-grade junior high school students when identifying the faces, edges, and vertices of a cube. A qualitative descriptive research design was employed to examine students' responses in depth without manipulating any research variables. Thirty students from the eighth grade were selected through purposive sampling, and six of them participated in semi-structured interview sessions representing three levels of academic ability: high, moderate, and low. Data were gathered using written diagnostic tests, audio-recorded interviews, and documentation. Analysis followed the interactive model proposed by Miles and Huberman, encompassing data reduction, data display, and conclusion drawing, with methodological triangulation applied to ensure the trustworthiness of findings. Results indicated that 46.67% of students committed at least one error in identifying cube faces, 63.33% made errors related to edges, and 36.67% had difficulty identifying vertices correctly. Three dominant error categories were identified: conceptual errors, visualization errors, and procedural errors. Causal factors encompassed internal dimensions, particularly weak conceptual understanding and limited spatial reasoning ability, and external dimensions, including insufficient instructional media and lecture-based teaching strategies.