Peran Corporate Social Responsibility (CSR) Dalam Pengelolaan Sampah Terhadap Nilai Ekonomi Kopi Di Desa Sait Buttu
Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Corporate Social Responsibility (CSR) Starbucks dalam pengelolaan sampah serta keterkaitannya dengan nilai ekonomi kopi di Desa Sait Buttu Saribu, Kecamatan Pamatang Sidamanik,…
manik, Kabupaten Simalungun. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pengurus bank sampah, petani kopi, dan perangkat desa yang dipilih secara purposive berdasarkan keterlibatan dan pengetahuan mereka terhadap program CSR serta pengelolaan sampah di wilayah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CSR Starbucks berperan sebagai pendorong awal dalam meningkatkan perhatian masyarakat terhadap persoalan sampah di lingkungan perkebunan kopi melalui pembinaan, pemberian dorongan, serta dukungan terhadap penguatan Bank Sampah Desa Sait Buttu. Dukungan tersebut berkaitan dengan perubahan praktik masyarakat, terutama berkurangnya kebiasaan membakar sampah plastik di lahan pertanian dan meningkatnya perhatian terhadap kebersihan lingkungan perkebunan. Perubahan praktik tersebut kemudian berkaitan dengan meningkatnya pemahaman masyarakat bahwa kebersihan lingkungan merupakan bagian dari upaya menjaga kualitas kopi. Dari aspek ekonomi, informan menyampaikan adanya peningkatan harga cherry kopi dari sekitar Rp4.000 menjadi Rp15.000–Rp20.000 per kilogram. Namun, perubahan harga tersebut tidak dapat dinyatakan sebagai akibat langsung CSR Starbucks karena nilai jual kopi dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa peran CSR Starbucks pada tingkat desa tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga mendorong perubahan praktik masyarakat yang memiliki keterkaitan dengan perhatian terhadap kualitas dan keberlanjutan ekonomi komoditas kopi.
This study aims to analyze the role of Starbucks’ Corporate Social Responsibility (CSR) in waste management and its relationship with the economic value of coffee in Sait Buttu Saribu Village, Pamatang Sidamanik District, Simalungun Regency. This study employed a descriptive qualitative approach. Data were collected through in-depth interviews with waste bank managers, coffee farmers, and village officials selected purposively based on their involvement in CSR programs and waste management practices. The findings indicate that Starbucks’ CSR serves as an initial driver in increasing community awareness of waste issues in coffee plantation areas through mentoring, encouragement, and support for strengthening the Sait Buttu Village Waste Bank. This support is associated with changes in community practices, particularly a reduction in plastic waste burning on agricultural land and increased attention to plantation cleanliness. These changes are also associated with greater awareness that environmental cleanliness contributes to maintaining coffee quality. From an economic perspective, informants reported an increase in coffee cherry prices from approximately IDR 4,000 to IDR 15,000–20,000 per kilogram. However, this increase cannot be attributed directly to Starbucks’ CSR because coffee prices are influenced by various other factors. Overall, Starbucks’ CSR contributes not only to environmental awareness but also to changes in community practices related to coffee quality and economic sustainability.