Abstract:The objective of this study was to examine how deepfake-based humor becomes socially acceptable despite its potential to function as digital harassment. This study focused on psychological mechanisms that explain audience…
e tolerance and normalization of harmful, identity-based humorous content in online environments. This study used a scoping review design to map and synthesize existing research across psychology, media studies, and cyberpsychology. The sources were identified through searches in major academic databases and were selected based on their relevance to deepfake technology, digital humor, online harassment, and psychological processes such as moral disengagement, online disinhibition, empathy reduction, and social norm reinforcement. The results indicate that acceptance of deepfake-based humor is commonly supported by four interrelated mechanisms, namely normalization through participatory digital culture, psychological distancing that weakens empathy, moral ambiguity created by humorous framing, and reduced accountability through diffusion of responsibility in online spaces. In addition, the literature conceptualizes deepfake humor as a hybrid phenomenon situated between remix-based entertainment and identity-targeting harm, shaped by platform visibility and engagement dynamics. This review highlights that deepfake-based humor may be tolerated not because it is harmless, but because it is routinely framed as “just a joke,” making its harm easier to minimize and socially overlook. Therefore, this study emphasizes the need for more direct empirical research and stronger interventions to prevent deepfake-based humor from becoming a normalized form of digital harassment in increasingly synthetic digital environments.
Abstract:Digital transformation has reshaped the marketing communication paradigm of the banking industry in Indonesia, encouraging financial institutions to adopt creative strategies to reach digital consumers. This study aims to…
o analyze the influence of content marketing, omnichannel marketing, and electronic word of mouth (eWOM) on purchase decisions through brand awareness in BCA’s public service advertisement “Don’t Know Kasih No!”. This banking security education campaign successfully garnered more than 100 million views through its unique storytelling approach, engaging audiovisual elements, and relevant humor, making it an interesting phenomenon to be examined scientifically. This research employs a descriptive quantitative method using the Structural Equation Modeling–Partial Least Square (SEM-PLS) approach. The research population consists of Indonesian individuals aged 17–40 years (Generation Z and Millennials) who are BCA customers and have been exposed to the “Don’t Know Kasih No.!” advertisement. The sample size was determined using Cochran’s formula, resulting in a minimum of 100 respondents, selected through purposive sampling. Data were collected using an online questionnaire developed based on a five-point Likert scale containing 47 statement items. Data analysis was conducted using SmartPLS 4.0 to evaluate validity, reliability, and structural hypothesis testing.
Abstract:This article examines the importance of pragmatic equivalence in translating humor, a crucial yet often challenging aspect due to humor’s deep reliance on cultural context, implicature, and audience interpretation. Pragmatic…
gmatic equivalence emphasizes the conveyance of implicit meaning through communication principles such as those proposed by Grice, where coherence takes precedence over mere lexical and grammatical cohesion. In humor translation, coherence refers to the interconnectedness of meaning based on shared context and knowledge between the author and the audience, rather than simply the structure of sentences. However, humor is inherently ambiguous and open to multiple interpretations, making its meaning not always directly transferable. A single mistranslated element can alter the entire comedic effect, as humor is often highly culture-specific. In this case, the translator’s role extends beyond language transfer to bridging the knowledge gap that the target audience might have, sometimes at the cost of the humor’s spontaneity. This challenge creates a dilemma between preserving natural comedic effect and delivering accurate meaning. As a result, humor translation often leans toward either overly literal or overly liberal approaches, each with the risk of losing essential nuance. Therefore, pragmatic equivalence involves more than just finding corresponding meanings; it also requires sensitivity to the social and cultural contexts that shape audience responses. The novelty of this study lies in its focus on the unique complexity of humor translation, making it a valuable contribution to the fields of literary studies, linguistics, and translation studies.
Abstract:This study aims to develop a comprehensive constellation model and identify optimal strategies for strengthening lecturers’ professional commitment in the largest private universities in Bogor. Penelitian ini mengkaji secara…
secara mendalam bagaimana emosi dan belajar sosial memengaruhi proses pembelajaran di sekolah dasar melalui perspektif neuropedagogik dan brain‑based learning. A mixed methods approach was used by combining quantitative analysis (meta-analysis of 173 respondents and 47 indicators of NP, EC, OB, MS, BS) and descriptive qualitative analysis using thematic analysis techniques on semi-structured interviews with five elementary school teachers. The meta-analysis results showed a very strong average effect of the latent construct relationship (t(128) = 12.92; p < 0.001; r ≈ 1.00) with almost zero heterogeneity (Qₑ(128) = 1.67; τ² = 0; I² = 0%), and no significant moderating effects were found for all indicators; the partial meta-regression coefficients for all items were very close to zero and the R² value was 0.000. Qualitatively, three main themes emerged: (1) positive emotions as the foundation of learning readiness, (2) social interaction as a reinforcement of meaning formation, and (3) contextual learning that integrates cognitive, emotional, and social dimensions. Although most teachers have not yet mastered the concepts of neuropedagogy and brain-based learning theoretically, they have intuitively implemented its principles through motivation, praise, humor, group work, collaborative projects, and learning experiences relevant to students' real lives. These findings support the latest theory that places emotions and social interactions as the main drivers of brain function in learning (Immordino Yang, 2016; Tyng et al., 2017; Vygotsky, 1978; Jensen, 2008), and emphasizes the importance of strengthening teachers' competence in understanding and designing brain- and emotion-based learning to support the holistic development of elementary school students.
Abstract:Penggunaan bahasa dalam media audiovisual tidak hanya berfungsi sebagai alat penyampaian pesan secara langsung, tetapi juga mengandung makna implisit yang dapat dianalisis melalui kajian pragmatik. Salah satu konsep penting…
ing dalam pragmatik adalah prinsip kerja sama yang dikemukakan oleh Paul Grice, yang meliputi empat maksim, yaitu kuantitas, kualitas, relevansi, dan cara. Dalam praktik komunikasi, keempat maksim tersebut tidak selalu dipatuhi, karena penutur kerap melakukan pelanggaran secara sengaja untuk menghasilkan implikatur tertentu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data penelitian berupa tuturan dalam dialog Tilik the Series yang diperoleh melalui teknik simak, catat, serta dokumentasi dalam bentuk transkrip dialog. Proses analisis dilakukan dengan mengidentifikasi tuturan yang mengandung pelanggaran maksim, mengelompokkan data berdasarkan jenis maksim yang dilanggar, serta menafsirkan implikatur yang dihasilkan dari pelanggaran tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialog dalam serial tersebut mengandung berbagai bentuk pelanggaran maksim, terutama pada maksim kuantitas, kualitas, relevansi, dan cara. Pelanggaran ini dimanfaatkan sebagai strategi komunikasi untuk menyampaikan makna tersirat, membangun karakter tokoh, serta menghadirkan unsur humor dan kritik sosial dalam percakapan. Oleh karena itu, pelanggaran maksim dalam dialog Tilik the Series memiliki peran pragmatik yang signifikan dalam membentuk makna serta dinamika interaksi antar tokoh.
Abstract:Permasalahan yang menjadi pembahasan utama dalam penelitian ini yaitu menganalisis model dan media pembelajaran yang efektif untuk diterapkan dengan tujuan meningkatkan hasil belajar peserta didik yang memiliki gangguan…
diskalkulia. Jenis penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan systematic literature review. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menemukan model dan media pembelajaran yang tepat melalui analisis yang ditujukan kepada peserta didik yang mengalami gangguan kalkulasi (diskalkulia). Dalam penelitian yang telah dilakukan, ditemukan empat strategi, model, maupun media pembelajaran yaitu sebagai berikut. Pertama, penerapan strategi pembelajaran yang paling efektif bagi peserta diskalkulia yaitu strategi pembelajaran humor. Kedua, terdapat tiga pendekatan yang dapat membantu meningkatkan hasil belajar siswa diskalkulia yaitu pendekatan langsung, pendekatan individu, dan pendekatan kelompok. Ketiga, pada peserta didik yang mengalami gangguan kalkulasi (diskalkulia) dapat dilakukan melalui media pembelajaran, salah satunya yang dianggap paling efektif yaitu media pembelajaran stamp game. Keempat, pembelajaran peserta didik yang mengalami gangguan kalkulasi (diskalkulia) dapat dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME).
Abstract:Melihat perkembangan komunikasi dan teknologi yang semakin maju menjadi tantangan yang berat bagi dakwah, umumnya para da’i ini perlu memahami Hakikat dan filosofi inovasi dalam melakukan langkah-langkah dakwah. Secara kondisi…
kondisi ini di sisi lain menjadi suatu peluang juga bagi para da’i berdakwah dengan pendekatan kewirausahaan melalui lembaga dakwah atau semacamnya. Secara masa era Dirupsi ini lah pantasnya kita mengembangkan diri, secara Indonesia merupakan nega yang amat padat penduduk dan memilki keanekaragaan suku, ras, budaya dan bahasa. Kebutuhan kohesi sosial ini menjadi tanggung jawab untuk kita merefleksikan diri sebagai seorang da’i untuk menerapkan nilai-nilai yang rahmataan lil alamien. Penelitian ini menitik beratkan pada bagaimana Hakikat dan inovasi dalam kewirausahaan Lembaga atau individu dakwah di era Dirupsi. Terkait era dirupsi, pendekatan dakwah akan memerlukan perubahan dan penyusuaian, baik dari segi bentuk, media, isi (peran) maupun paradigma yang mendasarinya. Penulis menawarkan beberapa strategi yang menyimpulkan penguatan kekuluargaan, menumbuhkan kesamaan presepsi antar kelompok masyarakat dengan memperkuat nilai-nilai universal dan mengembangkan sistem informasi yang mampu menjangkau secara luas dan menumbuhkan komunikasi yang efektif dan humoris.