Abstract:Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai-nilai pendidikan akhlak dalam Perang Ahzab berdasarkan kitab Fikih Sirah karya Zaid Az-Zaid serta menjelaskan relevansinya terhadap pengembangan Pendidikan Agama Islam (PAI) di…
era digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber data primer berupa kitab Fikih Sirah, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur akhlak Islam, Sirah Nabawiyah, dan penelitian pendidikan Islam yang relevan. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan dianalisis menggunakan analisis isi (content analysis) dengan tahapan pengodean, kategorisasi, interpretasi, dan penarikan makna pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Zaid Az-Zaid mengonstruksi enam belas nilai pendidikan akhlak dari peristiwa Perang Ahzab, yaitu tawakal, syaja’ah, optimisme, musyawarah, tawadhu’, penghargaan terhadap pendapat, kontribusi sosial, keterbukaan berpikir, keteladanan, integritas, ta‘awun, tabayyun, menjaga lisan, husnuzan kepada Allah, ketenangan batin, dan keteladanan sahabiyah. Nilai-nilai tersebut selanjutnya dikelompokkan ke dalam empat tipologi utama, yaitu akhlak spiritual, akhlak sosial, akhlak intelektual, serta akhlak kepemimpinan dan keteladanan. Penelitian ini juga menemukan bahwa nilai-nilai tersebut memiliki relevansi yang kuat bagi pembelajaran PAI kontemporer, terutama dalam penguatan karakter, resiliensi spiritual, literasi digital, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi sosial, serta pengembangan kepemimpinan peserta didik. Dengan demikian, Perang Ahzab dapat diposisikan sebagai sumber pendidikan akhlak yang kontekstual dan relevan bagi pengembangan pendidikan Islam masa kini.
Abstract:Masyarakat Adat Mapur di Pulau Bangka secara historis mengalami marginalisasi administratif akibat ketiadaan pengakuan formal atas sistem religi lokal mereka dalam dokumen kependudukan. Meskipun Putusan Mahkamah Konstitusi…
si Nomor 97/PUU-XIV/2016 telah memberikan legalitas bagi penghayat kepercayaan, implementasi di tingkat akar rumput masih terhambat oleh kompleksitas birokrasi, jarak geografis dan minimnya literasi hukum. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat identitas hukum dan memulihkan hak sipil Orang Mapur di Dusun Aik Abik melalui tindakan advokasi, sosialisasi, dan pendampingan partisipatif. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan Asset-Based Community Development yang berfokus pada pemanfaatan aset sosiokultural lokal berupa Gebong Memarong sebagai episentrum pergerakan. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi multipihak yang melibatkan Disdukcapil, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, sektor swasta, dan lembaga adat berhasil mengikis keraguan sosiologis (pseudo-identity) dan membangun kesadaran hukum warga. Melalui strategi pendampingan langsung (door-to-door) dan posko pelayanan kolektif, tim berhasil melakukan inventarisasi, verifikasi, dan validasi berkas administrasi kependudukan yang sah bersama Lembaga Adat Mapur. Program ini tidak hanya memangkas rantai birokrasi formal, tetapi juga berhasil menginisiasi pemulihan hak-hak sipil dasar komunitas adat sekaligus memperkuat resiliensi kebudayaan mereka dari ancaman eksklusi sosial di era modern.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pola asuh, keterlibatan orang tua, dan spiritualitas dalam membentuk resiliensi akademik santri di pondok pesantren. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research)…
esearch) dengan analisis isi dan analisis tematik terhadap berbagai artikel ilmiah relevan dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa resiliensi akademik santri merupakan konstruk multidimensional yang dipengaruhi oleh interaksi keluarga secara sistemik. Pola asuh, khususnya tipe otoritatif, berperan dalam membentuk regulasi emosi, kemandirian, dan motivasi belajar santri. Keterlibatan orang tua melalui komunikasi intensif, dukungan emosional, informasional, dan instrumental berfungsi sebagai faktor protektif yang meningkatkan rasa aman psikologis, motivasi intrinsik, serta kemampuan adaptasi terhadap tekanan akademik. Selain itu, spiritualitas keluarga yang diinternalisasi melalui nilai-nilai religius seperti sabar, tawakal, dan ikhlas berperan sebagai mekanisme coping adaptif yang membantu santri memaknai tekanan akademik secara positif. Ketiga variabel tersebut saling berinteraksi dan membentuk ketahanan psikologis yang lebih kuat dalam menghadapi tuntutan kehidupan pesantren. Kesimpulannya, resiliensi akademik santri tidak hanya ditentukan oleh faktor individual, tetapi merupakan hasil konstruksi ekologis yang melibatkan kualitas pengasuhan, keterlibatan orang tua, dan spiritualitas keluarga secara simultan.
Abstract:Kecemasan berbicara merupakan hambatan signifikan yang dialami siswa dan berpotensi menghambat partisipasi serta perkembangan akademik. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan belajar…
yang menyebabkan kecemasan berbicara pada siswa kelas X MAN 4 Tangerang, dan (2) memahami persepsi siswa tentang pengalaman kecemasan berbicara yang mereka alami. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, melibatkan 13 partisipan siswa yang dipilih melalui purposive sampling serta seorang guru BK untuk triangulasi sumber. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam, kemudian dianalisis menggunakan metode Colaizzi. Hasil penelitian menunjukkan kecemasan siswa disebabkan oleh tiga faktor lingkungan: pertama, lingkungan fisik sebagai faktor kondisional, penataan ruang (formasi letter U) meningkatkan perasaan tersorot (conspicuousness). Kedua, lingkungan sosioemosional sebagai faktor paling dominan, dipicu oleh interaksi negatif (teguran terbuka guru) dan diredam oleh dukungan afektif. Ketiga, lingkungan akademik sebagai puncak intensitas cemas akibat situasi evaluatif (ujian lisan/tahfidz) dan panggilan tiba-tiba. Kesiapan materi (preparedness) ditemukan sebagai strategi koping internal paling ampuh. Disimpulkan bahwa akar dari fenomena ini adalah persepsi kognitif internal siswa, yaitu "ketakutan akan penilaian negatif" (fear of negative evaluation), yang diaktifkan oleh pemicu di ketiga lingkungan tersebut, meskipun ditemukan pula adanya resiliensi dan motivasi perbaikan diri yang proaktif pada siswa.
Abstract:This study aims to examine the academic resilience of Islamic boarding school students through a library research approach by reviewing national and international literature related to personal, social, spiritual, and pedagogical…
dagogical factors that shape students’ academic endurance. Findings indicate that academic resilience among santri develops through the interaction of self-efficacy, intrinsic motivation, self-regulation skills, and social support from peers, teachers, and dormitory caregivers. The disciplined, communal, and religious environment of pesantren strengthens adaptive coping mechanisms, particularly in managing academic pressure, demanding study schedules, and religious obligations. International literature highlights that interpersonal support and religious culture enhance students’ psychological resilience and academic engagement. Moreover, spiritual routines such as prayer and scriptural study function as emotional regulation tools that promote mental stability. The review also reveals that pesantren’s intensive instructional methods foster long-term academic perseverance, although they may increase stress when not accompanied by adequate social support. Overall, this study underscores that academic resilience among santri is a product of the holistic ecology of Islamic boarding school education. Therefore, strengthening resilience requires integrated strategies that simultaneously develop psychological, social, and spiritual capacities.
Keywords : Academic Resilience, Islamic Boarding School,Students
Abstract:Gangguan bipolar menjadi tantangan serius di masyarakat Muslim Indonesia karena masih banyak disalahpahami, distigmatisasi, dan jarang mendapat penanganan optimal. Artikel ini bertujuan menelaah literatur tentang integrasi…
si psikiatri modern dan spiritualitas Islam—termasuk Islamic counseling dan mental health integration—dalam penanganan bipolar, serta menganalisis peluang dan hambatannya pada konteks komunitas Muslim Indonesia. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif reflektif melalui telaah jurnal ilmiah dan sumber keislaman terbaru. Hasil analisis menunjukkan bahwa integrasi model perawatan—meliputi kolaborasi agama-medis, Islamic therapy, edukasi komunitas, dan penguatan Muslim community health—dapat meningkatkan efektivitas penanganan, memperkuat resiliensi psikologis, mengurangi stigma, dan mendorong pemulihan komprehensif bagi pasien bipolar. Namun, integrasi ini masih menghadapi hambatan berupa stigma sosial, rendahnya literasi masyarakat, serta kesenjangan komunikasi antara tenaga kesehatan dan pemuka agama. Peluang besar dapat dioptimalkan melalui pelatihan konselor dan ustadz kesehatan jiwa, program edukasi berbasis masjid, serta kebijakan publik yang mendukung. Simpulan penelitian menegaskan bahwa integrasi psikiatri modern dan spiritualitas Islam, khususnya melalui Islamic counseling dan community-based intervention, dapat memperbaiki kualitas layanan kesehatan jiwa, meningkatkan kualitas hidup, serta menciptakan model layanan yang lebih holistik, inklusif, dan adaptif terhadap nilai budaya serta keagamaan di Indonesia.
Abstract:Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan menguji pengaruh work life balance dan kepuasan kerja terhadap turnover intention pegawai Non ASN Kabupaten Banyuasin. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui…
ahui seberapa besar peran resiliensi dalam memoderasi hubungan antara work life balance dan kepuasan kerja terhadap turnover intention. Penelitian ini juga dimaksudkan untuk memberikan gambaran empiris mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi niat pegawai Non ASN dalam meninggalkan pekerjaan. The purpose of this study is to analyze and test the influence of work life balance and job satisfaction on the turnover intention of Non-ASN employees in Banyuasin Regency. In addition, this study aims to find out how much role resilience plays in moderating the relationship between work life balance and job satisfaction to turnover intention. This study is also intended to provide an empirical picture of the factors that affect the intention of Non-ASN employees in leaving their jobs. The results of the research are expected to be a basis for consideration for the Banyuasin Regency Government in formulating policies that improve the welfare, loyalty, and stability of the performance of Non-ASN employees. This study uses a quantitative approach with a type of causal associative research. With a population of 6,120 Non-ASN employees and an error rate of 5%, the number of samples needed is 376 respondents. Data analysis was carried out using the help of SmartPLS statistical software. Based on the results of the study, Work Life Balance and Job Satisfaction have a negative and significant effect on the Turnover Intention of Non-ASN employees in Banyuasin Regency. The better the work-life balance and the higher the job satisfaction, the lower the employee's intention to leave. Job satisfaction is the most dominant factor. In addition, resilience acts as a moderator that strengthens the negative influence of the two variables, so that it is able to suppress the tendency of turnover intention more effectively
Abstract:The development of education in the Society 5.0 era has introduced new challenges for Islamic Religious Education (PAI) teachers through the integration of digital technology, changes in students’ characteristics, and increasing…
increasing demands for innovative and adaptive learning, particularly in schools with limited facilities. This study aims to analyze PAI teachers’ understanding of resilience, the forms of resilience they develop, and its relevance to adaptive learning competencies at SMP Asy-Syafi’iyah Lohgung Brondong. The study employed a phenomenological qualitative approach with a case study design. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation involving PAI teachers, the school principal, and curriculum personnel selected purposively. The findings reveal that PAI teachers perceive resilience as the ability to endure, adapt, and remain productive in responding to digital educational changes through emotional, spiritual, social, and professional strengths. Resilience is manifested through the use of digital media, individualized learning assistance, and collaboration with schools and students’ families. The study concludes that resilience plays a crucial role in strengthening teachers’ adaptive capacities by fostering innovation, openness to change, and more communicative learning practices. The novelty of this research lies in the finding that the resilience of PAI teachers in coastal schools functions not merely as a coping mechanism against educational pressures but also as the primary foundation for developing adaptive learning in the Society 5.0 era. These findings underscore the necessity of strengthening resilience through continuous professional development, institutional support, and digital literacy to ensure that PAI learning remains relevant and adaptive.
Abstract:An orphanage is a social institution that functions to provide protection, care, and guidance for children who have lost the support of their nuclear families. Its role is not limited to fulfilling basic needs but also contributes…
ontributes significantly to education and character development. Teachers working in orphanages face dual roles as educators and caregivers, requiring psychological resilience to manage emotional pressures, limited resources, and the complexity of social relationships in the workplace. In this context, resilience becomes a key factor that enables teachers to adapt, overcome obstacles, and develop effective strategies to maintain both personal and professional stability. This study aims to describe teacher resilience at Muhammadiyah Orphanage Lamongan using a qualitative approach with a case study design. The research subjects consisted of two teachers, with data collected through in-depth interviews and participatory observation, supported by triangulated information from significant others. The findings indicate that both subjects experienced resilience dynamics due to dual roles and adaptation difficulties, particularly in time management and task distribution. Nevertheless, strategies such as effective time management, utilization of social support, and reflective ability in interpreting experiences proved to be essential factors in strengthening their resilience. The study concludes that teacher resilience in orphanages is an adaptive process shaped by the interaction of personal, social, and contextual factors. Therefore, institutional interventions in the form of self-management training and enhanced environmental support are necessary to ensure the sustainability of teachers’ roles in orphanages.
Abstract:Meskipun pengakuan terhadap agroforestri tradisional sebagai strategi pengelolaan lahan berkelanjutan semakin meningkat, penelitian yang mengintegrasikan analisis keanekaragaman tanaman dengan persepsi lokal untuk memahami…
hami ketahanan ekologi-ekonomi masih terbatas. Penelitian ini mengkaji hubungan antara keanekaragaman tanaman dalam sistem agroforestri dan kontribusinya terhadap stabilitas ekosistem serta ketahanan ekonomi komunitas lokal di Desa Dulamayo Selatan, sekitar Hutan Pendidikan Universitas Gorontalo, Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan metode campuran, kami menggabungkan analisis vegetasi kuantitatif melalui 9 plot dinamis (72 sub-plot) dengan survei sosial yang melibatkan 60 rumah tangga dan wawancara mendalam dengan 5 informan kunci, dengan penilaian menggunakan skala Likert (1-5). Analisis Indeks Nilai Penting (INP) menunjukkan dominasi spesies serbaguna, dengan Arenga pinnata (INP=113,72), Lansium parasiticum (INP=68,8), dan Aleurites moluccanus (INP=48,45) menjadi komponen kunci dalam sistem agroforestri lokal. Komunitas lokal menilai tinggi jasa ekosistem dari sistem agroforestri, khususnya penyediaan air bersih (4,4/5) dan mitigasi bencana alam (4,2/5). Analisis regresi menunjukkan korelasi positif yang signifikan antara kesadaran lingkungan dan manfaat ekonomi (R²=0,72), mengindikasikan bahwa kesadaran ekologis dan keuntungan ekonomi dapat bersinergi dalam pengelolaan agroforestri. Preferensi terhadap spesies serbaguna mencerminkan strategi adaptif untuk memaksimalkan manfaat dari sumber daya lahan yang terbatas, sambil menjaga keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem. Temuan ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan kesadaran ekologis ke dalam program pengembangan agroforestri dan menyoroti potensi diversifikasi spesies untuk meningkatkan ketahanan ekologi sekaligus stabilitas ekonomi pada komunitas yang bergantung pada hutan.