Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran interaktif berbasis Articulate Storyline pada materi komponen elektronika aktif dan pasif untuk peserta didik kelas X Teknik Audio Video di SMK Negeri 1 Padang.…
ang. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan 4-D, yang meliputi tahap pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran. Subjek penelitian terdiri atas ahli materi, ahli media, dan peserta didik. Instrumen penelitian berupa angket validasi dan angket praktikalitas. Data dianalisis menggunakan teknik deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran yang dikembangkan memiliki tingkat validitas yang sangat baik. Validasi oleh ahli materi memperoleh rata-rata persentase sebesar 86,3% dengan kategori sangat valid, sedangkan validasi oleh ahli media memperoleh rata-rata persentase sebesar 88,75% dengan kategori sangat valid. Hasil uji praktikalitas oleh peserta didik menunjukkan rata-rata persentase sebesar 92,93% dengan kategori sangat praktis. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran interaktif berbasis Articulate Storyline layak dan praktis digunakan sebagai media pendukung pembelajaran komponen elektronika aktif dan pasif di Sekolah Menengah Kejuruan.
Abstract:Enterobius vermicularis atau cacing kremi merupakan nematoda usus yang sering menginfeksi anak usia sekolah dasar dan ditularkan melalui jalur fekaloral akibat tertelannya telur infektif dari lingkungan yang terkontaminasi.…
si. Pengetahuan wali murid berperan penting dalam pencegahan infeksi ini melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Tujuan: Menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan wali murid kelas 2 salah satu SD di Jawa Timur dengan kejadian infeksi cacing kremi pada anak. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan pendekatan cross-sectional dilakukan pada Juni–Juli 2025 terhadap 39 responden dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Fisher’s Exact Test dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil: Sebanyak 25 responden (64,1%) memiliki tingkat pengetahuan baik dan 14 responden (35,9%) memiliki pengetahuan kurang baik. Sebanyak 7 anak (17,9%) terindikasi mengalami gejala infeksi cacing kremi dan 32 anak (82,1%) tidak menunjukkan gejala. Hasil uji Fisher’s Exact Test menunjukkan nilai p = 0,005 (p < 0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan wali murid dengan kejadian infeksi cacing kremi pada anak kelas 2 salah satu SD di Jawa Timur.
Abstract:Kebakaran merupakan bencana nonalam yang sering terjadi di wilayah permukiman dan dapat menimbulkan kerugian jiwa maupun materi. Tingginya risiko kebakaran di lingkungan masyarakat umumnya dipengaruhi oleh aktivitas usaha…
a rumahan, kelalaian dalam penggunaan api dan listrik. Pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat berperan penting dalam upaya pencegahan dan penanggulangan bencana kebakaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat tentang bencana kebakaran di Kampung Tempuran Kelurahan Bulakan Sukoharjo. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian sebanyak 425 warga RW 5 Kampung Tempuran, dengan sampel sebanyak 81 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis secara univariat. penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 50 responden (61,7%) memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang bencana kebakaran, sedangkan kesiapsiagaan masyarakat sebanyak 45 responden (55,6%) berada pada kategori tinggi Mayoritas masyarakat memiliki pengetahuan yang baik dan kesiapsiagaan tinggi dalam menghadapi bencana kebakaran, namun tetap diperlukan upaya peningkatan pengetahuan dan kesiapsiagaan secara berkelanjutan.
Abstract:Diabetes Mellitus merupakan penyakit kronis yang sering menimbulkan komplikasi, salah satunya ulkus diabetik yang dapat menyebabkan infeksi, amputasi, serta penurunan kualitas hidup. Risiko terjadinya ulkus diabetik meningkat…
ngkat akibat kurangnya pengetahuan mengenai perawatan kaki dan upaya pencegahan ulkus. Tingginya jumlah penderita Diabetes Mellitus di wilayah kerja Puskesmas Grogol Kabupaten Suokaharjo menunjukkan pentingnya pengetahuan penderita dalam mencegah terjadinya ulkus. Tujuan : bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan tentang pencegahan ulkus pada penderita Diabetes Mellitus di wilayah kerja Puskesmas Grogol Kabupaten Sukoharjo. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah penderita DM yang berkunjung ke Puskesmas Grogol, dengan jumlah sampel 92 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis secara univariat. Hasil : Mayoritas responden berusia ≥ 60 tahun 50 orang (54,3%), berjenis kelamin perempuan 71 orang (77,2%), berpendidikan menengah 43 orang (46,7%), lama menderita DM < 5 tahun 53 orang (57,6%), tidak bekerja sebanyak 62 orang (67,4%). Tingkat pengetahuan penderita DM tentang pencegahan ulkus sebagian besar berada pada kategori baik yaitu 51 orang (55,4%), diikuti kategori sedang 29 orang (31,5%) dan kategori buruk 12 orang (13,0%). Mayoritas penderita DM di wilayah kerja Puskesmas Grogol Kabupaten Sukoharjo memiliki pengetahuan yang baik tentang pencegahan ulkus diabetik, namun masih diperlukan upaya lebih lanjut pada kelompok yang berpengetahuan sedang dan buruk guna mencegah terjadinya ulkus diabetik.
Abstract:eban kerja yang dirasakan oleh perawat terjadi karena adanya tingkat tekanan dalam bekerja. Apabila perawat mengalami beban kerja yang tinggi, maka tingkat kepatuhan dalam pengisian early warning system di dalam rumah sakit.…
kit. Objek yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah RSUP Surakarta yang difokuskan pada perawat. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui tingkat Beban Kerja Perawat dengan Kepatuhan Pengisian Early Warning System (EWS) di RSUP Surakarta, (2) mengetahui tingkat kepatuhan pengisian Early Warning System (EWS) di RSUP Surakarta dan (3) menganalisis hubungan tingkat Beban Kerja Perawat dengan Kepatuhan Pengisian Early Warning System (EWS) di RSUP Surakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan rancangan cross-sectional.penelitian dilakukan di RSUP Surakarta dengan subjek penelitian adalah perawat pelaksana. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah responden sebanyak 36 perawat. Instrumen penelitian terdiri dari kuesioner untuk mengukur tingkat beban kerja perawat dan lembar observasi untuk menilai kepatuhan pengisian Early Warning System (EWS). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat, dengan uji statistik korelasi Kendall Tau untuk mengetahui hubungan antara tingkat beban kerja perawat dan kepatuhan pengisian EWS. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan kepatuhan pengisian early warning system dimana nilai p-value adalah 0.035 < 0.05 dan nilai r sebesar 0.277. Maka, disimpulkan bahwa hubungan yang terbentuk antara beban kerja dengan kepatuhan pengisian early warning system memiliki kategori yang rendah.
Abstract:ASI eksklusif merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi yang berperan penting dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan balita secara optimal. Keberhasilan pemberian ASI eksklusif sangat dipengaruhi oleh sikap ibu, karena…
arena sikap mencerminkan kesiapan, keyakinan, dan kemauan ibu dalam memberikan ASI sesuai anjuran. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sikap ibu tentang pemberian ASI eksklusif pada balita di wilayah kerja Puskesmas Geyer 1 Kabupaten Grobogan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Populasi adalah seluruh ibu yang memiliki balita di Kelurahan Ledokdawan dengan jumlah sampel 78 responden, yang diambil menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner sikap dengan skala Likert, dan data dianalisis secara deskriptif menggunakan program SPSS. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki sikap positif terhadap pemberian ASI eksklusif, yaitu sebanyak 74 responden (94,9%), sedangkan responden dengan sikap negatif sebanyak 4 responden (5,1%). Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa gambaran sikap ibu tentang pemberian ASI eksklusif pada balita di wilayah kerja Puskesmas Geyer 1 Kabupaten Grobogan didominasi oleh sikap positif, yang diharapkan dapat mendukung keberhasilan program ASI eksklusif..
Abstract:Kinerja perawat merupakan faktor penting dalam menjamin mutu pelayanan kesehatan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja perawat adalah stres kerja. Stres kerja yang tidak terkelola dengan baik dapat berdampak pada…
penurunan produktivitas dan kualitas pelayanan keperawatan. Mengetahui hubungan stres kerja dengan kinerja perawat di Rumah Sakit Umum Pusat Surakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasional menggunakan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan sebanyak 54 responden. Instrumen penelitian menggunakan DASS (Depression Anxiety Stress Scale) untuk mengukur stres kerja dan Kuesioner Kinerja Perawat. Analisis univariat meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, masa kerja, status kepegawaian, stres kerja dan kinerja. Analisis bivariat menggunakan Uji Kendall Tau. Hasil penelitian didapatkan stres kerja mayoritas pada kategori stres sedang sebanyak 33 responden (61.1%). Kinerja perawat mayoritas pada kategori kinerja sedang sebanyak 28 responden (51.9%). Hasil Uji Kendall Tau didapatkan nilai p value 0,00 < 0,05 dengan hasil korelasi positif 0.676, hal ini dapat disimpulkan bahwa penelitian ini memiliki hubungan yang kuat antara stres kerja dengan kinerja perawat. Terdapat hubungan antara stres kerja dengan kinerja perawat di Rumah Sakit Umum Pusat Surakarta.
Abstract:Latar Belakang : Masalah kesehatan gigi dan mulut pada anak usia sekolah masih sering terjadi, terutama karies gigi yang dipengaruhi oleh perilaku menyikat gigi. Anak usia 6–8 tahun berada pada fase gigi campuran dengan…
n kemampuan motorik dan pemahaman yang belum optimal, sedangkan anak usia 9–12 tahun memiliki kemampuan yang lebih baik namun tetap berisiko karies akibat kebiasaan konsumsi makanan manis dan kurangnya konsistensi menyikat gigi. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan menyikat gigi pada anak usia sekolah. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan sampel 59 anak dari total populasi 143 siswa yang dipilih secara simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas serta dianalisis secara univariat. Hasil : Mayoritas responden berusia 6–8 tahun sebanyak 35 responden (59,3%) dan sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan menyikat gigi kategori sedang sebanyak 38 responden (64,4%). Kesimpulan : Tingkat pengetahuan menyikat gigi pada anak usia sekolah di MI Nurul Huda Pendem Sumberlawang mayoritas berada pada kategori sedang sebanyak 36 responden (61%).
Abstract:Latar Belakang : Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap penularan HIV/AIDS karena pengaruh pergaulan, perilaku berisiko, serta kurangnya pemahaman yang benar mengenai penularan dan pencegahan. Meskipun informasi…
masi tentang HIV/AIDS sudah banyak tersedia, kesenjangan antara pengetahuan dan sikap pencegahan pada remaja masih sering ditemukan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan sikap remaja tentang HIV/AIDS di SMK Negeri 3 Sukoharjo. Metode : Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan jumlah responden 91 siswa yang dipilih sesuai kriteria inklusi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan dan sikap yang telah diuji validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis secara univariat. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan tentang HIV/AIDS berada pada kategori baik, sedangkan sikap pencegahan HIV/AIDS mayoritas berada pada kategori positif. Namun, masih ditemukan beberapa responden dengan pemahaman yang kurang pada aspek jalur penularan dan upaya pencegahan. Kesimpulan : Tingkat pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS di SMK Negeri 3 Sukoharjo berada pada kategori baik, sedangkan sikap pencegahan HIV/AIDS mayoritas berada pada kategori positif.
Abstract:Pendahuluan: Medication error merupakan salah satu insiden keselamatan pasien yang paling sering terjadi dan berdampak signifikan pada kualitas layanan, lama perawatan, serta kepuasan pasien. Salah satu faktor yang paling…
g menentukan dalam pencegahannya adalah kepatuhan tenaga kesehatan terhadap prinsip pemberian obat benar. Scoping review ini menelaah bukti ilmiah mengenai pengaruh kepatuhan tersebut dengan membandingkan konteks pelayanan di DIY dan Sulawesi Selatan. Metode: Pencarian literatur dilakukan pada PubMed, BMC, ScienceDirect, dan Google Scholar melalui pendekatan PRISMA. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa meskipun tenaga kesehatan memiliki pengetahuan yang baik, kepatuhan praktik masih rendah terutama pada verifikasi pasien dan dokumentasi. Kesimpulan: Kesalahan paling sering terjadi pada tahap prescribing, transcribing, dispensing, dan administration, dipicu oleh beban kerja tinggi, komunikasi yang tidak efektif, serta sistem informasi obat yang belum optimal. Kepatuhan terhadap prinsip benar obat terbukti menurunkan medication error dan meningkatkan keselamatan pasien, namun keberhasilannya sangat bergantung pada penguatan sistem, supervisi, dan budaya keselamatan.