Search Articles & Publications

Showing 3148 articles found for "Inter"

Asosiasi Usia Dengan Tingkat Aktivitas Fisik pada Mahasiswi

Dilia Ananda Pratiwi, Deviana Tristian
Abstract: Obesitas merupakan sebuah epidemi global karena ekskalasi kasus obesitas di seluruh dunia yang sangat luar biasa. Kelompok usia dengan prevalensi obesitas tertinggi adalah populasi dewasa dan wanita adalah populasi yang&#8230; lebih rentan daripada pria berdasarkan jenis kelamin. Aktivitas fisik merupakan langkah yang direkomendasikan untuk menanggulangi obesitas, namun populasi dewasa di era modern ini terpapar kehidupan yang nyaman tetapi mengorbankan kebugaran fisik melalui pengurangan aktivitas fisik. Salah satu contoh populasi yang berisiko adalah mahasiswa karena pengaruh kehidupan kampusnya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana asosiasi antara usia dengan tingkat aktivitas fisik pada subjek dewasa perempuan yang memiliki latar belakang sebagai mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan bersifat kuantitatif dan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswi STIKes Bhakti Husada Cikarang dengan jumlah sampel yang teranalisa sebanyak 79 orang yang didapat melalui total purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) sebagai alat ukur tingkat aktivitas fisik. Analisa data yang digunakan dalam analisa bivariat adalah uji Chi-Square dan pada analisa multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan aktifitas fisik mahasiswa di mahasiswa dengan usia ≥20 tahun dengan kemungkinan 2,97 kali lebih besar beraktifitas fisik dibandingkan dengan usia <20tahun. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa terdapat asosiasi antara usia dengan tingkat aktivitas fisik mahasiswi

Laporan Kasus Terapi Generalis Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pendengaran Pada Pasien S

Tri Rahayu Nur Jannah, Mamnuah
Abstract: Gangguan jiwa merupakan perubahan persepsi terhadap stimulus baik internal maupun eksternal yang disertai dengan respon yang berkurang, berlebihan atau terdistorsi. gejala gangguan jiwa kadang-kadang bisa kembali atau memburuk&#8230; mburuk yang lebih dikenal dengan istilah "kambuh". Metode yang digunakan adalah laporan kasus dengan melakukan asuhan keperawatan pada pasien jiwa dari tahap pengkajian sampai dengan tahap evaluasi. Subjek laporan ini adalah pasien dengan gangguan jiwa dengan diagnosa gangguan persepsi sensori pendengaran. Instrumen yang digunakan dalam asuhan keperawatan ini adalah format ceklist kemampuan pasien dalam terapi generalis (menghardik, bercakap-cakap dengan orang yang dipilih, melakukan aktivitas yang disukai dan patuh minum obat). Jumlah populasi pada asuhan keperawatan adalah 1 pasien dengan kriteria pasien bersedia menjadi subjek, pasien kooperatif, mau mengikuti kegiatan dan pasien tidak memiliki keterbatasan fisik. Hasil penelitian menunjukan setelah dan sebelum dilakukan intervensi terdapat perbedaan pada pasien halusinasi pendengaran. Setelah dilakukan intervensi terapi generalis (menghardik, bercakap cakap dengan orang yang dipilih, melakukan aktivitas yang disukai dan patuh minum obat) terjadi peningkatan kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi pendengaran dan penurunan tanda gejala. Penanganan yang dilakukan menunjukkan tanda dan gejala sebelum dan sesudah dilakukan intervensi. Setelah dilakukan intervensi mengalami penurunan tanda gejala dan peningkatan kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi serta mampu memberikan dampak positif terhadap perbaikan kondisi pasien setelah melakukan terapi yang sudah diajarkan. Saran untuk penelitian lebih lanjut agar melakukan penelitian lebih dari 1 pasien, bina hubungan saling percaya (BHSP) lebih lama dengan pasien, mengkaji permasalahan yang dialami pada pasien dengan masalah halusinasi pendengaran, serta bisa melakukan pendekatan jangka panjang yang melibatkan dukungan keluarga dalam proses penyembuhan pasien.

Implementasi Exercise Intradialisysis Untuk Mengurangi Kram Otot Pada Pasien Yang Sedang Menjalani Hemodialisis

Erina Widayanti, Sriyati
Abstract: Penyakit Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan salah satu masalah kesehatan dengan prevalensi tertinggi di dunia. Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan hilangnya fungsi ginjal untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan&#8230; an elektrolit sehingga ginjal mengalami penurunan secara bertahap dengan menifestasi darah mengalami penumpukan sisa metabolik. Salah satu penanganan agar hemodinamik pasien tetap stabil adalah terapi sementara dengan hemodialisis. Hemodialisis dapat menyebabkan kram otot, oleh karena itu diperlukan latihan intradialytic exercise untuk dapat mencegah serta mengatasi kram selama proses hemodialisa. Tujuan: mampu memberikan dan menerapkan asuhan keperawatan pada pasien CKD dengan kram otot selama hemodialisa. Metode: penelitian ini adalah penelitian studi kasus observasional dengan desain pendekatan (cross sectional) yang melibatkan pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara, dan kajian rekam medis pasien. Hasil: dari hasil pengkajian dan pemeriksaan fisik didapatkan data pasien mengeluh mengalami kram otot selama menjalani hemodialisa. Diagnosa utama keperawatan pada pasien kram otot pada saat menjalani hemodialisa adalah nyeri akut berhubungan dengan ketidakseimbangan elektrolit. Pencapaian yang diharapkan pada kasus ini dengan diagnosa nyeri akut berhubungan dengan ketidakseimbangan elektrolit dilakukan selama 3 hari, intervensi keperawatan diharapkan masalah keperawatan tersebut teratasi. Kesimpulan: asuhan keperawatan yang terencana dan terintegrasi mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap keberasilan penanganan nyeri akut pada pasien kram otot saat menjalani hemodialisa melalui edukasi dan demonstrasi.

Peningkatan Kemampuan Masyarakat Dalam Penanganan Hipertensi Di Dusun Kiara Payung

Aisyah Fitria Rahmah, Shinta Ernawati, Rina Puspita Sari, Dewi Retnowati, Audi Nur Salsabila, Dina Nopita
Abstract: Latar Belakang: Hipertensi merupakan penyebab utama kematian dengan prevalensi yang terus meningkat terutama pada lansia. Pengendalian hipertensi dapat dilakukan melalui gaya hidup sehat dan aktivitas fisik.Tujuan: Mengetahui&#8230; tahui gambaran penerapan senam hipertensi terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi di Dusun Kiara Payung, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang. Metode:  Studi deskriptif analitik dengan 25 peserta hipertensi, dilakukan selama tiga hari. Senam hipertensi dilakukan 30 menit sesuai pedoman, dengan pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah. Hasil:  Sebagian besar peserta berusia 42-48 tahun dan perempuan. Senam hipertensi efektif menurunkan tekanan darah, dengan banyak peserta masuk kategori prehipertensi dan normal setelah intervensi. Kesimpulan: Senam hipertensi rutin dapat menurunkan tekanan darah dan meningkatkan kesadaran masyarakat. Disarankan pelaksanaan senam secara berkala dan pemantauan tekanan darah untuk mengurangi kasus hipertensi. Saran: Diharapkan bagi penderita Hipertensi mampu menerapkan senam hipertensi secara benar dan teratur.

Penerapan Edukasi Kesehatan, Senam Hipertensi, Dan Pemberian Jus Tomat Dalam Upaya Pengendalian Hipertensi Pada Masyarakat

Satrio Nur Fadhilah, Rina Puspita Sari, Neni Alfidah, Tarkawi, Nisah Khairani, Putri Andini, Putri Anggraeni, Eva Yulia, Selfi Meilani Putri, Sri Diana, Ismi Nur Faizah
Abstract: Latar Belakang: Hipertensi  menjadi  salah  satu  masalah  kesehatan  masyarakat  di  dunia,  meningkatkan kecacatan dan kematian. Angka kejadian hipertensi setiap tahun terus mengalami peningkatan, penyakit ini sering disebut&#8230; sering disebut sebagai silent killer. Karena seringkali tidak menimbulkan gejala (silent killer), hipertensi memerlukan pendekatan keperawatan berbasis komunitas dengan intervensi yang berfokus pada masyarakat guna mencapai pengendalian yang lebih efektif. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan gambaran implementasi keperawatan komunitas melalui edukasi kesehatan, senam hipertensi, dan pemberian jus tomat sebagai upaya pengendalian tekanan darah pada warga usia dewasa dan lanjut usia di lingkungan masyarakat. Metode: Penelitian quasi experimental dengan rancangan one group pre-test post-test design yang diikuti oleh 27 warga dewasa dan usia lanjut. Intervensi dilakukan 2 kali pertemuan (45 menit) meliputi edukasi kesehatan, senam hipertensi, dan pemberian jus tomat. Data dikumpulkan melalui pre-test dan post-test menggunakan kuesioner pengetahuan dan pengukuran tekanan darah, dianalisis secara deskriptif. Hasil: Setelah dilakukan intervensi berupa edukasi kesehatan, senam hipertensi, dan pemberian jus tomat, terjadi peningkatan pengetahuan warga dari 59,3% menjadi 92,5% dalam kategori baik. Selain itu, terjadi penurunan tekanan darah rata-rata sebesar 8 mmHg (sistolik) dan 4 mmHg (diastolik) pada warga yang mengikuti kegiatan tersebut, yang menunjukkan efek positif dari intervensi non-farmakologis terhadap pengendalian tekanan darah. Kesimpulan: Penerapan edukasi kesehatan, latihan fisik berupa senam hipertensi, serta pemberian jus tomat terbukti memberikan dampak positif dalam menurunkan tekanan darah dan dapat dijadikan strategi intervensi non-farmakologis yang efektif di komunitas.

Implementasi Keperawatan Komunitas: Edukasi Hipertensi Pemberian Jus Semangka Dan Senam Hipertensi Pada Penderita Hipertensi

Siti Nuraliza, Rina Puspita Sari, Aan Juliyanti Nurohmah, Ade Ummi Hanik, Alfiani Dwi Julianti, Aliza Fatma Urbaningrum, Amelia Ajeng Ayuningdyah, Cindy Ilmi Nimastin Prahayu Ngestu, Muhamad Ibrohim, Yuli Dwiyanti, Carsilla
Abstract: Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang kerap dialami oleh lansia dan dapat memicu munculnya gangguan kardiovaskular. Salah satu pendekatan nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu&#8230; tu mengendalikan tekanan darah adalah senam hipertensi yang dilakukan selama tiga kali pertemuan. Aktivitas fisik ini berfungsi dengan meningkatkan sirkulasi darah serta memperbaiki suplai oksigen ke otot jantung. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Senam Hipertensi dan Jus Semangka terhadap perubahan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi. Metode Penelitian: Metode penelitian ini menggunakan metode pre-eksperimental dengan pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pengetahuan responden serta perumusan sampel menggunakan Total Sampling dengan jumlah responden sebanyak 30 orang. Desain ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan perubahan tekanan darah sebelum dan sesudah diberikan intervensi senam hipertensi dan jus semangka. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pertemuan pertama, kedua dan ketiga, tekanan darah sistolik dan diastolik ada perubahan yang signifikan, yang berarti terdapat pengaruh senam hipertensi dan jus semangka terhadap perubahan tekanan darah. Kesimpulan: Implementasi senam hipertensi dan pemberian jus semangka berpengaruh terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi dengan rata-rata sistolik dari 147 mmHg menjadi 133 mmHg dan rata-rata diastolik 89 mmHg menjadi 79 mmHg.

Pengendalian Tekanan Darah Dengan Senam Hipertensi Dan Jus Semangka Pada Masyarakat Penderita Hipertensi

Agnes Jessica Sembiring, Rina Puspita Sari, Agung, Alsa Azzahra Medi, Alvira Aulia Halim Az-zahra, Ashila Almasyah, Asih, Fazlatul Amaliah, Husnaini, Iftitah Wira Sarwa, Nurseptia Dewi Saputri
Abstract: Latar Belakang: Hipertensi adalah kondisi medis yang umum terjadi pada lansia dan dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Senam Hipertensi adalah salah satu metode alternatif yang dapat membantu menurunkan tekanan&#8230; anan darah dengan cara meningkatkan aliran darah dan meningkatkan pasokan oksigen ke otot jantung. Berdasarkan fenomena yang ditemukan oleh peneliti, warga lansia di wilayah RW 02 Kelurahan Keroncong belum pernah melakukan penanganan hipertensi dengan terapi senam hipertensi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Senam Hipertensi terhadap perubahan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode pre-eksperimental dan perumusan sampel menggunakan rumus isac michael. Desain ini bertujuan untuk mengetahui perubahan tekanan darah sebelum dan sesudah diberikan intervensi senam hipertensi. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pertemuan pertama, kedua dan ketiga, tekanan darah sistolik dan diastolik ada perubahan yang signifikan, yang berarti terdapat pengaruh senam hipertensi terhadap perubahan tekanan darah. Kesimpulan: Senam hipertensi berpengaruh terhadap perubahan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi di wilayah RW 02 Kelurahan keroncong.

Laporan Kasus Skizofrenia Dengan Waham Pada Ny. S Di Wisma Srikandi Rumah Sakit Jiwa Grhasia Yogyakarta

Rachma Febi Andrianti, Prastiwi Puji Rahayu
Abstract: Latar Belakang: Skizofrenia merupakan gangguan jiwa kronis yang memengaruhi cara berpikir, merasa, dan berperilaku, salah satunya ditandai dengan gangguan proses pikir berupa waham. Waham menyebabkan pasien memiliki keyakinan&#8230; kinan yang salah dan tidak sesuai dengan kenyataan, yang berdampak pada interaksi sosial dan kualitas hidup pasien. Terapi orientasi realita adalah pendekatan non-farmakologis yang bertujuan untuk membantu pasien meningkatkan kesadaran terhadap waktu, tempat, orang, dan situasi nyata, serta mengurangi gangguan proses pikir. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi orientasi realita dalam mengatasi waham dan meningkatkan orientasi realita pada pasien dengan skizofrenia. Metode: Menggunakan metode studi kasus asuhan keperawatan dari tahap pengkajian hingga evaluasi. Kasus: Ny. S, wanita usia 43 tahun, dengan diagnosis medis skizofrenia dan gejala utama berupa waham. Pasien memenuhi kriteria inklusi yaitu berusia 18–60 tahun, memiliki diagnosis skizofrenia dengan gejala waham, bersedia mengikuti terapi, dan kooperatif. Instrumen pengkajian meliputi wawancara terstruktur, kuesioner, observasi langsung, media gambar, dan data rekam medis. Hasil: Terapi orientasi realita dilakukan selama 7 sesi dalam 7 hari. Hasil menunjukkan adanya peningkatan orientasi realita dan kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Meskipun waham belum sepenuhnya hilang, terdapat peningkatan motivasi pasien untuk sembuh dan mencegah kekambuhan. Kesimpulan: Terapi orientasi realita terbukti efektif dalam meningkatkan orientasi realita dan mengurangi intensitas gejala waham pada pasien skizofrenia. Saran: Perawat disarankan untuk menerapkan terapi orientasi realita secara terstruktur sebagai intervensi pada pasien skizofrenia dengan gangguan proses pikir waham. Kolaborasi antara pasien, keluarga, dan tim kesehatan sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan terapi dan mencegah kekambuhan.

Asuhan Keperawatan Paliatif Pada Tn. S Dengan Pola Napas Tidak Efektif Pada Pasien PPOK Eksaserbasi Akut

Alfanny Virginia, Hamudi Prasestiyo
Abstract: Latar Belakang: PPOK merupakan suatu kondisi penyakit yang dapat dicegah dan diobati dengan karakteristik berupa keterbatasan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel. Keterbatasan aliran udara bersifat progresif dan&#8230; n berkaitan dengan reaksi peradangan paru terhadap partikel atau gas berbahaya, terutama disebabkan oleh asap rokok. PPOK tidak hanya mempengaruhi kondisi paru tetapi juga berakibat secara sistemik. Penyebab kematian paling umum ketiga di dunia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah PPOK sebanyak 3,23 juta kematian dengan merokok menjadi faktor utama pada tahun 2019. Tujuan: mampu memberikan dan menerapkan asuhan keperawatan pada pasien PPOK Eksaserbasi Akut dengan diagnosis pola napas tidak efektif di ruang Isolasi Dahlia RSUD Wates. Metode penelitian ini adalah penelitian studi kasus observasional dengan desain pendekatan (cross sectional). Subjek penelitian pada studi kasus ini adalah 1 pasien di RSUD Wates dengan gangguan sistem pernapasan dengan diagnosa medis PPOK Eksaserbasi Akut. Hasil: pengkajian pada penapisan paliatif diperoleh skor 7 yaitu pasien tersebut perlu intervensi paliative. Dalam Edmonton Sympton Assesment System (ESAS) pasien mengalami sesak napas, pasien dengan ansietas sedang, dan pasien memiliki penyakit lainnya yaitu DM dan CHF. Skor karnofsky 80% dengan aktivitas normal dengan beberapa gejala penyakit. Diagnosa utama adalah pola napas tidak efektif b.d hambatan upaya napas. Pencapaian yang diharapkan pada kasus tersebut diagnoss keperawatan pola napas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas yaitu dalam 3 hari intervensi kasus terseebut masalah keperawatan teratasi. Saran: Tingkatkan edukasi pasien dan keluarga tentang PPOK serta pentingnya menghindari asap rokok, lakukan pemantauan rutin terhadap kondisi pasien, teruskan terapi nebulzer dan berikan dukungan psikososial untuk mengatasi ansietas. Rencanakan inytervensi untuk meningkatkan kualitas hisup dan lanjutkan penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dalam pengelolaan PPOK.

Penerapan Teknik Batuk Efektif Pada Pasien Anak Dengan Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif

Aura Risky Putri Ilyas, Armenia Diahsari
Abstract: Latar belakang: Batuk berdahak merupakan salah satu gejala utama yang timbul pada pasien dengan tuberkulosis paru pada anak . Kondisi ini memerlukan perhatian serius karena berisiko menimbulkan gangguan sistem pernapasan,&#8230; , khususnya bersihan jalan napas tidak efektif akibat akumulasi sekret. Teknik batuk efektif salah satu intervensi yang dapat dilakukan untuk membantu mengeluarkan sputum pada pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas penerapan teknik batuk efektif untuk meningkatkan bersihan jalan napas pada pasien anak. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dan subjek yang digunakan adalah pasien anak TB Paru dengan masalah bersihan jalan efektif di Rumah Sakit X Yogyakarta. Hasil: Penelitian ini dilakukan dengan cara dilakukan implementasi keperawatan selama 3x24 jam menunjukkan adanya peningkatan kemampuan anak dalam mengeluarkan sekret, penurunan frekuensi napas dari 25x/menit menjadi 22x/menit, serta peningkatan skor kemampuan batuk berdasarkan SLKI dari skala 2 menjadi skala 4. Kesimpulan:  Studi kasus teknik batuk efektif terbukti menjadi intervensi non farmakologis yang efektif dan aman dalam membantu membersihkan jalan napas pada pasien anak dengan TB paru, serta dapat meningkatkan kenyamanan dan kualitas hidup pasien.