Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki peran manajemen sekolah dalam penanaman 6 pondasi gerakan transisi dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ke Sekolah Dasar (SD) di kelas awal, dengan fokus pada SDN Lokpaikat 1 dan…
an SDN Bitahan 1 di Kecamatan Lokpaikat, Kabupaten Tapin. Penelitian ini mengidentifikasi tantangan yang dihadapi, termasuk perbedaan tingkat kesiapan anak, tantangan sumber daya manusia, dan kesulitan dalam menyesuaikan kurikulum antara PAUD dan SD. Dalam mengatasi tantangan ini, manajemen sekolah menunjukkan inisiatif kreatif, kondisi kurikulum, dan mengintensifkan komunikasi dengan orang tua sebagai strategi penting.Kolaborasi yang erat antara sekolah, guru, dan orang tua adalah kunci keberhasilan dalam mendukung transisi anak-anak dari PAUD ke SD di kedua lembaga pendidikan tersebut. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memperkuat pemahaman tentang manajemen peran sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan inklusif bagi anak-anak selama fase transisi krusial dari PAUD ke SD. Jenis Penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan kepala sekolah dan guru sebagai subjek penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen yang ada. Hasil penelitian tentang manajemen sekolah dalam penanaman 6 pondasi gerakan transisi dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ke Sekolah Dasar (SD) di kelas awal di SDN Lokpaikat 1 dan SDN Bitahan 1, Kecamatan Lokpaikat, Kabupaten Tapin, menunjukkan komitmen manajemen sekolah dalam mempersiapkan anak-anak untuk transisi yang sukses. Langkah-langkah seperti kolaborasi yang efektif dengan semua pemangku kepentingan, peran proaktif kepala sekolah dan guru, serta keterlibatan orang tua menjadi kunci dalam mendukung proses transisi. Tantangan seperti perbedaan kesiapan anak, hambatan sumber daya manusia, dan kesulitan dalam menyelaraskan kurikulum antara PAUD dan SD diatasi melalui upaya kreatif manajemen sekolah. Kolaborasi erat antara sekolah, guru, dan orang tua terbukti penting dalam membantu anak-anak menghadapi transisi ini dengan percaya diri dan sukses.
Abstract:Meskipun pengakuan terhadap agroforestri tradisional sebagai strategi pengelolaan lahan berkelanjutan semakin meningkat, penelitian yang mengintegrasikan analisis keanekaragaman tanaman dengan persepsi lokal untuk memahami…
hami ketahanan ekologi-ekonomi masih terbatas. Penelitian ini mengkaji hubungan antara keanekaragaman tanaman dalam sistem agroforestri dan kontribusinya terhadap stabilitas ekosistem serta ketahanan ekonomi komunitas lokal di Desa Dulamayo Selatan, sekitar Hutan Pendidikan Universitas Gorontalo, Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan metode campuran, kami menggabungkan analisis vegetasi kuantitatif melalui 9 plot dinamis (72 sub-plot) dengan survei sosial yang melibatkan 60 rumah tangga dan wawancara mendalam dengan 5 informan kunci, dengan penilaian menggunakan skala Likert (1-5). Analisis Indeks Nilai Penting (INP) menunjukkan dominasi spesies serbaguna, dengan Arenga pinnata (INP=113,72), Lansium parasiticum (INP=68,8), dan Aleurites moluccanus (INP=48,45) menjadi komponen kunci dalam sistem agroforestri lokal. Komunitas lokal menilai tinggi jasa ekosistem dari sistem agroforestri, khususnya penyediaan air bersih (4,4/5) dan mitigasi bencana alam (4,2/5). Analisis regresi menunjukkan korelasi positif yang signifikan antara kesadaran lingkungan dan manfaat ekonomi (R²=0,72), mengindikasikan bahwa kesadaran ekologis dan keuntungan ekonomi dapat bersinergi dalam pengelolaan agroforestri. Preferensi terhadap spesies serbaguna mencerminkan strategi adaptif untuk memaksimalkan manfaat dari sumber daya lahan yang terbatas, sambil menjaga keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem. Temuan ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan kesadaran ekologis ke dalam program pengembangan agroforestri dan menyoroti potensi diversifikasi spesies untuk meningkatkan ketahanan ekologi sekaligus stabilitas ekonomi pada komunitas yang bergantung pada hutan.
Abstract:Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh faktor sosial-ekonomi terhadap adopsi sistem agroforestri di Provinsi Gorontalo. Agroforestri dipandang sebagai solusi berkelanjutan untuk mengatasi masalah lingkungan seperti…
ti banjir dan longsor melalui integrasi komponen pertanian, kehutanan, dan peternakan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan regresi logistik, melibatkan 164 responden dari enam desa yang dipilih secara proporsional. Data dikumpulkan melalui survei, wawancara, observasi, dan dokumentasi, lalu dianalisis dengan statistik deskriptif, uji Chi-Square, dan regresi logistik biner. Hasil menunjukkan bahwa luas lahan (X5), penyuluhan (X8), dan keanggotaan kelompok tani hutan (KTH) (X7) menjadi faktor dominan yang memengaruhi adopsi. Petani dengan lahan ≥2 Ha memiliki peluang 201% lebih tinggi untuk mengadopsi agroforestri, sementara penyuluhan dan keanggotaan KTH meningkatkan peluang sebesar 2,75 kali dan 2,5 kali. Sebaliknya, usia (X1) dan pendidikan (X3) tidak berpengaruh signifikan, meskipun tren menunjukkan petani muda lebih terbuka pada inovasi. Analisis threshold (ambang batas skor 50 vs 60) mengungkap variasi adopsi antardesa, dengan Desa Tangga Barito memiliki tingkat adopsi tertinggi (87,5%) dan Bondawuna terendah (10,34%). Temuan ini selaras dengan literatur global yang menekankan pentingnya kapasitas teknis, jejaring sosial, dan kebijakan kontekstual. Rekomendasi strategis mencakup penyuluhan spesifik lokasi, model agroforestri yang ramah lahan sempit dan curam, serta insentif finansial bagi petani kecil. Penelitian juga menyarankan pendekatan berbasis data untuk merancang kebijakan adaptif, seperti penguatan kelompok tani dan konsolidasi lahan. Kontribusi teoretis melibatkan kerangka analisis threshold untuk memahami dinamika adopsi secara kontekstual, sedangkan implikasi praktis berfokus pada integrasi agroforestri dalam program pengentasan kemiskinan dan adaptasi iklim. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi dalam pengembangan kebijakan pertanian berkelanjutan di Indonesia, terutama di wilayah dengan tantangan biofisik dan struktural seperti Gorontalo. Dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan pemerintah daerah, NGO, dan kelompok petani, agroforestri dapat menjadi pilar utama dalam pengelolaan sumber daya alam yang harmonis antara ekologi, ekonomi, dan sosial.
Abstract:Alternatif sumber pendapatan negara dengan fokus pada kritik terhadap gagasan Program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) di Indonesia. Tapera, yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2016 tentang Tabungan Perumahan…
Rakyat, dirancang untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap perumahan melalui mekanisme tabungan wajib yang dikelola oleh lembaga khusus. Meskipun Tapera bertujuan untuk menjadi solusi dalam pembiayaan perumahan, terdapat berbagai kritik terkait efektivitas dan implementasinya. Penelitian ini mengevaluasi kelebihan dan kekurangan dari Tapera sebagai sumber pendapatan negara, membandingkannya dengan alternatif lain seperti pajak, retribusi, dan pembiayaan berbasis investasi. Analisis dilakukan dengan pendekatan kualitatif yang menggabungkan tinjauan literatur, analisis kebijakan, dan wawancara dengan ahli ekonomi serta praktisi kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Tapera memiliki potensi untuk meningkatkan tabungan masyarakat dan memperbaiki akses perumahan, ada tantangan signifikan terkait dengan pelaksanaannya yang memerlukan perhatian lebih lanjut untuk memastikan keberhasilannya sebagai alternatif sumber pendapatan negara.
Abstract:Inklusi keuangan menjadi isu global yang mendesak, terutama bagi masyarakat tanpa akses ke layanan perbankan formal. Agen bank berperan sebagai solusi inovatif dalam memperluas akses keuangan, baik di perkotaan maupun di…
daerah terpencil. Penelitian ini mengevaluasi peran agen bank dalam inklusi keuangan, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi, serta menganalisis faktor sosial dan budaya yang memengaruhi adopsi layanan mereka. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara dengan agen bank, nasabah, dan pemangku kepentingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agen bank mempermudah akses ke layanan keuangan dasar, meningkatkan literasi keuangan, serta memberdayakan kelompok masyarakat yang kurang terjangkau sistem perbankan konvensional. Namun, tantangan seperti keterbatasan infrastruktur digital, modal, kurangnya pelatihan, dan tingkat kepercayaan masyarakat masih menghambat efektivitas layanan ini. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan dukungan kebijakan, peningkatan infrastruktur digital, serta pelatihan berkelanjutan untuk meningkatkan efektivitas agen bank dalam inklusi keuangan.
Abstract:Penelitian ini mengeksplorasi efektivitas Program Tapera dalam memenuhi kebutuhan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menggunakan metode…
studi kasus untuk menganalisis dampak program dan implementasinya sebagai kebijakan publik. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai manajemen dan hasil program.Studi ini menggunakan purposive sampling dengan teknik bola salju untuk memilih informan, termasuk administrator program, pembuat kebijakan, penerima manfaat berpenghasilan rendah, pejabat pemerintah daerah, dan lembaga keuangan. Analisis data mengikuti model interaktif, yang meliputi pengumpulan, reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan data, dengan triangulasi yang digunakan untuk memastikan validitas dan reliabilitas. Temuan-temuan tersebut mengungkapkan bahwa meskipun Program Tapera telah membuat langkah signifikan dalam mendorong pemerataan dan keberlanjutan perumahan, masih ada tantangan dalam hal keterjangkauan, kesenjangan antar wilayah, dan transparansi. Isu-isu ini menyoroti perlunya reformasi strategis, seperti mekanisme keuangan yang lebih baik, perluasan jangkauan, dan peningkatan tata kelola.Penelitian ini menyimpulkan bahwa Program Tapera memiliki potensi untuk secara signifikan mengurangi ketimpangan perumahan dan mendorong kesetaraan sosial, asalkan tantangan-tantangan utama dapat diatasi melalui inovasi dan kolaborasi.Penelitian ini berkontribusi pada wacana evaluasi kebijakan publik, dengan menawarkan rekomendasi praktis untuk meningkatkan aksesibilitas perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Abstract:Perkembangan teknologi informasi (TI) telah membawa dampak yang signifikan terhadap tata kelola pemerintahan, terutama dalam mendukung pembangunan kapasitas di tingkat kota. Kota Bekasi, sebagai salah satu kota besar di…
Jawa Barat, terus berupaya mengimplementasikan berbagai inisiatif berbasis TI untuk meningkatkan efisiensi administrasi, kualitas pelayanan publik, transparansi, serta keterlibatan komunitas lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan tata kelola TI dalam mendukung pembangunan kapasitas di Kota Bekasi dengan menyoroti aspek kebijakan, infrastruktur, literasi digital masyarakat, keterlibatan perangkat lokal seperti RT/RW, dan kolaborasi lintas sektor. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, penelitian ini mengumpulkan data melalui studi literatur, wawancara, survei kebutuhan, dan observasi terhadap program TI, termasuk analisis peran smart city dalam mendukung tata kelola berbasis teknologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Bekasi telah menunjukkan kemajuan dalam beberapa aspek, seperti implementasi aplikasi e-government dan peningkatan partisipasi perangkat RT/RW dalam pelayanan publik. Namun, tantangan utama yang dihadapi meliputi keterbatasan infrastruktur digital di beberapa wilayah, rendahnya tingkat literasi digital masyarakat, dan kurangnya kolaborasi strategis antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas lokal. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan penguatan infrastruktur TI, penyelenggaraan pelatihan berkelanjutan bagi aparat pemerintahan dan perangkat RT/RW, serta perluasan kerja sama lintas sektor untuk mempercepat transformasi digital dan pembangunan kapasitas secara berkelanjutan.
Abstract:Batik ikat celup adalah salah satu teknik pembuatan batik yang memiliki ciri khas tersendiri, dimana proses pengikatan kain diikuti dengan pencelupan warna untuk menciptakan motif yang unik dan penuh ekspresi. Meskipun teknik…
eknik ini tidak se-populer batik tulis atau cap, batik ikat celup memiliki nilai estetika yang tinggi dan menyimpan kekayaan budaya yang mendalam. Teknik ini melibatkan pengikatan kain pada bagian-bagian tertentu yang ingin dipertahankan warnanya, diikuti dengan pencelupan dalam pewarna alami atau sintetis untuk menciptakan pola-pola yang bervariasi. Proses pengikatan ini memungkinkan terciptanya motif dengan gradasi warna yang indah, yang sering kali memiliki makna filosofis dan simbolis dalam budaya Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang batik ikat celup, baik dari segi teknik pembuatan, karakteristik motif, serta relevansinya dalam konteks budaya dan ekonomi kreatif Indonesia. Melalui studi literatur, wawancara dengan pengrajin batik, dan observasi langsung terhadap proses pembuatan batik ikat celup, penelitian ini mencoba mengungkap bagaimana teknik ini berperan dalam pelestarian warisan budaya Indonesia, serta tantangan dan peluang yang dihadapi oleh para pengrajin batik. Selain itu, penelitian ini juga mengeksplorasi kontribusi batik ikat celup terhadap industri tekstil dan pasar global, mengingat semakin meningkatnya permintaan akan produk-produk tekstil yang bernilai seni dan budaya tinggi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa batik ikat celup memiliki kekayaan simbolik yang mencerminkan hubungan manusia dengan alam, kehidupan sosial, dan spiritualitas. Meskipun teknik ini menghadapi tantangan dari perkembangan teknologi dan perubahan pasar, batik ikat celup masih tetap memiliki tempat penting dalam budaya dan industri kreatif Indonesia. Pelestarian teknik ini sangat penting untuk menjaga keberlanjutannya, baik melalui pendidikan, promosi, maupun dukungan terhadap pengrajin lokal. Dengan demikian, batik ikat celup tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Abstract:Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna simbolik dui’ menre’ dalam adat pernikahan masyarakat Bugis dan bagaimana agama Islam memaknai adat tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan…
dengan mengumpulkan data melalui observasi, wawancara dengan lima orang informan, dan sejumlah artikel ilmiah yang relevan. Temuan penelitian ini menunjukkan pentingnya simbolis dui’ menre’ dalam pernikahan Bugis sebagai tanda kesungguhan dan kerja keras seorang pria dalam melamar seorang wanita. Pekerjaan calon pengantin perempuan, status sosial, tingkat pendidikan, kondisi fisik, dan faktor-faktor lain memainkan peran penting dalam menentukan berapa banyak dui’ menre’ yang pantas diberikan. dui’ menre’ dan mahar merupakan hal yang berbeda. Meskipun keduanya diwajibkan, dui’ menre’ tidak sama dengan mas kawin karena menurut adat masyarakat Bugis, dui’ menre’ adalah sebuah kewajiban, sedangkan mas kawin adalah sebuah kewajiban menurut tradisi Islam. Dari sudut pandang Islam, seorang pria tidak diwajibkan untuk memberikan dui’ menre’, melainkan hanya diharapkan untuk memberikan mahar kepada wanita yang akan dinikahinya. Tradisi ini diperbolehkan selama tidak memberatkan dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, meskipun tidak diatur oleh hukum Islam. Agar pernikahan dapat berlangsung dengan baik dan damai, masyarakat harus menyeimbangkan antara tradisi dan ajaran agama.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi perjuangan perempuan dalam film "Wanita Berkalung Sorban" dan dampaknya terhadap kesadaran gender di masyarakat. Melalui pendekatan kualitatif dengan desain studi…
kasus, penelitian ini mengkaji karakter utama, Nurul, yang berjuang melawan norma-norma patriarkal yang membatasi kebebasannya. Data diperoleh melalui analisis konten film dan wawancara mendalam dengan penonton untuk menggali pandangan mereka mengenai isu-isu gender yang diangkat dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini secara efektif menggambarkan berbagai bentuk ketidakadilan yang dialami oleh perempuan, serta pentingnya solidaritas antar perempuan dalam menghadapi tantangan tersebut. Selain itu, film ini juga menyoroti aspek interseksionalitas, memperlihatkan bagaimana latar belakang sosial dan ekonomi mempengaruhi pengalaman individu dalam menghadapi patriarki. Dengan demikian, "Wanita Berkalung Sorban" tidak hanya merepresentasikan perjuangan individu tetapi juga berfungsi sebagai alat untuk mendorong diskusi tentang hak-hak perempuan dan kesetaraan gender di masyarakat. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi kajian gender dan media, serta mengajak penonton untuk merefleksikan peran perempuan dalam konteks sosial yang lebih luas.