Search Articles & Publications

Showing 28 articles found for "Occupational"

IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO PADA AKTIVITAS LOADING OVERBURDEN MENGGUNAKAN METODE IBPR DI PIT E BANKO TENGAH PT SATRIA BAHANA SARANA TANJUNG ENIM

Muflih, Roihan
Abstract: Abstract: Loading overburden activities at Front Selingsing Pit E Banko Tengah, PT Satria Bahana Sarana, involve heavy equipment, dynamic working conditions, and interactions between excavators and dump trucks that may create… reate occupational hazards. This study aimed to identify hazards, assess risk levels, and determine risk controls using Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA/IBPR). Data were collected through field observation, interviews, documentation, and questionnaires involving 25 respondents. Risk was assessed by multiplying probability and severity based on the company's risk matrix. The findings showed hazards related to working conditions, heavy-equipment movement, and human factors. High-risk conditions included non-standard excavator bench geometry, high-intensity dust exposure, blind spots, and unstable working floors. Risk controls included bench geometry improvement, work-area arrangement, safety signs, equipment-route management, supervision, safety talks, and personal protective equipment. Additional controls reduced residual risk and improved the overall control of loading overburden hazards. Keyword: loading overburden, IBPR, hazard identification, risk assessment, occupational safety   Abstrak: Kegiatan loading overburden di Front Selingsing Pit E Banko Tengah PT Satria Bahana Sarana memiliki potensi bahaya karena melibatkan alat berat, kondisi area kerja yang dinamis, serta interaksi antara excavator dan dump truck. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi bahaya, menilai tingkat risiko, dan menentukan upaya pengendalian pada aktivitas loading overburden menggunakan metode Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko (IBPR). Penelitian dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, dan penyebaran kuesioner kepada 25 responden. Penilaian risiko menggunakan perkalian probability dan severity berdasarkan matriks risiko perusahaan. Hasil penelitian mengidentifikasi potensi bahaya yang berasal dari kondisi lingkungan kerja, pergerakan alat berat, dan faktor manusia. Berdasarkan hasil IBPR, risiko tertinggi ditemukan pada kondisi jenjang excavator yang tidak sesuai standar, paparan debu intensitas tinggi, dan titik buta alat berat, sedangkan kondisi lantai kerja tidak stabil juga termasuk risiko tinggi. Pengendalian dilakukan melalui perbaikan geometri jenjang, penataan area kerja, pemasangan rambu keselamatan, pengaturan jalur alat berat, pengawasan, safety talk, dan penggunaan alat pelindung diri. Pengendalian tambahan menunjukkan penurunan nilai risiko sisa sehingga risiko dapat dikendalikan lebih baik. Kata Kunci : loading overburden, IBPR, potensi bahaya, risiko kerja, keselamatan kerja

ANALISIS RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) AKIBAT PAPARAN DEBU TEPUNG PADA LINI PROSES MIXING INDUSTRI BISKUIT MENGGUNAKAN PENDEKATAN HIRARC DAN FMEA (STUDI KASUS PT XYZ)

Purnama, Ade, Abimanyu, Abimanyu, Toyosito, Rakay Edhiargo
Abstract: Abstract: Flour dust exposure in the mixing process of the biscuit manufacturing industry is a significant occupational hazard that may lead to occupational diseases and workplace accidents if not effectively controlled.… This study aims to identify occupational safety and health (OSH) hazards, analyze the level of risk associated with flour dust exposure, prioritize risks using the Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) method, and develop risk control recommendations for the mixing area at PT X. The study employed a mixed-methods approach with a case study design. Data were collected through field observations, semi-structured interviews, flour dust concentration measurements, documentation, and company document reviews. Risk analysis was conducted using the Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC) method, while improvement priorities were determined using the Risk Priority Number (RPN) derived from FMEA. The results revealed that flour bag opening, raw material loading into the mixer, and the mixing process were the primary sources of flour dust exposure with the highest risk levels. HIRARC identified four high-risk activities and three medium-risk activities. FMEA analysis indicated that inadequate ventilation, workers' exposure to flour dust, and non-compliance with personal protective equipment (PPE) use had the highest RPN values, making them the top priorities for risk control. Recommended control measures include optimizing local exhaust ventilation (LEV), improving the effectiveness of the dust collector system, strengthening administrative controls, providing regular OSH training, and increasing compliance with the use of N95 respirators. These findings are expected to serve as a reference for implementing OSH risk management in the food manufacturing industry. Keyword: occupational safety and health, flour dust exposure, HIRARC, Failure Mode and Effects Analysis (FMEA), mixed methods, biscuit manufacturing industry.   Abstrak: Paparan debu tepung pada lini proses mixing industri biskuit merupakan salah satu sumber bahaya yang berpotensi menyebabkan penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja apabila tidak dikendalikan secara efektif. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi bahaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3), menganalisis tingkat risiko paparan debu tepung, menentukan prioritas risiko menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), serta menyusun rekomendasi pengendalian risiko pada area mixing PT X. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, pengukuran konsentrasi debu, dokumentasi, dan telaah dokumen perusahaan. Analisis risiko dilakukan menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control (HIRARC), sedangkan prioritas perbaikan ditentukan melalui perhitungan Risk Priority Number (RPN) pada metode FMEA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas pembukaan karung tepung, penuangan bahan baku ke dalam mixer, dan proses mixing merupakan sumber paparan debu dengan tingkat risiko tertinggi. HIRARC mengidentifikasi empat aktivitas berisiko tinggi dan tiga aktivitas berisiko sedang. Analisis FMEA menunjukkan bahwa ventilasi yang belum optimal, paparan debu terhadap pekerja, dan ketidakpatuhan penggunaan alat pelindung diri memiliki nilai RPN tertinggi. Rekomendasi pengendalian meliputi optimalisasi local exhaust ventilation (LEV), peningkatan efektivitas dust collector, penguatan pengendalian administratif, pelatihan K3 secara berkala, serta peningkatan kepatuhan penggunaan respirator N95. Temuan ini diharapkan menjadi acuan dalam penerapan manajemen risiko K3 pada industri makanan. Kata kunci: keselamatan dan kesehatan kerja, debu tepung, HIRARC, FMEA, mixed methods, industri biskuit.

LITERATURE REVIEW : IMPLEMENTASI K3RS DI RUMAH SAKIT DI KOTA PADANG

Alfita Dewi, Ilma Nuria Sulrieni, Mohammad Farid, Friska Eka Fitria
Abstract: Abstract: Hospital Occupational Safety and Health (OSH) is a crucial aspect in ensuring the safety of healthcare workers, patients, and the hospital work environment. The implementation of OSH is a particular concern, particularly… rticularly in hospitals in Padang City, which face high and complex occupational risks. This study aims to systematically examine the implementation of OSH in hospitals in Padang City through a literature review. The method used was a search of scientific articles from various databases such as Google Scholar, PubMed, and ScienceDirect, with the inclusion criteria being articles published within the last five years and relevant to the topic of OSH. The study results indicate that OSH implementation in hospitals in Padang City has been ongoing but is not yet optimal, characterized by limitations in policies, human resources, compliance with standard operating procedures, and a lack of training and supervision. Furthermore, safety culture and management commitment also influence the success of OSH implementation. The study concludes that improving OSH implementation requires strengthening internal regulations, improving workforce competency, and a sustained commitment from hospital management to create a safe and healthy work environment.   Keywords: K3RS, Occupational Safety, Hospital, Implementation, Literature Review.   Abstrak: Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) merupakan salah satu aspek penting dalam menjamin keselamatan tenaga kesehatan, pasien, serta lingkungan kerja di rumah sakit. Implementasi K3RS menjadi perhatian khusus, terutama di rumah sakit di Kota Padang yang memiliki risiko kerja tinggi dan kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara sistematis implementasi K3RS di rumah sakit di Kota Padang melalui pendekatan literature review. Metode yang digunakan adalah penelusuran artikel ilmiah dari berbagai database seperti Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect dengan kriteria inklusi artikel yang diterbitkan dalam 5 tahun terakhir dan relevan dengan topik K3RS. Hasil kajian menunjukkan bahwa implementasi K3RS di rumah sakit di Kota Padang telah berjalan namun belum optimal, ditandai dengan masih adanya keterbatasan dalam kebijakan, sumber daya manusia, kepatuhan terhadap standar operasional prosedur, serta kurangnya pelatihan dan pengawasan. Selain itu, faktor budaya keselamatan dan komitmen manajemen juga berpengaruh terhadap keberhasilan implementasi K3RS. Kesimpulan dari studi ini adalah bahwa peningkatan implementasi K3RS memerlukan penguatan regulasi internal, peningkatan kompetensi tenaga kerja, serta komitmen berkelanjutan dari pihak manajemen rumah sakit guna menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat.   Kata Kunci: K3RS, Keselamatan Kerja, Rumah Sakit, Implementasi, Literature Review.

IMPLEMENTASI K3 DALAM MANAJEMEN SDM DI RUMAH SAKIT: UPAYA PENCEGAHAN RISIKO KERJA

Ihsan Werleam, Masdalena, Hega Valentine
Abstract: Abstract: Hospitals are high-risk work environments, involving exposure to biological, chemical, physical, ergonomic, and psychosocial hazards that can impact worker safety. Therefore, the implementation of Occupational… Safety and Health (OHS) in Human Resources (HR) management is a crucial aspect in preventing occupational risks. This study aims to analyze the implementation of OHS in HR management in hospitals as a preventive strategy against workplace accidents and occupational diseases. The method used was a literature review with a qualitative descriptive approach, through a review of various national scientific articles published between 2022 and 2025, available in PDF format. The study results indicate that effective OHS implementation is influenced by several key factors, including management commitment, HR training and competency, the availability of infrastructure, and a work safety culture within the hospital environment. Furthermore, the integration of OHS into HR management functions such as recruitment, training, performance appraisal, and work supervision has been proven to reduce workplace accidents and increase healthcare worker productivity. However, OHS implementation still faces challenges, such as limited resources, lack of employee awareness, and a suboptimal oversight system.In conclusion, the integrated implementation of OHS within human resource management in hospitals is a strategic step in creating a safe and healthy work environment. Efforts to improve the quality of human resources through OHS training, strengthening internal regulations, and fostering a culture of occupational safety are necessary to minimize occupational risks and improve the overall quality of healthcare services.   Keywords: OHS, Human Resource Management, Hospitals, Occupational Risks, Occupational Safety   Abstrak: Rumah sakit merupakan lingkungan kerja dengan tingkat risiko tinggi yang melibatkan paparan bahaya biologis, kimia, fisik, ergonomi, dan psikososial yang dapat berdampak pada keselamatan tenaga kerja. Oleh karena itu, implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi aspek penting dalam upaya pencegahan risiko kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi K3 dalam manajemen SDM di rumah sakit sebagai strategi preventif terhadap kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan deskriptif kualitatif, melalui penelaahan berbagai artikel ilmiah nasional yang dipublikasikan dalam kurun waktu 2022–2025 dan tersedia dalam format PDF. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan K3 yang efektif dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, antara lain komitmen manajemen, pelatihan dan kompetensi SDM, ketersediaan sarana prasarana, serta budaya keselamatan kerja di lingkungan rumah sakit. Selain itu, integrasi K3 dalam fungsi manajemen SDM seperti rekrutmen, pelatihan, penilaian kinerja, dan pengawasan kerja terbukti mampu menurunkan angka kecelakaan kerja serta meningkatkan produktivitas tenaga kesehatan. Namun demikian, masih terdapat kendala dalam implementasi K3, seperti keterbatasan sumber daya, kurangnya kesadaran tenaga kerja, dan belum optimalnya sistem pengawasan. Kesimpulannya, implementasi K3 yang terintegrasi dalam manajemen SDM di rumah sakit merupakan langkah strategis dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Upaya peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan K3, penguatan regulasi internal, serta peningkatan budaya keselamatan kerja perlu terus dilakukan guna meminimalkan risiko kerja dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara keseluruhan.   Kata kunci: K3, Manajemen SDM, Rumah Sakit, Risiko Kerja, Keselamatan Kerja

ANALISIS EFEKTIVITAS TEORI HOLLAND DALAM MENINGKATKAN KEMATANGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIER SISWA: TINJAUAN LITERATUR

Heldriyana, Risda, Zuzanti, Zakian
Abstract: Abstract: This study aims to analyze the effectiveness of applying Holland’s Theory in enhancing the career decision-making maturity of high school students. The research employs a qualitative method using a literature review… review approach, in which data were collected by examining various national and international studies published within the last five years, focusing on the influence of Holland’s theory on adolescents’ career maturity. Based on the analysis of several studies (Fitriyah et al., 2023; Desvikayati et al., 2022; Jiman & Dharsana, 2024; Tarmuzi et al., 2024), the findings indicate that Holland’s theory is effective in helping students develop self-understanding, identify their personality types based on the RIASEC model, and align them with appropriate occupational environments. Interventions derived from this theory—such as individual career counseling, interest and personality assessments, and career information services—significantly contribute to improving students’ career maturity. However, its effectiveness is influenced by contextual factors, including school and family support as well as the availability of valid assessment instruments. This review concludes that Holland’s theory remains relevant and adaptable to the dynamics of the modern world of work and can serve as a conceptual foundation for developing career guidance services in secondary education.   Keyword: Holland's theory, career maturity, career decision making, high school students   Abstrak: Penerapan teori Holland dalam meningkatkan kematangan pengambilan keputusan karir pada siswa sekolah menengah atas (SMA), penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur, atau disebut juga literature review. Data dikumpulkan dengan meninjau berbagai penelitian nasional dan internasional yang terbit dalam kurun waktu lima tahun terakhir, yang berfokus pada teori Holland tentang kematangan karir remaja. Beberapa kajian teori dari berbagai studi (Fitriyah et al., 2023; Desvikayati et al., 2022; Jiman & Dharsana, 2024; Tarmuzi et al., 2024), teori Holland terbukti efektif dalam membantu siswa memahami diri (self-understanding), mengenali jenis kepribadian berdasarkan model RIASEC, dan menyesuaikannya dengan lingkungan pekerjaan yang sesuai. Konseling karir individual, asesmen minat dan keperibadian, dan layanan informasi karir adalah intervensi berbasis teori ini yang meningkatkan kematangan karir siswa. Namun demikian, efektivitasnya dipengaruhi oleh faktor kontekstual, seperti dukungan sekolah, keluarga, serta ketersediaan instrumen asesmen yang valid. Studi ini menunjukan bahwa teori Holland masih relevan dan dapat disesuaikan dengan perubahan dunia kerja modern, oleh karena itu, dapat digunakan sebagai landasan konseptual untuk membangun layanan bimbingan karir disekolah menengah.   Kata kunci: teori Holland, kematangan karir, pengambilan keputusan karir, siswa SMA      

PENGARUH KEDISIPLINAN, KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PT. LESTARI ALAM SEGAR

Lubis, Azriel Akbar, Wiranu, Beri, Sitompul, Melva Melany
Abstract: Abstract: This study aims to determine how discipline, safety, and occupational health (OHS) affect employee performance at PT. Lestari Alam Segar, an instant noodle manufacturer in Indonesia. Employee performance is crucial… cial for improving the company's production output, as discipline and the implementation of OHS are key factors in creating a safe and efficient workplace. The researcher will use a quantitative research method with an associative approach. Data will be collected through a questionnaire that will be announced to all employees, then analyzed with several tests such as validity, reliability, multiple linear regression, t-test, F-test, and coefficient of determination. The results of the study indicate that discipline, safety, and occupational health simultaneously positively and significantly influence employee work ability. Individually, discipline is the main factor influencing work quality, while occupational safety and health also make a significant contribution. These findings indicate that improving discipline and consistently implementing OHS standards are crucial for driving optimal employee performance and supporting the achievement of company goals   Keywords: Discipline, Occupational Safety, Health (K3), Employee Performance, PT.                  Lestari Alam Segar Abstrak: Penelitian untuk meneliti bagaimana disiplin, keselamatan, dan kesehatan kerja (K3) mempengaruhi kinerja karyawan di PT. Lestari Alam Segar, perusahaan produsen mi instan di Indonesia. Kinerja karyawan sangat penting untuk meningkatkan hasil produksi perusahaan, karena disiplin dan penerapan K3 merupakan faktor utama dalam menciptakan tempat kerja yang aman dan efisien. Peneliti akan menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan asosiatif. Data akan dikumpulkan melalui kuesioner yang akan dibagikan kepada seluruh karyawan, lalu dianalisis dengan beberapa uji seperti uji validitas, reliabilitas, regresi linear berganda, uji t, uji F, dan koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa disiplin, keselamatan, dan kesehatan kerja secara bersamaan memengaruhi kemampuan kerja karyawan secara positif dan signifikan. Secara individual, disiplin merupakan faktor utama yang berpengaruh terhadap kualitas kerja, sedangkan keselamatan dan kesehatan kerja juga memberikan kontribusi yang signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan disiplin dan penerapan standar K3 secara konsisten sangat penting untuk mendorong kinerja optimal karyawan dan mendukung pencapaian tujuan perusahaan.   Kata kunci: Kedisiplinan, Keselamatan., Kesehatan Kerja (K3)., Kinerja Karyawan., PT. Lestari Alam Segar

PENERAPAN HAZARD IDENTIFICATION RISK ASSESMENT AND MITTIGATION (HIRM) PADA PENGGUNAAN LABORATORIUM WORKSHOP POLITEKNIK PENERBANGAN MEDAN

Manurung, Saut Maruli, Malau, Rivan Daniel, Simanungkalit, Adolf Valentino, Hutabarat, Liber Tommy, Bakkara, Natanael Riansa, Swabra, Yesaya
Abstract: Abstract This study discusses the implementation of the Hazard Identification, Risk Assessment, and Mitigation (HIRM) system at the Electrical Workshop Laboratory of Politeknik Penerbangan Medan as part of efforts to create… ate a safe practice environment and foster a culture of occupational safety from an early stage. The laboratory serves as a facility for students to perform practical electrical engineering activities such as soldering, panel assembly, electrical measurements, and handling heavy equipment—activities with inherently high safety risks. The research applies the HIRM approach through stages of hazard identification, risk assessment using a probability and severity matrix based on ICAO Doc 9859 standards, and the formulation of mitigation strategies. Results identified seven main activities with moderate to high-risk levels. The highest risks were found in electrical installation assembly, battery testing, and distribution panel work, which can cause electric shock or serious injuries. Recommended mitigation includes the use of personal protective equipment (PPE), regular safety training, strict implementation of standard operating procedures (SOPs), and increased instructor supervision. The study concludes that HIRM is effective for implementation in vocational education settings, particularly in electrical engineering fields, and recommends the future development of digital monitoring systems for real-time risk assessment and improved laboratory safety management..   Keywords:   HIRM, Occupational Safety, Workshop Laboratory, Risk Assessment,                   Hazard Mitigation Abstrak: Penelitian ini membahas penerapan sistem Hazard Identification, Risk Assessment, and Mitigation (HIRM) di Laboratorium Workshop Kelistrikan Politeknik Penerbangan Medan sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan praktik yang aman dan mendukung budaya keselamatan kerja sejak dini. Laboratorium ini digunakan oleh mahasiswa untuk kegiatan praktik kelistrikan seperti penyolderan, perakitan panel, pengujian alat ukur, dan pengangkatan peralatan berat yang memiliki potensi risiko tinggi. Penelitian dilakukan dengan pendekatan HIRM melalui tahapan identifikasi bahaya, penilaian risiko menggunakan matriks probabilitas dan keparahan berdasarkan standar ICAO Doc 9859, serta penyusunan langkah mitigasi. Hasilnya menunjukkan tujuh aktivitas utama dengan tingkat risiko sedang hingga tinggi. Risiko tertinggi terdapat pada perakitan instalasi listrik, pengujian baterai, dan pemasangan panel distribusi yang dapat menyebabkan sengatan listrik atau luka serius. Mitigasi yang disarankan mencakup penggunaan alat pelindung diri (APD), pelatihan keselamatan kerja, penerapan SOP, serta peningkatan pengawasan dosen. Studi ini menyimpulkan bahwa sistem HIRM efektif untuk diimplementasikan di lingkungan pendidikan vokasi teknik, khususnya pada bidang kelistrikan, dan ke depan perlu dikembangkan sistem monitoring digital berbasis teknologi informasi untuk penilaian risiko secara real-time.     Kata kunci: HIRM, Keselamatan Kerja, Laboratorium Workshop, Penilaian Risiko,                     Mitigasi Bahaya

PENGARUH SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA DINAS PENCEGAH DAN PEMADAM KEBAKARAN KOTA MEDAN

Tarigan, Paul Ramon, Sihombing, Tunggul
Abstract: The Occupational Health and Safety Management System (K3) is a process that is carried out continuously during the agency's activities. However, there are still some problems in the implementation of the OHS managements… ystem that affect employee performance. This study aims to determine the effect of the occupational safety and health management system on the performance of  employees at the Medan City Fire Prevention and Fighting Service (DP2K) in dealing with fire disasters. The method use disassociative/quantitative. Data collection techniques were carried out by distributing questionnaires and documentation. The data obtained were then analyzed using the Smart PLS (Partial Least Square) software version 3.3.2. The sample of this study was 100 respondents from the Medan City Fire Prevention and Fighting Service. From the results of the study, it can be seen that the reisan effect of the occupational safety and health management system on the performance of employees at the Medan City Fire Prevention and Fighting Service (DP2K). This can be seen from the results of the path analysis test of 0.883 and the results of hypothesis testing the t-statistic value of 47.581 which is greater than the t-table of 1.66.  

Community Service In Strengthening The Governance Of Occupational Safety And Health Competency Certification Through A Web-Based Information System At PT Batamindo Investment Cakrawala

Hilda Herasmus, Agus Suryadi, Mulyanto
Abstract: The Level 2 Working at Height (TKBT) training conducted by PT Batamindo Investment Cakrawala produced 22 certified employees across four divisions. However, post-training recommendations from the HRD unit identified the… absence of a periodic monitoring mechanism for certificate validity periods and personal protective equipment usage, while all record keeping remained paper-based and spreadsheet-driven. This condition creates a compliance risk against Minister of Manpower Regulation Number 9 of 2016, as expired certificates may go undetected before employees are assigned to work at height. This community service program aims to strengthen the partner's occupational safety competency certification governance through the design, implementation, and mentoring of a web-based information system. The implementation method consists of six stages: situation analysis, requirements analysis, system design, construction, socialisation and training, and operational mentoring. The system was developed using a three-tier architecture and comprises four core modules: certificate record management, automated validity notification, divisional recapitulation dashboard, and digital document archiving. Program effectiveness was measured using a pre-test and post-test design with a 20-item instrument covering four knowledge domains, analysed using normalized gain. Functional testing was conducted using the black box method, while user acceptance was measured using the System Usability Scale. The results show that participants' average knowledge score increased from 51.4 in the pre-test to 86.4 in the post-test, with a normalized gain of 0.72 categorised as high. Black box testing achieved a 90 percent success rate and the System Usability Scale score reached 82.5, indicating good user acceptance.

Perbandingan Kematangan Karier Siswa Berdasarkan Keikutsertaan Dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Di Madrasah Aliyah Negeri Kota Serang

Hafidz Maulana Syamputra, Arga Satrio Prabowo, Alfiandy Warih Handoyo
Abstract: Kematangan karier merupakan salah satu aspek penting yang perlu dimiliki peserta didik sebagai bekal dalam menentukan pilihan pendidikan lanjutan maupun pekerjaan di masa depan. Salah satu faktor yang diduga berhubungan… dengan kematangan karier adalah keikutsertaan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kematangan karier antara siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dengan siswa yang tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di Madrasah Aliyah Negeri Kota Serang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode komparatif. Sampel penelitian berjumlah 404 siswa yang berasal dari MAN 1 Kota Serang dan MAN 2 Kota Serang, yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan angket kematangan karier yang disusun berdasarkan enam aspek kematangan karier yaitu orientasi karier, informasi dan perencanaan karier, konsistensi pilihan karier, pemantapan karakteristik diri, kemandirian dalam memilih karier, serta kebijaksanaan dalam memilih karier. Data dianalisis melalui uji normalitas, uji homogenitas, dan uji komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kematangan karier siswa secara umum berada pada kategori baik dengan nilai rata-rata sebesar 194,16. Namun demikian, hasil pengujian hipotesis menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan siswa yang tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler (Sig. = 0,347 > 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa keikutsertaan dalam kegiatan ekstrakurikuler bukan merupakan faktor yang membedakan tingkat kematangan karier siswa. Kematangan karier diduga lebih dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti pemahaman diri, dukungan keluarga, pengalaman belajar, layanan bimbingan karier, dan akses terhadap informasi karier. Career maturity is an important aspect that students need to develop in preparing for future educational and occupational choices. One factor that is assumed to be related to career maturity is participation in extracurricular activities. This study aimed to examine the differences in career maturity between students who participated in extracurricular activities and those who did not in State Islamic Senior High Schools (Madrasah Aliyah Negeri) in Serang City. This study employed a quantitative approach using a comparative research design. The sample consisted of 404 students from MAN 1 Serang City and MAN 2 Serang City selected through stratified random sampling. Data were collected using a career maturity questionnaire six dimensions of career maturity: career orientation, career information and planning, consistency of career preferences, crystallization of self-characteristics, career independence, and wisdom in career choice. Data were analyzed using normality testing, homogeneity testing, and comparative analysis. The results indicated that students' career maturity was generally at a good level, with a mean score of 194.16. However, the hypothesis testing revealed no significant difference in career maturity between students who participated in extracurricular activities and those who did not (Sig. = 0.347 > 0.05). These findings suggest that participation in extracurricular activities is not a distinguishing factor in students' career maturity. Career maturity is likely influenced by other factors, including self-understanding, family support, learning experiences, career guidance services, and access to career information.