Abstract:Pembelajaran jaring-jaring kubus di sekolah dasar sering berfokus pada hafalan bentuk tanpa pendalaman konsep dan keterkaitannya dengan konteks kehidupan sehari-hari. Kesenjangan (gap) ini menyebabkan peserta didik kurang…
g memahami hubungan antara bentuk dua dimensi dan bangun ruang kubus secara utuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara konseptual materi jaring-jaring kubus serta mengidentifikasi relevansinya dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif, melalui telaah buku ajar, jurnal ilmiah, dan sumber teoretis yang relevan tanpa melakukan penelitian lapangan atau observasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara matematis terdapat 11 bentuk jaring-jaring kubus yang berbeda, masing-masing memiliki enam sisi berbentuk persegi yang saling terhubung dan dapat dilipat membentuk kubus sempurna. Secara kontekstual, konsep ini ditemukan pada kemasan berbentuk kubus seperti kotak kado, dadu, dan kotak penyimpanan. Pemahaman konseptual yang menekankan visualisasi, proses melipat, dan keterkaitan dengan benda nyata terbukti memperkuat kemampuan spasial dan berpikir logis siswa. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa analisis konseptual jaring-jaring kubus yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan pemahaman bermakna tanpa harus melalui penelitian empiris langsung.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai hambatan yang dialami siswa sekolah dasar dalam memahami dan membaca jam, baik yang berbentuk analog maupun digital. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif,…
litatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara tidak terstruktur. Partisipan dalam penelitian ini adalah siswa tingkat sekolah dasar. Dalam pembelajaran Matematika, materi tentang waktu meliputi satuan-satuan seperti detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, hingga tahun. Satuan waktu berfungsi untuk mengukur lamanya suatu peristiwa berlangsung. Materi ini mulai diperkenalkan sejak jenjang sekolah dasar, yang mencakup pemahaman jenis-jenis satuan waktu, cara mengonversinya, melakukan perhitungan waktu, serta keterampilan membaca jam analog dan digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam membaca kedua jenis jam tersebut. Beberapa faktor penyebabnya antara lain keterbatasan media pembelajaran di sekolah, kurangnya ketertarikan siswa terhadap pelajaran Matematika, serta rendahnya dukungan dan bimbingan dari orang tua di rumah. Melalui penelitian ini diharapkan proses pembelajaran di kelas dapat diperbaiki dan ditingkatkan, khususnya dalam melatih kemampuan siswa membaca jam analog dan digital.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pemahaman bangun datar dengan pemahaman konsep prisma dan limas pada siswa sekolah dasar. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional.…
al. Subjek penelitian adalah siswa kelas V atau VI sekolah dasar yang telah mempelajari materi bangun datar dan bangun ruang sisi datar. Instrumen penelitian berupa tes pemahaman konsep yang terdiri atas dua bagian, yaitu tes pemahaman bangun datar dan tes pemahaman prisma serta limas. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment serta analisis deskriptif untuk menggambarkan tingkat penguasaan masing-masing variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah mampu mengidentifikasi bangun datar dengan baik, namun pemahaman mereka masih cenderung bersifat prosedural. Pada materi prisma dan limas, siswa mengalami kesulitan terutama dalam menentukan luas alas yang berpengaruh pada perhitungan luas permukaan dan volume. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara pemahaman bangun datar dan pemahaman konsep prisma serta limas. Temuan ini mengindikasikan bahwa penguasaan konsep bangun datar merupakan prasyarat fundamental dalam memahami bangun ruang sisi datar. Oleh karena itu, pembelajaran geometri di sekolah dasar perlu dirancang secara bertahap, sistematis, dan terintegrasi agar pemahaman konseptual siswa berkembang secara optimal.
Abstract:Artikel ini mendeskripsikan hasil observasi pembelajaran mengenai penerapan metode eksplorasi lingkungan dalam mengajarkan konsep luas tak baku di sekolah dasar. Pembelajaran geometri masih sering disampaikan secara abstrak…
rak sehingga menimbulkan kesenjangan antara pemahaman prosedural dan konseptual. Studi terkini menegaskan pentingnya penggunaan media konkret, integrasi etnomatematika, dan pendekatan outdoor learning dalam memperkuat pemahaman konsep luas. Berdasarkan hasil pengamatan kegiatan pembelajaran di kelas, siswa terlibat aktif dalam mengukur dan membandingkan luas benda di sekitar menggunakan satuan tidak baku. Pengalaman belajar yang konkret dan kontekstual membantu siswa memahami konsep luas sesuai tahap perkembangan kognitifnya. Dengan demikian, metode eksplorasi lingkungan dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran geometri pada kelas rendah sekolah dasar.
Abstract:Pada Penelitian ini akan membahas tentang bagaimana peran pengukuran baku dan tak baku didalam pembelajaran matematika sekolah dasar serta dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari. Para Peserta didik sekolah dasar sering…
ing mengalami kesulitan tentang bagaimana dalam memahami konsep pengukuran, khususnya dalam membedakan antara tingkat ketelitian dan konsistensi antara satuan baku dan tak baku. Didalam Penelitian ini juga digunakan untuk tujuan dalam mendeskripsikan antara perbedaan pengukuran baku dan tak baku, fungsinya dalam pembelajaran, serta contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif melalui kegiatan praktik pengukuran dan analisis reflektif. Didalam hasil penelitian ini menunjukkan tentang satuan tak baku seperti jengkal dan langkah membantu siswa memahami konsep panjang secara konkret dan kontekstual. Sementara itu, dalam satuan baku seperti meter dan sentimeter memberikan hasil yang lebih akurat, konsisten, dan dapat dibandingkan setiap orang. Contoh dalam kehidupan sehari-hari antara lain mengukur meja dengan jengkal, memperkirakan jarak dengan langkah, serta mengukur kain atau ruangan dengan meteran. Simpulan penelitian menegaskan bahwa integrasi kedua jenis satuan dalam pembelajaran dapat memperkuat pemahaman konsep dan mengaitkan matematika dengan pengalaman nyata siswa.
Abstract:Rumah adat merupakan wujud konkret dari sistem pengetahuan lokal yang berkembang dalam suatu masyarakat. Di dalamnya terkandung nilai budaya, filosofi hidup, serta prinsip-prinsip ilmiah yang diwariskan secara turun-temurun.…
run. Salah satu warisan budaya yang sarat dengan makna filosofis dan matematis adalah Rumah Bolon Simalungun, rumah adat masyarakat Batak Simalungun di Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antara budaya dan matematika yang tercermin dalam struktur, bentuk, pola bangunan, serta fungsi sosial Rumah Bolon Simalungun melalui pendekatan etnomatematika. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa studi literatur dan analisis dokumen mini project. Hasil kajian menunjukkan bahwa Rumah Bolon Simalungun mengandung konsep-konsep matematika seperti bangun datar, bangun ruang, simetri, proporsi, trigonometri, dan pengukuran yang relevan untuk diintegrasikan dalam pembelajaran matematika kontekstual di sekolah. Dengan demikian, rumah adat tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber belajar yang bermakna dalam mendukung pembelajaran matematika berbasis budaya lokal.
Abstract:Kepemimpinan spiritual menjadi salah satu pendekatan penting dalam pengembangan pendidikan Islam di tengah kompleksitas tantangan manajerial dan moral lembaga pendidikan. Pendekatan ini menempatkan nilai-nilai spiritual…
sebagai fondasi dalam proses kepemimpinan, sehingga pengelolaan pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian administratif, tetapi juga pada pembentukan budaya dan karakter kelembagaan yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kepemimpinan spiritual dalam pengembangan pendidikan Islam di MTsN 2 Kota Kediri. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana nilai, sikap, dan praktik kepemimpinan spiritual diwujudkan dalam pengelolaan lembaga serta implikasinya terhadap pengembangan pendidikan Islam secara menyeluruh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi yang melibatkan kepala madrasah, guru, dan tenaga kependidikan. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan menerapkan teknik triangulasi untuk menjaga keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan spiritual di MTsN 2 Kota Kediri berperan signifikan dalam membangun budaya religius, memperkuat etos kerja pendidik, serta mengarahkan pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai spiritual dan etika Islam. Kepemimpinan spiritual tidak hanya berfungsi sebagai penggerak moral, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam pengembangan pendidikan Islam yang berkelanjutan. Penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan spiritual memiliki implikasi penting bagi manajemen pendidikan Islam, khususnya dalam menciptakan integrasi antara efektivitas manajerial dan nilai-nilai spiritual. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi pengembangan model kepemimpinan pendidikan Islam di lembaga pendidikan.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah terhadap minat studi ke perguruan tinggi pada siswa kelas XI Program Keahlian Teknik Pemesinan di SMK Negeri 1 Padang tahun…
n ajaran 2025/2026, yang didorong oleh fenomena fluktuasi minat lulusan untuk melanjutkan pendidikan. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode regresi linier berganda yang melibatkan 50 siswa sebagai responden melalui teknik sensus sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner dengan skala Likert yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, kemudian data diolah menggunakan perangkat lunak SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, variabel lingkungan keluarga berkontribusi signifikan terhadap minat studi dengan nilai t hitung 4,563, begitu pula dengan lingkungan sekolah yang memberikan kontribusi signifikan dengan nilai t hitung 2,375. Secara simultan, kedua variabel tersebut memberikan kontribusi sebesar 62,2% terhadap minat siswa melanjutkan studi ke perguruan tinggi, dengan persamaan regresi Y = -23,339 + 0,665X₁ + 0,515X₂. Hal ini menunjukkan bahwa semakin kondusif dukungan keluarga dan atmosfer sekolah, maka semakin tinggi minat siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sementara 37,8% lainnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar lingkup penelitian ini.
Abstract:Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional yang baik diyakini mampu meningkatkan motivasi dan konsistensi siswa dalam proses pembelajaran, sehingga berdampak…
ampak pada peningkatan prestasi akademik. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar mata pelajaran Dasar-Dasar Teknik Mesin siswa kelas X SMK Dhuafa Padang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Populasi penelitian berjumlah 40 siswa kelas X, yang seluruhnya dijadikan sampel menggunakan teknik total sampling. Data kecerdasan emosional diperoleh melalui angket kuesioner, sedangkan data hasil belajar bersumber dari dokumen nilai resmi sekolah. Instrumen kecerdasan emosional telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Teknik analisis data meliputi statistik deskriptif, uji normalitas, uji linearitas, korelasi Pearson Product Moment, serta koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional siswa berada pada kategori sedang, sedangkan hasil belajar tergolong baik. Uji hipotesis menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kecerdasan emosional dan hasil belajar siswa kejuruan.
Abstract:Desentralisasi pendidikan menuntut tata kelola pendidikan tinggi yang mampu merespons kebutuhan dan karakteristik daerah secara berkeadilan. Namun, praktik kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia masih menunjukkan kesenjangan…
jangan antara perumusan kebijakan nasional dan implementasi di tingkat daerah, terutama dalam aspek pemerataan pendanaan, konsistensi regulasi, dan posisi perguruan tinggi swasta. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dalam penguatan tata kelola pendidikan tinggi di era desentralisasi melalui studi kepemimpinan pendidikan Dedy Iskandar Batubara. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi tokoh, melalui wawancara mendalam dan studi dokumentasi kebijakan pendidikan tinggi. Data dianalisis secara deskriptif-analitis dengan mengaitkan temuan empiris pada teori kebijakan publik, desentralisasi, dan tata kelola pendidikan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DPD RI berperan strategis sebagai aktor agenda setting, advokasi kepentingan daerah, dan pengawas implementasi kebijakan pendidikan tinggi, meskipun perannya dibatasi oleh kewenangan konstitusional. Kepemimpinan pendidikan Dedy Iskandar Batubara memperlihatkan upaya menjembatani kepentingan kebijakan nasional dan kebutuhan daerah, khususnya dalam memperjuangkan keadilan bagi perguruan tinggi swasta dan pendidikan tinggi di daerah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan tata kelola pendidikan tinggi memerlukan desain kebijakan yang lebih konsisten, desentralistik, dan berkeadilan dengan pelibatan substantif DPD RI dan pemerintah daerah dalam sistem kebijakan nasional.