Abstract:Abstract: The poor community is a condition in which the community does not have adequate facilities and infrastructure and an adequate environment, with the quality of housing and settlements far below the eligibility standard…
tandard and uncertain livelihoods covering all multidimensional dimensions. The Pasiran Village Office, Sei Dadap District, is one of the agencies located in the Pasiran area, Sei Kamah. Where the Pasiran Village Hall Office carries out activities to distribute assistance to village communities who are declared to be underprivileged or have low incomes below 3.5 million. With such a large number of village people, an in-depth analysis is needed to determine which poor people are entitled to receive Non-Cash Food Assistance from the government. The solution to this problem is to use data mining with the Naïve Bayes algorithm for data classification. Data mining is the science of extracting information by utilizing data sets to obtain valuable information with a large enough data size through the process of extracting data or filtering data. The classification application uses the naïve Bayes algorithm used at the Pasiran Village Office to produce a classification of beneficiaries, namely Worthy and Unworthy based on the attributes of Citizenship, Family Group, ASN Status, and Having a Healthy Family Card.
Keywords: data mining; naïve bayes; classification, beneficiary
Abstrak: Masyarakat miskin merupakan suatu kondisi dimana keadaan masyarakat yang tidak memiliki sarana dan prasarana serta lingkungan yang memadai, dengan kualitas perumahan dan pemukiman yang jauh dibawah standar kelayakan serta mata pencaharian yang tidak menentu yang mencakup seluruh multidimensi. Kantor Balai Desa Pasiran Kecamatan Sei Dadap merupakan salah satu instansi yang berada di daerah Pasiran, Sei Kamah. Dimana Kantor Balai Desa Pasiran melakukan kegiatan pembagian bantuan terhadap masyarakat desa yang dinyatakan kurang mampu atau memiliki penghasilan rendah dibawah 3,5 juta. Dengan jumlah masyarakat desa yang begitu banyak, diperlukan analisis yang mendalam untuk menentukan masyarakat tidak mampu yang berhak untuk mendapatkan Bantuan Pangan Non Tunai dari pemerintah. Solusi dari permasalahan tersebut adalah menggunakan data mining dengan algoritma naïve bayes untuk klasifikasi data. Data mining merupakan suatu ilmu untuk menggali informasi dengan memanfaatkan kumpulan data untuk mendapatkan berbagai informasi yang berharga dengan ukuran data yang cukup besar melalui proses penggalian data atau penyaringan data. Aplikasi klasifikasi menggunakan algoritma naïve bayes yang terapkan pada Kantor Balai Desa Pasiran menghasilkan klasifikasi warga penerima bantuan yaitu Layak dan Tidak Layak berdasarkan atribut Kewarganegaraan, Golongan Keluarga, Status ASN dan Memiliki Kartu Keluarga Sehat.
Kata kunci: data mining; naïve bayes; klasifikasi, penerima bantuan
Abstract:Abstract: Providing services to patients is an obligation that must be carried out by health agencies. Of course, good health services can be measured by the performance of medical personnel. The current problem with the…
Aek Loba Health Center is that it does not have a system that can measure the level of patient satisfaction with the services provided. In addition, patients also still have difficulty in expressing opinions in the form of complaints about the performance of medical personnel. The aim of the research is to become a forum for assessing the quality of service that can make it easier for patients to submit complaints and also as a measuring tool for health agencies on the level of success of the quality of services provided. This study uses the Service Quality method by assessing service quality based on 5 quality dimensions, namely Tangibles, Responsiveness, Reliability, Assurance, and Empathy. Based on these problems, a decision support system was designed using the PHP programming language and the database used, namely MySQL. So that this research resulted in this system being able to help and facilitate the Aek Loba Health Center in accommodating and measuring the level of quality of service to patients. In addition, this system can make it easy for leaders to find out the elements that need to be improved, maintained, and repaired by the Aek Loba Health Center.
Keywords: patient; questionaire; service quality
Abstrak: Memberi pelayanan kepada pasien merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh instansi kesehatan. Pelayanan kesehatan yang baik tentu saja dapat diukur dari kinerja tenaga medisnya. Permasalahan Puskesmas Aek Loba saat ini yaitu belum mempunyai sistem yang dapat mengukur tingkat kepuasan pasien terhadap layanan yang diberikan. Selain itu, pasien juga masih kesulitan dalam menyampaikan pendapat berupa keluhan terhadap kinerja tenaga medis. Tujuan penelitian untuk menjadi wadah penilaian kualitas pelayanan yang dapat memudahkan pasien dalam menyampaikan keluhan dan juga sebagai alat ukur instansi kesehatan terhadap tingkat keberhasilan kualitas pelayanan yang diberikan. Penelitian ini menggunakan metode Service Quality dengan menilai kualitas pelayanan berdasarkan 5 dimensi kualitas, yaitu Bukti Nyata (tangibles), Ketanggapan (responsiveness), Kehandalan (reliability), Jaminan (assurance), dan Empati (emphaty). Berdasarkan permasalah tersebut maka dirancang sebuah sistem pendukung keputusan menggunakan bahasa pemrograman PHP dan database yang digunakan yaitu MySQL. Sehingga penelitian ini menghasilkan sistem ini dapat membantu dan mempermudah pihak Puskesmas Aek Loba dalam menampung dan mengukur tingkat kualitas pelayanan terhadap pasien. Selain itu, sistem ini dapat memberi kemudahan bagi pimpinan untuk mengetahui unsur-unsur yang perlu ditingkatkan, dipertahankan, serta diperbaiki oleh Puskesmas Aek Loba.
Kata kunci: kuesioner; pasien; service quality
Abstract:Abstract : The demand for a driving license is increasing every year, making the Tanjungbalai Police, especially the Satlantas, continue to try to take new steps in the field of driving license processing services. To overcome…
ercome this problem the researcher uses the Servqual Method, Service Quality There is a technique that assesses service quality based on the attributes of each dimension, producing a difference value that represents the difference between the customer's impression of the service it receives. The information used in this study's processing came from distributing it to 30 respondents who are members of the public who are currently obtaining a driver's license at the Tanjungbalai Traffic Traffic Unit. It is evident from this study's findings that satisfaction at Tanjungbalai Traffic Traffic Unit seen from the 5 dimensions of Servqual has a reality value of 4.00 an and expectation worth of 4.62 resulting in a void -0.62. This void occurs since cmmunity's expectations not being met with the services provided by the Tanjungbalai Traffic Unit for. Keywords-: service quality; service quality; tanjungbalai traffic police
Abstrak-: Permintaan pembuatan surat izin mengemudi yang terus naik setiap saat tahunnya, menjadikan-Polres Tanjungbalai khususnya Satlantas pertahankan komitmen terhadap inovasi di sektor jasa pengurusan surat izin mengemudi. untuk mengatasi masalah tersebut peneliti menggunakan Metode Servqual, Service Quality yaitu teknik untuk mengevaluasi kualitas layanan berdasarkan kualitas masing-masing dimensi. Hasil akhirnya yaitu nilai kesenjangan, yang merepresentasikan variasi dalam cara pelanggan memandang layanan yang mereka terima. Informasi yang digunakan dalam pengolahan penelitian ini berasal dari rilis data ke 30 responden yang sedang melakukan pengurusan Surat Izin Mengemudi pada Satlantas Tanjungbalai. Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa kepuasan masyarakat di Satlantas Tanjungbalai dilihat dari lima dimensi servqual yaitu didapatkan jumlah nilai kenyataan sebesar 4,00 kemudian jumlah 4,62 lalu-gap -0,62. Gap-perbedaan hasil dari harapan yang tidak terpenuhi masyarakat terhadap pelayanan pada Satlantas Tanjungbalai.
Kata kunci: kualitas pelayanan; service quality; satlantas tanjungbalai
Abstract:Abstract: The government continues to adopt various technologies to ensure effective and efficient public services in the new normal era. This study discusses the use of the TELOS method in measuring the feasibility level…
l of e-government services through a review of five main feasibility dimensions, including technical feasibility, economic feasibility, legal feasibility, operational feasibility and schedule feasibility. This study identifies opportunities for developing village information system projects. The data collection process involved 15 users of e-government services. The results of this study indicate that based on the number of feasibility factors generated by the information system, it is 7.20 and is within the feasible threshold for development. The value of the system development risk obtained is quite low. It is necessary to add interactive features so that it can increase community participation in community services in the future.
Keywords: e-Government; feasibility Analysis; TELOS method;
Abstrak: Berbagai adopsi teknologi terus dilakukan pemerintah untuk menjamin pelayanan publik yang efektif dan efisien di era normal baru. studi ini membahas tentang Penggunaan Metode TELOS dalam pengukuran tingkat Kelayakan layanan e-government melalui peninjauan lima dimensi kelayakan utama antara lain kelayakan teknis, kelayakan ekonomis, kelayakan hukum, kelayakan operasional dan kelayakan jadwal. Studi ini mengidentifikasi peluang pengembangan proyek sistem informasi desa. Proses Pengumpulan data melibatkan 15 pengguna layanan e-government. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa berdasarkan jumlah factor kelayakan yang dihasilkan sistem informasi tersebut sebesar 7,20 dan berada dalam ambang batas layak untuk dikembangkan. Nilai resiko pengembangan sistem yang diperoleh cukup rendah sehingga perlu adanya penambahan fitur-fitur yang bersifat interaktif untuk dapat meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap layanan kemasyarakatan dimasa mendatang.
Kata kunci: Analisis Kelayakan; e-Government; Metode TELOS
Abstract:Abstract: lThis study describes the INLA Goes to School Gymnastics activities which have temporarily not been running for a year due to the pandemic. Therefore, this study makes analysis and design which will later be made…
de into applications for further research so that INLA goes to school Gymnastics activities can be carried out again during a pandemic and after a pandemic. lAugmented Reality is a technology that allows users to see a combination of real and virtual objects in a real environment and run in real time or realtime. lIn this study, the author makes a 3-dimensional animation design to make it look more attractive and increase interest in using the INLA Goes to School Augmented Reality Gymnastics application. The INLA Goes to School Gymnastics Application Based on Augmented Reality was created using the Unity application and in the animation stage using the Blender application.
Keywords: analysis; Android; application; augmented reality; INLA
Abstrak: 1Penelitian ini mendeskripsikan tentang kegiatan Senam INLA Goes to School yang sementara belum berjalan selama setahun dikarenakan oleh pandemi. Maka dari itu penelitian ini membuat Analisa dan desain yang nantinya akan dibuatkan aplikasi dipenelitian selanjutnya agar kegiatan Senam INLA goes to school dapat dilakukan kembali disaat pandemic dan sesudah pandemi. Augmented Reality merupakan teknologi yang memungkinkan pengguna melihat gabungan benda nyata dan maya di lingkungan yang nyata dan berjalan pada waktu yang nyata atau realtime. 1lDalam penelitian ini, dapat membuat desain animasi 3 dimensi agar tampilan lebih menarik dan menambah minat dalam penggunaan aplikasi Augmented Reality Senam INLA Goes to School. 1Aplikasi Senam INLA Goes to School Berbasis Augmented Reality ini dibuat dengan menggunakan aplikasi Unity dan dalam tahap animasi menggunakan aplikasi Blender.
Kata kunci: analisis; android; aplikasi; augmented reality; INLA
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konten latihan dan soal yang merepresentasikan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) pada buku teks Matematika kelas VII SMP terbitan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset,…
et, dan Teknologi sebagai bahan ajar Kurikulum Merdeka. Anifarka & Rosnawati (2023) menyatakan bahwa buku teks yang berkualitas seyogianya mampu memfasilitasi perkembangan kognitif peserta didik selaras dengan capaian pembelajaran yang ditetapkan. Metode yang diterapkan dalam kajian ini adalah analisis isi dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Instrumen analisis merujuk pada dimensi kognitif C4 (Menganalisis), C5 (Mengevaluasi), dan C6 (Menciptakan) berdasarkan revisi taksonomi Bloom oleh Anderson & Krathwohl (2001). Temuan penelitian mengindikasikan bahwa dari total 485 butir soal dan aktivitas yang tersebar pada enam bab, sebanyak 147 butir (30,31%) tergolong dalam kategori HOTS. Distribusi HOTS tertinggi ditemukan pada Bab 5 tentang Persamaan dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel (38,46%), sedangkan terendah pada Bab 1 tentang Bilangan (22,80%). Level kognitif yang paling dominan adalah C4-Menganalisis (58,50%), diikuti C5-Mengevaluasi (28,57%), dan C6-Mencipta (12,93%). Temuan ini mengindikasikan bahwa buku teks Kurikulum Merdeka telah mengintegrasikan HOTS secara lebih sistematis dibandingkan kurikulum sebelumnya (Fanani, 2018)meskipun proporsinya perlu ditingkatkan untuk memenuhi tuntutan pembelajaran abad ke-21.
This study aims to analyze the content of exercises and questions representing higher-order thinking skills (HOTS) in the Mathematics textbook for grade VII junior high school published by the Ministry of Education, Culture, Research, and Technology as teaching materials for the Independent Curriculum. Anifarka & Rosnawati (2023) stated that a quality textbook should be able to facilitate students' cognitive development in line with the established learning outcomes. The method applied in this study is content analysis with a qualitative descriptive approach. The analysis instrument refers to the cognitive dimensions C4 (Analyzing), C5 (Evaluating), and C6 (Creating) based on the revised Bloom's taxonomy by Anderson & Krathwohl (2001). The research findings indicate that of a total of 485 questions and activities spread across six chapters, 147 items (30.31%) are classified as HOTS. The highest HOTS distribution was found in Chapter 5 on Linear Equations and Inequalities with One Variable (38.46%), while the lowest was in Chapter 1 on Numbers (22.80%). The most dominant cognitive level is C4-Analyzing (58.50%), followed by C5-Evaluating (28.57%), and C6-Creating (12.93%). This finding indicates that the Independent Curriculum textbooks have integrated HOTS more systematically than the previous curriculum (Fanani, 2018), although the proportion needs to be increased to meet the demands of 21st-century learning.
Abstract:Fenomena waithood pada generasi Z menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap kesiapan menikah (marriage readiness) di tengah dinamika sosial kontemporer. Jika dalam tradisi Islam kemampuan menikah dirumuskan melalui…
lui konsep al-ba’ah, masyarakat modern cenderung mengembangkan konstruksi marriage readiness yang lebih kompleks dan multidimensional. Penelitian ini bertujuan menganalisis validitas hadits anjuran menikah tentang al-ba’ah, mengkaji pemaknaannya dalam literatur klasik, serta menjelaskan transformasi konstruksi marriage readiness pada Generasi Z. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan konseptual. Data diperoleh melalui library research yang dianalisis menggunakan metode takhrij hadits, yakni kritik sanad dan matan, serta analisis fiqh al-hadits. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis anjuran menikah mengenai al-ba’ah berstatus sahih dan dapat dijadikan hujjah dalam hukum Islam. Secara klasik, al-ba’ah dipahami sebagai kemampuan biologis dan kemampuan finansial yang menjadi prasyarat seseorang untuk memasuki kehidupan perkawinan. Sementara itu, konstruksi marriage readiness pada generasi Z berkembang menjadi konsep multidimensional yang mencakup kesiapan ekonomi, emosional, psikologis, relasional, dan sosial. Penelitian ini menemukan bahwa transformasi tersebut tidak menunjukkan pertentangan dengan substansi konsep al-ba’ah, melainkan berupa perluasan indikator operasional mengenai kemampuan menikah sebagai respons terhadap perubahan sosial pada era disrupsi. Dengan demikian, marriage readiness dapat dipahami sebagai bentuk aktualisasi kontemporer dari konsep al-ba’ah yang tetap berorientasi pada terwujudnya kemaslahatan keluarga.
Abstract:This study aims to develop a comprehensive constellation model and identify optimal strategies for strengthening lecturers’ professional commitment in the largest private universities in Bogor. Penelitian ini mengkaji secara…
secara mendalam bagaimana emosi dan belajar sosial memengaruhi proses pembelajaran di sekolah dasar melalui perspektif neuropedagogik dan brain‑based learning. A mixed methods approach was used by combining quantitative analysis (meta-analysis of 173 respondents and 47 indicators of NP, EC, OB, MS, BS) and descriptive qualitative analysis using thematic analysis techniques on semi-structured interviews with five elementary school teachers. The meta-analysis results showed a very strong average effect of the latent construct relationship (t(128) = 12.92; p < 0.001; r ≈ 1.00) with almost zero heterogeneity (Qₑ(128) = 1.67; τ² = 0; I² = 0%), and no significant moderating effects were found for all indicators; the partial meta-regression coefficients for all items were very close to zero and the R² value was 0.000. Qualitatively, three main themes emerged: (1) positive emotions as the foundation of learning readiness, (2) social interaction as a reinforcement of meaning formation, and (3) contextual learning that integrates cognitive, emotional, and social dimensions. Although most teachers have not yet mastered the concepts of neuropedagogy and brain-based learning theoretically, they have intuitively implemented its principles through motivation, praise, humor, group work, collaborative projects, and learning experiences relevant to students' real lives. These findings support the latest theory that places emotions and social interactions as the main drivers of brain function in learning (Immordino Yang, 2016; Tyng et al., 2017; Vygotsky, 1978; Jensen, 2008), and emphasizes the importance of strengthening teachers' competence in understanding and designing brain- and emotion-based learning to support the holistic development of elementary school students.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran wali kelas dalam meningkatkan motivasi belajar siswi kelas VIII putri di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, serta mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam…
lam pelaksanaan peran tersebut. Motivasi belajar merupakan faktor krusial yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, khususnya dalam konteks pendidikan pesantren yang menggabungkan pendidikan formal dengan nilai-nilai keislaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik wawancara mendalam dengan wali kelas, observasi kegiatan pembelajaran, dan analisis dokumentasi. Subjek penelitian adalah wali kelas VIII putri di Pesantren Darunnajah 2 Cipining yang mewakili berbagai latar belakang pendidikan dan pengalaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wali kelas menjalankan peran multidimensional dalam meningkatkan motivasi belajar siswi yang mencakup empat dimensi utama:Peran sebagai motivator dan fasilitator,Peran sebagai komunikator interpersonal, Peran sebagai pembimbing akademik dan personal, Peran sebagai penghubung dengan orang tua melalui sistem komunikasi. Faktor pendukung meliputi kompetensi pedagogik wali kelas, lingkungan pesantren yang religius dan kondusif, serta sistem pendidikan terpadu yang memungkinkan pembinaan holistik 24 jam. Faktor penghambat mencakup beragamnya latar belakang individual siswa, beban kerja berlebihan wali kelas, tantangan komunikasi dengan orang tua, dan keterbatasan teknologi pembelajaran modern. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan wali kelas dalam meningkatkan motivasi belajar siswi sangat bergantung pada kemampuan mengintegrasikan pendekatan pedagogik modern dengan nilai-nilai pesantren, serta dukungan sistem institusional yang memadai.
Abstract:Science education at the elementary school level plays a crucial role in fostering scientific thinking, curiosity, and problem-solving skills from an early age. Nevertheless, science instruction in elementary schools often…
en remains teacher-centered, verbalistic, and insufficient in promoting meaningful scientific literacy. In response to these challenges, neuroscience provides a theoretical and empirical foundation for designing learning media that align with how the brain processes, stores, and retrieves information. This study aims to systematically examine the integration of neuroscience principles into science learning media and their effects on elementary students' scientific literacy. A Systematic Literature Review (SLR) was conducted using the PICO framework (Population, Intervention, Comparison, Outcome). Relevant peer-reviewed studies published between 2019 and 2024 were retrieved from Scopus, Google Scholar, ERIC, and DOAJ databases. The review followed four stages: identification, selection, quality appraisal, and thematic synthesis. The results indicate that neuroscience-based interventions—such as Augmented Reality (AR), Brain-Based Learning (BBL), interactive multimedia, and multisensory instructional strategies—consistently improve students' motivation, attention, conceptual understanding, critical thinking, and scientific literacy compared to conventional instructional approaches. The novelty of this study lies in its systematic synthesis of neuroscience-based science learning media through a PICO-oriented framework, highlighting the interaction between cognitive, affective, and technological dimensions of learning. The findings provide important implications for science education, particularly in guiding the development of neuroscience-informed learning media and instructional designs to enhance scientific literacy in elementary schools.