Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kode etik akuntan terhadap kepercayaan publik pada profesi akuntansi di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review dengan mengkaji…
berbagai jurnal, buku, dan sumber ilmiah yang berkaitan dengan kode etik akuntan dan kepercayaan publik. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan kode etik yang meliputi integritas, objektivitas, kompetensi profesional, kerahasiaan, dan perilakPu profesional memiliki peran penting dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap profesi akuntansi. Kode etik tidak hanya menjadi pedoman dalam menjalankan tugas profesional, tetapi juga menjadi dasar dalam menjaga kredibilitas dan kualitas pekerjaan akuntan. Sebaliknya, pelanggaran kode etik dapat menurunkan reputasi profesi serta mengurangi tingkat kepercayaan publik. Oleh karena itu, penerapan kode etik secara konsisten sangat diperlukan untuk mempertahankan profesionalisme dan kepercayaan masyarakat terhadap profesi akuntansi di Indonesia.
Abstract:Pasar modal merupakan industri berbasis kepercayaan (trust-based industry) yang idealnya mengedepankan prinsip transparansi dan keadilan publik. Namun, realitas di Bursa Efek Indonesia (BEI) di awal tahun 2026 diwarnai oleh…
leh sanksi berat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap emiten PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) dan PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) akibat kesalahan material laporan keuangan dan transaksi abnormal. Berbeda dengan riset terdahulu yang mengkaji kecurangan pasar secara parsial, penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan praktik manajemen laba (earnings management), transaksi orang dalam (insider trading), dan manipulasi pasar (saham gorengan) sebagai satu kesatuan mata rantai kejahatan kerah putih (white-collar crime), sekaligus membedahnya melalui tinjauan etika bisnis normatif. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis, penelitian ini menerapkan teknik analisis konten (content analysis) dan studi literatur komparatif terhadap data sekunder rilis resmi regulator serta laporan keuangan emiten. Pisau analisis yang digunakan mencakup Fraud Diamond Theory, Teori Keagenan (Agency Theory), Asimetri Informasi, serta Paradigma Integritas Manusia Utuh. Hasil penelitian menunjukkan adanya sinkronisasi kecurangan yang terstruktur dari hulu ke hilir. Tahap hulu (the setup) diawali dengan rekayasa akuntansi melalui penyalahgunaan kapabilitas manajemen. Ketimpangan informasi di hulu kemudian dimanfaatkan di tengah jalan (the leak) untuk membocorkan informasi material kepada jaringan afiliasi, yang bermuara pada transaksi semu di hilir (the execution) guna menjebak psikologi investor ritel demi keuntungan egoistik sepihak. Dari tinjauan etika utilitarianisme dan deontologi Immanuel Kant, mata rantai kejahatan finansial ini dinilai cacat moral secara mutlak karena mencederai kewajiban moral kejujuran (duty of honesty) dan mengeksploitasi investor publik semata-mata sebagai alat komersial (means to an end). Penelitian ini merekomendasikan perlunya penguatan sistem deteksi dini terintegrasi oleh regulator untuk memutus rantai kecurangan finansial di bursa nasional, Indonesia terutama ketika penerapannya masih bersifat formalitas dan belum didukung oleh budaya organisasi yang berintegritas. Perbedaan hasil juga dipengaruhi oleh sektor industri dan tingkat kematangan tata kelola masing-masing organisasi. Kebaruan penelitian ini terletak pada perbandingan lintas sektor dan metode yang memperlihatkan bahwa efektivitas GCG dan audit internal sangat bergantung pada komitmen nyata dari manajemen serta internalisasi nilai-nilai etis dalam organisasi. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar mengkaji variabel moderasi seperti budaya organisasi dan komitmen manajemen, serta memperluas cakupan sektor penelitian agar hasilnya lebih representatif.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan program pembinaan karakter Islami yang diterapkan di SDI Datok Sulaiman Palopo dalam membentuk perilaku siswa serta menganalisis pandangan guru, siswa, dan orang tua…
a terhadap efektivitas program pembinaan karakter Islami di SDI Datok Sulaiman Palopo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian campuran (mixed methods), yaitu pendekatan yang menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif dalam satu rangkaian penelitian. Metode kuantitatif digunakan untuk memperoleh data yang bersifat terukur, khususnya terkait pandangan guru, siswa, dan orang tua mengenai efektivitas program pembinaan karakter Islami melalui penyebaran angket, sedangkan metode kualitatif digunakan untuk memahami lebih dalam mengenai pelaksanaan program melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang digunakan terdiri dari data primer yang diperoleh secara langsung dari kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua, serta data sekunder yang berasal dari buku, jurnal, dan sumber pendukung lainnya. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif, inferensial, dan analisis kualitatif model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan program pembinaan karakter Islami di SDI Datok Sulaiman Palopo telah berjalan dengan baik dan terstruktur melalui metode pembiasaan, keteladanan, dan integrasi nilai-nilai Islami dalam pembelajaran serta berpengaruh signifikan terhadap perilaku siswa, terutama dalam aspek religiusitas, kedisiplinan, tanggung jawab, dan akhlak. Selain itu, pandangan guru, siswa, dan orang tua terhadap efektivitas program ini secara umum sangat positif, meskipun masih terdapat kendala dalam konsistensi penerapan nilai-nilai tersebut di luar sekolah sehingga diperlukan kerja sama yang lebih kuat antara sekolah dan keluarga.
Abstract:Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yang bertujuan untuk membentuk generasi yang cerdas dan berkarakter. Pada dunia Pendidikan, salah satu upayah untuk manajemen karakter…
arakter agar berjalan sesuai tujuan yakni dengan menerapkan Reward dan punishment. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sistem reward dan punishment diterapkan dalam membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab anak usia dini di TK Negeri 10 Kendari. Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan subjek 6 anak berusia 5–6 tahun. Analisis data mengikuti model Miles dan Huberman, meliputi pengumpulan data, reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan penerapan reward dan punishment dalam membentuk karakter disiplin anak usia dini di TK Negeri 10 Kendari, reward verbal dan non-verbal berupa pujian seperti kata “keren, dan hebat”, pemberian jempol, dan stempel bintang efektif untuk meningkatkan kedisplinan anak dalam selalu datang tepat waktu, melaksanakan kegiatan rutin, menggunakan benda sesuai dengan fungsinya, mengambil dan mengembalikan benda pada tempatnya, berusaha manaati aturan yang telah disepakati, tertib menunnggu giliran. Sedangkan punishment represif berupa teguran lisan dan konsekuensi ringan membantu anak memahami batas perilaku dan menimbulkan efek jera sehingga mereka lebih berhati-hati dalam bersikap. Penerapan reward dan punishment dalam membentuk karakter tanggung jawab anak usia dini di TK Negeri 10 Kendari, reward diberikan saat anak menunjukan sikap tanggung jawab seperti anak dengan mengerjakan tugas dan pekerjaan rumah, bertanggung jawab kepada setiap perbuatan, melakukan tugas dengan standar terbaik, mengerjakan kegiatan berkelompok secara bersama-sama, selalu memajukann diri sendiri, melakukan piket sesuai dengan jadwal. Bentuk reward ini meningkatkan motivasi anak untuk melaksanakan kewajibannya dengan baik. Punishment berupa teguran diberikan ketika anak lalai mengerjakan tugas atau melanggar aturan dan kesepakatan, dengan tujuan membangun kesadaran tanggung jawab mereka atas tugas dan perilaku sehari-hari. Kesimpulannya penerapan reward dan punishment yang konsisten dan sesuai di TK Negeri 10 Kendari terbukti efektif membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab anak usia dini. Reward menumbuhkan semangat dan perilaku positif, sedangkan punishment membantu anak memahami konsekuensi dari tindakan mereka sehingga menumbuhkan kontrol diri, rasa tanggung jawab dan disiplin.
Abstract:Pembentukan karakter religius peserta didik di era modern tidak cukup mengandalkan pembelajaran teks di kelas, melainkan membutuhkan ekosistem lingkungan berupa pembiasaan budaya yang konsisten. Penelitian ini bertujuan…
menganalisis manajemen budaya madrasah dalam pengembangan karakter religius peserta didik di MTs PP Darul Falach Candiroto, Temanggung. Menggunakan metode kualitatif pendekatan studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan kepala madrasah, waka kesiswaan, dan pengurus pondok, serta didukung oleh observasi partisipatif dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen budaya madrasah diimplementasikan secara terstruktur melalui empat fungsi manajemen (POAC). Perencanaan dilakukan dengan menyelaraskan visi-misi; pengorganisasian diwujudkan melalui pembagian kerja wilayah madrasah formal dan asrama pesantren serta pelibatan organisasi santri (OSDA); pelaksanaan digerakkan lewat keteladanan harian warga madrasah dalam ritme jadwal ketat; dan pengawasan dijalankan melalui kontrol absensi ibadah serta instrumen Angket 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Melalui tata kelola tersebut, indikator karakter religius (disiplin, kesadaran ibadah, tanggung jawab, sopan santun, kepedulian, dan kebersamaan) berhasil diinternalisasikan secara efektif melalui empat jalur pembiasaan, yaitu kegiatan rutin, spontan, terprogram, dan keteladanan pendidik sebagai role model. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi tata kelola formal dan nilai kepesantrenan mampu membentuk habituasi karakter religius siswa secara berkelanjutan.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam meningkatkan kesadaran menutup aurat peserta didik di SMA Al-Mujtahidin Purwadadi Ciamis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif…
atif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap guru PAI, peserta didik, serta pihak sekolah. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI berperan sebagai edukator, motivator, pembimbing, teladan, dan pengawas dalam membentuk kesadaran menutup aurat peserta didik. Strategi yang digunakan meliputi keteladanan, pembiasaan, pendekatan personal, serta kegiatan keagamaan yang dilakukan secara berkelanjutan. Faktor pendukung meliputi dukungan keluarga, lingkungan sekolah yang religius, teman sebaya yang positif, dan kesadaran diri peserta didik. Adapun faktor penghambat meliputi pengaruh media sosial, lingkungan pergaulan, kurangnya pengawasan keluarga, dan budaya populer yang kurang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan kesadaran menutup aurat memerlukan peran aktif guru PAI yang didukung oleh sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam membentuk karakter religius peserta didik.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran ajaran tasawuf dalam praktik aktivisme lembaga zakat di Jawa Tengah. Tasawuf mengajarkan nilai-nilai seperti keikhlasan, amanah, kesederhanaan, dan kepedulian sosial yang menjadi…
jadi landasan penting dalam aktivitas pengelolaan zakat. Di tengah tuntutan profesionalisme dan pelayanan masyarakat, nilai-nilai tersebut membantu para aktivis lembaga zakat menjalankan tugasnya dengan orientasi ibadah dan pengabdian kepada Allah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk memahami pengalaman para aktivis lembaga zakat dalam menerapkan ajaran tasawuf dalam aktivitas sehari-hari. Wawancara di lakukan dengan 3 pengurus lazisnu PC kabupaten Kendal. Dari pengalaman mereka terlihat bahwa ajaran tasawuf berperan dalam membentuk sikap ikhlas dalam bekerja, meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap amanah pengelolaan dana zakat, serta menumbuhkan kepedulian yang lebih besar terhadap kebutuhan masyarakat penerima manfaat. Selain itu, nilai-nilai tasawuf juga mendorong para aktivis untuk mengutamakan pelayanan, menjaga transparansi, dan menghindari orientasi materialistik dalam menjalankan tugasnya.
Abstract:Penyakit kulit merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi dan dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti infeksi, reaksi alergi, maupun pengaruh lingkungan. Terbatasnya akses terhadap tenaga kesehatan serta rendahnya…
pemahaman masyarakat mengenai gejala penyakit kulit sering menyebabkan keterlambatan dalam memperoleh penanganan yang tepat. Penelitian ini bertujuan menerapkan metode Forward Chaining pada sistem pakar untuk membantu proses diagnosis awal berdasarkan gejala yang dipilih pengguna. Metode ini bekerja menggunakan penalaran berbasis aturan dengan mencocokkan gejala yang dimasukkan pengguna terhadap basis pengetahuan yang disusun dari konsultasi dengan pakar dan referensi medis. Sistem dikembangkan melalui tahapan analisis kebutuhan, perancangan, implementasi, dan pengujian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem mampu mengidentifikasi jenis penyakit kulit sesuai aturan yang telah ditetapkan serta memberikan hasil diagnosis beserta rekomendasi penanganan awal. Pengujian membuktikan seluruh fungsi sistem berjalan dengan baik, sementara metode Forward Chaining memberikan hasil diagnosis yang efektif sehingga sistem dapat dimanfaatkan sebagai sarana konsultasi awal yang cepat, mudah, dan efisien sebelum pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga medis
Abstract:Transformasi digital pemerintahan menempatkan arsip sebagai sumber bukti, memori kelembagaan, dan basis informasi bagi keputusan organisasi. Namun, digitalisasi dokumen sering berhenti pada pemindaian dan pemindahan media…
a tanpa diikuti tata kelola siklus hidup, metadata, keamanan, preservasi, interoperabilitas, serta penguatan kompetensi aparatur. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi pengelolaan arsip berbasis digital yang dapat mendukung keberlanjutan tata kelola dokumen dan pengambilan keputusan organisasi di lembaga pemerintah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur terhadap regulasi kearsipan Indonesia dan dua puluh artikel ilmiah yang membahas manajemen arsip elektronik, transformasi digital sektor publik, tata kelola data, SRIKANDI, transparansi, serta keputusan berbasis bukti. Data dianalisis secara tematik melalui tahap identifikasi konsep, pengelompokan isu, perbandingan temuan, dan sintesis strategi. Hasil kajian menunjukkan bahwa keberlanjutan pengelolaan arsip digital bergantung pada keterpaduan delapan unsur, yaitu kebijakan dan kepemimpinan, arsitektur proses berbasis siklus hidup, standardisasi klasifikasi dan metadata, infrastruktur dan preservasi, keamanan serta kesinambungan layanan, kompetensi dan budaya kerja, interoperabilitas sistem, serta pemanfaatan arsip untuk analitik keputusan. Strategi yang efektif perlu mengubah orientasi lembaga dari penyimpanan dokumen menuju pengelolaan bukti digital yang autentik, utuh, dapat ditemukan, dapat digunakan, dan dipertahankan dalam jangka panjang. Implementasi SRIKANDI perlu ditempatkan dalam arsitektur tata kelola yang lebih luas, bukan sekadar aplikasi korespondensi. Penelitian ini menghasilkan kerangka strategis yang dapat digunakan lembaga pemerintah untuk menyusun peta jalan, indikator kinerja, mekanisme pengendalian, dan model pemanfaatan arsip dalam keputusan organisasi.
Abstract:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengidentifikasi faktor-faktor penghambat dalam pembelajaran motorik dasar yang dihadapi oleh guru PJOK pada jenjang sekolah dasar kelas rendah di MI Baitul Huda Semarang.…
Melalui pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara semiterstruktur dengan guru dan siswa, observasi lapangan yang sistematis, serta dokumentasi kurikulum. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi, penyajian, dan verifikasi data. Temuan terpenting dalam penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun pembelajaran berlangsung aktif dan berbasis permainan, terdapat hambatan struktural berupa keterbatasan sarana-prasarana serta hambatan pedagogis terkait heterogenitas kemampuan siswa yang sulit dikondisikan. Lebih lanjut, ditemukan adanya kesenjangan antara aktivitas fisik yang tinggi dengan pemahaman konseptual siswa yang masih rendah, di mana pembelajaran cenderung bersifat intuitif-pragmatis namun belum berbasis pada asesmen diagnostik yang sistematis. Refleksi atas temuan ini mengungkap bahwa ketergantungan pada teacher agency atau kreativitas individu guru dalam memodifikasi alat belum cukup untuk mengatasi persoalan tanpa dukungan kebijakan institusional. Sebagai kontribusi, penelitian ini memberikan peta jalan bagi pengembangan model pembelajaran PJOK yang lebih holistik, yang tidak hanya menekankan pada keaktifan fisik, tetapi juga mengintegrasikan penguatan konsep dan diferensiasi instruksional yang responsif terhadap tahap perkembangan anak. Hasil studi ini diharapkan menjadi referensi bagi pemangku kebijakan dalam merancang program pendampingan guru dan penataan alokasi sumber daya yang lebih tepat sasaran guna menjamin optimalisasi kompetensi motorik dasar pada fase kritis perkembangan anak.